King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Kau Siapa?



Di dalam ruang perawatan, tampak wanita yang baru saja siuman terlihat linglung di atas ranjang pasien. Pandangannya diedarkan melihat disekelilingnya yang begitu asing. Tapi ia sudah menduga sedang berada di rumah sakit, mengingat aroma disenfektan begitu menembus indera penciumannya.


"Bagaimana bisa aku berada di tempat ini." ucapnya dengan suara serak sehabis bangun tidur. Tatapan matanya masih sendu dengan bibir memucat.


"Mommy, Daddy, dimana mereka?" tanyanya pada diri sendiri, karena tidak mendapati kedua orang tuanya berada di ruangan yang sama dengannya. Tak ayal jika ia mencari kedua orang tuanya.


Ia juga bingung bertanya kepada perawat yang tampak membereskan peralatan medis.


"Awwww"


Wanita itu meringis kesakitan saat tak sengaja menggerakkan lengannya hingga jarum infus yang tertancap di punggung tangannya langsung bereaksi bergesekan dengan permukaan kulitnya.


"Nona Violet, anda tidak apa-apa." ucap perawat wanita menghampirinya.


Wanita itu hanya mampu menggelengkan kepalanya pelan dengan seluruh tubuh masih lemas tak bertenaga. Namun lagi-lagi ia merasakan pusing, ditambah kepalanya berdenyut nyeri.


Lebih terkejutnya ia menyentuh kain kasa yang terlilit di keningnya. Apakah tubuhnya segitu parah sampai harus di rawat di rumah sakit, pikirnya.


"Apa yang sudah terjadi kepadaku?" gumamnya bertanya-tanya dalam hati. Dan ya wanita itu tidak lain adalah Violet.


"Sebaiknya anda beristirahat dan tolong jangan terlalu banyak gerak, karena anda baru saja siuman." jelas perawat wanita mengingatkan akan kondisinya.


"Apa! jadi aku baru saja siuman?" tanya Violet terkejut.


"Iya nona." jawab perawat wanita itu dengan anggukan kepala.


Saat Violet ingin melontarkan pertanyaan kepada perawat. Mendadak pintu ruang perawatannya terbuka lebar dan muncullah dua sosok yang sangat disayanginya, siapa lagi kalau bukan kedua orang tuanya.


Violet langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk dan tak jadi menanyakan hal yang mulai mengganggu pikirannya kepada perawat wanita yang menjaganya.


"Mommy, Daddy!" ucapnya tersenyum menatap kearah kedua orang tuanya.


Tuan Keynand dan Nyonya Viona ikut tersenyum dengan rona wajah bahagia, kemudian mereka bergerak menghampiri putri kesayangannya. Mereka mendekati ranjang pasien.


Tanpa basa-basi Nyonya Viona memeluk tubuh putrinya meluapkan segala ketakutan dan kerinduannya selama ini. Wanita paruh baya itu hanya mampu berterima kasih kepada Tuhan, karena berkat kuasa Tuhan akhirnya putrinya siuman.


"Syukurlah kau sudah siuman sayang." ucap Nyonya Viona dengan suara serak, matanya tampak berkaca-kaca yang sedang diselimuti perasaan haru melihat putrinya sudah membaik.


Pasalnya Tuan Keynand dan Nyonya Viona sudah diperbolehkan masuk untuk melihat kondisi putrinya. Sementara Ares hanya mampu menunggu di luar ruangan.


Violet tak menggubris ucapan ibunya, ia juga masih bingung dengan yang dialaminya sekarang. Kenapa dirinya sampai dirawat di rumah sakit, bahkan perawat dan ibunya sama-sama mengatakan bahwa dirinya baru saja siuman.


Violet mencoba mengingat kembali kejadian sebelum dirinya berada di rumah sakit. Namun ingatannya tak mampu menangkap apapun, hanya kepalanya yang kembali berdenyut nyeri dan hal itu membuatnya kesakitan.


"Aaakkhh, kepalaku sakit, mom" lirih Violet sambil menyentuh kepalanya menggunakan sebelah tangannya.


Nyonya Viona melepaskan pelukannya dan mendadak panik melihat tingkah putrinya yang tampak kesakitan sambil menyentuh kepalanya yang terlilit kain kasa.


"Tenang sayang, mommy akan panggilkan dokter." ucap ibunya khawatir.


"Tidak perlu mommy, sakitnya sudah tidak terlalu. Oh iya, kenapa aku berada di rumah sakit, mom?" tanya Violet dan masih bisa menahan rasa sakit yang dialaminya sekarang.


