King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Tenang Violet



"Violet Matteo Manav!"


Deg


Violet terlonjat kaget mendengar suara seseorang yang tidak asing baginya.


"Suara itu..." Violet mengalihkan pandangannya dan terkejut bukan main melihat pria yang baru saja dia tendang dari kediamannya kini berjalan gagah menghampirinya. Mereka bahkan bertemu pandang.


Beberapa pria kekar yang jumlahnya sepuluh orang turut melakukan pengawalan terhadap mantan bodyguardnya itu, ya karena Violet sudah tidak mau lagi pria itu menjadi bodyguardnya jadi hanya menganggapnya sebagai mantan bodyguard.


"Siapa yang menyuruhmu datang ke rumahku sampai bawa rombongan segala, rumahku bukan tempat untuk melakukan adu kekuatan. Dan kau bukan lagi bodyguard ku! jadi sebaiknya kau pergi, karena rumah ini sudah tertutup untuk pria seperti dirimu." ketus Violet sambil menatap tajam kearah Ares.


"Pelayan, panggil penjaga untuk mengusir pria ini bersama rombongannya." tambah Violet sembari berkacak pinggang menunjuk kearah Ares.


"Ba-baik nona." sahut salah satu pelayan dan akan beranjak pergi.


Tapi sayangnya kesepuluh pria bertubuh kekar yang merupakan anak buah Ares langsung menodongkan pistol kearah pelayan tadi.


"Nona Violet." Pelayan itu langsung ketakutan dan beringsut mundur mendekat kearah nona mudanya lalu bersembunyi di belakangnya untuk mencari perlindungan.


Ares mengangkat sebelah tangannya, hingga membuat kesepuluh anak buahnya langsung menurunkan pistolnya dengan pandangan tertunduk. Sedang pandangan Ares masih saja tertuju kearah Violet.


Ia harus bertindak tegas kepada istrinya kali ini. Harga dirinya sungguh hancur di negara ini karena ulah istrinya. Ia dikerumuni orang, dari kakek nenek sampai balita mengganggapnya orang gila.


Bagaimana tidak, ia tertidur di jalan persis orang gila yang cuma mengenakan boxer. Tidak hanya itu tangan dan kakinya terikat tali, seolah dirinya akan mendapatkan hukuman mati. Dan saat itu ia sangat malu dilihat oleh orang banyak dan harga dirinya sungguh hancur.


Mau tak mau ia bergegas kabur dari kerumunan orang, namun masih saja anak-anak mengejarnya sembari meneriakinya sebagai orang gila, karena tangan dan kakinya masih terikat. Sehingga Ares dengan terpaksa bersembunyi di taman, tepatnya dibalik tanaman.


Saat melihat pejalan kaki melewati taman, ia tak lupa meminjam ponsel kepada pejalan kaki yang sempat terkejut melihat penampilannya. Namun, Ares berhasil membujuk pejalan kaki itu untuk mau meminjamkan ponselnya.


Lalu Ares langsung menghubungi Yuta untuk menjemputnya. Setelah itu barulah mengembalikan kembali ponsel si pejalan kaki.


Tak butuh waktu lama, Yuta datang menjemputnya dan segera membawanya ke rumah utama, karena Ares yang meminta.


Di perjalanan pulang ke kediaman orang tuanya, Ares terus mengumpat kesal dan tidak terima dengan tingkah Violet yang sudah mempermalukannya di depan umum. Maka dari itu, ia akan memberikan pelajaran kepada istrinya setelah bertemu nanti.


Sekarang Ares sudah berada di kediaman Violet, tepatnya berada di hadapan wanita itu. Ia berencana akan membawa paksa Violet.


"Aku datang untuk menjemputmu." ucap Ares dingin dengan raut wajah datar.


"Menjemputku! ha ha ha... ternyata kau belum kapok juga. Kapan-kapan aku akan menggantungmu di jalan persis balon udara." ucap Violet diiringi gelak tawa yang sedang menertawakan Ares.


Ares mengepalkan tangannya lalu melangkah mendekati Violet, sementara Violet masih saja tertawa tanpa beranjak dari tempatnya. Tanpa basa-basi Ares langsung mengangkat tubuh Violet.


"Aaaaaaa" Tubuh Violet sudah melayang diangkat oleh Ares, lalu diletakkan di bahu pria itu


"Hei, turunkan aku!" Violet memberontak sambil memukul-mukul tubuh Ares menggunakan kedua tangannya.


"Pelayan, penjaga, jangan biarkan pria gila ini membawaku pergi!" teriak Violet kepada para pekerja.


