
"Violet, bawa Ares masuk ke dalam." ucap ayahnya.
"Baik Daddy." sahut Violet dengan anggukan kepala, kemudian memapah Ares masuk ke dalam rumah. Lalu mendudukkannya di sofa ruang tamu.
"Ares, jangan ambil hati kelakuan mommy ku. Sebenarnya dia hanya...." Violet tidak melanjutkan ucapannya karena Ares langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir Violet.
"Sssttt...jangan membahasnya lagi. Lihatlah diriku, aku baik-baik saja bukan. Violet, aku sangat memaklumi segala tindakan mommy mu. Tapi, mulai dari sekarang segala kemampuan yang aku punya, aku harus mengeluarkannya dan berusaha dengan semampuku untuk mendapatkan maaf dari mommy mu. Kalau perlu aku harus setiap hari datang membawa buket bunga atau makanan kesukaan mommy demi mencari perhatian sekaligus meminta maaf kepadanya." ucap Ares panjang lebar.
"Ha ha ha, jangan lakukan itu. Bisa-bisa mommy ilfil dan semakin jengkel kepadamu. Sejujurnya mommy tidak suka hal semacam itu, ia lebih melihat orang dari usahanya tanpa dibuat-buat. Sedangkan kau ingin melakukan cara basi demi mencari perhatiannya dengan sangat disengaja dan juga mencolok." timpal Violet tergelak tawa.
"Lalu aku harus melakukan apa? deketin anaknya saja butuh perjuangan, bagaimana lagi jika harus berurusan dengan ibunya." gumam Ares pelan.
"Kau bicara apa barusan?" tanya Violet dan tak sengaja mendengar gumaman Ares, walau tak begitu jelas.
"Oh.. tidak, kau mungkin salah_"
"Ares, mommy datang." potong Violet melihat ibu dan ayahnya berjalan sambil bergandengan tangan menghampirinya.
Sontak Ares dan Violet bangkit dari duduknya. Kemudian Ares bergerak mencium punggung tangan tuan Keynand dan Nyonya Viona. Namun mendadak Nyonya Viona terkejut dengan aksi Ares yang bersikap sopan kepadanya.
"Daddy dan mommy menghampiri kalian cuma untuk memberitahu kepada kalian bahwa untuk sementara waktu, kalian harus berpisah sementara sampai pesta pernikahan kalian digelar, setelah itu barulah kalian boleh bertemu dan bebas melakukan apa saja." ucap tuan Keynand tersenyum tipis.
"Apa!" Violet dan Ares terlonjat kaget mendengar ucapan tuan Keynand. Ares dan Violet ingin melontarkan kata protes, namun sayangnya Nyonya Viona keburu buka suara.
"Benar yang dikatakan, Daddy. Sebelum pesta pernikahan kalian digelar, kalian tidak diwajibkan untuk saling bertemu. Maka dari itu, waktu bertemu kalian sudah habis. Violet, suruh dia pulang, jangan sampai mommy kembali murka kepadanya!" ucap Nyonya Viona dengan tegasnya.
"Mommy, tolong jangan bersikap seperti ini kepada suamiku. Dia juga manusia biasa yang memiliki kekurangan, begitu halnya dengan diriku masih perlu banyak belajar dalam menjalani kehidupan rumah tangga yang sedang kami bangun bersama. Apalagi Mommy dan Daddy mengatakan akan memisahkan kami, bukankah itu hal yang egois, walaupun maksud kalian baik. Tapi, tetap saja aku tidak setuju dengan keputusan mommy dan Daddy yang meminta kami untuk berpisah, walaupun sementara, tapi terasa berat bagi kami." ucap Violet melontarkan kata-kata protes.
"Violet, kami melakukan semua itu demi kebaikanmu sayang. Lagian kalian tidak akan berpisah lama, mungkin tiga sampai empat hari saja." jelas Nyonya Viona.
Seketika Ares membulatkan kedua matanya mendengar ucapan ibu mertuanya, 'tiga sampai empat hari berpisah' rasanya seperti berpisah berbulan-bulan lamanya. Bayangkan saja sehari tak melihat wajah Violet rasanya ia hampir gila dibuatnya. Bagaimana jika berpisah selama empat hari kedepan? ia sudah tidak sanggup memikirkannya.
Masalahnya ia harus berpisah dengan istrinya disaat perasaannya sedang berbunga-bunga dan mulai tumbuh benih-benih cinta untuk istrinya seorang. Dan besar kemungkinan sebaliknya istrinya juga mulai menerimanya dan perlahan mencoba untuk mencintainya.
Akan tetapi, Ares tidak ingin menjadi egois, apapun keputusan orang tua pasti itulah yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun terkadang ia tidak menerima keputusan ibunya selama ini dan malah bersikap pembangkang.
