
Malam hari Violet sibuk menyajikan makan malam di atas meja bersama pelayan. Tadi ia sempat menyempatkan waktu bergelut di dapur untuk memasak makanan kesukaan Ares.
Ya walau sejujurnya ia tak pandai memasak, namun berkat bantuan juru masak di kediaman Ares akhirnya ia mampu memasak makanan kesukaan Ares.
Karena pada dasarnya seorang istri harus serba bisa memenuhi kebutuhan sang suami, salah satunya urusan dapur.
Raut wajah Violet tampak berseri-seri, senyuman manis terus menghiasi bibirnya melangkah ke ruang kerja sang suami. Dengan hati-hati ia membuka pintu ruang kerja Ares lalu melangkah masuk sembari mengendap-endap mendekati meja kerja sang suami.
Terlihat Ares begitu serius bergelut dengan laptopnya, tumpukan dokumen yang belum ia periksa menjadi tambahan pekerjaannya. Sampai-sampai ia tak menyadari keberadaan istrinya.
"Happ" Violet langsung menutup kedua mata Ares, membuat sang empunya tersenyum tipis. Ia tahu betul siapa orang yang sedang menjahilinya.
"Sayang, jangan bermain-main, aku sedang sibuk." ucap Ares sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
Refleks Violet melepaskan kedua tangannya yang sempat menutupi kedua mata Ares, membuat Ares memutar kursinya menghadap kearah Violet.
"Hentikan pekerjaanmu, ayo kita makan malam, Ares." ucap Violet sambil menopang dagu pada meja kerja Ares.
"Baiklah, tapi setelah urusanku selesai." ucap Ares tersenyum simpul, lalu menarik tangan Violet hingga membuat keseimbangan tubuh Violet oleng dan langsung terjatuh di atas pangkuan Ares.
"Ares, apa yang kau lakukan." ucap Violet sembari mencoba bangkit berdiri, namun Ares sudah memeluk pinggangnya dengan sangat posesif.
"Aku ingin memakanmu lebih dulu, sayang." ucap Ares menyeringai sambil memiringkan kepalanya, membuat Violet menjadi gugup sembari mendorong dada bidang Ares.
Akan tetapi, Violet tidak bisa lepas dari kemesuman Ares. Mulutnya sudah dibungkam habis, Ares begitu menggila mencium bibir Violet sambil memegang tengkuk Violet untuk memperdalam ciumannya.
Tiba-tiba ponsel Ares berbunyi nyaring membuat konsentrasi keduanya menjadi buyar. Namun Ares tidak menghiraukannya, ia sudah terbiasa di ganggu oleh ponsel pintarnya di waktu yang tidak tepat, seperti sekarang ia sedang bermesraan dengan istrinya.
"Angkat dulu teleponnya, siap tahu penting." ucap Violet disela-sela ciuman panasnya.
"Shittt" Ares mengumpat kesal, dengan terpaksa ia melepaskan ciumannya.
"Aku akan mengangkat telepon, tapi kau jangan beranjak dulu." ucap Ares dan Violet menggangguk cepat menanggapi ucapannya.
Ares menghembuskan nafasnya dengan kasar melihat panggilan masuk dari ibu tercintanya.
Bagaimana bisa ia terus di ganggu oleh ibunya di waktu yang tidak tepat. Sementara ibunya dan lainnya sudah menginginkan cucu darinya.
Tanpa menunggu lama, Ares langsung mengangkat panggilan masuk dari ibunya.
"Halo mama" ucap Ares diujung telepon sembari memainkan ujung rambut istrinya.
"Bagaimana dengan kabar Violet, nak?" tanya Nyonya Laurent di ujung telepon dan terdengar sangat cemas.
"Kabar Violet baik, mama. Jadi jangan khawatir. Lalu bagaimana dengan kabar mama, ayah dan Oma di sana?" Ares balik bertanya yang sedang menanyakan kondisi keluarganya.
"Kabar kami baik, nak. Seminggu lagi kami akan mengunjungi kalian." ucap nyonya Laurent memberitahu perihal kedatangannya.
"Iya mama, nanti aku menjemput mama di bandara." sahut Ares.
"Iya nak. Kalau begitu mama tutup dulu teleponnya, selamat malam." ucap ibunya di ujung telepon. Dan Ares hanya mampu membalas dengan ucapan yang sama.
"Sudah selesai?" tanya Violet sambil mendongak menatapnya.
"Hemm, sekarang kita...."
"Tidak Ares, aku sudah lapar, ayo kita makan malam bersama." ucap Violet yang sudah tahu maksud arah pembicaraan Ares.
