
Kini semua orang sudah berkumpul di rumah sakit, termasuk Ares, Violet dan Nyonya Laurent. Setelah Oma Meggy menceritakan rahasia besar di keluarganya yang selama ini ditutup rapat-rapat dari anak dan cucunya. Mereka memutuskan ke rumah sakit untuk melihat kondisi tuan Alex.
Namun Oma Meggy tidak diperkenankan ke rumah sakit, dia hanya diminta istirahat saja di rumah di temani oleh perawat dan kepala pelayan.
Ares terpaksa menyusul ke rumah sakit, karena ia tidak tega melihat ibunya terus menangis, seolah menangisi pria paruh baya yang baru saja ia tembak dan ternyata pria itu adalah ayah kandungnya.
Walaupun Ares mengetahui semua kebenaran tentang keluarganya, namun ia belum bisa menerima semua kebenaran itu. Ares merasa hal itu hanya sebuah lelucon dan tak ingin berhubungan dengan orang itu.
Karena Ares belum bisa percaya seratus persen kepada pria paruh baya yang bernama tuan Alex dan merupakan ayah kandungnya. Pasalnya sedari kecil hingga dewasa Ares tidak memiliki seorang ayah dan mengganggap ayahnya sudah tiada, jadi sulit baginya untuk menerima kenyataan tersebut.
Sebisa mungkin Ares tidak ingin memikirkan hal tersebut. Tapi sayangnya hatinya tidak sejalan dengan pikirannya, entah kenapa hatinya selalu bergetar hanya mendengar kata 'ayah'. Bahkan perasaannya mendadak ikut sedih melihat ibunya terus menangisi tuan Alex dan berharap pria itu bisa selamat dari masa kritisnya.
Maka dari itu Ares ikut mendonorkan darahnya untuk tuan Alex. Entah apa yang merasukinya hingga ia melakukan aksi kemanusiaan tersebut dengan cara mendonorkan darahnya untuk pria paruh baya itu.
Karena sebelum melakukan tindakan operasi, dokter menginformasikan kepada pihak keluarga bahwa pasien membutuhkan tiga kantong darah. Sehingga Ares dan Evan langsung turun tangan mendonorkan darah untuk ayahnya, apalagi golongan darah mereka sama.
Dan sekarang mereka semua menunggu di depan pintu ruang operasi, dimana tuan Alex sedang menjalani operasi di dalam sana.
Ares duduk di kursi tunggu bersebelahan dengan ibunya dan sebisa mungkin ingin terus melindungi ibunya. Sedangkan Evan tampak mondar-mandir di depan pintu ruang operasi dengan raut wajah cemas yang begitu mencemaskan keadaan ayahnya di dalam sana.
Sementara itu, Violet, Tuan Keynand dan Victor duduk bersama di kursi tunggu berhadapan dengan Ares yang duduk bersama dengan ibunya.
Violet menatap ke arah Ares dengan tatapan sulit diartikan hingga menghela nafas berat. Ia tidak menyangka bahwa pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu mengalami kisah keluarga yang begitu rumit.
Aku mulai kasihan kepadanya. Batin Violet.
Violet tidak menyangka Ares kembaran dari Evan, dan pria itu sama sekali tidak mengetahui jika memiliki kembaran. Mereka baru mengetahuinya ketika insiden tersebut terjadi. Tidak hanya itu, Ayah dan ibunya berpisah saat mereka dilahirkan, sehingga mereka tumbuh tanpa adanya kasih sayang dari orang tua utuh. Violet menjadi kasihan setelah mengetahuinya.
Sungguh sesak rasanya setelah mendengar langsung cerita tentang keluarga dari suaminya. Violet tidak menyangka kehidupan keluarga Ares begitu memilukan. Baru kali ini ia merasa kasihan kepada orang lain, biasanya ia akan bermasa bodoh dengan kehidupan orang lain.
Violet terus memandang ke arah Ares yang tampak melamun, entah apa yang sedang dipikirkan pria itu, pikirnya. Namun aksinya itu mendapatkan perhatian dari tuan Keynand, pria paruh baya itu diam-diam memperhatikan putrinya, akan tetapi tidak ingin mencampuri urusan keduanya.
Tak berselang lama, pintu ruang operasi terbuka dan muncullah dokter dan perawat yang baru saja menangani pasiennya.
"Bagaimana keadaan ayah ku, dok?" tanya Evan cemas sembari melirik ke dalam ruangan, hingga pintu itu kembali ditutup oleh perawat.
Nyonya Laurent ikut bangkit dari duduknya dan berdiri di samping Evan dengan raut wajah cemas sembari mengusap kasar sisa-sisa air matanya.
"Bagaimana keadaannya dok?"
Refleks Nyonya Laurent juga menayangkan keadaan tuan Alex.
