
Ares senyum-senyum dalam tidurnya, ia masih terbuai dalam mimpi sedang mencumbu Violet. Hingga suara anak kecil begitu berisik dan mampu mengganggu tidurnya, namun ia tak memperdulikannya dan tak ingin bangun dari tempat ternyaman nya.
Tapi suara itu semakin berisik disertai suara kendaraan yang seperti berlalu lalang di sekitarnya. Hal itu semakin mengganggu tidurnya, juga mengganggu gendang telinganya. Refleks Ares mulai mengerjapkan matanya dan terlonjat kaget melihat banyaknya orang sedang mengerumuninya.
"Hah!" Ares membulatkan kedua matanya sambil bangun. Alangkah terkejutnya dirinya saat melihat kedua tangan dan kakinya terikat tali. Lebih parahnya lagi ia hanya mengenakan boxer, tanpa memakai pakaian lengkap.
Seketika Ares langsung teringat kejadian semalam hingga matanya melotot sempurna, karena ia terakhir kali bersama Violet.
"VIOLET!" teriaknya dengan amarah menggebu-gebu.
Sementara wanita yang disebut-sebut namanya tampak asyik bermain tenis dengan salah satu pelayan wanita di halaman belakang rumahnya.
Violet terus mengulas senyuman dan sesekali tertawa kecil saat tengah bermain tenis. Beberapa kali ia mencetak angka dan tampak antusias memainkan olahraga tersebut.
"Yes, aku menang."
Violet bersorak gembira sambil berlari di lapangan tenis, karena ia berhasil memenangkan pertandingan tenis.
Beberapa pelayan wanita yang menonton pertandingannya juga bersorak gembira melihat nona mudanya yang menang. Salah satu dari mereka membawakan minuman dingin untuk nona mudanya. Ada juga membawa cemilan dan juga handuk kecil.
"Terima kasih." ucap Violet dan lebih memilih mengambil satu botol air mineral dingin dibandingkan minuman bersoda.
Violet langsung meneguknya secara perlahan hingga tak tersisa, lalu menyambar handuk kecil yang dipegang oleh pelayan dan mulai membasuh keringat di wajah dan lehernya. Setelah itu, kembali menyerahkan handuk kecil tersebut kepada pelayan.
"Aku mau ke kamar. Mengenai makan siang, aku akan makan siang di luar, jadi kalian tidak perlu repot-repot memasak untukku. Jika penghuni rumah ini sudah kembali, kalian hanya perlu katakan bahwa aku sedang jalan-jalan ke mall." ucap Violet memberitahu kepada pelayanannya.
"Baik nona." ucap salah satu dari mereka dengan pandangan tertunduk.
"Tapi, Tuan berpesan kepada kami, jika nona mau keluar langsung saja minta izin kepada Tuan atau Nyonya dan Mas Ares. Karena tuan dan nyonya belum kembali hari ini, mereka masih menginap di rumah nona Daisy selama beberapa hari. Sementara tuan Victor juga keluar kota untuk mengurus perusahaan, jadi nona minta izin saja kepada Mas Ares, siapa tahu Mas Ares mau menemani nona jalan-jalan ke mall." ucap Kepala pelayan memberi tahu.
Mana mungkin aku minta izin kepada bodyguard mesum yang nyebelin itu, apalagi sampai mengajaknya jalan-jalan...iih ogah banget. Asal kalian tahu, dia sudah angkat kaki dari kediamanku. Dan sekarang aku pastikan dia sedang menanggung malu di jalan. Batin Violet tertawa jahat.
Seketika Violet kembali teringat dengan kejadian semalam, dimana dirinya terpaksa menjalankan rencana jahatnya sebelum menjelang pagi tiba.
Ternyata ia diam-diam menendang Ares keluar dari kediamannya dengan cara halus dan tak terbaca. Membayangkannya saja membuat wajah Violet merona sembari menyentuh leher jenjangnya yang dipenuhi tanda kepemilikan Ares.
Flashback on
Violet hanya mampu pasrah ketika Ares terus mencium bibirnya bahkan mellumatnya kuat sampai ia tidak memiliki celah untuk lepas dari jeratan napsu sang bodyguard mesumnya itu.
Ia bahkan sampai kesulitan bernafas. Namun tidak dihiraukan oleh bodyguardnya bahkan semakin menggila menciumnya sampai bermain lidah pula, mengabsen setiap inci bibir ranumnya. Hingga Violet ikut terbuai dengan ciuman Ares, sang bodyguardnya.
"Emmpp... hah!..aku tidak bisa bernafas!" Violet memukul lengan Ares disela-sela ciuman panas yang semakin menuntut pria itu.
Jedarrr!
Suara petir kembali menggelegar, refleks Violet langsung menggigit kuat bibir Ares, hingga membuat Ares langsung meringis kesakitan dengan darah segar mengalir di bibirnya, ia langsung melepaskan ciumannya.
