King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Kencan pertama?



Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Ares bersama rombongannya tiba di kediamannya.


Perlahan Ares turun dari mobil lalu bergerak mengangkat tubuh Violet dengan hati-hati, takutnya membangunkan sang istri yang tengah tertidur pulas.


Tampak dokter Steven sudah menunggunya di teras rumah. Karena sebelum tiba di Bandara, Ares meminta kepada Yuta untuk menghubungi dokter Steven untuk menyuruhnya datang di kediamannya.


"Selamat malam tuan Ares." sapa dokter Steven ramah.


Ares tidak menimpali ucapan dokter Steven dan hanya terus melangkah memasuki rumah menggendong istrinya.


"Siapa yang sakit?" tanya dokter Steven menghentikan langkah Yuta yang juga cuek melihatnya.


"Istri tuan Ares." jawab Yuta sembari menepis tangan dokter Steven yang memegang lengannya.


"Upps, jijik banget sih luh setiap kali ku sentuh." protes dokter Steven melihat tingkah laku Yuta.


"Tak usah mengajakku berdebat, sebaiknya ikuti langkahku, jangan sampai tuan Ares memotong jari-jarimu karena membuatnya menunggu." ancam Yuta, lalu melangkah menuju kamar tuannya.


Dokter Steven menggerutu kesal sembari mengikuti langkah kaki Yuta. Ia tidak ingin ucapan Yuta menjadi kenyataan, apalagi kepribadian Ares dan Yuta sebelas duabelas. Membayangkannya saja membuat dokter berkacamata itu bergidik ngeri.


Tok


Tok


Tok


Yuta mengetuk pintu kamar tuannya terlebih dahulu sebelum dipersilahkan masuk ke dalam. Hingga pintu kamar tersebut mulai terbuka, namun tuannya hanya mencondongkan kepalanya saja.


"Tunggu sebentar, aku sedang mengganti pakaian istriku." ucap Ares terdengar kesal.


"Maaf tuan." ucap Yuta sambil membungkuk hormat dan Ares langsung menutup kembali pintu kamarnya.


Setelah selesai mengganti pakaian Violet, barulah Ares menyuruh Yuta dan dokter Steven masuk ke dalam kamarnya.


Dokter Steven bergerak memeriksa kondisi Violet dan berada dalam pantauan Ares. Setelah selesai memeriksa Violet, dokter Steven mulai menjelaskan perihal kondisi Violet kepada Ares.


Terlihat Ares begitu serius mendengar penjelasan dokter Steven dan sesekali manggut-manggut tanda mengerti yang dijelaskan dokter Steven.


"Jika nona Violet kembali memberontak saat ingatannya perlahan mulai pulih, segera hubungi aku. Atau suntikan saja obat bius jika memang sudah tidak bisa diantisipasi. Dan ini resep obatnya, tuan." ucap Dokter Steven dan Ares mengangguk sembari mengambil resep obat yang diberikan oleh dokter Steven.


"Kalau begitu aku pamit undur diri." ucap Dokter Steven.


"Terima kasih." ucap Ares lalu menyerahkan resep obat tersebut kepada Yuta.


"Sama-sama, tuan Ares." ucapnya.


"Biar ku antar sampai depan. Kebetulan aku akan ke apotik." ucap Yuta dan dokter Steven melambaikan tangannya ke arahnya dengan tingkah ngeselin.


Kemudian mereka bergegas keluar dari kamar Ares. Kebetulan Dokter Steven ada keperluan dengan Yuta.


*


*


*


Sementara di tempat lain.....


Aileen terus mengurung diri di dalam kamarnya dan tak ingin ditemui. Evan sudah bolak-balik datang ke rumah Aileen untuk memastikan kondisi wanita itu, namun hanya penolak yang selalu ia dapatkan. Aileen tidak ingin menemuinya.


Nyonya Bella yang masih diselimuti suasana duka atas meninggalnya sang suami kembali dikejutkan dengan tingkah laku putrinya. Ia menjadi khawatir dengan kondisi putrinya yang seharian ini tak kunjung keluar kamar, bahkan putrinya belum sarapan dan melewatkan makan siangnya.


"Nak Evan, tolong bujuk Aileen ke luar dari kamarnya. Mami takut sesuatu terjadi kepadanya, soalnya dari pagi hingga malam Aileen belum makan. Bahkan mami tidak bisa masuk ke kamarnya karena dikunci dari dalam." ucap Nyonya Bella dengan mata berkaca-kaca.


Evan tampak berpikir mendengar ucapan ibu mertuanya. Sungguh ia merasa kasian kepada ibu mertuanya dan juga Aileen yang kembali membuat ulah.


"Baik Mami, aku ke atas dulu." ucap Evan.


"Iya nak, tolong bujuk Aileen ya, hanya dia kekuatanku saat ini." ucap Nyonya Bella sambil meneteskan air mata. Tak ada lagi keluarga yang ia miliki selain putri semata wayangnya.


"Mami, aku janji akan membawa Aileen keluar dari kamarnya, jadi jangan khawatir." ucap Evan dengan sungguh-sungguh.


Nyonya Bella tersenyum tipis dan begitu percaya bahwa Evan bisa mengendalikan putrinya. Kemudian Evan melangkah menuju kamar Aileen.


