King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Selamat datang di dunia, sayang



Di dalam kamar bernuansa putih. Terlihat wanita hamil tengah menyisir rambutnya yang panjang. Raut wajahnya terlihat berseri-seri menatap pantulan dirinya di dalam cermin.


Penampilan wanita hamil itu hanya mengenakan kimono hingga ia terlihat seksi dengan perutnya yang buncit. Dari penampilannya wanita hamil itu seperti habis mandi.


Saat asyik menyisir rambutnya, tiba-tiba saja sebuah tangan kekar memeluknya dari belakang dan mengelus lembut perutnya yang buncit.


"Sayang, terima kasih untuk jatah pagi ini. Aku sangat senang bisa mengunjungi anak-anak." ucap suara serak pria yang sedang memeluknya dari belakang.


"Wow, rasakan sayang, anak-anak bahkan sangat senang bisa aku kunjungi pagi ini. Mereka terus aktif menendang-nendang dan begitu bersemangat di dalam perutmu. Kurasa mereka pengen lagi dikunjungi nanti malam, soalnya masih kangen sama ayahnya." tambahnya tersenyum tipis lalu mencium pundak istrinya.


Sontak wajah wanita hamil itu memerah dengan hati berbunga-bunga mendengar ucapan sang suami. Pasalnya mereka habis bercinta pagi ini.


"Jangan membahas itu lagi, Ares. Segeralah bersiap-siap, aku sudah siapkan pakaian kantormu. Aku ingin datang lebih awal ke rumah sakit. Karena aku ingin menjadi orang pertama memeriksakan kehamilanku hari ini." ucap wanita hamil itu sambil mengelus lengan sang suami.


"Baik sayang."


Mereka adalah pasangan Ares dan Violet yang sangat bahagia menantikan kelahiran buah hatinya. Ares senantiasa menemani Violet memeriksakan kondisi kehamilannya, ia selalu menyempatkan waktu kapanpun ketika jadwal pemeriksaan istrinya tiba saatnya.


Tampak Violet baru saja selesai bersiap setelah dibantu oleh sang suami. Rencananya ia akan ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya.


"Sayang kau sudah siap berangkat?"


Ares memastikan kembali penampilan istrinya sebelum berangkat ke rumah sakit.


Violet hanya mampu mengangguk menanggapi ucapan Ares. Namun mendadak ia langsung memegangi perutnya.


"Emm tunggu Ares, tiba-tiba perutku sakit." ucap Violet memelas sambil menyentuh perutnya.


Ares bergerak mendekati Violet lalu menuntunnya duduk di sofa. Perlahan jemari tangannya menyentuh perut istrinya dan mulai mengelus lembut perut buncit istrinya.


"Apa masih sakit sayang?" tanya Ares khawatir dan Violet mengangguk cepat.


"Aku tidak tahu tiba-tiba perutku sakit." lirih Violet dengan mata berkaca-kaca. Namun ia berusaha terlihat tenang.


"Ya sudah, aku akan meminta dokter Gisel untuk datang ke rumah memeriksa kandunganmu." ucap Ares dengan keputusannya.


"Tidak usah, nanti juga sakitnya menghilang." tolak Violet sambil menyadarkan punggungnya di sandaran sofa.


Ares kemudian berjongkok di hadapan Violet, lalu mencium perut buncit istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Anak-anak jangan membuat ibumu kesakitan. Kami akan ke dokter untuk memeriksakan kondisimu, nak. Ayah dan ibumu sangat menyayangi kalian." ucap Ares sambil mengelus lembut perut istrinya dan kembali menciumnya dengan penuh kasih.


Tiba-tiba saja rasa sakit yang dialami Violet perlahan menghilang. Sementara Ares masih sibuk menciumi perutnya seolah sedang berusaha menyembuhkannya lewat sebuah ciuman.


Refleks Violet mengangkat tangannya lalu mengusap rambut Ares yang mulai gondrong itu ke belakang. Sejak dirinya hamil, Ares belum pernah cukur rambut, karena itu salah satu syarat-syarat di keluarganya yang harus dilakukan oleh suami ketika istrinya sedang hamil.


Suami baru bisa cukur rambut ketika calon bayi dalam kandungan istrinya sudah tumbuh rambut, barulah ia diperbolehkan cukur rambut.


Harusnya Ares sudah bisa cukur rambut ketika usia kandungan Violet lima bulan, namun Ares berkeinginan memanjangkan rambutnya, ia mulai terbiasa dengan penampilannya yang sekarang. Rambut gondrong dan penampilannya itu terlihat macho dan garang.


