
"Tadi pagi dia begitu bersemangat ingin menyambut mama dan papa, tapi apa ini " gumam Ares melihat tingkah laku istrinya.
Ares sampai geleng-geleng kepala. Perlahan ia mengulurkan tangannya menyentuh kening istrinya, mendadak raut wajahnya berubah merasakan kening Violet terasa hangat dipermukaan kulitnya.
Tanpa basa-basi Ares langsung menggendong tubuh Violet dan membawanya ke kamar. Sementara itu, ayah dan ibunya yang sempat berpapasan dengannya hanya mampu tersenyum tipis melihat mereka tampak romantis.
"Mama, tolong hubungi dokter Steven dan segera memintanya kemari." ucap Ares terlihat panik sembari menaiki anak tangga.
"Apa yang terjadi nak?" Nyonya Laurent sampai berteriak meminta penjelasan dari putranya, namun keburu putranya sudah berlalu menuju kamarnya.
"Lakukan saja yang dikatakan oleh Ares, sepertinya Violet yang sakit." sahut tuan Alex.
Nyonya Laurent kemudian menghubungi dokter Steven, dokter pribadi di keluarganya. Setelah itu, ia bergegas menyusul Ares ke kamar.
Tak berselang lama kemudian, dokter Steven sampai di kediaman Ares. Dokter berkacamata itu segera menuju kamar utama ditemani oleh kepala pelayan.
Sementara di dalam kamar, Violet sudah terbangun dan terkejut melihat Ares sudah berada di kamar. Lebih terkejutnya lagi ia melihat mertuanya sedang duduk di sofa dalam kamarnya.
"Mama, papa, eemm aku minta maaf tidak sempat menyambut kedatangan kalian." ucap Violet tidak enak hati. Raut wajahnya tampak pucat dengan tubuh terasa lemas.
“Tidak apa-apa nak, kami sangat memaklumi kondisimu. Santai saja, tak usah diambil serius" ucap Nyonya Laurent dengan senyuman menghiasi bibirnya.
Tok
Tok
Tok
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar, membuat Nyonya Laurent bergerak untuk membuka pintu.
“Mama yakin itu pasti dokter Steven” ucap Nyonya Laurent dengan tebakannya sebelum membuka pintu kamar. Dan benar saja itu memang dokter Steven.
“Silahkan masuk dok” Nyonya Laurent langsung mempersilahkan dokter Steven masuk ke dalam kamar.
"Baik Nyonya." sahut dokter Steven tersenyum ramah dengan anggukan kepala.
Bu Lilis pamit ke dapur untuk membuatkan minum untuk mereka.
Dokter Steven melangkah masuk ke dalam kamar diikut Nyonya Laurent. Mereka berjalan bersama-sama mendekati ranjang, dimana Violet tengah duduk bersandar di kepala ranjang dan Ares duduk di pinggir ranjang menemani Violet.
Dokter Steven kemudian memeriksa kondisi Violet, tampak seulas senyuman tipis menghiasi bibir dokter berkacamata itu.
“Bagaimana kondisi istriku?” tanya Ares yang sudah tak sabaran mendengar penjelasan dari dokter pribadinya.
“Kondisinya baik-baik saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan karena..”
Dokter Steven belum selesai menjelaskan perihal kondisi Violet, namun Ares langsung memotongnya.
“Bagaimana bisa kau berkata seperti itu, sementara suhu tubuh istriku masih terasa hangat.” Ucap Ares dengan tegasnya.
“Suhu tubuhnya masih dalam batas normal dan itu hal biasa yang sering dialami oleh wanita hamil.” Jelas dokter Steven.
Violet terlonjat kaget mendengar penjelasan dari Dokter Steven, sedangkan Nyonya Laurent dan Tuan Alex saling pandang yang juga sama terkejutnya hingga sudut bibir mereka terangkat membentuk senyuman tipis.
Ternyata apa yang selalu mereka harapkan selama ini akhirnya terkabul juga.
“Apa maksudmu!” timpal Ares dengan sorot mata tajam.
Ares tidak bisa berkata-kata mendengar ucapan dokter Steven. Tiba-tiba saja hatinya menghangat dengan perasaan campur aduk, namun perasaan bahagia yang lebih dominan menyelimutinya. Ares langsung berhambur memeluk tubuh Violet dan memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah istrinya.
Sontak Dokter Steven yang melihat aksi pasangan suami istri itu hanya mampu tersenyum tipis dengan wajah memerah. Ia pun turut bahagia atas kabar menggembirakan tersebut.
