King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Nasihat mommy



Tepat pukul 9 malam Violet sampai di kediaman orang tuanya. Ia melangkah tergesa-gesa memasuki rumah dan langsung mencari keberadaan ayah dan ibunya.


Ia diantar oleh Yuta sampai di depan pintu rumah, setelah itu Yuta pamit undur diri. Karena itu memang menjadi tugasnya, memastikan istri tuannya sampai di rumah dengan selamat.


Langkah kaki Violet terhenti saat melihat ibu dan ayahnya berjalan bersama-sama akan memasuki kamar, ia lekas menghampirinya.


"Mommy, Daddy" ucap Violet berlari kecil menghampiri ayah dan ibunya.


"Eeh...kenapa tidak mengabari Daddy kalau kau akan pulang, nak." ucap tuan Keynand tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya yang sangat merindukan putrinya


"Aku hanya ingin memberikan kalian kejutan atas kepulanganku. Sekarang aku sudah sembuh, Daddy, mommy. Aku sudah mengingat semuanya." sahut Violet antusias lalu berhambur memeluk ayahnya, setelah itu kembali berganti memeluk ibunya.


"Syukurlah, mommy dan Daddy sangat senang mendengarnya. Akhirnya kau sembuh, sayang." ucap nyonya Viona dengan penuh haru bahkan matanya sampai berkaca-kaca. Begitu halnya dengan sang suami.


Mereka pun saling melepas rindu, setelah beberapa bulan tak bertemu. Walaupun mereka masih sering berkomunikasi lewat telepon ataupun videocall, tapi tetap saja rasa rindunya belum bisa tersalurkan dengan baik. Bertemu langsung adalah hal yang paling afdhol.


Sementara Victor sedang berada di luar kota dan tengah sibuk-sibuknya membangun bisnisnya.


"Lalu dimana Ares? kenapa dia tidak bersamamu, apa kau pulang sendiri?." tanya Nyonya Viona yang mencari keberadaan menantunya.


"Ares sibuk mommy, kerjaannya sangat banyak. Jadi dia tidak sempat pulang bersamaku." jawab Violet dengan senyuman menghiasi bibirnya, semua itu semata-mata untuk menutupi kesedihannya.


"Harusnya kau begitu gencar membujuknya dan mengerti akan posisi suamimu. Kau tidak sedang bertengkar kan?"


Nyonya Viona perlahan melepaskan pelukannya, lalu menatap intens wajah cantik putrinya yang terlihat murung.


"Ti-tidak, mommy." elak Violet terbata-bata sembari menggeleng pelan.


"Ya sudah ganti pakaianmu, mommy akan menyiapkan makan malam untukmu, sayang" ucap ibunya dengan tatapan hangatnya.


"Tidak usah, mommy. Aku sudah makan malam di luar. Tadi aku sempat mampir di restoran cepat saji sebelum pulang ke rumah." timpal Violet sambil menyentuh lengan ibunya.


"Kalau begitu beristirahatlah di kamar, nanti mommy menyusulmu ke kamar. Soalnya ada yang ingin mommy bicarakan kepadamu." ucap ibunya dan Violet mengangguk patuh menanggapi ucapan ibunya.


"Selamat malam, Daddy, mommy." ucap Violet lalu mencium pipi ayah dan ibunya secara bergantian.


"Selamat malam, sayang." ayah dan ibunya kompak mengatakannya, senyuman hangat menghiasi bibir mereka dan Violet sangat senang bisa berkumpul bersama keluarganya.


Lalu Violet melangkah menuju kamarnya yang terletak di lantai dua. Ia masuk ke dalam kamarnya dan langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang.


Sungguh ia sangat lelah melakukan perjalanan jauh dan lebih lelah dengan pikirannya yang masih saja berkecamuk. Pasalnya sampai sekarang Ares tak kunjung menghubunginya ataupun mengirimkan pesan kepadanya. Ia pun merasa gengsi untuk menghubungi Ares lebih dulu.


Violet menyeret paksa tubuhnya ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah itu mengganti pakaiannya dengan piyama tidur, sebelum tidur di ranjang empuknya yang sudah beberapa bulan tidak ia tempati.


Kini Violet duduk di tepi ranjang. Lagi-lagi ia mengecek ponselnya untuk memeriksa pesan masuk dari Ares, tapi tetap saja hasilnya nihil tanpa satupun pesan dari pria itu.


"Hufff, aku terlalu berharap mendapat pesan darinya." gumam Violet lalu menyimpan ponselnya di atas nakas.


Saat akan merebahkan tubuhnya, mendadak pintu kamarnya di ketuk dari luar. Sontak Violet bergerak untuk membuka pintu kamarnya.


"Apa mommy mengganggumu?" tanya ibunya dan Violet menggeleng cepat sebagai jawabannya.


