
"Kau harus selalu berada dalam pengawasanku, sayang." gumam Ares tersenyum ketika sampai di sebuah hotel.
Langkahnya sangat lebar berjalan di lobi hotel, namun dua pria berbadan kekar yang merupakan petugas hotel langsung menghadangnya.
"Tuan, sebelum anda masuk, perlihatkan terlebih dahulu kartu undangan anda." ucap salah satu petugas tersebut.
Ares langsung gelagapan dan sialnya ia sama sekali tidak memiliki kartu undangan.
Shittt, aku sungguh ceroboh. Ini semua gara-gara Yuta, bisa-bisanya ia tidak menyelidiki terlebih dahulu tentang pesta yang dihadiri istriku. Batin Ares.
"Tunggu sebentar, aku melupakan kartu undangannya di dalam mobil." Ucap Ares berbohong. Kemudian melangkah cepat menuju parkiran.
Saat berpapasan dengan salah seorang wanita, tak sengaja Ares melihat sebuah kartu undangan di tangan wanita itu. Tak ingin membuang waktu, dengan cepat Ares langsung menodongkan pistol ke arah wanita itu dan langsung merampas undangannya.
Sementara wanita itu hanya mampu terbengong yang terpesona melihat ketampanan Ares dan malah membiarkan Ares mengambil undangannya.
"Aku membutuhkannya sebentar, nanti aku kembalikan." ucap Ares kepada wanita itu dan berlalu pergi.
Kini Ares sudah berada di ballroom hotel tempat diselenggarakannya pesta, dimana para tamu undangan mulai memenuhi area pesta tersebut.
Ares mulai mengedarkan pandangannya mencari sosok Violet ditengah kerumunan tamu undangan.
"Dimana dia!" gumam Ares sembari menyapu pandangannya melihat disekelilingnya hingga tatapannya terkunci pada sosok wanita bergaun ketat sedang tertawa bersama dengan seorang pria.
Mendadak Ares langsung dilanda perasaan cemburu, ia sampai mengepalkan tangannya melihat keakraban keduanya. Sorot matanya semakin tajam menatap kearah mereka.
Diluar dugaan dua pria misterius yang juga bergabung dengan tamu undangan dalam pesta reunian tersebut. Mereka tampak mencurigakan mengawasi terus gerak-gerik targetnya.
"Aku melihat targetnya. Posisinya hanya 10 meter dari tempatku berdiri." ucap pria misterius itu pada rekannya. Dan mereka saling berkomunikasi lewat earphone kecil yang diselipkan di telinganya masing-masing.
"Bagus. Terus awasi pergerakannya." balas rekannya dan diam-diam mengisi amunisi pada senjatanya tanpa ada yang mencurigainya.
Sementara Violet sendiri tengah asyik mengobrol dengan seorang pria yang merupakan teman lamanya masa-masa kuliah dulu.
Tidak hanya mereka berdua, tiga wanita cantik yang juga merupakan teman Violet juga bergabung menambah pembahasan tentang pesta reuninya.
"Violet, kau sangat cocok menjadi pasangan Rain. Sebaiknya kalian harus meresmikannya sepulang acara reunian" goda Wilo dan merasa mereka cocok. Pasalnya Wilo dan lainnya sama sekali tidak ada yang tahu menahu tentang Violet yang sudah menikah. Jadi sah-sah saja jika mereka menjodohkan temannya.
Violet yang mendengar ucapan temannya hanya mampu tertawa kecil.
"Apaan sih, Wilo. Bukankah Rain sudah memiliki pacar." ucap Violet menyahuti ucapan temannya.
"Itu dulu, sekarang Rain sudah jomblo. Jika kau tidak percaya langsung saja tanyakan ke orangnya mumpung Rain bersama kita." timpal Astrid, membuat Rain gelagapan dan mendadak menjadi gugup ketika berhadapan dengan Violet, cinta pertamanya.
Karena Violet begitu galak kepada lawan jenis, membuat Rain tidak berani untuk mendekatinya dan malah berpacaran dengan Anggun teman sekelasnya, tapi hanya sekedar pacar pura-pura. Hubungan mereka berakhir ketika Anggun berhasil memanfaatkannya.
"Kenapa sih kalian malah menjodoh-jodohkan aku dengan Rain. Aku bahkan tidak tertarik dengan hal seperti itu." protes Violet yang masih kekeh pada pendiriannya selama ini.
"Karena hanya kalian berdua yang tak kunjung menikah dan waktunya begitu pas dengan acara reunian begini. Siapa tahu kau berubah pikiran cantik, lagian kau sudah menjadi model profesional dan Rain sudah menjadi pengusaha sukses. Jadi apalagi yang kalian tunggu. Ingat baik-baik, jangan lupakan yang namanya hubungan asmara dan segeralah kalian menikah. Karena menikah itu penting dan enak banget." sahut Melda yang tengah hamil muda.
