King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Kesedihan Aileen



Sudah sebulan Ares menjadi bodyguard Violet alias istrinya. Kemanapun pun Violet pergi, ia akan selalu mengikutinya ibarat anak ayam mengikuti induknya.


Sementara Violet sendiri merasa risih memiliki bodyguard. Ia bahkan diam-diam menyusun rencana untuk menyingkirkan bodyguardnya.


Bagaimana tidak ia tipikal wanita bebas, sekarang harus merasa dikekang karena kehadiran bodyguard sialan itu yang tingkahnya sama persis dengan ayahnya. Bahkan senjata ancaman pria itu adalah ayahnya sendiri, sehingga Violet tak bisa berkutik.


Jiwa mafianya kembali meronta-ronta jika berhubungan dengan bodyguardnya. Ia berniat untuk melenyapkan Ares, namun ia masih perlu menunggu waktu yang tepat untuk menghabisinya.


Apalagi sekarang keluarganya sedang diselimuti kebahagiaan. Baru saja Daisy, saudara perempuannya melahirkan anak pertama berjenis kelamin laki-laki dan kini dirinya sudah bergelar aunty muda.


Ponakannya diberi nama Elvano Ghifari Manav, namun disingkat menjadi baby El. Sekarang baby El menjadi rebutan di keluarganya. Hampir setiap hari Violet berkunjung ke rumah saudaranya hanya semata-mata untuk melihat baby El.


Karena sekarang aktivitasnya tidak begitu padat, tidak seperti sebelumnya saat dirinya belum mengalami kecelakaan. Sedang untuk urusan kelompok mafia nya, Violet tak mengingatnya lagi dan sepertinya sudah melupakannya.


Memang Ares tidak ingin Violet kembali bergabung dalam dunia mafia, karena sesungguhnya dunia bawah itu sangat kejam dan begitu berbahaya bagi istrinya.


Joy yang biasanya setiap saat menghubungi Violet, diancam agar tidak lagi menghubungi Violet, bahkan Ares meminta Joy untuk selalu bersembunyi dan jangan pernah memunculkan diri di depan istrinya.


***


Pagi hari Violet sudah rapi dengan pakaian santainya, kaos oblong dan jeans biru melekat di tubuhnya. Ia melangkah tergesa-gesa menuruni anak tangga untuk sarapan.


Tampak Ares sudah rapi dan tengah menunggunya di meja makan. Violet berdengus kesal melihat Ares sudah berada di meja makan.


Bisa-bisa pelayan wanita menggodanya karena sudah persis sebagai pasangan suami istri sungguhan ketika sarapan bersama. Padahal kenyataannya memang mereka pasangan suami istri sungguhan, hanya saja Violet mengalami amnesia jadi tidak bisa mengingatnya.


Mendadak mood Violet menjadi buruk melihat bodyguardnya pagi ini. Apalagi tingkah bodyguardnya sudah seperti bagian dari keluarganya.


"Dimana Mommy dan Daddy ku?" tanya Violet dengan ketusnya kepada Ares. Karena ia tidak melihat kedua orang tuanya pagi ini.


Sontak Ares langsung bangkit dari duduknya dan bergerak menarik kursi untuk diduduki oleh istrinya.


"Silahkan duduk nona" ucap Ares tanpa menimpali pertanyaan Violet.


"Aku bilang dimana Daddy dan mommy ku?"


Violet kembali mengulang pertanyaannya sembari mendaratkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan Ares.


"Tuan dan Nyonya baru saja pergi, nona." jawab Ares sekenanya.


"Pergi? mereka pergi kemana?"


Tatapan Violet begitu mengintimidasi menatap wajah lugu pria di hadapannya.


"Aku kurang tahu nona. Tapi, mungkin saja tuan dan Nyonya ke rumah Nona Daisy." ucap Ares sopan dan selalu menunjukkan wajah polos dan lugu setiap berhadapan dengan sang istri.


"Ya sudah, setelah kita sarapan antar aku ke rumah kak Daisy." ucap Violet, sontak membuat Ares memicingkan matanya mendengar kata 'kita' yang keluar dari mulut istrinya.


"Baik nona" ucap Ares dengan anggukan kepala.


*


*


*


Sementara di tempat lain....


Tampak pasangan suami istri tengah duduk bersama di sofa ruang tamu. Mereka adalah pasangan Evan dan Aileen.


