
"Aku tidak ingin gagal kali ini." ucap pria tampan itu menyeringai tipis.
Pandangannya dialihkan pada sebuah figura berukuran raksasa terpajang dalam kamarnya, dimana figura itu menampilkan foto sepasang pengantin yang terlihat sangat bahagia berpose mesra.
"Aku sangat merindukanmu, sayang. Sangat merindukanmu." ucapnya lalu memejamkan matanya membayangkan wajah cantik wanita yang dicintainya. "Aku merindukanmu, Violet Mateo Manav. Semoga kau juga merindukanku, sayang." tambahnya tersenyum menyebutkan nama lengkap istri tercintanya.
Pria tampan itu tidak lain adalah King Ares Robinson, sekaligus pemilik dari kapal pesiar berlogo AR yang merupakan singkatan dari namanya dan keluarga besarnya yakni Robinson.
Ares membuka matanya lalu melangkah lebih dekat guna memandangi foto pengantinnya.
"Maaf atas kelakuanku yang pernah menyakiti perasaanmu. Sungguh, aku sangat menyesal melakukannya, sayang." ucap Ares sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Ares memilih duduk di sofa, lalu memainkan Ipad-nya. Ia ingin memeriksa rekaman cctv yang menampilkan suasana kamar VIP yang ditempati oleh istrinya. Ia ingin tahu apa yang sedang di lakukan oleh istrinya di kamar itu.
Sekarang hobinya menjadi penguntit semata-mata untuk mengurangi kerinduan yang sudah menjalar dalam tubuhnya pada sosok istri tercintanya.
Lewat cctv yang sengaja ia pasang tersembunyi di dalam kamar Violet, memudahkannya untuk melihat gerak-gerik istrinya.
Tidak hanya itu, terdapat dua bodyguard terlatih sedang berjaga-jaga di depan pintu kamar Violet. Ia sengaja menempatkan dua bodyguard untuk memastikan istrinya tetap aman, karena tidak menutup kemungkinan bisa saja musuh berada di sekitarnya.
"Astaga, dia sudah tertidur." ucap Ares tersenyum tipis melihat tingkah istrinya di atas ranjang. "Bagaimana jika aku menyelinap saja masuk ke dalam kamarnya?."
Ares bergumam sendiri dan terselip sebuah ide cemerlang untuk menemui istrinya.
"Tidak, bagaimana jika dia terbangun dan sudah pasti dia akan terkejut melihatku berada di kamarnya." ucapnya mulai bimbang.
"Sebaiknya aku tunggu saja sampai tiba waktunya." ucap Ares menyeringai dan sudah merencanakan sesuatu atas pertemuannya dengan istrinya kali ini.
Ia lalu melepaskan jasnya dan menyampirkannya di sandaran sofa, setelah itu ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang sembari menatap langit-langit kamarnya.
Akhir-akhir ini ia banyak begadang dan kurang tidur. Tanpa kehadiran Violet disisinya membuat separuh hidupnya terasa hampa hingga membuatnya tak bersemangat menjalani hari-harinya.
Namun ia tetap menyibukkan diri dengan terus bekerja dan bekerja, bahkan sering lembur di kantor demi menyelesaikan pekerjaannya secepatnya. Karena tujuannya adalah bisa menghabiskan waktu bersama dengan Violet, ibaratnya habis gelap terbitlah terang.
Entah karena memang mengantuk, mata Ares sudah terpejam dengan dengkuran halus mulai terdengar keluar dari mulutnya. Maklum lah ia sangat lelah dan jarang tidur selama seminggu ini.
***
Sementara di sebuah kamar kelas menengah tampak pria bertopi hitam sedang mondar-mandir di dalam kamarnya. Perawakan pria itu sangat tinggi dengan tubuh kekarnya.
Kaos oblong hitam begitu pas di tubuh atletisnya dengan celana panjang hitam membungkus kaki jenjangnya yang berotot. Pria itu mengepalkan tangannya sambil meninju dinding dengan geramnya.
"Sial, seluruh anak buahku tak berguna!. Aku bahkan tidak bisa melacak kamar yang ditempati oleh wanita itu." ucapnya kesal dan kembali meninju dinding lalu menendang kursi dengan brutalnya.
"Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus melenyapkannya untuk membalaskan dendam atas kematian Pamanku. Dan aku akan menghancurkan seluruh anggota kelompoknya." ucapnya dengan amarah menggebu-gebu sambil menggertakkan giginya.
Saat akan melempar vas bunga, tiba-tiba ponsel pria itu berbunyi. Pria itu dengan kesal mengangkat panggilan telepon dari seseorang.
"Kenapa menghubungiku!" maki nya di ujung telepon.
