King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Siuman



"Aawww!" pekik keduanya. Dimana posisi tubuh Evan menimpa tubuh kecil Aileen.


"Dasar bodoh!" ucap Evan dengan kekesalan yang mulai merasukinya.


Evan lantas menggeser posisinya dari tubuh Aileen dan segera bangkit berdiri. Ia memilih menjauh dari Aileen dibandingkan harus membantu wanita itu berdiri.


"Evan! tunggu!"


Aileen mencoba menghentikan Evan yang kembali menaiki anak tangga.


"Ada apa? aku tidak suka membuang-buang waktuku hanya meladeni wanita pencuri." ucap Evan dengan ketusnya tanpa berbalik badan menghadap kearah Aileen.


"Lenganmu memar, biar aku obati dulu." ucap Aileen yang mampu melihat lengan Evan memar seperti tergores tralis besi pada pegangan tangga.


Evan tidak menggubris ucapan Aileen, ia malah melangkah menuju kamarnya.


"Dasar pria aneh dan arogan. Aku hanya ingin berbaik hati mengobati lengannya, tapi dia begitu cuek bahkan sikapnya sangat dingin seperti kutub es yang terus membeku." gumam Aileen dengan bibir mencebik.


"Dia benar-benar pria tak tahu terima kasih. Pinggangku bahkan masih sakit akibat menjadikan tubuh berhargaku sebagai alas untuk tubuhnya. Seandainya tadi aku biarkan saja dia terjatuh, maka tubuhku tidak akan tertimpa tubuh si pria aneh itu yang persis beruang kutub. Aileen, kau memang sungguh bodoh!." tambah Aileen dan begitu geram dengan sikap Evan terhadapnya. Kemudian ia pun bergegas ke dapur untuk mengambil air minum, lalu kembali ke kamarnya.


Aileen sudah bertekad untuk tidak mengakrabkan diri dengan Evan, pria yang sudah sah menjadi suaminya. Karena pria itu sendiri yang memulai perseteruan dengannya.


*


*


*


Sebulan kemudian...


Selama sebulan lamanya, Ares terus stand by di rumah sakit untuk menjaga Violet. Begitupun dengan keluarga Violet yang terus bolak-balik ke rumah sakit untuk datang menjenguk Violet, bahkan mereka saling bergantian membantu Ares menjaga Violet.


Padahal sejujurnya Ares bisa melakukannya sendiri, namun mau bagaimana lagi tidak mungkin juga ia melarang orang tua Violet jika ingin menjenguk putri kesayangan di keluarga mereka.


Dan selama sebulan ini, Violet masih saja koma dan tak kunjung siuman. Padahal dokter sudah berusaha keras melakukan yang terbaik demi kesembuhan pasiennya. Namun, Tuhan belum menghendakinya.


Jika pasien masih saja mengalami koma tanpa ada perkembangan sedikit pun kedepannya, maka kecil harapan pasien itu bisa bertahan hidup.


Tampak Ares sedang duduk di kursi samping ranjang pasien. Pria itu memegang sebuah buku cerita dan sepertinya sedang membacakan cerita untuk sang istri.


"Dan akhirnya mereka bahagia sampai maut memisahkan." ucap Ares yang berhasil mengakhiri cerita dari buku yang dibacanya. Bahkan sudut matanya berair yang terhanyut dalam alur cerita pada buku yang dibacanya.


"Sayang, semoga kau senang mendengar kisah cinta Kevin dan Megan." ucapnya tersenyum tipis lalu mencium punggung tangan istrinya berkali-kali sampai ia puas.


Tiba-tiba saja air matanya kembali menetes dengan sendirinya. Jika orang-orang menganggapnya pria lemah, memang benar kenyataannya.


Sekarang ia menjadi lemah persis mayat hidup yang sudah tak memiliki kehidupan, karena kehidupannya hanya ada pada istrinya. Namun wanita itu tak kunjung membuka matanya hanya sekali saja untuknya.


Perlahan Ares menjatuhkan kepalanya di pinggir ranjang pasien. Lalu menangis dalam diam di ruangan bernuansa putih yang beraroma desinfektan khas rumah sakit.


Tangannya masih setia menggenggam erat jemari lentik sang istri. Sambil terus meluapkan kesedihannya.


