King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Tanda-tanda Hamil?



Masa liburan sekaligus honeymoon yang dilakukan oleh pasangan Ares dan Violet sudah berakhir. Mereka kembali beraktivitas seperti biasa.


Ares memilih menetap di negara xxx bersama Violet dibandingkan harus pulang ke negara kelahirannya. Disana ia menjalankan perusahaan peninggalan kakeknya yang diwariskan kepadanya.


Selama liburan itu berakhir raut wajah Violet selalu saja terlihat murung dan kurang bersemangat. Kejadian di atas kapal pesiar yang merenggut nyawa asisten pribadinya menjadi pemicu utama membuat istrinya menjadi seperti itu.


Ares selalu menghibur Violet dengan berbagai cara, salah satunya sering mengajaknya jalan-jalan ke mall, ke tempat gym dan makan malam di luar. Namun tetap saja tak ada perubahan yang terjadi pada istrinya.


Seperti pagi ini terlihat Violet duduk melamun di depan cermin, entah apa yang sedang dipikirkannya. Setiap pagi ia selalu saja hobi melamun di depan cermin setelah selesai menyiapkan pakaian kantor untuk Ares.


Ares yang melihat tingkah Violet bergegas menghampirinya. Ia langsung memeluk tubuh Violet dari belakang, melingkarkan tangan kekarnya di perut rata sang istri.


"Sayang, kenapa melamun terus?" tanya Ares sambil memeluk erat Violet dari belakang.


Violet menoleh kearahnya lalu menggeleng cepat, bahwasanya ia baik-baik saja.


Cup


Ares mengecup singkat bibir Violet lalu membelai wajahnya.


"Apa kau masih ingin liburan sayang? kalau iya, aku akan rencanakan kembali." ucap Ares demi membuat istrinya bahagia.


"Tidak perlu, akhir-akhir ini moodku memang tidak menentu. Kadang suasana hatiku senang, kadang juga sedih dan tak tentu. Tapi, aku akan menyibukkan diri dengan berkebun dan mengurus butik." ucap Violet tersenyum manis.


"Ya sudah, lakukanlah apa yang kau sukai, sayang. Nanti aku menyewa tukang kebun untuk membantumu cara-cara berkebun yang baik." ucap Ares mengelus pipinya.


"Hemm" balas Violet tersenyum manis sembari menatap pantulan dirinya bersama sang suami di dalam cermin.


"Jangan selalu diet, lihatlah wajahmu menjadi tirus, gak puas aku ciumnya." bisik Ares lalu mencium gemes pipi istrinya.


Akhir-akhir ini begitu banyak perubahan dalam diri Violet, salah satunya tubuhnya agak kurus dengan pipi tirus.


"Hah, aku tidak pernah diet, memang seperti ini bobot tubuhku. Bentuk wajahku pun sama aja, gak tirus. Memang sih aku kurang nafsu makan akhir-akhir ini, akupun tidak tahu apa gejalanya. Pokoknya aku sangat malas dan pengen rebahan saja." ucap Violet apa adanya.


"Kalau begitu kita ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi tubuhmu sayang, bagaimana?" ucap Ares dengan idenya.


"Nggak usah, lagian aku tidak sakit. Cuma malas makan, bentar juga nafsu makanku balik lagi." tolak Violet sambil mengelus rahang kokoh sang suami.


"Baik, jika itu maumu sayang. Kalau begitu, ayo kita sarapan." ajak Ares.


"Ayo, tapi aku pengen digendong." ucap Violet manja. Sungguh akhir-akhir ini ia menjadi istri pemalas dan sangat manja. Contohnya selalu ingin di gendong.


"Oke tuan putri." ucap Ares dan langsung menggendong tubuh Violet ala bridal style. Kemudian membawanya ke ruang makan.


Kepala pelayan dan dua pelayan wanita tampak tersenyum tipis melihat kedatangan majikannya. Hampir setiap hari mereka melihat keromantisan yang selalu dilakukan oleh pasangan muda itu.


Salah satu pelayan langsung bergerak menarik kursi untuk diduduki oleh majikannya.


Dengan hati-hati Ares menurunkan Violet di kursi, namun mendadak Violet merasakan perasaan mual. Ia langsung membekap mulutnya dan segera berlari ke wastafel.


Ares bergegas menyusulnya untuk memastikan kondisi istrinya.


Hoeekk.... Hoeekk


Ia mampu mendengar suara Violet yang sedang muntah-muntah di wastafel. Ares segera menghampirinya lalu memijit tengkuk Violet untuk membuatnya merasa lebih baik.


Violet terus berusaha memuntahkan isi perutnya, namun hanya cairan bening saja yang keluar dan itu sangat mengganggu tenggorokannya.


