
Violet berlari menghampiri anaknya yang masih terduduk di atas aspal. Seketika dadanya begitu sesak melihat buah hatinya terluka dan lebih parahnya lagi salah satu anak kembarnya diculik.
“Mommy, Aufar di culik…” pinta Aaron dengan raut wajah sendu dan sama sekali tidak peduli dengan luka memar dikedua lututnya yang terlihat menganga.
Violet tak bisa berkata-kata, ia lantas berjongkok lalu menggendong anaknya dengan penuh kasih sayang seorang ibu.
“Mommy, Aufar....tolong selamatkan dia” bibir mungil Aaron sampai bergetar memberitahu ibunya.
“Ayo kita selamatkan adikmu" ucap violet dengan mata berkaca-kaca sambil mengusap lembut bulir keringat di kening anaknya.
Seketika Aaron menggangguk cepat menanggapi ucapan ibunya.
Violet kemudian memasukkan Aaron ke dalam mobil, setelah itu ia memutari mobil ke samping lalu bergegas masuk ke dalam mobil.
Violet langsung menyalakan mesin mobilnya, namun ia terlebih dahulu mengobati luka di kedua lutut anaknya. Dengan sangat hati-hati ia mengoleskan cairan antiseptik secara perlahan, lalu memberi plester dan membebatkan kain kasa di kedua lutut anaknya.
Aaron sempat menangis saat cairan antiseptik mengenai permukaan kulitnya yang memar. Begitu sakit dan perih ia rasakan, namun anak berusia lima tahun itu berusaha menahan rasa sakitnya dan tetap kuat, pasalnya ia harus menolong saudara kembarnya yang di culik oleh penjahat.
Setelah selesai mengobati anaknya, Violet langsung menancap gas meninggalkan tempat tersebut. Mobilnya melaju kencang bergerak mengikuti arah jalanan yang dilewati oleh penculik.
Derttt…derttt
Terdengar suara ponselnya berbunyi, Violet segera mengambil ponselnya dari dalam tas.
“Mas Ares” gumam Violet melihat panggilan masuk dari sang suami. Ia lantas mengangkatnya dan menyambungkannya lewat headset Bluetooth.
“Sayang, kenapa dengan anak-anak? aku baru melihat ada panggilan masuk dari Aufar?" tanya Ares di ujung telepon dan kedengarannya sangat khawatir.
"Mas!... anak kita..." Dada Violet bergemuruh dan tak sanggup mengatakan yang sejujurnya.
Aaron hanya mampu diam membisu, ia begitu sedih saudara kembarnya di culik.
Ya Tuhan, tolong lindungi adikku, semoga dia baik-baik saja. Dan semoga penjahatnya tidak melukai adikku Aufar. Aku janji akan terus melindungi adikku, apapun yang terjadi aku harus melindunginya.Batin Aaron mendoakan saudara kembarnya.
"Kenapa dengan anak-anak, sayang!" ucap Ares mulai panik di ujung telepon. Mendadak ia merasakan perasaan aneh dan sangat kepikiran dengan anak kembarnya.
"Mas!...anak kita Aufar..." Lagi-lagi lidah Violet terasa keluh dan tak kuasa untuk mengatakannya.
"Iya sayang, kenapa dengan Aufar" ucap Ares tak sabaran ingin mendengar kelanjutan ucapan dari istrinya di ujung telepon.
"Mas Ares...Aufar....Aufar di culik." lirih Violet hingga air matanya menetes dengan sendirinya membasahi pipinya. Ia mulai kepikiran dengan anaknya.
Bagaimana dengan kondisi anaknya saat ini, apa motif orang-orang itu menculik anaknya, semua itu mulai mengganggu pikirannya. Ia tidak akan mengampuni dirinya sendiri jika anaknya sampai kenapa-kenapa.
"APA! bagaimana bisa hal itu terjadi, dimana bodyguard yang selalu mengawal kalian?" tegas Ares di ujung telepon yang meminta penjelasan dari istrinya.
"Mereka semua sudah terkapar, sekarang aku bersama Aaron sedang mengejar penculiknya, nanti aku hubungi kembali." ucap Violet mematikan teleponnya secara sepihak, lalu melempar ponselnya ke dasboard mobil.
Violet lantas menambah kecepatan laju mobilnya, berharap bisa menyusul penculiknya. Karena satu-satunya hal yang akan ia lakukan adalah menyelamatkan anaknya dari si penculik.
“Nak, coba periksa GPS di ponselmu. Mommy yakin GPS di ponsel Aufar pasti aktif." ucap Violet.
"Tapi mommy, ponsel Aufar ada padaku" ucap Aaron sembari menunjukkan ponsel adiknya.
"Astaga!"