"Ayo masuk, mommy. Kebetulan mommy ada di sini, jadi sekalian saja Violet mau cerita sama mommy." ucap Violet sembari menarik tangan ibunya lalu membawanya duduk di sofa, sedang sang ibu hanya mampu patuh ditarik oleh putri tercintanya.


Mereka duduk bersama di sofa. Kemudian Violet merebahkan tubuhnya, menjatuhkan kepalanya dipangkuan ibunya. Ia menjadikan pangkuan ibunya sebagai bantal empuk dan paling nyaman.


Dengan penuh kasih sayang Nyonya Viona langsung membelai rambut panjang putrinya.


"Violet, apa hubungan rumah tanggamu baik-baik saja, sayang?" tanya Nyonya Viona dan merasa aneh atas kepulangan putrinya tanpa didampingi oleh suami.


"I-iya mommy. Hubungan rumah tanggaku baik-baik saja" Jawab Violet gugup.


Nyonya Viona merasa lega mendengar jawaban dari putrinya. Ia tidak ingin lagi berpikiran aneh-aneh terhadap rumah tangga putrinya.


"Violet, mommy mau tanya apa kau sudah telat bulan, eeh...begini maksud mommy apa kau sudah berbadan dua?" tanya nyonya Viona tersenyum membenarkan kembali pertanyaannya.


Bukan tanpa sebab ia menanyakan hal tersebut kepada putrinya. Pasalnya wanita paruh baya itu mampu melihat keharmonisan rumah tangga putrinya terjalin dengan baik, jadi wajar saja jika ia sangat mengharapkan cucu dan lebih bersyukurnya lagi jika sebuah janin tertanam di rahim putri kecilnya.


Kenapa mommy mempertanyakan hal seperti itu, bahkan aku belum siap berhubungan badan dengan Ares. Apakah aku sudah mengecewakan keluargaku atas sikapku ini. Batin Violet.


"Belum mommy, tapi doakan saja." jawab Violet sesuai fakta.


"Iya sayang, mommy selalu mendoakan yang terbaik untukmu." sahut ibunya.


"Emm... mommy, pernahkah mommy bertengkar dengan Daddy?" tanya Violet takut-takut dan perlahan mengubah posisinya menjadi duduk bersandar di sofa.


"Tentu sayang, mommy sering bertengkar dengan Daddy. Yang namanya orang berumah tangga tidak lengkap tanpa adanya sebuah pertengkaran. Itu salah satu bumbu dalam sebuah pernikahan. Siapapun pasangannya, bagaimanapun baiknya seorang pasangan pasti tidak lepas yang namanya pertengkaran. Pasangan tua, muda sering mengalaminya. Hanya kesalahpahaman kecil, saling cekcok dan berakhir dengan pertengkaran. Tapi kita mesti membentengi diri ketika terjadi cekcok hingga berakhir pertengkaran hebat diantara pasangan. Salah satu dari kita mesti mengalah dan menurunkan egonya dan hal ini sering terjadi pada Mommy maupun Daddy. Mommy hanya tekankan jangan sekali-kali mengucapkan kata cerai saat kalian bertengkar hebat, karena saat itulah kalian sedang diselimuti emosi sesaat. Ingatlah hal romantis yang sering kalian lakukan bersama dulu untuk meredamkan emosi kalian yang hinggap sesaat." jawab ibunya panjang lebar diiringi sebuah nasihat untuknya.


Sontak Violet hanya mampu diam mendengar jawaban sekaligus nasihat yang diberikan oleh ibunya.


"Sekarang mommy mau tanya, apa kau sering bertengkar dengan Ares?" tanya ibunya dengan raut wajah serius.


Violet langsung mengangguk cepat. Ia tidak mungkin membohongi ibunya untuk masalah yang satu itu. Nyonya Viona langsung menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia dapat membaca pikiran putrinya.


"Mommy, aku sudah membuat kesalahan." ucap Violet menunduk. Sontak ibunya langsung berhambur memeluknya.


"Tidak sayang, semua orang pasti punya kesalahan dan sering khilaf. Jika kau memang punya salah, maka luruskan kembali dengan cara meminta maaf. Nasihat mommy cuma satu, tetap jaga keutuhan rumah tanggamu, jangan sampai kau menyesal diakhir." ucap ibunya lemah lembut. Wanita paruh baya itu tidak ingin apa yang dialaminya dulu terulang kembali kepada putrinya.


Violet hanya diam mencerna setiap ucapan ibunya. Ada terbesit perasaan menyesal masih bersarang dalam dirinya.


Aku harus meluruskan semuanya. Aku harus mendengar nasihat mommy yang bisa meluruskan kembali permasalahan yang ku hadapi bersama Ares. Aku harus mempertahankan keutuhan rumah tanggaku. Sekarang aku sungguh menyesal sudah mengatakan ingin bercerai dari Ares. Batin Violet penuh sesal.


Bersambung


Jangan lupa like dan vote bestie 🤧