King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Anting



Sore harinya Evan memutuskan pulang ke negaranya seorang diri. Pasalnya ia harus menyelesaikan masalah perusahaannya yang tak kunjung usai. Padahal ia mempercayakan masalah perusahaannya kepada sekretarisnya, namun tak kunjung kelar.


Dan kebetulan keluarganya juga akan kembali ke negara xxx beberapa hari lagi, mengingat orang tuanya ingin merayakan pesta pernikahan saudaranya Ares yang diam-diam menikahi Violet, mantan tunangannya. Tapi ia sudah ikhlas melepasnya, tidak ada yang paling berharga di dunia ini selain keluarganya.


Selama tiga jam perjalanan, Evan tiba di negaranya. Sudah ada mobil yang menjemput kedatangannya di Bandara. Ia lekas masuk ke dalam mobil dan tak berselang lama mobil melaju meninggalkan tempat tersebut.


Hanya 40 menit perjalanan, mobil yang membawanya sampai di kediamannya. Evan bergegas turun dari mobil, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Tapi sebelumnya sang pelayan lebih dulu membukakan pintu untuknya.


Suasana rumah begitu sepi tanpa kehadiran ayahnya. Karena hanya ia dan ayahnya tinggal di rumah mewah tersebut. Walaupun sebenarnya ada tiga pelayan yang bekerja, namun sama saja kehadiran mereka bagaikan angin berlalu.


Evan melangkah tergesa-gesa menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Setibanya di depan pintu kamarnya, ia bergegas masuk ke dalam lalu meletakkan koper kecil yang di bawanya di samping ranjang.


Evan membuka jaket yang di pakainya lalu menyampirkannya di kursi, setelah itu membuka sepatunya lalu menggantinya dengan sandal jepit yang selalu ia pakai ketika di rumah.


Tidak ingin membuang-buang waktu, Evan melangkah ke ruang kerjanya untuk memeriksa berkas-berkas penting yang ia sembunyikan di dalam lemari dan juga di laci meja kerjanya.


Sungguh ia merasa aneh tiba-tiba data-data penting perusahaan cabang yang dipegangnya di hack oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Sehingga dengan mudah lawan bisnisnya menjatuhkan reputasi perusahaan anak cabang yang dipimpinnya sejak empat tahun silam.


Dan sampai sekarang ia masih mencari dalang di balik masalah yang tengah dihadapi oleh perusahaannya. Ia tidak akan memberi ampun kepada pelaku kejahatan tersebut.


"Arghhh sial, ternyata beberapa berkas perusahaan ku memang hilang." ucap Evan marah sambil menggebrak meja kerjanya.


"Aku sangat yakin ada seseorang yang menyelinap masuk ke rumah ini hanya untuk mencuri berkas itu" ucap Evan dengan raut wajah merah padam dan kedua matanya memancarkan kilatan amarah. Bisa-bisanya beberapa berkas penting perusahaannya hilang jika saja tidak ada orang dalam yang mengambilnya.


"Aku tidak akan pernah mengampuni orang yang sudah mencuri berkas-berkas penting perusahaan ku!" ucap Evan dengan amarah menggebu-gebu sambil mengepalkan tangannya. Ia sudah berjanji pada dirinya tidak akan mengampuni pelakunya.


Evan memilih memeriksa cctv di dalam ruang kerjanya lewat ponselnya. Karena kebetulan ia memasang cctv di ruangan tersebut, namun begitu tersembunyi sehingga tidak ada yang mengetahuinya. Lagian tak ada yang berani masuk ke ruang kerjanya selain dirinya dan pelayan yang memang ditugaskan membersihkan ruang kerjanya.


Tiba-tiba raut wajah Evan berubah hingga matanya membulat sempurna melihat seseorang berpakaian serba hitam dengan menggunakan tutup kepala layaknya seorang pencuri sungguhan masuk ke dalam ruang kerjanya dengan cara mengendap-endap. Ia tidak tahu pasti siapa orang itu, yang jelasnya orang itu seperti sudah terbiasa keluar masuk ke ruang kerjanya.


Penculikan itu terjadi saat dirinya berangkat ke luar negeri lengkap dengan waktu kejadiannya pada pukul 9 malam waktu setempat.


Evan membuang nafas kasar lalu mendaratkan bokongnya di kursi kebesarannya, namun tiba-tiba ia menginjak sesuatu di bawah mejanya. Perlahan Evan mengulurkan tangannya untuk mengambil sesuatu yang mengganjal alas kakinya.