Violet sendiri terlihat shock mendengar kabar kehamilannya, namun dari lubuk hatinya yang terdalam ia sangat bahagia dan menerima dengan senang hati janin dalam perutnya. Berarti dugaan Bu Lilis memang benar adanya, tanda-tanda bahwa dia sedang hamil.
Sementara itu, Nyonya Laurent dan Tuan Alex saling berpelukan dengan perasaan haru, bahagia seketika menyelimuti keduanya. Mereka sampai meneteskan air mata haru, karena sebentar lagi mereka akan memiliki cucu, itu artinya mereka akan menjadi kakek dan nenek.
Setelah itu, dokter Steven pamit undur diri dari hadapan mereka, karena ia masih harus memeriksa pasiennya di rumah sakit.
Kabar kehamilan Violet sudah sampai di keluarga besar tuan Keynand. Semua anggota keluarga sangat bahagia mendengar Violet sedang hamil. Tak terkecuali Nyonya Viona dan tuan Keynand yang sudah berencana ingin menemui putri kesayangannya di negara xxx secepatnya.
***
Kini semua orang berkumpul di meja makan guna untuk makan malam. Raut wajah bahagia masih terlihat jelas di wajah mereka atas kabar kehamilan Violet.
Hanya saja Violet menjadi tidak enak hati berada ditengah-tengah mereka, terutama kepada mertuanya. Bagaimana tidak, ia sungguh bodoh sampai ketiduran di ruang keluarga hingga tak mengingat akan kedatangan mertuanya.
Ia pun duduk disamping Ares bersama dengan ayah dan ibu mertuanya, dimana mereka saat ini berada di meja makan. Pasalnya Violet begitu kekeh ingin makan malam bersama mereka dan tak ingin makan seorang diri di dalam kamar.
"Nak, makan yang banyak biar janin dalam kandunganmu tumbuh sehat. Mama lihat-lihat kau kurusan habis liburan. Dan ternyata kau rupanya sedang hamil, mama sangat bersyukur bulan madu kalian berjalan lancar." ucap Nyonya Laurent lemah lembut sembari mengambilkan potongan daging di piring Violet.
"Te-terima kasih, mama" balas Violet tersenyum tipis.
"Sama-sama nak. Oh iya, apa akhir-akhir ini kau mengalami morning sickness." ucap Nyonya Laurent dan Violet hanya mampu menggangguk menanggapi ucapan ibu mertuanya.
"Itu hal wajar yang sering dialami oleh ibu hamil. Saat mama hamil juga mengalami morning sickness" ucap Nyonya Laurent yang kembali mengenang masa lalunya.
"Untuk mengatasi semua itu, minta tolonglah kepada, Ares. Karena biasanya calon bayi ingin mendapatkan perhatian lebih dari ayahnya, pengen dimanja, disayangi dan biasanya selalu ingin berada di samping ayahnya. Dan kau Ares, mulai sekarang kau harus selalu siaga di samping istrimu." ucap Nyonya Laurent panjang lebar.
"Baik mama" ucap Ares tersenyum tipis.
Violet tersipu malu mendengar ucapan ibu mertuanya dan tangan Ares dibawah sana mulai mengelus perut rata Violet, membuat raut wajah Violet merona.
"Mulai sekarang ayah akan menjaga kalian dengan baik. Calon penerus ayah kedepannya" bisik Ares di telinga Violet, sontak Violet tersenyum tipis sambil memukul kecil lengan Ares.
Mereka menikmati makan malam dengan penuh khidmat. Selesai makan malam, mereka kembali ke kamar masing-masing dengan perasaan bahagia pastinya.
*
*
*
Hari terus berlalu bahkan bulan terus berganti. Tak terasa kehamilan Violet sudah memasuki usia tujuh bulan. Sebentar lagi penerus keluarga Robinson dan Keluarga Manav akan terlahir di dunia.
Violet sudah kesulitan bergerak maupun berjalan, karena perutnya sudah membuncit. Pasalnya ia tengah hamil bayi kembar. Dan Ares selalu setia bahkan begitu siaga menjaganya.
Tidak hanya kehidupan rumah tangga Ares dan Violet yang bahagia akan menunggu kelahiran anak pertama mereka. Pasangan Evan dan Aileen juga tengah mengalami hal yang sama, Aileen juga tengah hamil saat ini, selisih usia kandungannya hanya beda satu bulan dengan Violet.
Kedua pasangan suami istri itu sangat menantikan kelahiran buah hatinya yang tersisa beberapa bulan lagi. Mereka sudah tak sabaran menjadi ayah dan ibu.
Bersambung....