Sementara wanita yang terbaring lemah di atas ranjang pasien juga tampak meneteskan air mata, seolah kesedihan yang dialami oleh Ares juga mampu dirasakannya.


"Sayang, kumohon bangunlah. Aku sangat merindukan suaramu, tawamu, senyumanmu dan semua sikap yang selalu kau tunjukkan kepadaku. Bahkan semua orang merindukanmu dan ingin mengajakmu berkumpul bersama" lirih Ares berderai air mata.


"Aku sangat mencintaimu, sayang. Jangan terus membuatku kesepian seperti ini, tiada hari tanpa mendengar ocehan mu. Tidakkah kau merasakan apa yang sedang kurasakan sekarang?"


Ares mendongakkan kepalanya menatap wajah istrinya. Ia ingin sekali mata bulat dengan bulu mata lentik itu terbuka lebar supaya bisa menatapnya dengan puas.


Entah keajaiban dari Tuhan, tiba-tiba jemari tangan Violet bergerak dalam genggaman Ares. Sontak Ares langsung membulatkan kedua matanya dan terkejut bukan main merasakan jemari tangan sang istri bergerak dalam genggamannya.


"Violet!" ucapnya tak percaya sembari menghapus air matanya. Semoga keajaiban Tuhan benar-benar terjadi pada wanita yang dicintainya.


Tanpa basa-basi Ares langsung menekan tombol darurat dalam ruangan tersebut untuk memanggil dokter.


Tak berselang lama kemudian dokter dan dua perawat wanita bergegas masuk ke dalam ruang perawatan Violet.


Dokter meminta Ares untuk keluar dari ruangan tersebut, karena dokter akan memeriksa kondisi pasien yang mulai mengalami peningkatan pasca mengalami koma selama sebulan lamanya. Hal itu sebagai tanda-tanda pasien sudah siuman.


Mau tak mau Ares tampak patuh dan bergegas keluar dari ruangan tersebut. Tanpa ia duga, ternyata tuan Keynand dan Nyonya Viona sudah menunggu di luar ruangan. Sepertinya mereka baru saja sampai.


"Apa yang terjadi pada Violet? kenapa dokter tampak buru-buru masuk ke ruang perawatan Violet?" tanya Nyonya Viona dengan raut wajah khawatir menatap menantunya.


"Mama, sepertinya Violet akan siuman. Aku sempat merasakan jemari tangan Violet bergerak dalam genggamanku. Lalu aku segera memanggil dokter untuk memeriksa kondisinya." jawab Ares dengan mata berkaca-kaca.


"Oh syukurlah, aku sangat senang mendengarnya. Semoga doa-doa kita semua dikabulkan oleh Tuhan." ucap Nyonya Viona dengan mata berbinar.


Mereka hanya mampu menunggu di luar ruangan, dimana dokter sedang memeriksa Violet. Perlahan ada secercah harapan untuk kesembuhan wanita yang sangat disayangi oleh keluarga tuan Keynand.


Tak berselang lama kemudian, pintu ruang perawatan Violet terbuka lebar dan muncullah dokter yang baru saja memeriksa kondisi Violet.


"Dokter, bagaimana keadaan putriku?" tanya tuan Keynand tampak cemas.


"Putri anda sudah siuman, namun untuk saat ini belum bisa ditemui, karena pasien mengalami amnesia dan masih perlu melakukan pemeriksaan secara lengkap termasuk CT scan pada bagian kepala. Tidak hanya itu, Nona Violet tidak mampu mengingat kejadian lima tahun kebelakang. Jadi diharapkan kepada pihak keluarga untuk terus berada di sampingnya dan jangan sekali-kali membuatnya stress, karena itu akan berakibat fatal bagi kesehatannya." jelas dokter wanita bernama Raisa.


"Syukurlah dok, kami sangat senang mendengar bahwa putri kami sudah siuman. Terus lakukan yang terbaik untuk putri kami, dok" ucap tuan Keynand dan mendadak merasakan perasaan sedikit lega setelah mengetahui putrinya sudah siuman.


Mendadak Ares merasakan perasaan haru plus campur aduk, kesemuanya menjadi satu. Bagaimana tidak sekian lama, akhirnya Violet siuman.


*


*


*


Bersambung...