
"Tolong, jangan terus berdebat denganku, Violet." ucap Ares sambil memejamkan matanya merasakan perasaan berbeda setiap kali berdekatan dengan Violet, sosok wanita yang mulai terukir di hatinya yang sekeras batu.
Violet menjadi bungkam mendengar ucapan Ares, ia tidak lagi memberontak dalam pelukan Ares dan hanya mampu mendengarkan degup jantungnya yang memompa lebih cepat.
Mereka mulai sibuk dengan pikirannya masing-masing. Ares begitu nyaman memeluk tubuh Violet, sedang Violet hanya diam membisu bagaikan guling hidup.
Tak mendapati penolakan dari Violet, Ares semakin bertingkah dengan mengeratkan pelukannya sambil menghirup aroma mawar dari tubuh Violet yang terasa manis dan menggoda.
"Ares, sampai kapan kau ingin terus memelukku seperti ini hah! aku sulit bernafas dan bisa-bisa aku mati dalam pelukan suamiku sendiri." sinis Violet tanpa ingin membalas pelukan Ares.
Refleks Ares melepaskan pelukannya lalu memiringkan posisinya menghadap ke arah istrinya.
"Kau sudah mengakui ku sebagai suamimu... emmm" ucap Ares tersenyum tipis sambil mencubit gemas hidung mancung Violet. Sontak Violet langsung menepis tangan Ares yang baru saja menyentuh hidungnya.
"Ya mau bagaimana lagi, lagian kau sudah menikahiku secara diam-diam. Asal kau tahu Daddy ku hampir saja membunuhmu karena kau begitu berani mengambil putri kesayangannya tanpa meminta restu terlebih dahulu darinya. Ibaratnya kau hanya pria pecundang yang hobinya menculik seorang wanita. Dan kau sama sekali bukan pria sejati yang ada dalam kamus keluargaku" ucap Violet dengan nada menyindir, membuat Ares tersenyum tipis mendengar ucapan istrinya.
"Aku senang akhirnya kau mengakui ku sebagai suamimu." ucap Ares mengatakan inti dari ucapan istrinya. "Dengar, aku tidak tersinggung mendengar ucapanmu. Aku bahkan begitu bangga bisa menculik wanita cantik seperti dirimu, lalu menikahinya secara diam-diam. Walaupun kau tidak setuju dan belum menerimaku dalam hidupmu, tapi aku akan berusaha meyakinkan dirimu dan keluargamu bahwa aku lah pria yang pantas mendampingi mu." tambah Ares lalu mencium punggung tangan Violet.
Violet merasa tersentuh mendengar ucapan Ares, namun ia belum bisa menggambarkan perasaannya seperti apa kepada pria yang sudah menikahinya itu.
"Aku siap mengulang kembali pernikahan kita. Dan aku siap meminta restu terlebih dahulu kepada orang tuamu sebelum menikahimu di depan mereka. Bahkan aku akan merayakan pesta pernikahan kita dengan sangat megah dan menjadikanmu sebagai ratuku." ucap Ares serius lalu mengecup kembali punggung tangan Violet.
Dengan cepat Violet menarik tangannya lalu menyembunyikannya, raut wajahnya bahkan berubah merona ketika mendengar ucapan Ares.
Suasana kembali hening di dalam kamar tersebut tanpa adanya obrolan yang dilakukan oleh pasangan suami istri itu.
"Ares"
"Hemm" sahut Ares dengan deheman.
"Kau sudah makan malam atau belum? jika kau belum makan malam, aku akan menyiapkan makan malam untukmu." ucap Violet sembari menatap langit-langit kamar Ares.
"Aku sudah makan malam di luar saat melakukan meeting bersama dengan klien ku. Jadi kau tidak perlu repot-repot menyiapkan makan malam untukku." sahut Ares.
Violet hanya mampu ber o ria mendengar penuturan Ares.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel berbunyi nyaring. Violet dan Ares kompak saling pandang untuk memastikan ponsel siapa yang sedang berbunyi. Pasalnya nada panggilan masuk di ponsel mereka sama-sama.
Perlahan Ares turun dari ranjang lalu melangkah ke arah meja untuk mengambil ponselnya di sana dan benar saja ponselnya lah yang berbunyi.
Ares mengerutkan keningnya melihat panggilan masuk dari Yuta. Tanpa buang waktu, Ares langsung mengangkat panggilan masuk dari Yuta.
"Baiklah, aku akan segera kesana." ucap Ares di ujung telepon. Hingga panggilan telepon mereka terputus.