Tok


Tok


Tok


Sementara tak ada jawaban dari dalam kamar, membuat Evan semakin khawatir dengan keadaan Aileen di dalam sana.


"Aileen buka pintunya, sampai kapan kau ingin mengurung diri di dalam kamarmu. Apa kau tidak kasian dengan ibumu, dari tadi ibumu mengkhawatirkanmu." teriak Evan sambil menggedor pintu kamar Aileen.


Lagi-lagi tak ada jawaban dari dalam sana, membuat Evan semakin gusar. Sehingga Evan memutuskan mendobrak pintu kamar Aileen.


Brakkk


Hanya dua kali dobrakan, Evan berhasil membuka pintu kamar Aileen. Ia lantas bergegas masuk ke dalam kamar untuk mencari keberadaan Aileen.


Suasana kamar Aileen begitu gelap sehingga Evan menggunakan ponselnya untuk mencari saklar lampu. Saat menemukannya, seketika suasana kamar menjadi terang benderang.


Evan mulai mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Aileen, namun kamar tersebut terasa sepi tanpa kehadiran Aileen. Lalu Evan bergerak masuk ke ruang ganti, namun Aileen tidak ada di ruangan tersebut.


Ia pun melangkah ke kamar mandi dan alangkah terkejutnya ia melihat Aileen berada di dalam bathub dengan permukaan kulit sudah memucat akibat terlalu lama berendam.


"Aileen, bangun!" ucap Evan dengan raut wajah khawatir melihat mata Aileen terpejam yang berada di dalam bathtub.


Sungguh ia merasa kasihan kepada Aileen. Bagaimana tidak, wanita itu tampak menyedihkan sekali dengan lingkaran hitam di bawah matanya dan seluruh tubuhnya sudah memucat bagaikan mayat hidup.


Tiba-tiba rasa takut mulai menghampiri Evan. Perlahan ia mengulurkan tangannya untuk memeriksa nadi Aileen, hingga ia menghela nafas merasakan jelas denyut nadi Aileen.


Evan menyambar handuk yang tersedia di kamar mandi lalu melilitkan handuk tersebut di tubuh polos Aileen. Kemudian mengangkat tubuh Aileen lalu membawanya keluar dari kamar mandi.


Saat mendekati ranjang, tubuh Aileen menggeliat dalam gendongan Evan, hingga mata bulat wanita itu terbuka lebar dan langsung melotot melihat wajah Evan.


"Aaaaaaa" Aileen berteriak keras dan langsung memukul kepala Evan. Karena sekarang dirinya berada dalam gendongan pria itu.


"Berisik!" ucap Evan, lalu menurunkan tubuh Aileen di atas ranjang. Yang tadinya ia begitu khawatir dengan kondisi Aileen yang menyedihkan, sekarang tidak lagi.


"Ba-bagaimana bisa kau berada di kamarku." ucap Aileen dengan bibir bergetar, raut wajahnya sangat pucat. Bahkan seluruh tubuhnya mulai menggigil setelah berada di atas ranjang.


"Ibumu yang menyuruhku, dia terlalu cemas dengan sikap keras kepala putrinya." ucap Evan menyindirnya.


Hingga seseorang yang tengah dibicarakan mulai hadir di tengah-tengah mereka sembari membawa nampan berisi makan malam untuk Aileen.


Nyonya Bella meletakkan nampan yang dibawanya di atas nakas, lalu mendekati putrinya.


"Aileen sayang." ucap ibunya dengan mata berkaca-kaca dan langsung berhambur memeluknya. Sedangkan Aileen membalas pelukan ibunya dengan tubuh lemas.


"Nak, jangan buat mami khawatir." ucap ibunya sambil memeluk erat tubuh putrinya.


"Maaf, sudah membuat mami khawatir." balas Aileen dan ibunya menggeleng menanggapi ucapan putrinya. Mereka pun menangis bersama yang kembali mengingat mendiang tuan Smith.


Evan tidak ingin mengganggu kebersamaan mereka dan memilih ke balkon kamar.


*


*


*


Sudah seminggu Violet tinggal bersama dengan Ares di negara xxx. Selama tinggal di kediaman Ares, sikap Violet berubah drastis dan lebih banyak diam.


Ia bahkan sudah tahu bahwa Ares adalah suaminya lewat beberapa bukti yang memang sengaja Ares tunjukkan kepadanya, salah satunya buku nikah.


Tidak hanya itu, Dokter Steven rutin memeriksanya setiap hari, semua itu karena Ares yang meminta, agar kondisi istrinya semakin membaik.


Saat ini Violet tengah berdiri di depan jendela kamar sembari mencoba mengingat kembali tentang kebersamaannya bersama Ares. Namun lagi-lagi kepalanya berdenyut nyeri setiap kali ingin mengingat hal yang menyangkut tentang Ares.


"Awwww, kenapa aku tidak bisa mengingatnya." gumam Violet hingga merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya.


"Apa yang sedang kau pikirkan sayang?" tanya Ares dan terus menempel di tubuh Violet.


"Tidak ada." bohong Violet.


"Ya sudah, bagaimana kalau kita kencan pertama." ucap Ares dengan idenya, membuat Violet memicingkan matanya menoleh kearahnya.


Kencan pertama?. Batinnya.


Bersambung....