Violet menyudahinya dan mulai membersihkan mulutnya. Ares selalu setia berada di sampingnya.


"Aku baik-baik saja, sayang. Sepertinya asam lambung ku naik, karena akhir-akhir ini aku jarang makan" ucap Violet menjelaskan melihat raut wajah Ares tampak khawatir dengan kondisinya.


"Sebaiknya kita ke dokter, aku tidak bisa tenang jika...."


"Oke, aku percaya kepadamu, sayang." ucap Ares mengalah. Karena intinya istrinya sangat keras kepala.


Mereka kembali ke meja makan guna sarapan bersama.


Violet mengambil dua potong sandwich untuk Ares, sementara ia hanya memilih sarapan dengan sereal gandum dan susu. Mereka mulai menikmati makanannya.


"Rencananya nanti malam mama dan papa akan berkunjung ke sini, mereka akan menginap. Katanya kemarin sore mereka tidak sempat untuk menemui kita sayang. Jadi mereka langsung mampir di rumah utama." ucap Ares memberitahu Violet tentang kedatangan kedua orang tuanya.


"Oh ya. Kita harus menyambut kedatangan papa dan mama. Kenapa tidak mengabari kita sebelumnya perihal kedatangannya. Kita kan bisa menyempatkan waktu menjemput mereka di Bandara." ujar Violet.


"Papa tidak ingin merepotkan kita, lagian kita baru beberapa hari pulang dari liburan." jelas Ares.


"Kalau seperti itu, aku harus berbelanja ke supermarket untuk membeli bahan makanan. Aku akan memasak makanan yang banyak untuk makan malam nanti." ucap Violet antusias.


"Sayang, tak usah repot-repot memasak untuk nanti malam. Kau kan sedang tidak enak badan, sebaiknya beristirahat lah." ucap Ares dengan tatapan hangatnya sembari menggenggam tangan Violet. Ia merutuki kebodohannya sendiri memberitahu perihal kedatangan kedua orang tuanya.


"Ada pelayan yang membantuku memasak, jadi tenang saja." ucap Violet begitu kekeh pada pendiriannya.


"Baiklah terserah kau saja." ucap Ares menghela nafas berat.


"Cepat habiskan makananmu, setelah itu berangkatlah ke kantor. Jangan sampai kau telat." perintah Violet.


"Iya sayang." ucap Ares dan kembali melanjutkan makannya.


Mereka terbiasa makan sambil mengobrol ketika berada di ruang makan. Selesai sarapan, Ares dan Violet berjalan bersama-sama menuju pintu utama.


"Aku berangkat dulu, jangan lupa istirahat. Jika kau membutuhkan sesuatu, segera hubungi aku." ucap Ares berpamitan lalu mencium kening istrinya.


"Iya suamiku." balas Violet tersenyum, kemudian mencium pipi Ares.


Ares bergegas masuk ke dalam mobilnya dan tak lupa melambaikan tangannya kearah Violet sebelum melajukan mobilnya. Itu salah satu kebiasaannya ketika akan berangkat ke kantor.


Setelah memastikan mobil Ares sudah pergi, Violet memutuskan masuk ke dalam rumah dan melangkah ke dapur. Namun mendadak kepalanya pusing, namun Violet tidak menghiraukannya, ia tetap berjalan tertatih-tatih menuju dapur.


Untungnya Bu Lilis ( kepala pelayan) melihatnya dan segera menghampirinya.


"Nyonya kenapa?" tanya Bu Lilis.


"Kepalaku pusing Bi." jawab Violet dengan kepala mulai berkunang-kunang.


"Ueeek...." Violet kembali membekap mulutnya. Lagi-lagi ia merasakan mual.


"Bi tolong buatkan aku teh hangat." ucap Violet sebelum melangkah mendekati wastafel.


"Baik nyonya." Ucap Bu Lilis. "Kalau dilihat-lihat, sepertinya itu tanda-tanda Nyonya sedang hamil." ucap Bu Lilis dengan peraduganya. Ia pun segera membuatkan teh hangat untuk majikannya.


Violet kembali mendekati meja makan dengan tubuh lemas. Ia pun tidak tahu dengan kondisinya sekarang, mengalami mual dan muntah.


Violet mendaratkan bokongnya di kursi. Secangkir teh hangat sudah disiapkan Bu Lilis untuknya. Ia pun langsung meneguknya secara perlahan.


"Aku tidak salah makan, kenapa bisa aku jadi mual-mual begini?" tanya Violet pada dirinya sendiri.


"Itu tanda-tanda Nyonya sedang hamil" sahut Bi Lilis.


"Apa bi! tanda-tanda Hamil?" ucap Violet terkejut.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