Ares bergegas ke ruang ganti untuk berganti pakaian. Tak butuh waktu lama, ia sudah terlihat semakin tampan dengan penampilannya yang kasual, mengenakan celana jeans hitam, t-shirt hitam dan jaket kulit dengan warna senada.
Tampak Ares sedang memasukkan pistolnya di saku jaketnya dan juga di balik pinggangnya. Ia terbiasa membawa dua pistol ketika keluar rumah untuk urusan dunia hitam.
"Kau mau kemana?" tanya Violet melihat penampilan Ares kembali rapi.
"Aku ada urusan di luar. Salah satu anak buah ku memilih berkhianat dengan musuhku dan sekarang dia sudah tertangkap. Apa kau masih ingat pemberontakan yang terjadi di Pulau Liu?" jawab Ares dan balik menanyai Violet.
"Dia lah orang yang menjadi dalang dibalik pemberontakan di Pulau Liu dan sekarang dia sudah tertangkap setelah dilakukan pengejaran selama beberapa hari lamanya." jelas Ares.
"Dan kau akan kesana untuk menghabisi nyawanya" timpal Violet dengan tebakannya.
"Betul sekali. Jadi, tidurlah lebih cepat dan tak perlu menungguku pulang." ucap Ares dengan tatapan hangatnya.
"Kenapa kau tidak mengajakku pergi? sudah lama aku tidak menggunakan kedua tanganku untuk membunuh orang." ucap Violet sambil menaikkan alisnya dengan seringai mengerikan yang terpatri di wajahnya. Jiwa membunuhnya kembali berkoar-koar.
"Tidak bisa, aku tidak ingin membawamu keluar malam-malam begini. Jangan sampai mama melihatmu dan akan semakin rumit urusannya." sahut Ares lalu melangkah menuju pintu kamar.
"Hemm, aku tidak akan ikut denganmu. Berhati-hatilah dan jangan keluyuran di luar. Setelah urusanmu selesai, segeralah pulang." ucap Violet mengingatkannya.
"Tentu istriku. Kalau begitu aku akan berangkat sekarang, sampai jumpa." pamitnya lalu keluar dari kamar hingga tak terlihat lagi dibalik pintu kamar.
Violet memilih masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan tak lupa gosok gigi sebelum tidur.
Kini Violet sudah memakai piyama tidur lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Tiba-tiba jemari tangannya menyentuh bibir bawahnya lalu mengusapnya lembut.
Begini kah rasanya sebahis berciuman? pikirnya. Bahkan kejadian berciuman itu kembali terlintas dipikirannya yang masih polos.
Dengan terpaksa Violet menutup wajahnya dengan bantal berharap kejadian itu tidak terngiang-ngiang di pikirannya. Namun bukannya membantunya ia malah kepikiran dengan Ares yang baru beberapa menit meninggalkan rumah.
🍁🍁🍁🍁
Markas The Hunter....
Semua anggota The Hunter yang berjaga-jaga di markas langsung membungkukkan tubuhnya ketika melihat kedatangan ketua mereka.
Yuta langsung menyambut kedatangan tuan Ares lalu membawa tuannya ke ruang bawah tanah tempat penghianat itu di sekap.
Sesuai informasi yang Yuta dapatkan, penghianat itu selalu berencana untuk menghabisi nyawa ketuanya sendiri dan termasuk ingin mencelakai Violet pada saat berada di pulau Liu.
"Kau ingin mati cepat atau mati secara perlahan-lahan di tanganku?" ucap Ares dengan suara tegasnya memberikan tawaran kepada penghianat itu sebelum menghabisi nyawanya.
"Ampun tuan, aku benar-benar menyesal sudah mengkhianatimu." ucap penghianat itu dengan wajah tampak babak belur.
"Kata maaf mu sudah tak berarti lagi untukku!" ucap Ares dingin lalu menendang wajah pengkhianat itu dengan kerasnya hingga tubuh si penghianat terjengkang ke belakang.
Darah segar seketika mengalir keluar dari mulut si pengkhianat. Tanpa ampun, Ares kembali menendang perut pria penghianat itu.
"Ampun tuan, tolong ampuni saya." ucap penghianat itu memohon-mohon dengan mulut berdarah dan wajahnya sudah babak belur.
Ares tidak peduli mendengar permohonan ampun si penghianat, Ia langsung mengeluarkan pistolnya dari saku jaketnya dan langsung menembak kepala penghianat itu dengan tiga kali tembakan hingga penghianat itu tewas. Karena Ares membunuhnya dengan cara keji tanpa belas kasihan.
Begitulah jika menghianati King Ares Robinson, ujung-ujungnya mereka akan mati mengenaskan di tangan penguasa itu sendiri.
Bersambung...