Sementara para pekerja di kediamannya hanya mampu menatap kepergiannya tanpa ada yang bergerak membantunya. Mau bagaimana lagi, mereka tahu betul siapa Ares sebenarnya.


Tidak mungkin juga nona mudanya akan terluka selama bersama pria itu yang tidak lain adalah suami nona mudanya. Mereka semua percaya bahwa pria yang akhir-akhir ini dipanggil mas Ares bisa menjaga dan membahagiakan nona mudanya.


Ares memasukkan Violet ke dalam mobil, namun Violet kembali mencoba untuk kabur. Sehingga Ares melepas dasinya lalu mengikatnya di kedua tangan Violet.


"Sekarang aku tahu bahwa kau rupanya seorang pencuri yang berkedok bodyguard. Aku akan mengatakan kepada Daddy kalau kau itu seorang penjahat." ucap Violet marah dan terus mencoba melepaskan diri.


"Lakukanlah, bahkan kedua orang tuamu tidak akan peduli kepadamu." sahut Ares yang sudah duduk tenang di samping Violet. Karena mereka menempati kursi penumpang.


Kemudian Ares meminta Yuta untuk segera melajukan mobilnya ke bandara. Karena ia akan membawa Violet kembali ke negara xxx.


Mobil terus melaju kencang membelah jalan raya, namun tidak mematahkan semangat bagi Violet untuk terbebas dari bodyguardnya.


"Tuan, aku melihat mobil berwarna hitam dan silver sedang mengikuti kita." ucap Yuta dengan insting yang begitu kuat melihat di sekitarnya.


Terdapat dua unit mobil dengan warna berbeda sedang mengikutinya dari belakang.


"Berpura-pura lah tidak melihatnya. Aku ingin melihat sejauh mana kemampuan mereka." ucap Ares menyeringai. Sepertinya si pengendara mobil sedang mengincar istrinya.


"Awas di depan." tegur Ares melihat sebuah truk pengangkut barang tampak hilang kendali dari arah berlawanan.


Sementara Violet yang melihatnya langsung membulatkan kedua matanya, hingga mendadak kepalanya berdenyut nyeri.


"Aaakkhh. Kepalaku sakit." Violet merintih kesakitan hingga bayang-bayang seseorang mulai terlintas di kepalanya layaknya rekaman kaset rusak.


Violet memejamkan matanya dan mencoba untuk tidak mengingat apapun, tapi bayangan seseorang entah siapa orangnya kembali terngiang-ngiang di pikirannya.


"TIDAK! aku tidak ingin mengingatnya, pergi! pergi!" ucap Violet histeris di dalam mobil sambil membenturkan kepalanya di jendela mobil yang tak ingin mengingat apapun.


Ares yang melihatnya segera menarik tubuh Violet masuk ke dalam pelukannya.


"Aaaaaaa....Pergi! aku tidak mau mengingatnya. Tolong aku! tolong!..hiks.. hiks" Lagi-lagi Violet berteriak histeris dengan air mata mulai membasahi pipinya. Bahkan keringat dingin mulai bercucuran di kening dan leher jenjangnya.


"Tenang Violet, tidak ada yang menyakitimu." ucap Ares lemah lembut mencoba menenangkannya.


Dengan hati-hati Ares mulai melepaskan dasi yang sempat ia ikatkan di kedua tangan Violet. Sedang Violet tak lagi memberontak seperti tadi.


Ares menjadi khawatir dengan kondisi Violet. Ia pun mencoba menenangkannya dengan menepuk-nepuk pelan punggung Violet. Sesekali mencium puncak kepala Violet, dimana Violet sudah terlihat tenang dalam pelukan Ares.


"Tuan, haruskah kita membawa nona Violet ke rumah sakit?" tanya Yuta yang juga khawatir dengan kondisi istri bosnya.


"Tidak perlu, tetap lakukan sesuai perintahku. Setelah kita sampai, biar dokter pribadiku yang memeriksa kondisinya." jawab Ares.


"Baik tuan" ucap Yuta dengan anggukan kepala.


"Lalu bagaimana dengan dua...."


"Biar Joy yang mengurusnya. Rombongannya sudah menghadang mereka di depan, jadi tak perlu khawatir." ucap Ares santai sambil mengelus punggung Violet, dimana Violet sudah memejamkan mata, sepertinya istrinya sudah tidur.


Ares menunduk menatap wajah sembab Violet.


"Aku sungguh tidak bisa melihatmu tersiksa, sayang." ucap Ares dengan tatapan sendu lalu mencium kening istrinya.


Ia berharap secepatnya Violet sembuh dan mampu mengigat nya kembali, mengingat segala momen kebersamaan mereka dulu.


Bersambung....