
Violet sedang menemani anak kembarnya memilih mainan. Ia hanya membiarkan si kembar memilih mainan yang disukainya dan sesekali tersenyum melihat tingkah Aufar yang begitu antusias ingin memborong banyak mainan, seolah anak bungsunya itu ingin memborong semua isi toko mainan tersebut.
Namun berbeda dengan Aaron, si sulung hanya sibuk dengan mainan rubik di tangannya, hanya rubik menjadi mainan favoritnya. Anak berusia lima tahun itu sifatnya sangat jauh berbeda dengan kembarannya, ia lebih mandiri dan juga cerdas.
"Mommy, Aufar mau yang ini." Aufar terus mengambil mainan yang di sukainya.
"Iya sayang, ambil saja. Tapi, Aufar harus janji lebih rajin lagi belajarnya. Jangan cuma terus bermain dengan mainan baru, nanti Aufar lupa belajar" ucap Violet tersenyum dan tak lupa memperingatkan anak bungsunya untuk rajin belajar jangan cuma bermain saja.
"Baik Mommy, Aufar janji" pinta Aufar sembari menaikkan jari kelingkingnya, sontak Violet langsung mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh jagoan kecilnya.
Ibu dan anak itu saling mengaitkan jari kelingkingnya sebagai bentuk kesepakatan bersama mereka. Setelah itu, mereka kembali berkeliling mencari mainan yang bagus.
Violet membawa keranjang yang berisi mainan Aufar. Sedangkan Aaron sama sekali belum memilih satupun mainan, ia hanya membantu adiknya memilih mainan yang bagus.
Seperti sekarang Aaron diminta memilihkan mobil remote untuk Aufar, karena Aufar lah meminta kepada saudaranya untuk dipilihkan tipe yang bagus. Sementara itu, Aufar sudah memegang dua buah kotak mainan yang berisi robot Ultraman.
"Satu saja Aufar, lagian sudah banyak mainan yang kau pilih, nanti juga kau pusing mana yang akan kau mainin." ucap Aaron dengan bijaknya.
Karena Aufar kembali mengambil dua buah mobil remote.
"Kalau satu gak seru kak! masa cuma aku yang main mobil-mobilan, sedangkan kakak tidak." protes Aufar dan tetap mengambil dua buah mainan mobil remote.
Violet hanya mampu geleng-geleng kepala melihat tingkah anak bungsunya yang hobi beli mainan. Namun ia tidak ingin menegurnya, jangan sampai Aufar ngambek dan moodnya menjadi buruk, akan begitu sulit untuk membujuknya.
Violet hanya bisa memakluminya, maklum masih anak-anak. Lagian ayah si kembar memiliki banyak uang, walaupun membeli toko mainan itu beserta isinya pun tak masalah baginya yang jelas anak-anaknya senang.
Sementara Aaron menghentikan langkahnya saat tak sengaja melihat pistol mainan yang terpajang dalam kotak persegi berdinding kaca transparan. Aaron menatap takjub mainan tersebut.
"Mommy, Aaron mau mainan yang itu" ucap Aaron sembari menunjuk mainan di rak persegi paling atas.
Violet mengerutkan keningnya melihat mainan yang ditunjuk oleh anak sulungnya itu, namun ia tetap mengambilkannya. Pasalnya itu hanya pistol mainan.
"Ini sayang, masih ada lagi yang ingin kalian beli?" tanya Violet kepada si kembar.
"Terima kasih, mommy. Ini sudah cukup." ujar Aaron dan langsung memeluk kotak mainannya yang berisi pistol mainan.
"Tidak ada lagi mommy, ini sudah cukup." sahut Aufar.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita ke kasir untuk membayar seluruh belanjaan kalian." ucap Violet tersenyum lalu membawa anak kembarnya ke kasir, dimana beberapa orang sudah mengantri di sana.
Diluar dugaan, pria misterius tadi diam-diam masuk ke toko mainan, pandangannya ia edarkan hingga menemukan sosok yang menjadi incarannya.
"Aku sudah menemukan ibu dan anak itu, segera hadang mereka di depan pintu masuk. Sebentar lagi mereka akan keluar." ucapnya pada rekannya lewat earphone yang terpasang di telinga bagian kirinya.
"Oke" timpal rekannya yang sudah standby di depan toko mainan.
Sementara itu tiga bodyguard Ares sedang berjaga-jaga di samping pintu masuk toko mainan tersebut. Dua diantaranya sedang melakukan pengawalan terus mengikuti anak dan istri majikannya.
Pria misterius tadi lekas mengambil salah satu mainan untuk ikut mengantri bersama pembeli, jangan sampai ia kehilangan targetnya.
Aufar begitu senang berdiri di samping ibunya, sedangkan Aaron tampak melihat kearah pintu masuk.
"Pak, tolong bawa anak-anak ke mobil." ucap Violet kepada bodyguard. Karena ia tidak tega anak-anaknya ikut mengantri dan masih terdapat beberapa orang didepannya.