"Baiklah, aku tidak tega melihat istriku kelaparan." balas Ares sambil membelai wajah Violet.
Kemudian dengan hati-hati Ares menurunkan tubuh Violet dari pangkuannya. Lalu mereka melangkah bersama-sama ke ruang makan untuk makan malam bersama.
Mereka makan malam dengan penuh khidmat. Selesai makan malam bersama, mereka kembali ke kamar. Pasalnya Ares sudah berjanji kepada Violet akan menceritakan tentang awal-awal pertemuan mereka hingga memutuskan menikah.
Violet sudah berganti pakaian dengan piyama tidur seksi dan tengah menunggu Ares di atas ranjang. Sedang Ares masih berada di ruang ganti yang tampak mondar-mandir sedang berpikir keras.
"Ayolah Ares, katakan saja yang sebenarnya." gumam Ares. Lalu memutuskan keluar dari ruang ganti.
Tampak Violet sudah menunggunya di atas ranjang dengan pose menggoda. Membuat Ares kesulitan menelan ludahnya yang mendadak tak bisa mengendalikan hasratnya.
"Apa aku membuatmu menunggu, sayang?" tanya Ares sembari merangkak naik ke atas ranjang.
"Tidak, justru aku begitu antusias ingin mendengar ceritamu." jawab Violet sambil mengulurkan tangannya, dengan sigap Ares menerima uluran tangannya lalu menggenggam erat tangan istrinya.
Perlahan Violet bersandar di dada bidang Ares dan sudah tak sabaran mendengarkan cerita versi Ares.
"Dengarkan baik-baik, jangan sampai ceritaku terlewatkan." peringat Ares kepada Violet.
"Iya, aku akan menyimaknya dengan baik." sahut Violet sambil mengelus rahang kokoh Ares.
Ares pun mulai menceritakan tentang awal pertemuan mereka dan sedikit menambahkan hal yang sengaja dibuat-buat supaya ceritanya sedramatis mungkin.
Violet sesekali tersenyum tipis bahkan tertawa mendengar cerita Ares yang sangat menarik diawal-awal pertemuan mereka, bahkan matanya mulai berkaca-kaca saat Ares mengungkapkan isi hatinya kepadanya ketika akan melamarnya. Hingga cerita itupun berakhir dengan mulus sesuai alur cerita Ares.
"Terima kasih, Ares. Kau sudah susah payah menceritakannya. Aku bahkan sangat-sangat terharu mendengar cerita di awal pertemuan kita hingga kita berakhir menikah." ucap Violet tersenyum merekah dalam pelukan hangat sang suami.
"Sama-sama, sayang. Aku sangat senang bisa bercerita tentang hubungan kita" balas Ares sambil mengeratkan pelukannya.
Mereka pun memutuskan untuk tidur sambil berpelukan memberikan kehangatan satu sama lain.
*
*
*
Dua bulan kemudian....
Sudah dua bulan Violet tinggal bersama dengan Ares. Selama dua bulan mereka sibuk berpacaran dan saling mengenal satu sama lain.
Mengenai ingatan Violet, masih saja belum pulih. Namun, Ares terus melakukan pengobatan yang terbaik demi kesembuhan sang istri.
Untuk pekerjaan sebagai model yang selalu Violet geluti terpaksa harus cuti dalam kurung waktu lama. Karena kondisinya tidak memungkinkan, padahal Violet baik-baik saja, hanya ingatannya lima tahun kebelakang belum kembali.
Setelah ingatan Violet kembali, Ares akan meminta Violet untuk berhenti menjadi model, ia tidak akan membiarkan Violet bekerja, cukup Violet duduk manis di rumah menikmati jerih payahnya.
Hari ini Violet berencana ke kantor Ares untuk membawakan makan siang. Ia sendiri yang memasak makanan kesukaan Ares. Sekarang hobinya memasak, bukan lagi menembak dan menghabisi nyawa orang.
Saat berada di teras rumah, Violet terhentak melihat kedatangan wanita cantik yang sepertinya seumuran dengannya dan kini menatapnya tajam.
"Anda siapa?." tanya Violet dengan raut wajah bingung.
"Aku Kayla, mantan pacar suamimu dan sekarang kami masih menjalin hubungan spesial." jawab wanita itu dengan entengnya dan tak lain adalah Kayla.
"Apa!"
Violet terlonjat kaget bahkan hampir menjatuhkan paper bag yang berisi bekal sang suami di tangannya. Mendadak kepalanya pusing dan bayangan entah siapa orangnya kembali memenuhi isi kepalanya.
Bersambung...