King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Kabur dari rumah



"Ya sudah, beristirahatlah jika pekerjaanmu sudah selesai." ucap kepala pelayan tersenyum tipis.


"Siap bos ku!" ucap Karin sembari membungkukkan badannya. Setelah itu, berlari kecil menuju kamarnya persis tingkah anak kecil.


Membuat kepala pelayan hanya mampu geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.


Di dalam kamar pelayan, gadis yang sedang menyamar menjadi seorang pelayan di kediaman mewah tuan Alex tengah asyik menelepon dengan seseorang.


"Baiklah, secepatnya aku akan mengambil data-data penting perusahaannya." ucap gadis yang dipanggil Karin oleh kepala pelayan. Gadis itu tampak serius bertelepon dengan seseorang di ujung telepon.


"Bagus, anak pintar. Kau memang putri kebanggaan ayah." balas seseorang di ujung telepon dan diyakini ayahnya.


"Aku terpaksa melakukannya ayah, karena aku tidak ingin keluarga kita jatuh miskin. Teruslah berikan pujian kepada putrimu ini, karena jika aku tertangkap, maka tamatlah riwayat keluarga kita." ucap gadis yang dipanggil Karin dengan tatapan kosong.


"Jangan berkata seperti itu Aileen. Kau satu-satunya kebanggaan dan kebahagiaan kami." timpal suara seorang wanita di ujung telepon.


"Mami, kau selalu merayuku dan berkata jujur. Aaaaaaa...aku mulai merindukanmu, pengen peluuk kalian." ucapnya antusias dengan mata berkaca-kaca. Namun mendadak raut wajahnya berubah sendu, jika mengingat kembali misinya berada di kediaman mewah tuan Alex.


"Sini mami peluk kau Lee, ya walaupun putri cantik mami jauh di sana, tapi akan selalu di hati mami." ucap ibunya dengan suara parau, seolah ingin menumpahkan kesedihannya.


"Tapi, untuk sekarang, ayah dan mami jangan sering-sering menghubungiku. Aku hanya tidak ingin penyamaran ku sampai terbongkar." ucapnya dengan mata berkaca-kaca, lalu mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Ditambah kedua matanya sudah beranak sungai dan siap mengalir membasahi wajahnya.


Gadis itu mulai mengusap kasar air matanya yang tiba-tiba membasahi pipinya. Padahal tak ada bawang di dalam kamar tersebut. Namun mendadak perasaannya sangat sedih jauh dari orang tuanya.


"Jangan cengeng Aileen Lorenza Smith, kau pasti bisa." ucapnya bersemangat sembari melakukan euforia, persis para penonton di lapangan bola. Terkadang gadis berpenampilan culun itu selalu bertingkah konyol dan itu sudah menjadi ciri khas gadis yang disapa Aileen atau Lee.


🍁🍁🍁🍁


Beberapa hari telah berlalu, Violet sudah pulang ke negaranya dan kembali bisa berkumpul bersama keluarganya. Ia tidak ingin lagi berurusan dengan pria bernama Ares. Cukup sekali baginya berurusan dengan pria itu sebagai bentuk balas budi atas apa yang pernah dilakukan pria itu terhadapnya.


Violet bersumpah tidak ingin lagi berkunjung ke negara xxx. Memblokir nomor pria jelek nan menyebalkan itu. Segalanya yang bersangkutan dengan pria itu sudah ia hapus jejaknya. Ia pikir pria itu lebih licik darinya, oh tentu saja dirinya pun jauh lebih licik.


Jika Ares kembali berurusan dengannya, ia tidak segan-segan untuk menghabisi nyawa pria itu. Tidak ada kamus baginya dikekang oleh seseorang. Karena biasanya dirinya lah yang selalu mengekang orang.


Terlihat Violet berada di ruang gym, setiap sore hari ia selalu menyempatkan waktunya untuk berolahraga. Supaya tubuhnya tetap bugar dan fit, semua itu demi menjaga tubuhnya agar tetap ideal.


Keringat mulai bercucuran membasahi pipinya. Violet dengan lihainya membasuh keringatnya menggunakan handuk kecil. Setelah itu, ia kembali berjalan di atas treadmill.


Derttt... derttt


Terdengar suara ponselnya berbunyi nyaring. Violet tahu betul siapa menelponnya di jam begini. Dengan cepat ia menyambungkan headset bluetooth lewat ponselnya guna mengangkat panggilan masuk tersebut.


"Kenapa Joy?" ucapnya sedikit terengah-engah dan masih berjalan di atas treadmill.


