King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Benar-benar godaan



Setibanya di kamar, Violet langsung menyuruh Ares keluar dari kamarnya. Ia tidak suka ada orang lain berada di dalam kamarnya, padahal kenyataannya Ares bukanlah orang lain melainkan suaminya sendiri.


“Kalau begitu aku permisi keluar nona” ucap Ares memasang wajah polos.


“Ya keluar sana, aku mau istirahat” ketus Violet.


“Jika nona butuh apa-apa panggil saja aku, karena selama 24 jam aku akan menjaga nona.” Ucap Ares sebelum keluar dari kamar Violet. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara khas wanita yang dicintainya.


“Aku tidak suka merepotkan orang, jadi simpan saja semua sikap baikmu kepada orang lain.” ucap Violet dan merasa muak melihat bodyguardnya jika setiap hari terus bersamanya.


“Tapi tuan Keynand sudah memberi tugas agar aku selalu berada di samping nona.” sahut Ares yang kembali membawa nama ayah mertuanya.


“Ya aku tahu, seenggaknya kau menjadi bodyguarku sebatas formalitas saja supaya Daddy tidak curiga, apa kau paham!” ucap Violet dengan nada penekanan dan tidak ingin dibantah.


“Aku tidak mengerti maksud nona Violet.” Ucap Ares berpura-pura bodoh.


“Astaga, otakmu sungguh bodoh. Sebaiknya kau keluar dari kamarku, karena aku mau istirahat!.” usir Violet kemudian melangkah ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya.


Ia tidak butuh lagi yang namanya kursi roda, hanya saja ayahnya terlalu khawatir dengan kondisinya, sehingga Violet mau-mau saja ketika diminta menggunakan kursi roda saat akan pulang ke rumah.


“Tunggu nona, apa anda butuh bantuan?” tanya Ares melihat Violet melangkah ke ruang ganti.


Walau sejujurnya ia masih ingin terus berduaan dengan istrinya. Mungkin dengan menawarkan bantuan kepada Violet, bisa saja memberikan peluang baginya untuk terus bersama dengan sang istri.


"Tidak perlu, sekali lagi aku mendengar suaramu, ku patahkan burung perkutut mu itu!" ancam Violet sebelum menutup pintu ruang ganti.


Brakkk


Ares tertawa kecil mendengar ucapan Violet, ia semakin tertantang untuk menaklukkan istrinya.


"Sikapnya sama sekali tidak berubah, tapi aku sangat senang membuatnya marah. Karena dia akan terlihat manis dan menggemaskan." gumam Ares tersenyum tipis. Kemudian Ares memutuskan keluar dari kamar Violet.


Ares memilih masuk ke dalam kamar yang bersebelahan dengan kamar Violet. Pakaiannya sudah tersedia dalam kamar tersebut. Dan memang tuan Keynand yang sudah mengatur dan mempersiapkan itu semua.


Ares tertegun mengamati suasana kamar yang ditempatinya. Lalu ia menghempaskan tubuhnya di atas ranjang berukuran king size. Ia menatap langit-langit kamar tersebut.


Namun fokusnya beralih pada benda pipih yang bergetar dalam saku celananya. Ares memilih bangun ketika melihat yang menelepon adalah ibunya. Tanpa basa-basi ia langsung mengangkatnya.


"Halo mama" ucap Ares di ujung telepon.


"Ares, mama minta maaf karena tidak sempat menyambut kepulangan istrimu, soalnya mama sekarang berada di luar negeri bersama ayahmu." ucap Nyonya Laurent di ujung telepon.


"Tidak apa-apa, mama. Oh iya, tumben mama keluar negeri bersama ayah. Apa ada urusan penting sampai kalian pergi bersama? oh atau jangan-jangan ini ada kaitannya dengan perusahaan?" tanya Ares.


"Ini tidak ada kaitannya dengan perusahaan, nak. Tapi, mama menghadiri acara pernikahan Kayla, karena keluarga Kayla sudah seperti keluarga kita. Lagian Mama tidak enak hati dengan keluarga Kayla, karena kenyataannya kalian tidak berjodoh. Dan sekarang Kayla sudah menikah dengan pria yang dijodohkan oleh Papa nya." jelas Nyonya Laurent di ujung telepon.


"Baguslah jika Kayla sudah menikah. Jadi mama tidak usah lagi merasa bersalah kepada keluarga mereka. Nikmatilah pestanya mama dan jangan lagi melakukan rencana apapun terhadap keluarga mereka. Aku tutup ya teleponnya." ucap Ares dan merasa lega mendengar Kayla menikah.


