
Ares dan Violet mulai menikmati makanannya. Sesekali mereka saling curi-curi pandang dengan senyuman menghiasi bibirnya. Alunan lagu terus mendayu merdu sepanjang mereka menikmati makan malam bersama.
Dinner romantis yang dipersiapkan oleh Ares untuk Violet berjalan dengan baik, bahkan sebuah pengakuan yang tidak pernah ia sangka akhirnya terjadi juga. Violet mencintainya, dinner romantisnya sungguh membuahkan hasil.
Selesai menikmati makanannya, Ares dan Violet kembali bersulang atas perayaan malam yang penuh bahagia ini. Mereka tampak antusias meneguk anggur merah lalu tertawa bersama.
Ares kemudian menyuruh pergi ketiga orang yang sempat mengiringi dinner romantisnya. Tak lupa Ares memberikan tips untuk mereka bertiga. Ketiga musisi itu sangat senang mendapatkan penghasilan lebih.
Kini hanya Ares dan Violet berada di atas kabin kapal, karena Ares sendiri tidak ingin diganggu oleh siapapun. Perlahan Ares membuka jasnya lalu memasangkannya di tubuh Violet, ia tidak ingin Violet sampai kedinginan diterpa angin laut, mengingat mereka sedang berada di luar ruangan.
Ares mengulurkan tangannya untuk mengajak Violet berdansa. Dengan antusias Violet menerima uluran tangan Ares. Mereka pun saling berhadapan, dimana Ares memegang pinggang ramping Violet, sedang Violet memegang kedua bahu Ares.
Mereka belum bergerak maju maupun mundur melainkan hanya saling tatap-tatapan dengan tubuh saling menempel tanpa ada jarak sedikitpun.
Ares mendekatkan wajahnya ke wajah Violet, sontak membuat Violet langsung memejamkan matanya. Ares tersenyum simpul melihat respon dari Violet.
Tanpa basa-basi Ares langsung mencium bibir Violet, mellumatnya lembut dengan penuh perasaan cinta. Bibir Violet terasa manis dan lembut, apalagi aroma tubuhnya begitu wangi dan menggoda.
Seketika Ares menahan gejolak aneh yang mendadak membangkitkan hasratnya, maklum dirinya pria normal. Hanya berdekatan dengan Violet, tubuhnya langsung merespon cepat.
Ia terus memangut bibir Violet dengan begitu lembut dan penuh perasaan cinta. Sedangkan Violet mulai membalas ciumannya dengan lembut sambil memejamkan matanya menikmati pangutan Ares. Sungguh ia merindukan ciuman Ares selama seminggu ini.
Sekarang Violet tidak bisa menggambarkan perasaannya seperti apa malam ini, yang jelasnya ia sangat bahagia.
Ares melepaskan ciumannya, ia menatap Violet dengan tatapan sendu. Sedangkan Violet hanya terdiam, ia merasa malu ditatap seperti itu. Perlahan Ares membelai lembut pinggang Violet sebagai kode-kode untuknya.
“Violet” ucap Ares dengan suara serak.
“Iya Res” sahut Violet terdengar lirih sembari mengatur nafasnya.
"Kita duduk dulu." ucap Ares.
Ares memilih duduk di kursi lalu menuangkan anggur merah di gelasnya dan juga gelas Violet. Membuat Violet ikut mendaratkan bokongnya di kursi, tapi sebelumnya Ares menarik tangannya hingga membuat tubuh Violet terduduk di pangkuannya.
Mereka kembali kompak meneguk anggur merah hingga tandas.
Kemudian Ares membetulkan posisi duduk Violet dan kembali mencium bibirnya, membuat Violet kembali terbuai saat bibir Ares begitu lihainya memangut bibirnya yang basah. Hingga tanpa sadar Violet melingkarkan kedua lengannya di leher Ares.
Tidak hanya Violet yang merindukan sebuah ciuman, melainkan Ares pun sangat merindukan ciuman ini, sentuhan ini, yang selama seminggu tidak ia dapatkan dari sang istri.
Cukup lama mereka berciuman, hingga akhirnya mereka kompak melepaskan ciumannya, karena hampir kehabisan nafas.
Lagi-lagi Ares menatap wajah Violet dengan begitu intens. Ares tak menampik berada di dekat Violet seperti magnet kuat yang selalu ingin menariknya untuk menyentuh istrinya. Ia tak bisa menjauh, ia terus menginginkan istrinya dan ingin menjadikannya sebagai miliknya seutuhnya.
“Ayo kita ke kamar.” ucap Ares dengan tatapan sendu, seolah tak bisa lagi menahan hasrat dan rindu yang menggebu-gebu selama seminggu berpisah dengan Violet.
