
Ares masih saja terjaga di ruang perawatan sang istri. Matanya tak bisa terpejam hanya beberapa menit. Untuk itu, ia memilih mengecek email masuk di ponselnya. Karena kebetulan sekretaris Robin sempat mengirimkan pesan kepadanya agar memeriksa terlebih dahulu email yang dikirimkannya.
Sebisa mungkin Ares hanya ingin fokus menjaga Violet, ia hanya mempercayakan sekretaris Robin untuk mengurus perusahaannya. Karena yang terpenting sekarang adalah kesembuhan sang istri.
Tanpa Ares sadari, tiga pria berbaju hitam sedang mondar-mandir di depan pintu ruang perawatan Violet. Ketiga pria itu saling melempar kode rahasia kepada rekannya, dua diantaranya berlalu pergi setelah melihat perawat wanita berjalan di lorong sepi tersebut.
Saat perawat wanita itu akan masuk ke ruang perawatan salah satu pasien, tiba-tiba pria tadi memukul punggung perawat wanita itu hingga tak sadarkan diri.
Kedua rekannya kembali menghampirinya untuk membereskan perawat wanita itu setelah berhasil merusak cctv di area lorong rumah sakit.
"Dengar aba-abaku setelah ini." ucapnya mengingatkan rekannya. Seketika kedua rekannya mengangguk mengiyakan ucapannya.
Pria itu lalu mengeluarkan sebuah benda berbentuk lonjong berwarna merah yang dilapisi latban hitam dan terdapat empat macam kabel kecil pada benda tersebut. Rupanya pria itu menyembunyikan benda tersebut dibalik jaketnya, lalu menempelkannya di dekat pintu ruangan.
Dilihat dari ciri-ciri fisik benda tersebut, rupanya benda yang diselundupkan pria itu adalah sebuah bom rakitan. Kini mereka berhasil menempelkan benda tersebut di dekat pintu dan hanya perlu menunggu waktu, bom rakitan itu akan meledak dan menghancurkan ruangan yang ditempati oleh Violet.
"Kita hanya perlu menghitung mundur dan setelah itu misi kita berhasil. Ayo, kita harus segera meninggalkan tempat ini." ucap pria itu kepada rekannya.
"Ayo" sahut salah satu rekannya mengiyakan.
Namun sayangnya, baru beberapa langkah, mereka langsung di hadang oleh Joy bersama tiga anggota The Vio.
Sejujurnya Joy bersama rekan mafianya melihat ketiga pria misterius itu masuk ke dalam rumah sakit dan tampak sangat mencurigakan, namun mereka hanya membiarkannya saja untuk melihat langkah selanjutnya yang akan dilakukan ketiga pria misterius itu.
Dan dugaannya semakin benar, saat tak sengaja melihat mereka berjalan menuju ruangan ketuanya.
Tidak hanya Joy dan anggota The Vio saja yang berkeliaran di rumah sakit, anak buah Ares juga tersebar mengamankan rumah sakit tersebut. Karena tidak menutup kemungkinan musuh bisa saja datang kapan saja walau tak diundang.
"Mau kemana kalian!" geram Joy menatap ketiganya.
"Minggir kalian!" ucap salah satu pria misterius itu dan langsung bergerak menyerang Joy.
Dengan sigap Joy meladeninya. Pria itu terus melayangkan pukulan keras ke wajah Joy, dengan lihainya Joy menghindari pukulan pria itu dan malah sebaliknya Joy menghadiahkan bogem mentah di sudut bibir pria itu.
"Shittt!" umpatnya kesal memegangi sudut bibirnya yang berdarah.
Kemudian pria itu kembali mengambil ancang-ancang sembari memutar tubuhnya untuk melayangkan tendangan ke tubuh Joy, dengan gerak cepat Joy menangkap kaki pria itu dan menggulingkannya ke lantai.
Brukk
"Arghhh!"
Pria itu tampak murka sambil meninju lantai lalu bangkit berdiri. Pisau lipatnya ia keluarkan dari saku jaketnya dan kembali bergerak menyerang Joy. Namun tiba-tiba...
Dor
Dor
Dor
Ketiga pria misterius itu langsung terkapar di lantai mendapatkan timah panas di tubuh mereka masing-masing.
Joy terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah si penembak. Dimana si penembak menggunakan pistol peredam suara.
"Kenapa kau membunuhnya?" tanya Joy kepada pria yang berdiri di sudut ruangan dan sangat dikenalinya itu.
