
Ares masih saja terjaga setelah melewati malam panjang bersama istrinya. Ia begitu menggila melakukan percintaan berulang kali sampai membuat Violet kewalahan melayaninya. Ia baru menyudahinya tepat pukul tiga pagi.
Kini tubuh Ares dan Violet berbalut selimut tebal, dimana Ares sedang mendekap hangat tubuh istrinya. Ares begitu senang menatap lekat-lekat wajah Violet yang sudah terlelap dari tidurnya. Istrinya sangat cantik dan manis walau sedang tertidur, sungguh beruntung dirinya bisa mendapatkan istri secantik Violet.
Jemari tangan Ares perlahan mengusap bulir kerigat yang masih berembun di kening Violet. Rasanya sulit dipercaya jika Violet mencintainya. Ia seperti bermimpi mendengar pengakuan dari istrinya.
Jika mengingat kembali kilas balik pertemuannya dengan Violet sungguh hal tak terduga dan tak disangka-sangka. Pertemuan itulah yang membuatnya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama saat pertama kali bertemu dengan Violet. Namun sikap Violet teramat keras kepala dan pembangkang serta begitu sulit untuk ditaklukkan.
Meskipun demikian, ia tidak pernah menyerah untuk menaklukkan istrinya. Dari hasil kerja kerasnya, kini membuahkan hasil. Sekarang istrinya sudah menjadi miliknya seutuhnya dan selamanya menjadi miliknya. Istrinya membuatnya candu dan ingin terus berada di dekatnya.
Ares tersenyum tipis jika mengingat kembali bagaimana buasnya dirinya bercinta dengan Violet. Ares kembali mendaratkan sebuah ciuman di kening istrinya cukup lama dan penuh perasaan cinta.
“Terima kasih, sayang. Akulah sang pemilik mahkotamu. Terima kasih sudah menjaganya untukku” ucap Ares dengan seulas senyum menghiasi bibirnya. Ia kembali mendaratkan ciuman di kening istrinya berkali-kali.
“Aku sangat mencintaimu, sayang. Kau hanya milikku” bisiknya lalu mengeratkan pelukannya. Ia pun memejamkan matanya berharap bisa mengikuti mimpi indah sang istri. Tak berselang lama, ia pun mulai tertidur dan terbuai alam mimpi.
Malam ini sangat-sangat membuatnya bahagia dan akan ia kenang selalu. Kamar suite menjadi saksi bisu dirinya merayakan malam pertamanya bersama istri tercintanya selama menikah.
***
Sementara di dalam kamar yang ditempati oleh Hana. Tampak gadis berpenampilan culun itu sedang memeluk lututnya di pojok kamar, tepatnya di bawah jendela.
Gadis yang disapa Hana itu tampak menangis dalam diam dengan tubuh bergetar ketakutan. Satu jam yang lalu ia hampir saja meregang nyawa di tangan pria misterius yang juga menempati kamarnya.
Pasalnya Hana dan pria misterius itu berbagi kamar, padahal ia sudah kerap kali menyuruh pria itu keluar dari kamarnya, namun tetap saja pria itu kekeh ingin menguasai kamar yang ditempatinya bahkan tak segan-segan selalu mengancamnya akan membunuhnya.
"Ak-aku sangat takut, nenek." lirihnya pelan dengan rasa sesak di dadanya.
Sementara pria misterius yang selalu mengancamnya tengah meringkuk di atas ranjang dengan mata terpejam. Pria itu tidak sepenuhnya tidur, ia masih mendengar suara tangis dari gadis yang sedang berada di pojok kamar.
"Berhenti menangis! atau kau ingin aku melemparmu ke lautan hah!" suara bariton nan tegas itu membuat tubuh Hana semakin bergetar ketakutan, kedua tangannya semakin memeluk erat lututnya.
Perlahan Hana menghentikan tangisnya, namun tetap saja ia masih sesenggukan dengan bahu naik turun. Gadis itu perlahan membaringkan tubuhnya di lantai dingin tanpa beralaskan apapun.
Pria misterius itu bernama Jacobs Winston, pria 32 tahun yang merupakan musuh bebuyutan kelompok The Vio. Jacobs seorang mafia dan juga seorang pebisnis. Ia mendirikan kelompok mafia yang diberi nama W sejak tujuh tahun lalu. Dua tahun silam terjadi tragedi berdarah dalam kelompoknya.
Pamannya mati dibunuh oleh anggota kelompok The Vio, untuk itu ia mulai mengatur rencana balas dendamnya kepada anggota The Vio, terutama ketua The Vio sampai detik ini.