Sehingga mereka mengundur perceraiannya selama seminggu. Tepatnya hari ini adalah hari terakhir mereka bersama sebagai pasangan suami istri.


"Ini hari terakhir kita bersama sebagai pasangan suami istri. Apakah ada yang kau inginkan dariku?" tanya Evan sambil melirik kearah Aileen.


"Tidak ada! aku hanya ingin berterima kasih karena kau sudah memaafkan ku. Itu saja sudah cukup." ucap Aileen menunduk dan tidak ingin merepotkan pria itu.


"Kalau begitu, ayo kita berangkat." ucap Evan dengan raut wajah datarnya. Mereka berencana ke kantor pengadilan untuk mengakhiri pernikahannya.


Tapi, entah mengapa Evan merasakan perasaan berat untuk berpisah dengan Aileen. Karena selama dua bulan ini, mereka sudah akrab satu sama lain, bahkan mulai berteman baik.


Namun Evan tidak ingin terus melanjutkan hubungan mereka. Karena ucapan yang pernah dulu ia ucapkan tidak mungkin ia tarik kembali.


"Ayo!" ucap Aileen dan merasa heran melihat Evan tak beranjak dari tempatnya.


"Evan" panggil Aileen.


"Aahh iya." sahut Evan, kemudian mengikuti langkah kaki Aileen keluar dari apartemen.


Mereka masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai dasar. Tak berselang lama pintu lift terbuka, kemudian mereka bergegas keluar dan berjalan bersama-sama menuju bassment apartemen.


Aileen menghentikan langkahnya saat mendengar ponselnya berdering. Tanpa basa-basi ia langsung mengangkat telepon dari ibunya.


Aileen terkejut bukan main mendengar ucapan ibunya hingga air matanya mengalir deras membasahi pipinya. Evan yang melihat itu segera menghampirinya.


"Ada apa? kenapa kau menangis." ucap Evan sambil memegang kedua bahu istrinya.


"Ayah... ayah ku sedang kritis..hiks... hiks" lirihnya sembari menundukkan kepalanya.


Evan tidak bisa berkata-kata, ia hanya mampu menarik tubuh Aileen masuk ke dalam pelukannya.


"Ayahmu pasti baik-baik saja." ucap Evan mencoba menenangkan sang istri. Setelah itu, menuntun Aileen masuk ke dalam mobilnya.


Evan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit tempat ayah Aileen di rawat. Tak henti-hentinya Aileen terus menangis di dalam mobil, Evan menjadi kasihan melihat wanita itu.


Hanya 30 menit perjalanan mobil yang membawa mereka sampai di rumah sakit. Aileen bergegas turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah sakit.


Evan yang melihat tingkah laku istrinya bergegas menyusulnya.


Setibanya di ruang perawatan ayahnya, seketika tubuh Aileen lemas melihat ibunya sudah menangis histeris memeluk tubuh seseorang yang sudah tertutup kain putih.


"Bangun mas...hiks....hiks...kau tidak boleh meninggalkanku bersama Lee. Kau jahat mas, kau jahat...hiks...hiks"


Deg!


Air mata Aileen semakin deras membasahi pipinya. Tenggorokannya tercekat mendengar ucapan ibunya. Ia menyeret kakinya mendekati ranjang pasien dan tangisnya langsung pecah saat melihat siapa sosok dibalik kain putih tersebut.


"TIDAK!!!" Aileen menangis histeris melihat sosok disayanginya terbaring kaku di atas ranjang pasien.


"AYAH....hiks... hiks.... hiks."


Tangis Aileen semakin pecah, ayahnya sudah pergi jauh. Hatinya begitu sakit ditinggal pergi oleh orang yang sangat disayanginya di dunia ini.


"AYAH..huaaaaa...hiks... hiks.... Ayah...ayah...hiks..." Aileen memeluk erat tubuh ayahnya dan berharap ayahnya bisa bangun setelah ini. Namun harapannya hanya lah sia-sia. Dunia begitu kejam, mengapa orang yang sangat disayanginya harus pergi secepat ini.


Sementara itu, Evan hanya mampu diam membisu berdiri di samping Aileen, ia pun tak bisa berbuat apa-apa, melihat kesedihan Aileen dan terus menangis histeris kehilangan sosok ayah tercintanya.


Bersambung.....