"Saya sudah mempersiapkan keberangkatan anda ke pulau Liu. Sekitar dua jam lagi kita akan berangkat, ketua." ucap Joy di ujung telepon.


"Bagus Joy, nanti aku mengabarimu setelah selesai bersiap-siap." ucap Violet tersenyum tipis.


"Baik ketua." timpal Joy. Dan panggilan mereka pun berakhir.


"Violet!"


"Iya mom." sahut Violet sembari membuka lemari pendingin dan mengambil air mineral lalu meneguknya dengan perlahan.


"Nanti malam kita akan berkunjung ke rumah Paman Alex, untuk membicarakan perihal pertunangan kau dengan putranya paman Alex." ucap ibunya sembari menyusun kue kering di dalam toples.


Seketika Violet langsung menyemburkan air dari mulutnya mendengar ucapan ibunya.


"Apa!" Violet terlonjat kaget lalu mengalihkan pandangannya ke arah ibunya. "Mommy, aku tidak ingin lagi berurusan dengan pria itu. Bahkan keluarganya tidak menyukaiku." ucapnya memelas.


"Bagaimana bisa tidak menyukaimu sayang, jelas-jelas Paman Alex sangat setuju menjadikanmu sebagai menantunya." timpal ibunya tersenyum tipis.


"Mom, sebenarnya mereka sudah memiliki calon menantu yang sempurna. Lagian Paman Alex tidak muncul ketika aku berkunjung ke rumahnya. Bagaimana mungkin dia akan mendukungku. Pokoknya aku tidak ingin memiliki hubungan dengan keluarga paman Alex." ucap Violet yang menolak mentah-mentah segala keputusan orang tuanya.


Kemudian Violet melangkah menuju kamarnya.


"Violet! Violet!" teriak ibunya, namun Violet berpura-pura tidak mendengarnya dan seolah tidak memperdulikannya.


"Violet! ya ampun anak itu. Bagaimana bisa dia beranggapan bahwa keluarga Alex tidak menyukainya." ucap Nyonya Viona sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar melihat punggung putrinya yang sudah menjauh dari pandangannya.


Sementara itu, Violet bergegas mengemasi sebagian pakaiannya. Ia tidak ingin lagi berurusan dengan pria itu. Ia harus berangkat ke pulau Liu secepatnya. Jika ibunya melarangnya keluar rumah, ia akan pergi secara diam-diam.


Setelah itu, barulah dirinya akan meminta izin kepada ayahnya. Karena jika sekarang ia meminta izin kepada ibu dan ayahnya, sudah pasti ia tidak akan diijinkan untuk pergi, mengingat akan adanya pertemuan keluarga.


"Akhirnya selesai juga mengemas pakaianku." ucap Violet tersenyum memandangi koper kecilnya.


"Sekarang waktunya menghubungi Joy. Aku akan meminta Joy untuk menjemputku." gumam Violet lalu menghubungi tangan kanannya.


Setelah itu, Violet melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tak berselang lama kemudian, Violet sudah berganti pakaian dan siap untuk berangkat.


Violet berdiri di depan jendela kamar untuk melihat situasi di halaman rumah. Karena banyaknya bodyguard ayahnya yang selalu berjaga-jaga, membuatnya sedikit kesulitan keluar rumah jika tak mendapatkan persetujuan dari kedua orang tuanya.


"Ahh.. sebaiknya aku keluar lewat jalan rahasia saja. Aku harus kabur dari rumah demi menghindari pertunangan itu" gumamnya sambil menyeringai tipis.


Jalan satu-satunya ia akan keluar dari kediamannya dengan cara memanjat tembok. Ia bahkan sudah sering keluar masuk dengan cara seperti itu.


Violet bernafas lega setelah berhasil keluar dari kediamannya. Ia mengalihkan pandangannya hingga tersenyum tipis melihat mobil Joy sudah terparkir di jalan. Namun senyumannya pudar ketika melihat bodyguard ayahnya berlarian keluar.


Dengan cepat Violet berlari menghampiri mobil Joy. Beberapa bodyguard tuan Keynand juga ikut berlarian ke arah mobil yang akan ditumpangi oleh nona mudanya.


"Buka pintunya Joy." ucapnya sambil mengetuk pintu mobil Joy. Lantas Joy langsung membukakan pintu untuknya. Kemudian Violet bergegas masuk ke dalam mobil. Setelah itu, Joy langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan.


Diluar dugaan tampak pengendara mobil berwarna hitam yang terparkir di seberang jalan sedang memperhatikan Violet dari dalam mobil.


Bersambung.....