King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Gagal total



Violet menyeringai melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Entah apa yang akan ia direncanakan kali ini kepada bodyguardnya.


Lihat saja aku ingin mengerjaimu bodoh, setelah ini kau pasti tidak akan pernah muncul di hadapanku. Batin Violet menyeringai licik.


Kini Ares sudah berada di dalam kamar Violet, sedang pemilik kamar tersebut sedang berada di kamar mandi, karena ia mampu mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.


Tak berselang lama kemudian, Violet keluar dari kamar mandi hanya mengenakan jubah mandi dan rambut tampak basah hingga kesannya ia terlihat seksi.


Perlahan Violet berjalan anggun menghampiri Ares yang tengah duduk di sofa. Ares yang menyadari keberadaannya langsung mengalihkan pandangannya kearah Violet hingga tatapannya terkunci dan tak berkedip melihat mahluk cantik dihadapannya.


Sungguh Ares terpesona melihat kecantikan dan penampilan Violet malam ini. Jantungnya langsung berdegup kencang dan tak bisa dikondisikan.


Violet berdiri tepat di hadapan Ares, lalu membungkukkan badannya untuk membisikkan sesuatu di telinga Ares.


"Temani aku tidur malam ini." ucap Violet manja lalu meniup telinga Ares, membuat Ares menegang dengan seluruh tubuh langsung terbakar gairah.


Apalagi ia mencium aroma sabun dari tubuh Violet yang tercium sangat manis dan memabukkan. Namun, Ares tidak ingin terpancing dengan semua itu termasuk ucapan manis Violet yang ingin membawanya ke langit ketujuh. Karena bisa saja ini hanya jebakan batman untuknya, mengingat istrinya sangat licik dan juga cerdik selama ini.


"Maaf nona, aku tidak bisa." tolak Ares mentah-mentah, padahal dari lubuk hatinya ia sangat gembira seolah menenangkan lotre, walau hanya diajak tidur bersama.


"Benarkah? kau yakin tidak mau tidur denganku." ucap Violet sambil menyentuh bahu Ares, kemudian jemari tangannya turun membelai lembut dada bidang Ares yang hanya terbungkus kaos oblong hitam.


Kali ini Ares mendapatkan ujian besar, ia tidak sanggup merasakan jari-jari lentik Violet terus membelai dada bidangnya. Seketika hasratnya bangkit dan harus segera dituntaskan.


"Hentikan nona. Maaf, aku tidak bisa tidur disini, aku harus keluar. Jangan sampai tuan dan nyonya curiga melihat kita berada di kamar yang bersama" ucap Ares dan langsung menangkap tangan Violet yang masih menyentuh dada bidangnya. Ia masih dalam kondisi sadar dan harus mengedepankan akal sehatnya dibandingkan napsu nya.


Violet yang mendapatkan penolakan menjadi kesal, namun ia semakin berani menggoda Ares.


Sial!, rencanaku tidak boleh gagal, aku harus menyingkirkan pria ini. Karena aku sangat yakin pria ini akan masuk dalam perangkap ku. Walau sejujurnya aku sangat gugup berhadapan dengannya. Batin Violet sambil menggigit bibir bawahnya.


"Ssstt..Mommy dan Daddy ku menginap di rumah kak Daisy. Jadi jangan takut Ares" ucap Violet tersenyum manis sambil meletakkan jari telunjuknya di atas bibir Ares.


Jangan salahkan aku, jika aku tidak bisa mengontrol diri, Violet. Kau sendiri yang menggodaku. Batin Ares yang pertahanannya mulai runtuh dan perlahan tergoda dengan bujuk rayuan manis sang istri.


"Jadi bagaimana? kau mau kan tidur denganku?" tanya Violet, kemudian menjatuhkan tubuhnya duduk di atas pangkuan Ares.


Ares terkejut bukan main dengan aksi Violet, namun ia langsung mengangguk setuju menanggapi ucapan Violet.


Violet mengulas senyuman licik lalu mengalungkan kedua lengannya di leher Ares.


"Katakan jika kau mau tidur denganku." ucap Violet sambil mengedipkan sebelah matanya dan memang sengaja memancing Ares.


"Aku bersedia tidur denganmu, nona Violet." ucap Ares mantap dan sudah tak mau mundur. Bahkan kedua tangannya sudah melingkar di pinggang Violet.


"Bagus, anak pintar." ucap Violet tersenyum sambil menepuk-nepuk pipi Ares. Sedangkan Ares sendiri kesulitan bernafas merasakan dua benda kenyal menempel di dada bidangnya, kesadarannya mulai on off.


Yes, kau masuk dalam perangkap ku. Setelah ini, aku akan mempermalukan mu. Batin Violet menyeringai. Namun sialnya jantungnya berdebar-debar kencang setiap kali berdekatan dengan bodyguardnya.