"Iya sayang, jaga dirimu baik-baik." balas ibunya. Dan panggilan telepon mereka berakhir.


Ares meletakkan ponselnya di atas nakas kemudian melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu, barulah ia akan menyusun rencana mendekati istrinya.


Tak berselang lama, Ares keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggangnya. Perut kotak-kotaknya terpampang indah dan rambut basahnya berjatuhan membasahi dada bidangnya.


Jika saja Violet melihatnya sekarang, sudah dipastikan Violet akan terpesona kepadanya.


Tok


Tok


Tok


Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya, membuat Ares menghentikan langkahnya saat akan mengambil pakaiannya di dalam lemari.


Refleks Violet berbalik badan membelakangi Ares. Mendadak wajahnya bersemu merah, padahal ia sering melihat pria bertelanjang dada ketika berada di tempat gym. Kenapa sekarang ia menjadi malu begini kepada bodyguardnya.


"Cepat pakai pakaianmu!" perintah Violet dengan suara meninggi.


"Baik nona." sahut Ares tersenyum simpul dan bergegas masuk ke dalam kamar untuk memakai pakaiannya.


Tak berselang lama, Ares kembali muncul dengan pakaian santai sudah melekat di tubuh atletisnya. Namun sayangnya, ia sudah tak mendapati Violet berdiri di depan pintu kamar.


"Kemana dia?" gumam Ares mencari keberadaan Violet. Kemudian ia memilih mendekati pintu kamar Violet.


Awalnya ia ragu mengetuk pintu kamar Violet, namun ia menjadi penasaran dengan kedatangan Violet yang sepertinya membutuhkan sesuatu.


Tok


Tok


Tok


"Nona Violet, apa anda ada di dalam!" teriak Ares dari luar.


Ceklek


Pintu kamar terbuka lebar. Seketika Ares membulatkan kedua matanya dengan jantung terus berdetak kencang melihat penampilan istrinya sekarang.


Bagaimana tidak, Violet mengenakan gaun ketat berwarna hitam sebatas paha. Hingga lekukan tubuh Violet terpampang indah di mata Ares. Bahkan Ares merasa gerah dan kesulitan menelan ludahnya, saking terpesonanya melihat penampilan seksi istrinya.


"Ayo masuk." tegur Violet sambil mengerutkan keningnya melihat raut wajah Ares.


"Aahh iya nona." ucap Ares gelagapan sambil menyentuh tengkuknya.


"Jangan lupa tutup pintu." ketus Violet dan berjalan anggun menjauh dari Ares. Sedang Ares hanya mampu mengangguk pasrah.


Benar-benar godaan, aku tidak yakin bisa menahan diri jika dia terus mengujiku seperti ini. Batin Ares yang mendadak tubuhnya diselimuti hasrat, maklum dirinya pria normal.


Selesai menutup pintu, Ares menghampiri Violet yang terlihat berdiri di depan jendela kamar.


"Ada apa ya nona memanggilku?" tanya Ares sambil menghirup aroma tubuh Violet yang sangat manis. Karena jarak mereka cukup dekat dan Ares memang sengaja melakukannya, bahkan ia ingin tidak ada jarak diantara mereka.


"Aku hanya ingin memberimu tugas penting. Sekarang kau naik ke atas ranjang." perintah Violet sambil menunjuk ke arah ranjangnya dengan gerakan elegan.


"Tapi nona, untuk apa anda menyuruhku naik ke..."


"Karena kau yang akan menggantikan ku tidur di atas ranjang. Jadi cepat lakukan, karena waktuku tidak banyak." ucap Violet dengan tegasnya. Pasalnya ia akan menghadiri acara reunian di kampusnya yang digelar di hotel.


Kemudian Violet menarik tangan Ares, mau tak mau Ares mengikuti langkah kaki istrinya yang menariknya mendekati ranjang.


Dengan liciknya Violet mendorong tubuh Ares ke atas ranjang, namun naasnya tubuhnya ikut terjatuh di atas ranjang, tepatnya di atas tubuh Ares. Karena Ares tak sengaja menarik lengan Violet saat tubuhnya terhempas di atas ranjang.


Brukkk


Pandangan mata mereka bertemu, dimana posisi mereka sangat intim.


*


*


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak bestie