"Baik nyonya." ucap salah satu bodyguard.
"Aaron, Aufar, tunggu mommy di mobil." ucap Violet kepada anak-anaknya sebelum mereka di bawa oleh bodyguard ke mobil.
"Siap mommy." ucap si kembar dengan kompaknya.
Kedua bodyguardnya lalu membawa Aaron dan Aufar menuju mobil yang terparkir di depan toko mainan tersebut.
Saat mereka keluar dari toko mainan, tiba-tiba saja dua orang bertopeng langsung melemparkan serbuk bius kearah bodyguard yang berjaga-jaga. Mendadak ketiga bodyguard tersebut langsung jatuh pingsan.
Sementara kedua bodyguard yang membawa si kembar tampak waspada.
"Cepat bawa tuan muda ke mobil, biar aku yang melawannya." ucap bodyguard itu dan rekannya menggangguk cepat.
Saat akan memasukkan si kembar ke dalam mobil, namun kembali pria bertopeng menghadangnya di samping mobil dan langsung menyerangnya.
Aufar langsung terjatuh dari gendongan bodyguardnya, ketika pria bertopeng menendang leher bodyguard itu. Sedangkan Aaron yang akan naik ke atas mobil memilih untuk menolong adiknya.
"Masuk ke dalam mobil tuan muda." perintah bodyguard itu lalu melawan pria bertopeng tersebut.
"Ayo Aufar, kita harus mengikuti ucapan Paman bodyguard." ucap Aaron kepada adiknya.
"Iya kak" sahut Aufar.
Kemudian mereka bergegas naik ke atas mobil lalu mengunci pintu mobilnya.
"Terus bagaimana dengan mommy?" tanya Aufar kepada kembarannya. Pasalnya ibunya masih ada di dalam toko mainan.
"Sebaiknya kita telepon Daddy." ucap Aaron dengan idenya.
"Ya, aku setuju" Aufar lantas mengambil ponselnya di dalam tas, lalu menghubungi ayahnya.
Namun sayang sekali ayahnya tidak mengangkat panggilannya. Karena sepertinya ayahnya sedang sibuk dan masih mengikuti rapat.
"Yah, Daddy sibuk, bagaimana ini. Aku sungguh takut kakak" ucap Aufar takut bahkan sudah mau menangis.
Aaron mengambil ponsel di tangan adiknya lalu menghubungi ibunya. Namun ibunya juga tidak mengangkat panggilannya.
Sementara bodyguardnya sudah dikalahkan oleh pria bertopeng itu, bahkan sekarang pria bertopeng itu sedang mengetuk jendela mobil.
"Kakak!" Aufar sudah ketakutan sembari memeluk lengan kembarannya melihat penjahatnya. Ia bahkan ingin ngompol di dalam mobil.
"Hei anak kecil, buka pintunya!" pria bertopeng itu terus mengetuk kaca jendela mobil.
Namun Aaron tidak memperdulikannya, karena masih terus menghubungi ibunya.
"Sialan!" geram pria bertopeng itu. Lalu menyuruh temannya untuk memecahkan kaca mobil.
Brakk
Aaron kemudian bergerak membunyikan klakson mobil untuk meminta tolong. Sedangkan Aufar memilih bersembunyi di bawah.
Akan tetapi, jendela mobilnya sudah pecah. Pria bertopeng itu menyeringai jahat sembari membuka pintu mobil.
"Kenapa sayang" ucap Violet yang baru mengangkat panggilan masuk dari anaknya sembari membayar belanjaan anak-anaknya.
"Mommy, ada penjahat..." ucap Aaron di ujung telepon.
"Kakak, mommy" teriak Aufar yang sudah dibawa oleh penjahat.
Sontak Violet langsung berlari keluar dari toko mainan dan terlonjat kaget melihat bodyguardnya sudah tergeletak di lantai.
"Aufar!" Aaron bergegas turun dari mobil untuk menolong adiknya.
"Lepaskan adikku!" teriak Aaron mengejarnya bahkan langsung melompat memegangi kaki penjahatnya.
Namun Pria bertopeng itu malah menendang tubuh Aaron hingga terhempas ke aspal, kedua lutut Aaron tampak memar akibat tergores aspal.
"Bawa juga anak kecil itu" perintahnya kepada rekannya. Kemudian memasukkan Aufar ke dalam mobil. Aufar kembali berteriak meminta tolong di dalam mobil, namun punggungnya langsung dipukuli tanpa ampun hingga membuatnya tak sadarkan diri.
"Berhenti!" teriak Violet sembari berlari kencang untuk menyelamatkan anak kembarnya.
"Tinggalkan saja anak itu." ucap pria bertopeng itu ketika melihat Violet berlari kearahnya. Dan rekannya lantas masuk ke dalam mobil.
Pria bertopeng itu langsung menancap gas meninggalkan tempat tersebut.
"TIDAK!" teriak Violet melihat dengan mata kepalanya sendiri anaknya diculik oleh penjahat.
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