King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Belum siap



Mendadak wanita cantik itu tersenyum manis kearah orang tuanya, lalu melangkah anggun menghampirinya.


"Ayah, Mami" ucap wanita cantik itu sambil memasang wajah dingin di depan orang tuanya. Wanita cantik itu tidak lain adalah Aileen, wanita yang berpura-pura menjadi pelayan di kediaman tuan Alex.


Ayah dan ibunya segera membawanya sedikit menjauh dari keramaian tamu undangan yang mulai berdatangan untuk memberikan hadiah dan selamat atas hari jadi pebisnis muda bernama Zico Zidane William, anak dari sahabat ayahnya.


Mereka memilih berdiri di pojok ruangan.


"Aileen sayang, Mami pikir kau tidak akan datang di pesta ulang tahun Zico." ucap ibunya antusias.


"Mami, mana mungkin aku tidak datang di pesta ulang tahun orang yang sudah membantu keluarga kita. Aku, mami dan ayah berhutang budi kepadanya, karena dia sudah membantu perusahaan ayah dari kebangkrutan. Dan aku terpaksa menjadi pencuri di rumah orang, agar keluarga kita tidak jatuh miskin. Tapi, jika dia kembali menyuruhku hal yang aneh-aneh, aku tidak mau lagi melakukannya, mami. Cukup sekali aku menjadi pencuri di rumah orang, karena jangan sampai aku tertangkap dan dijebloskan ke dalam penjara hingga membusuk. Aku sungguh takut membayangkannya" ucap Aileen panjang lebar dan bertekad tak ingin lagi menuruti keinginan Zico, pria yang sudah membantu perusahaan ayahnya dari kebangkrutan.


"Iya sayang, mami dan ayah tidak akan menyuruhmu melakukan itu lagi." ucap ibunya tersenyum sambil mengelus rambut putrinya yang terurai.


"Sebaiknya kita temui Zico, dari tadi dia menunggumu, nak." ajak ayahnya.


Aileen menggangguk, kemudian mereka berjalan bersama-sama menghampiri tuan rumah dari pesta tersebut.


Dari kejauhan tampak pria cukup tampan yang tidak lain adalah Zico melambai kearah Aileen. Mau tak mau Aileen menarik senyuman paksa di sudut bibirnya.


"Akhirnya nona cantik datang juga. Bagaimana kabarmu, Aileen?" tanya Zico dengan senyuman lebar menatap wajah cantik wanita pujaannya.


"Baik, tuan Zico. Oh iya, aku sampai lupa mengucapkan selamat untukmu, tuan." ucap Aileen tersenyum tipis. "Aku ucapkan selamat ulang tahun dan sukses selalu di hari bertambahnya usia anda, semoga secepatnya anda mendapatkan pasangan hidup dan tak perlu lagi bergonta-ganti wanita." tambah Aileen dengan senyum dipaksakan yang berhasil menyindir Zico. Gara-gara syarat dari pria itu, ia sampai rela mencuri di rumah orang.


Ia menyodorkan sebuah kado untuk pria itu dan isinya berupa jam tangan mahal dengan merek ternama.


"Aku tidak perlu lagi mencarinya, karena pasanganku sudah di depan mata." ucap Zico tersenyum simpul sambil menerima kado tersebut. Kemudian kembali mengulurkan tangannya di hadapan Aileen, berharap wanita itu mau diajak berdansa.


Aileen tampak diam mendengar ucapan Zico, bahkan belum bergerak menerima uluran tangan Zico, membuat ayah dan maminya langsung beraksi mengangkat sebelah tangan Aileen, kemudian menyatukannya dengan tangan Zico yang masih menggantung di udara.


"Bersenang-senanglah, sayang. Mami dan ayahmu mau sapa kenalan kami yang juga turut hadir di pesta ini." ucap ibunya lalu menarik suaminya untuk menjauhi mereka.


Zico menyeringai setelah orang tua Aileen pergi dari hadapannya. Saat Aileen akan melepaskan tangan Zico yang menggenggam erat tangannya, dengan cepat Zico menarik tangan Aileen hingga tubuh indah Aileen langsung menubruk dada bidang Zico.


"Mau kemana Aileen? jangan coba-coba kabur dariku." bisik Zico di telinga Aileen, dimana sebelah tangannya menahan pinggang Aileen.


Aileen hanya mampu mengumpat dalam hati. Ia sungguh tidak suka berurusan dengan Zico yang notabenenya adalah pria mesum dan juga play boy. Tapi, mau bagaimana lagi pria itu sudah membantu ayahnya dari kebangkrutan.


"Ayo kita berdansa, jangan menolak ku, Aileen." ucapnya tak ingin dibantah.


Membuat Aileen terjebak dan tidak bisa menolak ajakan Zico untuk berdansa bersamanya.


Mereka mulai berdansa diiringi musik klasik. Aileen beberapa kali menginjak kaki Zico dan memang ia sengaja melakukannya karena begitu risih berdekatan dengan lawan jenis, apalagi pria mesum itu.


"Awwww" Zico meringis kesakitan karena heels runcing Violet terus menghajar kakinya.