"Enak pala loh, tidak takut lagi diselingkuhin." sentil Wilo yang tahu persis rahasia Melda.
"Dia sudah bertobat dan berjanji tidak akan selingkuhi aku." balas Melda dengan senyum dipaksakan.
"Baguslah, jika suami mu sudah berubah." ucap Wilo.
"Guys, dengar ya aku belum kepikiran kearah sana. Lagian aku masih ingin menikmati kebebasanku, bukan begitu Rain?"
Violet melirik kearah Rain, membuat pria itu langsung mengangguk cepat.
Suara tegas nan serat basah dari seseorang membuat mereka semua langsung mengalihkan pandangannya kearah sang empunya.
Hingga mereka terkejut melihat sosok pria tampan berdiri di hadapannya.
"Kau!" tunjuk Violet dan tidak menyangka bodyguardnya sampai mengikutinya ke pesta.
"Iya nona, aku datang untuk menjemput nona. Aku hanya ingin menjalankan tugas dari tuan, jadi sebisa mungkin nona selalu dalam pengawasanku." ucap Ares menunduk.
"Wow, sangat tampan. Kalau beloh tahu dia siapa, Violet?" tanya Wilo yang sudah seperti cacing kepanasan melihat pria tampan, padahal statusnya sudah bersuami.
"Bodyguard aku" timpal Violet sambil menatap tajam kearah bodyguardnya. Sungguh ia tidak suka jika bodyguardnya datang hanya sekedar tebar pesona kepada teman wanitanya.
"Rain, ayo kita berdansa." ucapnya lalu menarik tangan Rain untuk membawanya ke lantai dansa, dimana para pasangan lain tengah hanyut dalam suasana romantis di area lantai dansa.
Ares mengepalkan tangannya hingga kukunya memutih melihat Violet tengah berdansa dengan pria lain. Tidak hanya itu, dadanya bergemuruh dengan raut wajah berubah merah padam.
Ia ingin menghajar pria itu habis-habisan karena begitu berani menyentuh miliknya. Kesabaran Ares sudah habis. Tanpa basa-basi, Ares melangkah menghampiri mereka dan langsung menggendong tubuh Violet persis karung beras yang diletakan di bahunya.
Rain mencoba menghentikan Ares, namun tidak digubris oleh pria itu.
"Turunkan aku!" ucap Violet meronta-ronta meminta untuk diturunkan. Sedangkan Ares tidak menggubris ucapan Violet dan segera membawa Violet keluar dari hotel tersebut.
Mereka menjadi pusat perhatian oleh para tamu undangan.
Sementara itu, dua pria misterius tadi langsung bergerak mengikuti mereka. Untungnya insting Ares begitu kuat hingga mampu menyadari dua orang tengah mengikutinya. Namun ia memilih untuk acuh.
"Hei, turunkan aku! apa kau tuli hah!" geram Violet sambil memukul-mukul tubuh Ares, membuat Ares dengan terpaksa menurunkannya dari gendongannya.
Tapi Ares sudah mewanti-wanti Violet akan kabur setelah ini, sehingga ia dengan terpaksa membiusnya.
"Maafkan aku sayang" gumam Ares ketika melihat Violet sudah terkulai lemas dengan kesadaran menipis.
"Aku membencimu bodyguard mesum!" ucap Violet setengah sadar yang masih sempat memaki Ares.
Ares segera memasukkan tubuh Violet ke dalam mobil dan mendudukkannya di kursi depan samping kemudi. Violet masih saja memakinya dengan kesadaran menipis, namun ia tidak ingin meladeninya.
Dua pria misterius tadi memilih untuk bersembunyi dan tidak berani melawan Ares, karena mereka sudah tahu seperti apa kemampuan pria itu.
"Kita tidak bisa menghabisinya, ayo." ucap salah satu dari mereka dan memilih pergi.
Sementara Ares baru masuk ke dalam mobil setelah memastikan kedua pria penguntit itu pergi.
Ares tertegun melihat Violet memejamkan matanya dengan kepala bersandar di sandaran kursi mobil, bahkan istrinya tidak memasang sabuk pengaman.
Ares menggeleng melihat tingkah Violet yang ceroboh. Dengan hati-hati Ares memasangkan sabuk pengaman di tubuh Violet dan tak lupa menurunkan sedikit posisi kursi mobil.
“Kau istri keras kepala. Aku sudah katakan tak perlu menghadiri pesta membosankan itu, karena kondisimu masih belum fit total.” gumam Ares memandangi wajah cantik istrinya.
Kemudian Ares menyalakan mesin mobil, hingga mobil melaju kencang meninggalkan tempat tersebut.
*
*
Bersambung.....