"Emmm...Ares, aku mau berpakaian dulu." ucap Violet gugup dan merasa aneh sesuatu menggelitik pahanya. Walaupun ia tampak berani menggoda Ares, tapi kenyataannya ia gugup setengah mati saat ini.


"Iya nona." ucap Ares dan segera melepaskan tangannya yang sempat membelit pinggang Violet.


Violet turun dari pangkuan Ares dan melangkah tergesa-gesa ke ruang ganti dengan rona wajah memerah. Ditambah jantungnya masih saja berdegup kencang.


Sementara Ares menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskan perlahan, tubuhnya sudah diselimuti hasrat dan ingin segera dituntaskan. Bahkan aset berharganya sudah menegang dibalik cellananya dan sudah tak sabaran ingin mencetak gol.


Sabar Jon, akan indah pada waktunya. Batin Ares sambil mengusap rambutnya ke belakang.


Sementara di dalam ruang ganti, Violet memandangi wajahnya dan sesekali menepuk kedua pipinya untuk mengendalikan kesadarannya.


Bagaimana tidak, saat ini ia mengenakan gaun tidur tipis atau lingerie. Ia pun merasa malu sendiri dengan pakaian yang dikenakannya.


"Sebaiknya aku ganti saja, aku persis wanita penggoda. Tapi, bagaimana dengan rencanaku." ucap Violet dilanda frustasi.


"Apa aku membuatmu menunggu?" tanya Violet tersenyum, membuat Ares langsung terperangah melihat penampilan Violet.


"Ti-tidak nona" jawab Ares terbata.


Kemudian Violet duduk di samping Ares dengan pikiran berkecamuk. Suasana menjadi canggung diantara mereka. Lama-kelamaan suasana kamar itu menjadi hening tanpa adanya obrolan diantara mereka.


Violet diam membisu, ia pikir Ares langsung bertingkah nakal terhadapnya, tapi dugaannya salah besar.


Kenapa dia tidak menyerangku? apa penampilanku kurang menggoda. Batin Violet sambil melirik kearah Ares, dimana Ares tengah bersandar di sandaran sofa.


Bagaimana ini, aku sudah tak kuat menahan godaan. Batin Ares sambil memijit keningnya yang mulai berdenyut nyeri melihat tubuh seksi istrinya.


Apa yang harus kulakukan, haruskah aku memperkossanya sekarang? Tidak tidak..aku akan melakukannya jika dia yang meminta. Batin Ares mulai berkecamuk.


Tiba-tiba saja hujan turun dengan derasnya disertai petir. Violet sudah tidak nyaman ditempatnya, ia mulai kedinginan sambil menggosok kedua tangannya untuk mencari kehangatan.


Ditambah suara petir saling bersahut-sahutan membuatnya mulai takut. Apalagi ia memang fobia suara petir.


"Ares"


"Nona"


Mereka berucap bersamaan disertai tatapan mata mereka bertemu.


Jedarrr!


Suara petir terdengar menggelegar, Violet langsung melompat memeluk tubuh Ares mendengar suara petir menggelegar dan seketika lampu di kamarnya padam.


Hal itu diakibatkan oleh suara petir yang menyambar dan mendadak memadamkan listrik di wilayah tersebut.


Sementara Ares terkejut melihat tingkah laku istrinya yang tiba-tiba memeluknya.


"Nona Violet" ucap Ares dengan suara lembut.


"Aku takut" ucap Violet memelas sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Ares.


"Jangan takut, aku akan selalu menjagamu." ucap Ares dan hal ini menjadi kali kedua baginya menenangkan istrinya. Ia semakin yakin bahwa Violet fobia pada suara petir.


Kemudian Ares membawa Violet ke atas ranjang lalu membaringkannya.


"Jangan pergi, temani aku tidur." ucap Violet menarik tangan Ares untuk tetap bersamanya.


"Apa nona Violet yakin? aku bisa saja berbuat macam-macam kepada nona." ucap Ares.


"Aku tidak masalah, yang jelas temani aku tidur." balas Violet sambil menggigit bibir bawahnya.


"Baiklah."


Ares merangkak naik ke atas ranjang lalu membaringkan tubuhnya di samping Violet. Sontak Violet langsung memeluknya.


"Bolehkah aku berbuat macam-macam kepadamu?" tanya Ares.


"Apa!... emmpphh"


Ares sudah membungkam mulut Violet dan menciumnya lembut, membuat Violet tidak bisa berkutik dan hanya mampu pasrah, apalagi suara petir saling bersahut-sahutan di langit.


Sial, senjata makan tuan ini. Rencanaku gagal total. Batin Violet.


Bersambung.....