Dimana pria itu tidak lain adalah Yuta, tangan kanan Ares. Yuta tak menggubris pertanyaan Joy, ia hanya memasukkan pistolnya di saku jasnya dengan seragam lengkap masih melekat pada tubuhnya. Pria itu mendekat ke arah pintu ruang perawatan istri tuannya.
"Aku tidak suka kau ikut campur dalam masalah ini!" tegas Joy sambil mengepalkan tangannya.
Harusnya ia menangkap ketiga pria tadi, lalu menginterogasinya untuk mencari tahu siapa dalang dibalik kecelakaan ketuanya. Namun pria bernama Yuta malah menggagalkan rencananya.
"Tugasmu sekarang membereskan mereka, jangan sampai pihak rumah sakit melihat kekacauan ini!" ucap Yuta dingin, kemudian melenggang pergi dari hadapan Joy.
Joy mendengus kesal menatap tajam pria jangkung itu berlalu dari hadapannya. Mau tak mau Joy memerintah ketiga rekan mafianya untuk membereskan mayat ketiga pria misterius tadi.
Sementara di dalam ruang perawatan Violet, Ares sama sekali tidak mendengar suara kekacauan yang terjadi di luar ruangan, karena ia sengaja menghidupkan ruangan perawatan istrinya menjadi kedap suara.
Ares meregangkan otot-ototnya yang kaku sambil menatap ke arah ranjang pasien. Ia lalu melangkah mendekat ke arah ranjang pasien lalu duduk di kursi.
Dipandanginya wajah cantik istrinya yang tampak pucat lalu mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya.
Cup
Ares mencium kening Violet dengan penuh cinta. Menyalurkan semua perasaannya pada istri yang sangat dicintainya yang sedang terbaring lemah.
"Selamat malam sayang, aku mencintaimu." bisik Ares di telinga Violet, kemudian menyandarkan punggungnya di kursi. Terkadang ia tertidur di kursi itu dalam posisi duduk dan pastinya itu sangat tidak bagus untuk kesehatannya.
*
*
*
Sementara di tempat lain....
Di sebuah apartemen mewah, tepatnya apartemen milik Evan, tampak pasangan suami istri yang menempati apartemen tersebut masih saja terjaga di dalam kamar mereka masing-masing, padahal waktu sudah larut malam.
Evan terus mencari posisi ternyaman di atas ranjang berukuran king size. Ia begitu sulit untuk memejamkan matanya dan masih terjaga di jam seperti ini.
"Arghhh, kenapa akhir-akhir ini aku merasakan perasaan cemas dan tidak bisa tidur dengan baik." gumamnya frustasi lalu menyeret tubuhnya turun dari ranjang.
Semenjak saudara kembarnya mengalami kecelakaan, hampir setiap hari ia mengalami perasaan cemas dan susah untuk tidur. Ia bahkan mengonsumsi obat tidur setiap malam.
Perasaan cemas yang dialaminya sekarang kembali membuka trauma yang pernah dialaminya di masa lalu dan Evan tidak ingin hal itu kembali terjadi.
Evan memutuskan keluar dari kamarnya, ia melangkah tergesa-gesa menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Tenggorokannya teramat kering dan hanya sekali tegukan ia menghabiskan segelas air putih.
Evan mengusap wajahnya dengan kasar yang tengah duduk di kursi. Keringat dingin mulai membanjiri kening dan lehernya bahkan bibirnya tampak pucat pasih.
Evan memijit keningnya dengan kepala terus berdenyut nyeri dan semakin dilanda pusing. Ia seolah tak mampu menguasai tubuhnya dan dengan terpaksa menyeret kakinya menuju kamarnya.
Brukkk
Evan terjatuh di ujung tangga, karena salah pijakan saat akan menaiki anak tangga, karena penglihatannya agak buram.
"Evan!" teriak Aileen yang baru saja keluar dari kamarnya dan mendapati Evan terjatuh dari tangga.
Kebetulan kamar yang ditempati Aileen berada di dekat tangga. Entah memang kebetulan juga Aileen juga tak bisa tidur malam ini, jadi memutuskan keluar dari kamarnya.
Aileen bergerak mendekati Evan, lalu membantu Evan berdiri, namun dengan kasar pria itu malah mendorong tubuhnya.
"Pergi! aku bisa sendiri!" ketusnya dan kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Namun baru beberapa pijakan, tiba-tiba keseimbangan tubuh Evan oleng, untungnya dengan sigap Aileen menangkap tubuh kekar pria itu, namun naasnya malah membuat tubuh keduanya jatuh bersamaan di bawah tangga.
"Aawww!" pekik keduanya. Dimana posisi tubuh Evan menimpa tubuh kecil Aileen.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