"Kau menggigitku!." ucap Ares dengan suara berat dan tidak lagi memanggil kata nona yang sering ia lakukan.
"Maaf, aku tidak sengaja melakukannya. Jujur, aku terkejut mendengar suara petir dan reflek menggigit bibirmu" ucap Violet jujur dengan deru nafas ngos-ngosan, suaranya pelan bak anak kecil yang teraniaya.
Ares menghembuskan nafasnya dengan kasar, hasratnya yang tadinya diatas ubun-ubun perlahan mulai memudar dengan keadaannya.
"Tidak apa-apa, jangan takut." bujuk Ares dengan rayuannya sambil mengelus lembut punggung Violet, membuat bulu roma Violet meremang dengan jantung terus berdegup kencang layaknya akan copot dari tempatnya.
"Sekarang aku masih ingin melakukannya dan berbuat macam-macam kepadamu." ucap Ares jujur dan tangannya sudah nakal menyentuh bokong Violet.
"Aahh..Ares...aku sudah ngantuk, sebaiknya kita tidur saja." ucap Violet terkejut, sampai-sampai mengeluarkan suara dessahan dengan tubuh menggeliat, karena tangan Ares sudah masuk ke dalam gaun tidurnya dan menyentuh gunung kembarnya.
"Aku belum bisa tidur. Bukankah kau tidak masalah jika aku berbuat macam-macam kepadamu." ucap Ares menyeringai mengembalikan kata-kata Violet lalu mendaratkan ciuman di bahu Violet.
Sementara Violet hanya mampu diam seribu bahasa merasakan perasaan aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya saat Ares mer remas-remas gunung kembarnya.
Kemudian Ares kembali mencium bibir Violet, seirama dengan tangannya yang sedang memainkan gunung kembar istrinya yang masih terbungkus benda busa mirip kacamata.
Saat Ares ingin membuka benda kacamata itu, Violet langsung mencubit lengannya.
"Jangan membukanya. Aku tidak ingin kau berbuat lebih, cukup pegang saja." ucap Violet dan langsung merutuki ucapannya sendiri.
Mengapa sekarang ia tidak bisa melawan bodyguardnya yang sudah icip-icip tubuhnya. Kemana kemampuan bela diri yang ia miliki selama ini, apakah ia mulai hanyut dengan sentuhan bodyguardnya sampai tidak mau melawannya, pikirnya.
"Aku hanya ingin memainkannya sebentar. Siapa tahu kau menyukainya." ucap Ares berbicara ambigu, sembari menunggu persetujuan Violet dalam suasana kamar yang gelap gulita.
Ayolah, katakan yes. Batin Ares penuh harap.
Sementara Violet mulai dilanda bimbang, ia pun menjadi penasaran bagaimana rasanya. Akal sehatnya mulai tak sejalan dengan jalan pikirannya.
"Baiklah, hanya 1 menit." ucap Violet setuju dan Ares langsung mencium bibirnya dengan tangan mulai membuka pengait benda berbusa itu.
Ares langsung melancarkan aksinya memainkan gunung kembar Violet, bahkan sampai lupa daratan tak menepati ucapan Violet yang hanya memberinya waktu satu menit.
Setelah puas memainkan gunung kembar Violet, mereka pun memilih untuk tidur tanpa mencetak gol. Pasalnya Ares masih gugup untuk mencetak gol dalam kondisi Violet yang masih amnesia.
Tepat pukul 4 pagi, Violet terbangun lebih dulu dan mendapati Ares tidur di sampingnya hanya bertelanjang dada. Ia pun menyeringai licik menatap wajah pria itu, dimana kamarnya sudah terang kembali.
"Sekarang giliran aku yang mengerjainya." gumam Violet tersenyum jahat dan bergegas turun dari ranjang.
Violet berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi dan terkejut bukan main melihat bibirnya bengkak, sepertinya itu efek dari ciuman semalam. Tidak hanya itu, leher dan dadanya penuh tanda kissmark alias tanda kepemilikan Ares.
"Sialan." geramnya dan bergegas membersihkan tubuhnya.
Kini Violet sudah rapi dengan pakaian santai, ia memegang tali yang sempat ia jatuhkan di lantai. Kemudian menghampiri Ares.
Dengan hati-hati Violet membuka celana pendek Ares dan hanya menyisakan boxer. Lalu mengikat kedua tangan dan kaki Ares menggunakan tali. Setelah itu, ia pun bergegas keluar dari kamar untuk memanggil bodyguard yang berjaga-jaga di sekitar rumah.
"Buang dia di jalanan." perintahnya kepada kedua bodyguard ayahnya.
Kedua bodyguard itu langsung patuh menjalankan perintahnya, membuang Ares di jalanan.
Flashback off
"Ha ha ha, kasian sekali dia" ucap Violet sambil tergelak tawa.
"Violet Matteo Manav!"
Deg!
Bersambung....
Jangan lupa, like, komen dan vote bestie