"Aku tidak masalah dengan keputusan Daddy dan mommy, jika itu memang yang terbaik untuk hubungan kita sayang." ucap Ares dengan tatapan hangatnya menatap wajah cantik Violet dan sebisa mungkin akan terus menunjukkan sikap manisnya.
"Tapi Ares...."
"Patuhilah ucapan orang tuamu untuk kali ini. Kita hanya berpisah sesaat." kekeh Ares dan tidak ingin ada alasan yang diucapkan oleh Violet. Membuat Violet menjadi bungkam dengan ucapan Ares.
Bukan tanpa sebab Ares menyetujui keputusan orang tua Violet. Namun, sejujurnya Ares tidak ingin berpisah beberapa hari dengan Violet, ia hanya terpaksa melakukannya agar bisa diterima dengan baik oleh orang tua Violet.
Setelah itu, Ares pamit pulang dan ia tidak membawa Violet pulang bersamanya.
Mau tak mau mereka harus berpisah selama beberapa hari kedepan sampai pesta pernikahannya di gelar. Dan selama itu pula mereka hanya berkomunikasi lewat telepon atau media sosial.
*
*
*
Semua orang tengah sibuk mempersiapkan pesta pernikahan Violet dengan Ares yang akan di gelar di hotel berbintang milik keluarga Ares.
Sementara itu, selama dua hari ini, Evan sendiri tengah fokus menyelidiki pelaku pencuri di kediamannya. Perlahan demi perlahan ia sudah menemukan beberapa barang bukti tentang pelaku pencurinya.
Termasuk sebuah kacamata tebal berhasil ia temukan kembali di kamarnya, ia bahkan sangat kenal siapa pemilik kaca mata minus tersebut.
Dengan bantuan mata-mata ayahnya, Evan berhasil menemukan alamat rumah dari si pencuri, dimana pencuri itu pernah menyamar menjadi pelayan di kediamannya.
Evan sungguh merutuki kebodohannya karena tidak mencari tahu terlebih dahulu indentitas setiap pelayan baru yang akan bekerja di kediamannya. Sungguh ini menjadi pelajaran baginya untuk selalu waspada disekitarnya, apalagi ketika merekrut orang yang ingin bekerja di kediamannya.
Kini Evan berdiri di depan rumah dua lantai dengan satu satpam penjaga yang sedang mengawasinya dari pos penjagaan. Pasalnya Evan mengaku-ngaku sebagai tamu dari penghuni rumah tersebut.
Dengan percaya diri, Evan lalu mengetuk pintu rumah tersebut beberapa kali. Namun tak kunjung seseorang datang untuk membuka pintu itu. Evan kembali mengetuk pintu rumah hingga berulang kali dan tak lupa menekan bel rumah tersebut.
Tok
Tok
Tok
Kesabaran Evan mulai menipis manakala tidak ada yang membuka pintu untuknya. Apakah para penghuni rumah itu sedang tidak ada di rumah? ataukah memang sengaja menghindarinya, pikirnya.
Sementara di lantai dua tampak wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi terlihat begitu segar hanya memakai jubah mandi dengan handuk terlilit di kepalanya, guna untuk mengeringkan rambut basahnya.
Wanita cantik itu tidak lain adalah Aileen atau Karin. Aileen melangkah keluar dari kamar mandi karena merasakan lapar setelah habis mandi+berendam di kamar mandi sampai satu jam lamanya.
Karena perutnya sudah keroncongan. Tanpa memakai pakaian terlebih dahulu, Aileen memilih melangkah keluar dari kamarnya dan melangkah menuruni anak tangga menuju dapur untuk mencari makanan.
Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara ketukan pintu dan tak berselang lama kembali terdengar suara bel rumahnya yang dibunyikan berulang kali.
"Siapa sih yang datang, tumben jika mami dan Bu Mina sudah pulang. Bukanya mereka baru saja pergi berbelanja ke supermarket." gumam Aileen. Pasalnya hanya ia sendiri berada di rumah. Ayahnya ke kantor, sementara mami nya dan ART sedang keluar untuk berbelanja.
Mau tak mau Aileen melangkah untuk membuka pintu, namun ia baru sadar dengan penampilannya saat berdiri di depan pintu.
"Oh my God, buka tidak ya" ucapnya bimbang menatap kearah pintu.
Lagi-lagi terdengar suara gedoran pintu dari luar diikuti suara bel rumah tanpa jeda. Aileen tidak punya pilihan lain selain membuka pintu rumahnya.
Ceklek
Seketika Aileen terlonjat kaget dengan mata membulat sempurna melihat sosok pria tengah berdiri di hadapannya.
.
.
Bersambung....