Sementara itu, Jacobs yang menempati ranjang masih saja tampak kesal, dengan amarah sudah redam. Malam ini ia tidak bisa menemukan jejak ketua The Vio gara-gara gadis berpenampilan culun itu. Kamar yang ditempatinya di kunci dari luar sehingga ia tidak bisa keluar dari kamar itu beberapa jam yang lalu.
Ketika dirinya sudah berhasil keluar melewati jendela kamar yang berhasil ia pecahkan kacanya, ia sudah tak lagi menemukan jejak ketua The Vio, bahkan kamar VIP yang ditempati oleh ketua The Vio sudah diisi oleh sepasang suami istri yang sudah menua.
Disitulah amarahnya semakin menggebu-gebu, amarahnya ia lampiaskan pada gadis culun yang baru saja masuk ke dalam kamar yang ditempatinya. Mencekik lehernya seolah akan mencabut paksa nyawanya.
Sementara Hana saat itu terus meronta memohon-mohon pengampunan agar Jacobs mau melepaskannya. Entah apa yang merasuki, pria misterius nan kejam itu tak jadi membunuhnya dan malah melepaskan gadis culun itu begitu saja.
*
*
*
Pagi menjelang siang itu belum ada tanda-tanda akan bangunnya sepasang suami istri yang masih meringkuk di atas ranjang dengan posisi saling berpelukan di bawah selimut.
Padahal hari ini menjadi hari istimewa bagi pasangan suami istri yang baru saja merayakan malam pertamanya semalam. Kali ini keistimewaannya semakin lengkap karena mereka saling mencintai dalam ikatan sakral pernikahan.
Perlahan Ares mulai mengerjapkan matanya dan langsung tersenyum melihat wajah cantik Violet tepat di sampingnya.
“Pagi sayang” ucap Ares lalu mengecup pipi Violet sebelum bangun.
Samar-samar Violet mendengar suara khas sang suami, namun matanya masih berat dan belum berkeinginan untuk bangun. Seluruh tubuhnya begitu remuk habis digempur habis-habisan semalaman.
Ares melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tak berselang lama kemudian, Ares keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggangnya.
Rambutnya yang basah mulai berjatuhan di dada bidangnya yang terdapat bekas cakaran, itu hasil perbuatan istrinya semalam. Namun tetap saja semakin menambah ketampanannya, apalagi wajahnya tampak berseri-seri pagi ini.
Ares melangkah mendekati ranjang lalu membungkukkan tubuhnya menatap wajah Violet yang masih terlelap. Ares menyeringai licik lalu mengecup bibir Violet.
Tak ada respon yang dilakukan istrinya, ia pun kembali mencium bibir Violet dan mellumatnya lembut, membuat tubuh Violet menggeliat.
Hingga Violet langsung membuka matanya saat setetes air dari rambut Ares yang basah mengenai wajahnya.
"Pagi sayang." ucap Ares melepaskan ciumannya.
"Pagi" ucap Violet tersenyum yang masih berbalut selimut putih bekas penyatuan semalam.
Ares tersenyum melihat bercak merah di atas sprei putih, itu menjadi bukti bahwa Violet benar-benar menjadi miliknya seutuhnya.
Perlahan Violet bangun namun tiba-tiba ia meringis kesakitan merasakan nyeri di bagian sensitifnya. Ia dengan hati-hati mencoba menggerakkan kakinya untuk turun dari ranjang.
"Awww" Violet memejamkan mata merasakan nyeri di bagian sensitifnya. Ares yang melihatnya kesakitan dengan sigap menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi.
Dengan hati-hati Ares menurunkan Violet di dalam bathtub yang sudah ia isi dengan air hangat dan aromaterapi.
"Terima kasih Ares" ucap Violet dengan wajah memerah.
“Sama-sama, sayang. Mau mengulangnya lagi?” tanya Ares dengan tatapan nakal plus mesum. Violet langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang arah dengan rona wajah memerah. Pagi-pagi suaminya sudah minta jatah lagi.
"Nanti, setelah kita selesai sarapan." jawab Violet menunduk.
Benar saja setelah mereka selesai sarapan. Di dalam kamar suite, kembali di lalui Ares dan Violet untuk mengulang kejadian semalam. Mereka kembali bercinta dan berkali-kali mendapatkan pelepasan. Hingga tubuh keduanya terkuras habis dengan peluh keringat membasahi tubuhnya.
"Welcome honeymoon. Aku akan berusaha menghamilimu, sayang. Pantang bagiku untuk pulang, sebelum kau dinyatakan hamil." ucap Ares tersenyum, membuat Violet tertawa mendengar ucapannya.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak....