King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Saling introspeksi diri



Keesokan harinya....


Violet dan kedua orang tuanya sudah berkumpul di meja makan dan tengah menikmati sarapannya. Tampak Violet hanya mengaduk-aduk sereal gandum yang sudah ia campurkan dengan susu full cream tanpa ingin mencicipinya.


Walau sudah dewasa, tetap saja Violet suka sarapan dengan sereal gandum yang dicampurkan dengan susu dan makanan itu menjadi sarapan favorit anak-anak sampai detik ini.


Nyonya Viona yang melihat tingkah putrinya tampak melamun hanya bisa menghela nafas, ia lalu menyentuh tangan putrinya guna membuyarkan lamunannya.


"Sayang, kenapa tidak di makan. Bukankah setelah sarapan kau ingin menemui baby El." ucap ibunya, membuat Violet terhentak dan segera memakan makanannya.


Selesai sarapan, Violet dan ibunya berangkat ke kediaman Daisy. Violet sangat merindukan baby El yang sudah beberapa bulan tidak menemuinya.


Setibanya di kediaman Daisy, mereka di sambut hangat oleh baby El yang sedang berjemur di teras samping dekat dari kolam ikan mas.


"Baby El." ucap Violet antusias melihat ponakannya tampak nyaman dalam dekapan ibunya.


Sedang bayi mungil yang berusia beberapa bulan itu tampak buang muka dan tidak suka melihat kedatangan aunty nya yang super cerewet dan juga bawel.


"Mommy, Violet!"


Daisy terkejut melihat kedatangan ibu dan adiknya yang super bawel plus ngeselin. Pasalnya mereka tidak mengabarinya terlebih dahulu sebelum datang.


"Kenapa? kau sangat terkejut melihatku." ucap Violet sembari menghampirinya dan langsung mencium pipi gembul baby El.


Entah mengapa baby El tiba-tiba mengusap pipinya yang baru saja dicium oleh aunty nya. Bayi mungil itu merasa risih dan seolah mengerti baru saja dicium.


"Ya ampun, kenapa dihapus sayang." Violet tambah gemes melihat tingkah ponakannya yang mulai pintar dan mampu mengetahui hal yang dilakukannya.


"Violet, kau baru saja datang. Bersihkan dulu tanganmu sebelum mengambilnya." tegur Daisy ketika Violet akan mengambil alih bayinya dari gendongannya.


"Benar yang dikatakan Izzy, cuci tangan dulu, nak. Karena pada dasarnya bayi begitu mudah terjangkit virus, jadi kita mesti menjaga kebersihan, khususnya rajin mencuci tangan sebelum mengambilnya." jelas Nyonya Viona membernarkan ucapan putri sulungnya.


Dengan cepat Violet mengindahkan teguran keras dari saudaranya. Sehabis cuci tangan, ia sudah diperbolehkan menggendong baby El.


Awalnya baby El menangis ketika berpindah ke gendongan Violet, untungnya ibunya segera menenangkannya.


"Berikan dia susu." ucap Daisy menyerahkan dot bayi yang berisi ASI eksklusifnya dan sengaja ia masukkan ke dalam dot.


Dengan cepat Violet mengarahkan dot bayi ke mulut mungil baby El dan dengan lahapnya baby El langsung menyusu. Sontak Violet dan Daisy saling melempar senyum melihat tingkah menggemaskan baby El.


"Violet, kau sudah bisa menjadi seorang ibu. Jadi tunggu apa lagi, gaskan. Kalau perlu kau harus liar di atas ranjang." ucap Daisy tersenyum tipis memberikan jurus jitunya.


Violet hanya mampu mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan saudaranya. Tiba-tiba ia kembali kepikiran dengan Ares, bagaimana keadaan suaminya sekarang? siapakah yang menyiapkan perlengkapan kantornya? sudahkah dia makan?.


"Bawa baby El masuk ke dalam, sepertinya ia sudah terlalu lama berada di luar." ucap Nyonya Viona lalu melangkah terlebih dahulu masuk ke dalam rumah.


"Baik mommy." sahut Daisy. "Violet, berikan baby El kepadaku, sudah waktunya dia tidur." ucap Daisy sembari mengulurkan kedua tangannya, ia lantas mengambil alih bayinya dari gendongan Violet.


"Hei, aku baru saja menggendongnya." protes Violet dengan memasang wajah cemberut melihat Daisy sudah membawa baby El masuk ke rumah.


Violet berdengus kesal dan memilih duduk di tepian kolam ikan. Ia pun memandangi ikan emas yang tampak bahagia berenang kesana-kemari.


Violet kembali mengecek ponselnya, lagi-lagi tak satupun pesan maupun panggilan masuk dari Ares.


***


Beda halnya dengan belahan dunia lain, tepatnya negara yang di naungi oleh Ares. Tampak pria itu tengah duduk di kursi kebesarannya sambil mengusap dagunya dengan kasar dan sesekali mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja kerjanya.


"Baik, aku akan menghubungi, Violet!" ucap Ares berbicara sendiri, lalu mengambil ponselnya untuk mencari nomor telepon Violet.


Saat akan menekan tombol panggil, tiba-tiba ia mengurungkan niatnya itu dan mendadak kembali kepikiran dengan ucapan Violet.


"Tidak, Violet pasti tidak ingin menjawab teleponku, jadi percuma saja. Aku yakin dia belum memaafkan ku, apalagi dia begitu membenciku saat kejadian itu." ucap Ares serba salah. Ia pun meletakkan kembali ponselnya di tempatnya semula.


"Aku bisa gila kalau begini terus menerus, sehari saja tak melihatnya membuatku frustasi dan tak bersemangat bekerja. Violet, aku sangat merindukanmu, sayang!" gumam Ares sambil menghela nafas berat.


"Sebaiknya aku hubungi saja, Daddy Keynand. Aku ingin tahu bagaimana kondisi Violet dan apa yang sedang dikerjakannya."


Ares langsung menghubungi ayah mertuanya. Tak butuh waktu lama, ayah mertuanya menjawab panggilan teleponnya. Ia pun terlihat serius berbicara di ujung telepon menanyakan kabar istrinya dan sesekali manggut-manggut tanda mengerti mendengarkan yang diucapkan dari lawan bicaranya.


"Baik Daddy, aku akan menghadirinya. Terima kasih atas informasinya. Dan terima kasih banyak untuk solusinya." ucap Ares tersenyum tipis, hingga panggilan teleponnya berakhir.


Benar yang dikatakan oleh Daddy, bahwa kami harus saling introspeksi diri. Menata diri kami masing-masing. Melupakan hal menyakitkan yang pernah kami lakukan dan memulainya kembali dengan sebuah lembaran baru. Batin Ares sembari mengulas senyuman.


Tidak hanya itu, Ares langsung mencium ponselnya berulangkali layaknya orang gila yang baru saja menemukan benda berharga.


"Aku tidak sabar bertemu dengan Violet. Walaupun kami beda negara, tapi hatiku terasa dekat dengannya. Bahkan namanya akan terus terukir dalam hatiku. Aku ingin terus bersamanya, kemanapun dia berada, aku harus mengikutinya." gumam Ares antusias dengan senyuman menghiasi bibirnya.


Ares kemudian melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda gara-gara memikirkan Violet.


*


*


*


Sudah seminggu berlalu, hubungan komunikasi Violet dan Ares belum juga berjalan baik. Memang mereka sengaja melakukannya, tidak saling menghubungi. Tapi, sejujurnya mereka sudah saling merindukan.


Kini Violet tengah berenang di kolam renang. Gerakannya begitu lincah berenang kesana-kemari dengan berbagai gaya. Sebetulnya hari ini ia akan ke perusahaan Daisy untuk membicarakan masalah pekerjaan, namun ia menyempatkan waktunya untuk berenang terlebih dahulu.


"Ya ampun, Violet!. Semua orang sudah menunggumu di perusahaan. Sementara kau asyik berenang disini." ucap suara cempreng seseorang yang tak lain adalah Daisy.


"Bagaimana bisa kau berkeliaran seperti ini, terus siapa yang menjaga baby El." timpal Violet dengan ketusnya.


"Mas Juno yang menjaganya, kebetulan hari ini mas Juno tidak ke kantor." sahut Daisy.


Violet memilih berhenti berenang, ia meraih kimono yang disiapkan oleh pelayan, lalu memakainya cepat.


"Karena kau terlambat datang ke kantor, itu tiket liburan untukmu, tapi boong. Violet sayang, kau akan liburan sambil bekerja, semoga kau menyukainya. Aku dan seluruh tim sudah putuskan acara fashion show akan digelar di sebuah kapal pesiar yang akan membawa kalian tour keliling dunia. Segala persiapannya sudah siap. Dan kau harus pergi hari ini juga, titik!" ucap Daisy menjelaskan dan tak ingin dibantah.


"Oke, aku akan bersiap-siap, Nyonya Juno." timpal Violet, kemudian melangkah menuju kamarnya untuk bersiap.


Bersambung...