King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Permohonan maaf Aileen



"Oh my God, buka tidak ya" ucapnya bimbang menatap kearah pintu.


Lagi-lagi terdengar suara gedoran pintu dari luar diikuti suara bel rumah tanpa jeda. Aileen tidak punya pilihan lain selain membuka pintu rumahnya.


Ceklek


Seketika Aileen terlonjat kaget dengan mata membulat sempurna melihat sosok pria tengah berdiri di hadapannya.


Jantungnya hampir copot dari tempatnya hanya melihat wajah pria yang pernah menjadi mantan majikannya itu, lebih tepatnya ia pernah mencuri di rumah mewah pria itu untuk mengambil berkas penting perusahaan sebagai bentuk balas dendamnya.


Dilain sisi, pria yang tengah berdiri di ambang pintu dan tak lain adalah Evan, terbelalak kaget melihat penampilan si pencuri yang sepertinya sengaja menggodanya hanya memakai jubah mandi dengan rambut masih terbungkus handuk di atas kepala si pencurinya.


Evan berdecak kesal karena terlalu pagi mendatangi rumah wanita pencuri itu. Dan sekarang ia menyaksikan penampilan wanita itu yang mulai mengotori otaknya.


Aileen melipat bibirnya dengan lidah terasa keluh untuk berbicara apalagi sekedar berbasa-basi dengan pria itu. Namun, ia tidak ingin terus berlama-lama berdiri saling berhadapan dengan pria itu.


"Cari siapa?" tanya Aileen gugup sembari menunduk. Ia sungguh takut jika Evan mengenali wajahnya.


"Aku datang untuk menangkap seorang pencuri." jawab Evan dengan entengnya.


Deg!


Lagi-lagi Aileen terkejut mendengar ucapan mantan majikannya. Ia sudah tak tenang di tempatnya dengan pikiran mulai berkecamuk dan ingin segera menghilang dari hadapan pria itu persis film fantasi yang pernah di tonton nya. Namun itu hanya angan belaka, sekarang ia dibekuk oleh pria itu.


"Maaf, anda salah rumah dan juga salah orang jika ingin menangkap pencuri di sini." Aileen berusaha bersikap sopan dan sebisa mungkin memasang mimik wajah tampak baik-baik saja, namun tetap saja matanya tidak bisa berbohong.


"Benarkah kau tidak mengenal pencurinya?" tanya Evan sembari maju satu langkah mendekati Aileen.


"Apa-apa maksudmu tuan? aku tidak mengerti. Dan maaf aku tidak sedang menerima tamu." ucap Aileen gugup dan sebisa mungkin menghindari pria itu sambil mundur beberapa langkah, lalu segera menutup pintunya.


Namun sayangnya, Evan lebih dulu menghadangnya dengan sebelah kakinya menghadang pintu, agar Aileen tidak bisa menutup pintu rumah nya.


Mereka pun saling mempertahankan keinginannya masing-masing di ambang pintu, hingga membuat Aileen kalah telak dari Evan.


Tubuh Aileen terdorong ke samping bersamaan pintu rumah terbuka lebar. Aileen kalah dari Evan, ia sudah tidak tahu harus berbuat apa memilih berlari menuju kamarnya, namun baru beberapa langkah, Evan langsung mencekal pergelangan tangannya.


"Mau kemana kau? aku tidak akan melepaskanmu. Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu atas tindakan kriminal mu. Aku pastikan kau akan mendapatkan hukuman berat. Beraninya kau mencuri di kediamanku!." cecar Evan yang sudah dikuasai emosi.


Aileen terkejut bukan main mendengar ucapan Evan, ia terus memberontak dan berusaha melepaskan tangannya yang sedang di cengkram kuat oleh Evan.


"Lepaskan aku, tidak seharusnya anda datang ke rumah orang hanya untuk melakukan tindak kekerasan." ucap Aileen dengan ketusnya. Pasalnya pergelangan tangannya sudah memerah akibat cengkraman kuat dari tangan Evan yang sangat besar dan berotot pula.


"Aku tidak akan melepaskanmu!" sahut Evan dengan nada penekanan, bahkan sorot matanya begitu tajam menatap mangsanya.


Aileen dengan susah payah menelan ludahnya, ia sudah tidak punya pilihan lain selain melawan Evan. Dengan sedikit kemampuan bela diri yang dimilikinya, ia mencoba menggunakannya di saat genting begini.


"Hiaaaa, kan ku patahkan tulang-tulang mu, tuan." ucap Aileen sambil mengayunkan tangannya di udara untuk menghajar wajah Evan, namun sayang seribu sayang, Evan dengan segap menangkap tangannya lalu memelintirnya ke belakang.