"Anting" gumamnya sambil memegang benda tersebut, setelah sempat kesulitan mengambil anting tersebut di bawah kolong meja.


Evan memandang dengan intens sebuah anting permata. Walaupun ia tidak begitu tahu tentang aksesoris wanita, namun ia yakin anting itu bukan milik sembarangan orang dan tidak mungkin juga jika pelayan di rumahnya mengenakan anting berlapis berlian.


"Sepertinya ini bisa dijadikan barang bukti untuk mengungkap siapa pelakunya." ucapnya menyeringai lalu memasukkannya ke dalam dompetnya. Jangan sampai benda berharga itu sampai hilang ditangannya bisa-bisa ia akan kesulitan menangkap pelakunya.


Ia bertekad seorang diri untuk menangkap pelakunya dan tak ingin masalah perusahaannya sampai di ketahui oleh ayahnya.


Karena jika ayahnya mengetahui masalah perusahaannya, dengan cepat ayahnya akan turun tangan untuk menyelesaikan masalah perusahaan tanpa menunggu waktu lama. Karena dibalik semua itu, sesungguhnya ayahnya memiliki orang-orang hebat yang selalu bekerja di belakang layar tanpa ia ketahui seperti apa mereka. Terkadang beberapa lawan bisnis Ayahnya yang selalu berbuat curang memilih mundur dengan sendirinya, seolah-olah ayahnya menggertak mereka yang sudah lebih dulu mengetahui akal bulusnya.


Evan keluar dari ruang kerjanya dan kembali berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan untuk mengumpulkan para pelayan di kediamannya. Kebetulan ia melihat Bu Ambar, kepala pelayan di kediamannya.


"Bu Ambar, panggil semua pelayan untuk berkumpul di sini!" ucap Evan dengan tegasnya dan masih tersulut emosi terhadap lawan bicaranya.


Tak berselang lama, Bu Ambar kembali ke ruang makan bersama Lilis yang juga seorang pelayan. Mereka datang hanya berdua membuat Evan mengerutkan keningnya.


"Kenapa kalian hanya berdua, mana lagi pelayan baru itu." ucap Evan yang masih sempat mengingat pelayan baru berpenampilan culun.


"Karin tuan" sahut Lilis.


"Aku tidak tahu siapa namanya, lalu kemana dia?" tanya Evan dengan nada tinggi.


"Karin sudah berhenti tuan, sejak tuan keluar negeri. Katanya dia disuruh pulang ke kampung oleh orang tuanya" jawab Lilis takut-takut melihat raut wajah majikannya tampak menyeramkan bak iblis yang akan memakannya hidup-hidup.


"APA!!" Evan terkejut mendengar penuturan pelayan itu. Sungguh aneh jika pelayan baru itu berhenti mendadak.


Aku harus menyelidikinya. Batin Evan.


*


*


*


Sementara di tempat lain....


Terlihat wanita cantik dengan gaun merah menyala berjalan anggun memasuki ballroom hotel tempat diselenggarakannya pesta. Kedatangan wanita cantik itu menjadi pusat perhatian beberapa tamu undangan khususnya kaum pria langsung terpesona melihat kecantikan wanita itu.


"Cantik sekali wanita bergaun merah itu, aku pastikan dia akan menjadi teman kencan ku." ucap salah satu pria yang memuji kecantikan wanita itu dan dengan percaya dirinya akan menjadikan wanita itu sebagai teman kencannya.


"Aku akan menjadikannya sebagai pacarku." pungkas teman satunya.


"Tidak bisa. Bidadari cantik itu harus menjadi istriku." sahut temannya sambil memukul dadanya sendiri yang sedang berbangga hati akan menjadikan wanita itu sebagai istrinya.


Wanita cantik itu mulai mengedarkan pandangannya mencari sosok yang dikenalinya.


Hingga terdengar suara-suara yang sangat familiar memanggilnya dengan hebohnya.


"Lee sayang, kemarilah." panggil dua orang paruh baya dengan kompaknya memanggil putrinya.


Mendadak wanita cantik itu tersenyum manis kearah orang tuanya, lalu melangkah anggun menghampirinya.


"Ayah, Mami" ucap wanita cantik itu sambil memasang wajah dingin di depan orang tuanya. Wanita cantik itu tidak lain adalah Aileen, wanita yang berpura-pura menjadi pelayan di kediaman tuan Alex.


Bersambung...


Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