"Maaf, tuan muda, tuan besar mencari anda." ucap seseorang di ujung telepon.
"Katakan padanya bahwa aku sedang liburan bersama kekasihku." ucapnya tak ingin dibantah.
"Tapi tuan muda, nona Amora sedang bersama tuan besar."
Pria itu menghela nafas berat. Bagaimana bisa mantan kekasihnya menemui kakeknya saat hubungannya sudah berakhir.
"Katakan saja bahwa aku...."
"Jacobs, pulang sekarang!. Jelaskan kepada kakek siapa wanita yang sudah mengaku hamil anakmu!." bentak suara tegas seseorang di ujung telepon dan tidak salah lagi itu adalah kakeknya.
"Aku tidak menghamilinya, kek." ujar pria yang bernama Jacobs itu dan langsung menutup teleponnya secara sepihak.
Sementara itu, sosok wanita berpenampilan culun yang tidak lain adalah Hana tampak linglung berjalan di lorong kamar. Wajahnya tampak masam karena disuruh paksa keluar dari kamar yang ditempatinya.
Pasalnya Hana salah masuk kamar, harusnya kamarnya 331 bukan 313. Langkahnya gontai mencari kamar nomor 331 hingga langkahnya terhenti pada kamar dengan angka yang sama pada kartu aksesnya.
Tanpa basa-basi Hana membuka pintu kamar tersebut yang kebetulan tidak terkunci. Saat mengedarkan pandangannya mata Hana membulat sempurna dan langsung terlonjat kaget.
"Aaaaaaa"
Hana menjerit melihat pria bertelanjang dada menempati kamarnya, mendadak wajahnya memerah tak sengaja melihat perut kotak-kotak pria itu.
Dengan cepat pria itu mendekatinya dan langsung membekap mulutnya menggunakan tangan.
"Diam!" ucapnya dengan suara bariton, seketika membuat Hana diam membisu dan sungguh gugup berdekatan dengan lawan jenis.
*
*
*
Di malam hari acara fashion show yang digelar di atas kapal pesiar tengah berlangsung meriah. Para model profesional dalam agensi Daisy Angels mulai melenggak-lenggok di atas catwalk memamerkan rancangan busana dari para perancang ternama.
Tampak Violet duduk di kursi barisan depan sebaris dengan orang-orang penting dalam pergelaran fashion show. Penampilan Violet kali ini sangat memukau dan mempesona.
Violet begitu cantik dengan balutan gaun berwarna merah muda sebatas mata kaki begitu pas di tubuh proporsionalnya. Kalung berlian permata perak melingkar sempurna di leher jenjangnya, begitupun anting berlian permata terpasang di telinganya.
Riasan wajahnya selalu natural namun tetap saja tampak elegan sesuai dengan usianya. Untuk tatanan rambutnya, ia biarkan tergerai, namun di setiap ujung rambutnya ia sengaja buat bergelombang biar kesannya manis di pandang.
Violet duduk nyaman di kursinya sembari menonton pagelaran Fashion show yang sedang berlangsung. Tanpa sadar ia tidak menyadari sosok pria sudah duduk di kursi kosong, tepatnya di sampingnya.
Prok...prokkk...
Hampir seluruh audience bertepuk tangan melihat kemampuan para model yang sangat menakjubkan. Termasuk Violet dan sosok pria yang duduk di sampingnya.
"Mereka sangat hebat." ucap Violet memuji para modelnya, hingga sosok pria yang duduk di sampingnya langsung menoleh kearahnya.
Refleks Violet juga menoleh kearah pria itu, hingga terbelalak kaget, namun sebisa mungkin tetap terlihat biasa-biasa saja. Pandangan mata mereka bertemu dan langsung terkunci. Perasaan rindu seketika menyelimuti pikirannya.
Raut wajah mereka tidak bisa berbohong. Hingga tanpa sadar mereka saling menyebut nama masing-masing.
Ares.
Violet.
Mereka kompak mengatakannya dalam hati. Dan sudah pasti tidak sabaran ingin segera memeluk tubuh sosok yang dirindukannya selama ini.
Bagaimana mungkin dia ada disini? apa dia sengaja mengikutiku. Batin Violet menduga-duga.
Tapi, mendadak jantung Violet berdetak kencang. Ia pun terlihat gugup bisa bertemu dengan suaminya
"Aku sangat merindukanmu, Ares." gumam Violet dengan suara pelan.
"Aku juga sangat merindukanmu, sayang" balas Ares dengan mata berkaca-kaca dan samar-samar mendengar gumaman istrinya.
Entah siapa yang memulainya, mereka sudah berpelukan erat ditengah acara Fashion show yang masih berlangsung meriah.
Bersambung...
Jangan lupa like dan vote bestie 🤗