Violet hanya mampu memijit keningnya dan masih terus melajukan mobilnya melewati jalan kearah puncak sesuai dengan perkiraannya dan juga kata hatinya.
****
Terlihat Yuta begitu serius berkutat dengan laptopnya yang sedang melacak keberadaan anak tuannya.
"Tuan Ares, pergerakan penculiknya menuju hutan bagian sebelah barat di kawasan daerah Hutami. Kita harus bergerak cepat menyusulnya. Saya tidak bisa pastikan jika koneksi jaringan tiba-tiba tak mendukung saat proses pelacakan kembali dilakukan, maka dari itu kita harus berangkat ke lokasi tujuan." ucap Yuta menjelaskan.
"Ya, ayo kita berangkat. Aku tidak ingin anakku sampai kenapa-kenapa. Aku bersumpah tidak akan pernah mengampuni mereka yang sudah menculik anakku. Sekali mengusik keluargaku, ku pastikan hidup mereka bagaikan di neraka dan nyawanya berada dalam genggamanku." ucap Ares tak main-main.
Tak lupa ia mengerahkan sebagian anak buahnya untuk ikut bersamanya mencari keberadaan anaknya.
Mereka berjalan tergesa-gesa keluar dari perusahaan dan melangkah menuju mobilnya yang terparkir di parkiran khusus untuk pimpinan perusahaan.
*
*
*
Sementara itu, mobil yang di kemudikan oleh si penculik melaju kencang memasuki kawasan hutan. Mereka akan menyekap anak yang diculiknya itu di dalam hutan sesuai perintah dari bosnya.
Namun tiba-tiba saja ponselnya berbunyi dan itu dari bosnya.
"Bagaimana?" tanya seseorang di ujung telepon.
"Semuanya aman terkendali. Aku berhasil menculik salah satu anaknya. Sekarang aku sedang bersamanya di dalam mobil. Terserah anda mau apakan anaknya" ucap pria itu menyeringai licik.
"Bagus, tunggu kedatanganku di sana. Aku tidak sabar dengan kejutan selanjutnya. Bagaimana reaksi mereka saat tahu anaknya di culik" ucap seseorang dengan seringai licik diwajahnya.
Tak berselang lama kemudian, mobil yang membawa mereka sampai di kawasan hutan yang sudah tak memiliki jalanan beraspal, hanya ada jalanan setapak yang sepertinya sering dilewati oleh penduduk ketika akan berkebun.
"Cepat-cepat, jangan sampai ayah dari anak ini mengetahui keberadaan kita. Mereka memiliki banyak mata-mata yang tersebar di mana-mana." ucap pria itu kepada anak buahnya. Sepertinya pria itu adalah bos, sementara ketiganya hanya anak buahnya.
Salah satu anak buahnya mengangkat tubuh kecil Aufar lalu mereka berjalan melewati jalanan setapak dengan pohon rindang yang tumbuh subur berdiri dimana-mana.
"Bergeraklah cepat, kita harus segera sampai di markas." ucapnya kepada anak buahnya.
"Baik bos." sahut salah satu anak buahnya.
Setelah melewati jalan setapak kurang lebih satu jam lamanya, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah berbahan material kayu, lebih tepatnya rumah pohon.
"Sekap anak itu di gudang, jangan biarkan dia makan ataupun minum sampai orang tuanya datang untuk menyelamatkannya. Kalau dia mencoba untuk kabur, pukuli seluruh tubuhnya biar dia tidak mampu lagi berjalan." ucap Pria berkulit hitam dan bertopi hitam pula yang merupakan bos dari para pria bertopeng tadi.
"Baik bos." ucap salah satu anak buahnya.
Brakkk
Tubuh mungil Aufar di letakkan begitu saja pada lantai tanah yang kotor dan terdapat banyak serangga di sana.
Tiba-tiba saja dari suasana gudang yang begitu gelap terlihat sosok anak kecil berdiri di pojok ruangan. Setelah memastikan orang-orang yang membawa Aufar sudah keluar dari ruangan itu, barulah anak kecil itu keluar dari tempat persembunyiannya sambil menyeret kakinya yang pincang di bantu oleh tongkat agar mampu membuatnya berjalan dengan normal dan mampu menopang tubuhnya berdiri.
Rupanya anak kecil itu seorang perempuan, penampilannya sungguh kasihan, baju yang dipakainya sudah compang-camping dengan rambut berantakan, tubuhnya terlihat sangat kurus, seperti kurang gizi. Terdapat luka lebam di wajah dan kedua tangannya.
Anak kecil itu melangkah dengan hati-hati untuk melihat anak kecil yang bernasib sama dengannya.
"Kau akan bernasib buruk sepertiku." gumamnya melihat anak laki-laki itu.
Bersambung....
Jangan lupa like, komen dan vote ya bestie 🙏