"Maaf maaf, aku tidak sengaja." ucap Aileen memelas dengan memasang wajah polos tak berdosa.


Dengan terpaksa Zico mengakhiri dansanya, jika tidak ia pasti akan menggunakan kursi roda pulang ke rumahnya akibat berdansa dengan Aileen. Bahkan sekarang jalannya sudah pincang menghampiri para sahabatnya.


Sementara Aileen tertawa kecil dan begitu puas bisa mengerjai Zico. Ia memutuskan untuk pergi secepatnya dari pesta itu. Jangan sampai Zico balik mengerjainya.


Aileen berjalan tergesa-gesa menuju lobi hotel hingga tak sengaja tubuhnya bertubrukan dengan tubuh tegak seorang pria. Saat Aileen mendongak menatap wajah pria itu, alangkah terkejutnya ia mengenali wajah pria itu. Buru-buru Aileen mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.


Gawat, dia tidak boleh mengenali wajahku. Batinnya memelas.


Tanpa mengucapkan sepatah kata, Aileen melangkah cepat menjauhi pria itu, namun baru beberapa langkah pria itu menghentikannya.


"Ya ampun, kenapa aku menjatuhkan tasku segala." gumamnya pelan.


Aileen langsung mengambil tasnya dari tangan pria itu dan tak lupa membungkukkan badannya di depan pria itu lalu bergegas pergi dengan seribu langkah, yang jelasnya pria itu tidak mengenalinya.


"Aku merasa tidak asing dengan wajah wanita itu." ucap pria itu tanpa sadar.


"Evan!, kau juga baru datang." sapa pria berambut cokelat.


"Hemm." balas pria itu dan tidak salah lagi adalah Evan.


Kemudian mereka berjalan bersama-sama menuju ballroom hotel tempat diselenggarakannya pesta. Sebenarnya Evan malas menghadiri pesta, namun yang mengadakan pesta tersebut adalah salah satu anak rekan bisnis ayahnya. Jadi mau tak mau ia harus menghadiri undangan tersebut.


*


*


*


Sementara di tempat lain....


Sejak Ares dan Violet masuk ke dalam kamar. Entah mengapa mereka menjadi canggung hanya sekedar bertatap muka ataupun berbicara receh.


Bahkan saat keduanya berada di atas tempat tidur yang sama, mereka saling membelakangi layaknya sedang marahan habis berantem sengit.


Semua itu karena pembahasan tentang anak dan cucu. Karena keluarga Ares sudah menginginkan seorang cucu, padahal mereka baru beberapa hari menikah.


"Eemm..Ares, benarkah kau ingin membawaku pulang..." Violet tidak melanjutkan ucapannya karena Ares langsung memotongnya cepat.


"Ya, aku ingin mengadakan pesta pernikahan kita di sana, biar semua orang tahu bahwa aku sudah menikahimu. Dan ya..perlu kau tahu, aku merasa tidak enak hati kepada kedua orang tuamu, karena membawamu kabur seperti pria pecundang yang tidak bisa bertanggungjawab" ucap Ares.


Sontak Violet mengubah posisinya menjadi terlentang.


"Jangan lagi mengungkit hal yang sudah terjadi, aku sudah tidak mempermasalahkan nya." ucap Violet sambil menatap langit-langit kamar Ares. Refleks Ares juga mengubah posisinya menghadap ke arah istrinya.


"Lalu apa yang sedang kau permasalahkan sekarang?" tanya Ares.


"Aku belum siap memiliki anak darimu." ucap Violet sambil menghela nafas.


"Kenapa?" tanya Ares serius dan terus menyudutkan Violet.


"Pokoknya aku belum siap, karena aku tidak mencintaimu." jawab Violet dengan entengnya. Membuat Ares terhentak mendengar pengakuan jujur dari sang istri.


"Tidak masalah jika kau belum mencintaiku. Yang jelasnya, aku akan selalu setia menunggumu sampai kau benar-benar cinta mati kepadaku." ucap Ares dengan nada penekanan.


"Tapi aku bukan istri yang baik untukmu, Ares. Dan aku juga tidak mungkin bersedia melahirkan anakmu. Karena aku bukan wanita baik yang memiliki sifat lemah lembut, namun aku hanya wanita kejam tak memiliki perasaan dan belas kasih." ucap Violet memejamkan matanya.


Ares menangkup wajah Violet, membuat Violet mengerjapkan mata indahnya dengan bulu mata lentik hingga pandangan mereka bertemu.


"Aku tidak peduli seperti apa dirimu, yang pastinya aku jatuh cinta kepadamu saat pertama kali kita bertemu. Jika kau belum siap untuk hamil, aku tidak akan memaksamu dan tidak akan menyentuhmu jika kau belum siap melakukannya." jelas Ares sungguh-sungguh lalu menarik tubuh Violet masuk ke dalam pelukannya.


Violet hanya mampu menyembunyikan wajahnya di dada bidang Ares dan begitu nyaman menghirup aroma maskulin dari tubuh Ares. Sungguh egois dirinya karena belum bisa mencintai suaminya.


Bersambung...