Violet yang mendengar ucapan Ares hanya mampu mengangguk malu. Ia sudah tahu kode-kode keras dari sang suami yang mengajaknya ke kamar.
Tanpa basa-basi Ares menggendong tubuh Violet, kemudian membawanya ke kamar. Tidak peduli dengan tatapan aneh dari orang-orang yang sempat berpapasan dengannya di setiap lorong menuju kamarnya. Ares mengganggap mereka hanya angin berlalu.
“Apa kau sangat merindukanku, Ares?” tanya Violet sembari menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami. Ia sangat nyaman menghirup aroma maskulin dari tubuh Ares yang sangat dirindukannya.
Ares tersenyum tipis mendengar pertanyaan Violet.
Sesampainya di depan pintu kamar yang ditempatinya, Ares kemudian mendorong pintu kamarnya lalu membawa Violet masuk ke dalam kamar.
Ares menurunkan Violet dari gendongannya dengan sangat hati-hati lalu mendudukkannya di atas ranjang.
Kemudian Ares bergerak menutup pintu kamarnya dan tak lupa menguncinya. Setelah itu, ia kembali menghampiri Violet. Ia duduk bersimpuh di hadapan Violet sambil menggenggam tangannya.
“Violet, aku minta maaf atas kejadian tempo hari. Aku sangat menyesali perbuatanku." ucap Ares sungguh-sungguh.
“Sttt..jangan membahasnya. Sekarang kita lanjutkan saja hal yang pernah akan terjadi waktu itu.” ucap Violet sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir sensual suaminya.
“Violet..."
"Aku ingin bercinta denganmu" sahut Violet dengan entengnya. Namun ia merutuki ucapannya barusan.
"Kau yakin? bolehkah aku melakukannya?” tanya Ares memperjelas nya dengan tatapan hangat.
Violet menggigit bibir bawahnya lalu mengangguk cepat sebagai jawabannya. Ares tersenyum menawan mendengar ucapan istrinya dan terlihat sangat menggemaskan. Ia pun bangkit dan mendekati Violet.
“Lakukanlah, kau memang berhak atas diriku. Maaf atas sikapku waktu itu, aku tidak bermaksud…”
“Jangan membahasnya lagi." ujar Ares dengan tatapan sendu. "Aku akan memulainya dari sini.” ucap Ares sembari mengusap bibir Violet menggunakan ibu jarinya. Refleks Violet tersenyum manis dengan anggukan kepala dan Ares langsung membungkam bibir Violet tanpa ampun.
Ciumannya penuh cinta. Setelah itu, Ares berpindah mencium kedua pipi Violet, hidung, mata, kening dan terakhir kembali mencium bibir manis Violet cukup lama. Seluruh wajah Violet tak lepas dari jangkauannya.
Sedangkan Violet tampak menikmatinya dengan jantung masih saja berdegup kencang layaknya akan copot dari tempatnya.
"Kau yakin, Violet." ucap Ares disela-sela ciumannya yang sudah berpindah di leher jenjang Violet.
"Tentu, aku tidak akan mundur." balas Violet mantap.
"Baiklah, aku pastikan gawangmu akan jebol." ucap Ares menyeringai dan Violet terdiam.
Ares langsung membuka dasinya lalu melemparkannya ke sembarang arah, lanjut membuka kemejanya hingga ia hanya menyisakan boxer saja. Pergerakannya begitu cepat, membuat Violet melongo melihatnya.
Ares kemudian bergerak melucuti seluruh pakaian Violet, lalu menindihnya. Violet merasa gugup tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya.
"Aaahh...Aress!" Violet sungguh gugup mencengkeram rambut Ares, sedangkan Ares sedang memainkan gunung kembarnya dan sesekali mer remas-remas nya.
"Aku akan memulainya, rileks saja sayang." ucap Ares lalu memposisikan tubuhnya diatas tubuh Violet. Perlahan ia mengarahkan aset berharganya bernama Jon, untuk menjebol gawang istrinya guna melakukan penyatuan.
Beberapa kali ia mencoba menjebol gawang istrinya yang masih sempit di dalam sana, hingga dengan sekali hentakan aset berharganya berhasil menjebol gawang istrinya.
"Akkkkhh... sakit..res" Violet menjerit dengan pinggang bergerak melengkung, bahkan sudut matanya berair. Saat proses penyatuan berlangsung sempurna.
Ares merasa kasihan melihat Violet kesakitan, namun ia pun sangat bahagia menjadi orang pertama memiliki istrinya seutuhnya. Perlahan Ares mencium kedua mata Violet lalu kembali mencium bibir Violet sedalam-dalamnya agar membuatnya rileks.
Dan benar saja rasa sakit yang dialami oleh Violet tergantikan dengan rasa nikmat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Berkali-kali Ares melakukannya, membobol gawang istrinya semalaman.
Bersambung.....