Ia semakin penasaran apa yang sudah terjadi kepadanya sampai-sampai di rawat di rumah sakit.


Deg


Kedua orang tuanya terkejut mendengar pertanyaan Violet.


"Kau mengalami kecelakaan, sayang. Makanya kau di rawat di rumah sakit." jawab Nyonya Viona lemah lembut dan berusaha tersenyum di depan putrinya, dimana kedua matanya sudah beranak sungai.


Violet terdiam mendengar ucapan ibunya.


"Ya, benar yang dikatakan Daddy mu." sahut Nyonya Viona membenarkan ucapan sang suami.


"Mommy, aku haus." rengek Violet menatap wajah ibunya.


"Tunggu sebentar sayang." ucap Nyonya Viona sambil mengulurkan tangannya mengambil segelas air putih yang selalu tersedia di atas nakas.


Dengan penuh kasih sayang, Nyonya Viona membantu putrinya minum. Setelah itu, kembali membantu Violet bersandar di kepala ranjang pasien yang sudah di beri bantal.


"Kemana kak Daisy dan Victor? kenapa mereka tidak bersama kalian?" tanya Violet menanyakan keberadaan saudaranya.


"Mereka ada urusan. Sebentar lagi mereka pasti akan datang." jawab ayahnya.


"Benarkah? aku sangat merindukan mereka. Apalagi kak Daisy pasti akan mengomeli ku saat tahu aku terbaring sakit" ucap Violet antusias.


"Issy tidak akan mengomelimu sayang, karena dia sangat menyayangimu. Apalagi tidak akan lama lagi Issy akan melahirkan buah hatinya." sahut ayahnya yang begitu gembira akan dikaruniai seorang cucu. Namun, secepat kilat mendapatkan cubitan di lengannya, itu semua karena ulah sang istri.


"Apa! kak Daisy hamil? kapan dia menikah? kenapa aku menjadi pikun dan pelupa seperti ini." ucap Violet bingung dan merasa heran dengan ucapan ayahnya.


Maklum dirinya mengalami amnesia dan sama sekali tak mengingat kejadian lima tahun kebelakang.


Sebisa mungkin Nyonya Viona dan Tuan Keynand menjelaskannya dengan baik dan hal yang sama sekali tidak diingat oleh sang putri. Sedangkan Violet hanya mampu manggut-manggut mendengar penjelasan ayahnya.


Sementara di luar ruangan, Ares tampak mondar-mandir di depan pintu. Tangannya begitu gatal ingin membuka pintu ruang perawatan istrinya, namun selalu saja ia urungkan.


Bukan tanpa sebab ia berdiam diri di luar ruangan, setelah mendengar langsung penjelasan dari dokter perihal kondisi istrinya, ia menjadi pesimis untuk menemui istrinya.


Karena tidak menutup kemungkinan kehadirannya pasti akan menjadi tanda tanya besar bagi Violet, karena sudah pasti Violet tidak mengingat siapa dirinya.


Ares melirik kearah pintu mendapati Daisy dan Victor baru saja keluar dari ruang perawatan Violet.


"Yang sabar Ares, ini ujian terberat untukmu. Berusahalah memenangkan hati saudariku, karena aku sangat yakin dia sama sekali tidak mengenalimu. Bahkan Violet sangat terkejut melihat perutku membuncit. Aku hanya bisa memberimu semangat" ucap Daisy memberikan nasihat kepada adik iparnya.


"Terima kasih, aku akan bekerja keras untuk membuat Violet mengingatku kembali." ucap Ares percaya diri.


"Ya. Kau harus melakukannya. Kalau begitu kami permisi." pamit Daisy dan Ares hanya mampu menggangguk.


Kemudian Daisy diantar pulang oleh Victor, saudaranya. Pasalnya Juno sedang keluar kota mengurus bisnisnya.


Ares mulai dilanda dilema, antara ingin bertemu dengan istrinya atau tidak sama sekali. Tapi, ia juga tidak ingin terus berdiam diri di luar ruangan.


"Arghhh, aku tidak peduli jika Violet tidak mengingatku. Pokoknya aku harus menemuinya." ucap Ares dengan tekad sudah bulat.


Perlahan Ares membuka pintu ruang perawatan Violet lalu bergegas masuk ke dalam.


Sontak wanita yang menempati ranjang pasien terkejut melihat pria asing masuk ke dalam ruang perawatannya. Dimana pandangan mata mereka bertemu.


"Kau siapa?" tanya Violet dengan kening berkerut.


"Ak-aku..."


Ares tergagap dan tak tahu harus menjawab apa.


*


*


Bersambung...


Jangan lupa like, komen dan vote ya teman-teman 🙏