"Awwww, sakit tuan! tanganku bisa patah. Tolong lepaskan!" Aileen meringis kesakitan sambil memohon untuk dilepaskan.


Evan memilih melepaskan Aileen dan tak lupa mendorong tubuh Aileen dengan cara kasar hingga handuk kecil yang terlilit di rambut Aileen terjatuh ke lantai. Seketika rambut panjang Aileen yang masih basah tergerai dan sontak menjadi perhatian Evan.


Tanpa sadar Evan memandangi wajah Aileen beberapa detik lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


"Cepat kenakan pakaianmu, aku hanya menunggumu tiga menit, lalu segera membawamu ke pihak yang berwajib." ucap Evan tak main-main.


"Tolong ampuni aku tuan, aku sungguh minta maaf sudah melakukan hal bodoh, jangan bawa aku ke kantor polisi. Aku benar-benar khilaf sudah mencuri di kediaman mu." ucap Aileen sambil menundukkan kepalanya memohon-mohon kepada Evan dan tanpa sadar mengakui sendiri perbuatannya.


"Kata-kataku tidak akan aku tarik kembali, jadi bersiaplah menerima masa depanmu yang suram. Karena aku tidak akan mengampunimu! kau akan membusuk di penjara selama-lamanya!." ucap Evan dingin, seolah ucapannya bak titisan dewa penjemput kematian.


Tidak! aku tidak mau di penjara. Batin Aileen.


Aileen mengangkat wajahnya dengan kedua tangan di kepal kuat. Matanya memancarkan kebencian terhadap pria yang tengah berdiri di hadapannya.


Entah apa yang merasukinya, Aileen berani menatap tajam ke arah Evan yang terus menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Hei tuan! kau pikir dengan kekuasaan yang kau milikku ingin menghancurkan hidupku? oh kau salah besar, tuan yang terhormat. Baik, aku akan katakan yang sejujurnya alasan aku mencuri di rumah mu." ucap Aileen sambil menunjuk ke arah Evan, lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Evan tak menimpali ucapan Aileen, ia memang ingin mendengar langsung alasan wanita itu mencuri di kediamannya.


"Tapi sebelumnya aku mengakui perbuatanku. Ya, aku lah orang yang sudah mencuri di rumah mu dan mengambil dokumen penting perusahaan mu. Semua itu aku lakukan sebagai bentuk balas dendam ku kepadamu dan juga kepada perusahaan mu. Asal kau tahu, kaulah orang yang sudah membuat perusahaan ayahku jatuh bangkrut dan hampir saja membuat keluargaku menjadi gelandangan di jalanan. Jadi apa salahnya jika aku melakukan balas dendam kepadamu dengan mencuri dokumen penting perusahaan mu!." ucap Aileen menjelaskan alasan dibalik ia melakukan hal tersebut.


"Tapi kau sedang berurusan dengan orang yang memiliki segudang kekuasaan, nona Aileen. Apalagi kau melakukan aksi balas dendam dengan cara kotor..Ciihh!!. Aksimu itu hanya berakibat fatal pada dirimu sendiri maupun keluargamu. Apapun alasannya, aku tidak mengampunimu, tetap saja kau akan mendapatkan hukuman yang setimpal." tegas Evan tanpa ingin mengampuni wanita yang pernah bekerja sebagai pelayan di kediamannya.


Raut wajah Aileen mendadak berubah pucat setelah mendengar ucapan Evan barusan. Namun, ia terus berpikir keras dan tidak ingin kalah apalagi patah semangat melawan pria itu.


Baiklah jika kau masih bersikukuh tidak mengampuniku, aku pun akan melakukan hal gila yang tidak akan pernah kau bayangkan. Batin Aileen menyeringai.


Perlahan Aileen maju satu langkah demi langkah mendekati Evan, namun dari lubuk hatinya ia sungguh takut melakukan aksi yang sedang memenuhi pikirannya.


Sementara Evan mengerutkan keningnya melihat tingkah laku Aileen yang terus mendekatinya, ia mampu membaca pikiran wanita itu yang sedang mencoba menggodanya.


Hingga tubuh mereka hanya terkikis oleh jarak beberapa senti saja, dimana posisi mereka saling berhadap-hadapan. Evan tidak bergeming di tempatnya, ia penasaran hal apa yang akan dilakukan wanita itu kepadanya.


Aileen dengan ragu memegang jas Evan lalu berjinjit sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Evan, hingga mencium bibir pria itu.


Cup


"Aileen!" Terdengar suara seseorang memanggil namanya.


*


*


Bersambung.....