Tampak dokter berkacamata itu hanya mampu menghembuskan nafas kasar dengan guratan wajah tampak lelah habis menangani pasiennya. Dokter itu masih terlihat berpikir sebelum akhirnya buka suara untuk menjelaskan perihal kondisi pasiennya.
"Pasien sudah melewati masa kritisnya, namun belum bisa ditemui oleh pihak keluarga. Kami akan terus memantau perkembangannya pasca operasi, setelah itu pasien sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat inap untuk menjalani perawatan dan kalian sudah diperbolehkan untuk menjenguknya." jelas Dokter Zacky.
Semua orang bernafas lega mendengar ucapan dokter Zacky.
"Baik dok. Aku ucapkan terima kasih, dok. Tolong, terus lakukan yang terbaik untuk ayahku. Berapapun biayanya aku yang menanggungnya." ucap Evan bersungguh-sungguh.
***
Beberapa jam kemudian, tuan Alex sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Namun hanya dua orang pihak keluarga yang diperbolehkan masuk ke ruang rawat inap untuk melihat keadaannya sekaligus menjaganya, mengingat pasien belum siuman pasca operasi. Masih perlu beberapa jam pasien akan siuman.
Hanya Evan dan Nyonya Laurent yang masuk ke dalam ruangan tersebut. Sedangkan Ares masih duduk di tempatnya semula. Pria itu tidak banyak bicara bahkan membiarkan Violet bebas bersama dengan keluarga nya.
Violet bersama ayahnya memilih ke kantin rumah sakit untuk membeli makanan dan minuman. Mereka membiarkan Ares dan Victor duduk di kursi tunggu.
"Daddy" Violet memeluk tubuh ayahnya ketika mereka tiba di kantin.
"Violet, kau baik-baik saja kan, nak?" tanya ayahnya dengan raut wajah khawatir memastikan kondisi putrinya.
Violet menggangguk dalam pelukan ayahnya, membuat ayahnya merasa lega. Lalu mereka melepaskan pelukannya.
"Daddy, ada hal penting yang ingin Violet katakan kepada, Daddy." ucap Violet dengan hati-hati. Violet tidak ingin menutupi masalah yang sedang ia hadapi sekarang.
Tuan Keynand tampak menghela nafas panjang tanpa menimpali ucapan putrinya, Violet. Lalu ia menarik kursi dan meminta putrinya duduk. Kemudian barulah ia ikut duduk berhadapan dengan putrinya.
"Katakan saja nak" ucap Tuan Keynand sambil mengulurkan tangannya untuk mengelus puncak kepala putrinya.
"Daddy, aku sudah menikah." ucap Violet hati-hati.
"Apa!!!" Tuan Keynand terlonjat kaget mendengar ucapan putrinya.
"Pria menye...eeh maksudku Ares. Ares sudah menikahiku secara paksa dan penuh kelicikan. Sekarang aku sudah menjadi istrinya, Daddy." ucap Violet sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Tuan Keynand tampak diam seribu bahasa mencerna kata-kata putrinya hingga sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis.
"Daddy" ucapnya merengek. Seketika wujud queen mafia itu manja jika berbicara dengan ayahnya. "Apa aku harus membatalkan...." Violet tidak melanjutkan ucapannya, karena ayahnya langsung memotongnya cepat.
"Selamat atas pernikahanmu, nak. Daddy merestui hubungan kalian. Semoga kalian menjadi keluarga yang bahagia." ucap tuan Keynand tersenyum tipis sambil mengelus puncak kepala putrinya.
Tuan Keynand sama sekali tidak mempermasalahkan hubungan putrinya dengan pria yang sudah menculik putrinya, setelah mengetahui kebenaran tentang si penculik yang ternyata putra Alex. Mau tak mau ia harus merestui pernikahan mereka.
"Daddy tidak marah saat tahu aku dinikahi paksa oleh Ares, sementara aku pernah bertunangan dengan Evan, saudara kembar Ares." ucap Violet.
"Menurutmu, Daddy akan marah saat tahu kembaran Evan yang sudah menikahimu lebih dulu?"
"Bukan begitu, Daddy. Tapi...aku tidak setuju pria itu menikahiku dengan cara licik. Dan aku tidak ingin mereka bermusuhan gara-gara aku"
"Semuanya sudah terjadi dan takdir seolah mengikat kalian. Tapi, jika kau tidak nyaman dengan hubungan pernikahanmu, maka Daddy akan membantumu untuk membatalkan pernikahanmu saat ini juga." ucap Ayahnya tak main-main.
Entah mengapa Violet menjadi ragu untuk mengakhiri pernikahannya yang baru sehari. Apa karena dirinya begitu kasihan kepada Ares, sampai tidak ingin mengakhirinya cepat? hanya waktu yang bisa menjawabnya.
Bersambung