Violet bahkan keseringan menarik rambut Ares yang gondrong itu ketika mereka sedang bersantai ataupun sedang bercinta.


"Bagaimana? masih sakit sayang?" tanya Ares sambil mendongak menatap wajah cantik istrinya.


Violet menggeleng cepat sembari berkata "Karena kau sudah menyembuhkannya lewat sebuah ciuman. Anak-anak sangat senang mendapatkan ciuman darimu." ucap Violet tersenyum tipis.


"Ya, padahal aku ingin memanjangkannya biar bisa menyaingi rambutmu, sayang." ucap Ares sambil mengedipkan matanya.


"Pokoknya kau harus potong rambut, titik!" ucap Violet tak ingin dibantah.


Violet begitu gampang emosi semenjak hamil dan sikap keras kepalanya semakin menjadi-jadi semenjak hamil. Ares hanya mampu mengalah bahkan rela menjadi budak istrinya yang jelas istrinya bahagia.


"Iya sayang, aku pasti potong rambut hari ini. Aku pastikan kau akan terus menempel di sisiku setelah melihat penampilan baruku." ucap Ares dengan bangganya.


Ia perlahan bangkit dan kembali membungkukkan tubuhnya untuk mencium bibir istrinya.


Violet hanya mampu memegang lengan Ares, membiarkan Ares terus mengeksplor bibirnya tanpa henti. Setelah puas berciuman barulah mereka berangkat ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit, Ares menggandeng tangan istrinya menuju ruangan dokter Gisel, dokter spesialis kandungan. Ia bersyukur hari ini datang lebih awal.


Jadi mereka tidak perlu lagi menunggu sesuai nomor antrian panjang bersama ibu hamil lainnya yang juga akan memeriksa kandungan.


Saat melewati lorong rumah sakit, mendadak Violet merintih kesakitan memegangi perutnya.


"Akkhh, Ares, perutku sakit." keluhnya dengan bibir bergetar.


"Akkkkhh, uuhhh sakit sekali." lirih Violet yang kembali merasakan sakit luar biasa. Baru kali ini ia merasakan sakit luar biasa seolah ada yang menghantam perutnya sampai ke pinggangnya . Bahkan ia sampai setengah membungkukkan tubuhnya.


"Tenang sayang." Ares terlihat panik namun sebisa mungkin mencoba menenangkan istrinya.


"Dokter... dokter, tolong istriku." teriak Ares di lorong rumah sakit.


Hingga Dokter dan suster berlarian menghampirinya. Kebetulan ada suster membawa brankar. Ares langsung mengangkat tubuh istrinya dan membaringkannya pada brankar.


Mereka membawa Violet ke ruang bersalin, karena melihat bercak darah di pakaian Violet bahkan ketubannya sudah pecah.


Ares terlihat panik plus khawatir dengan jantung terus memompa cepat saat dokter mengatakan istrinya harus segera ditangani, persalinannya akan segera dilakukan dengan jalan operasi.


Ia sangat shock mendengarnya, mengingat usia kandungan istrinya baru akan memasuki usia delapan bulan. Tak ada persiapan sama sekali yang mereka lakukan, tiba-tiba istrinya sudah akan melakukan persalinan. Ares hanya mampu mengikuti sesuai saran dari dokter demi keselamatan istri dan bayinya.


Kini mereka berada di ruang operasi, semua orang yang berada di ruangan operasi mengenakan pakaian steril, termasuk Ares yang sedang mendampingi istri tercintanya.


Dimana Violet sudah dalam pengaruh obat bius, dicubit sekalipun ia sudah tak merasakan sakitnya. Dokter bedah terbaik dan pihak medis sudah siap melakukan operasi.


Ares sampai meneteskan air matanya melihat langsung segala proses persalinan istrinya. Hingga buah hatinya yang sangat dinantikan kehadirannya akhirnya terlahir di dunia.


Perasaan haru sekaligus bahagia langsung menyelimuti perasaannya ketika melihat bayi kembarnya berjenis kelamin laki-laki lahir dengan selamat.


"Selamat datang di dunia, sayang. Semoga kalian tumbuh sehat dan menjadi anak-anak kebanggaan Ayah dan ibu." gumam Ares meneteskan air mata haru dan bahagia melihat bayi kembarnya yang berjenis kelamin laki-laki yang dinantikan nya selama ini.


*


*


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