
Violet meringkuk di atas ranjang dengan mata terpejam, bahkan sisa-sisa air matanya masih terlihat jelas di sudut matanya. Selimut sutra menutupi tubuh polosnya sampai sebatas dada.
Jika Violet bergerak sedikit saja maka selimut sutra akan mengikuti gerakan tubuhnya, bahkan ikut melorot ke bawah hingga memperlihatkan dadanya yang sudah dipenuhi tanpa kissmark.
Violet masih betah berbaring di atas ranjang tanpa ingin beranjak. Pikirannya sedang berkecamuk. Ada terbesit rasa bersalah dan menyesal karena sudah menyinggung perasaan Ares.
Sekarang ia mulai percaya bahwa penyesalan selalu datangnya di akhir. Seharusnya ia tidak perlu menghentikan Ares jika ingin meminta haknya sebagai suami. Dan sekarang hubungannya dengan Ares semakin rumit akibat sikap egoisnya.
Violet menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu membuka kedua matanya. Harusnya ia bahagia saat ini karena Ares tak berhasil menyentuhnya, namun ia malah menjadi murung dan merutuki kebodohannya.
"Arghhh, aku sungguh keterlaluan." ucap Violet terdengar frustasi sambil mengusap wajahnya.
Ia kembali teringat dengan ucapan Ares sebelum meninggalkannya di ruangan itu.
'Maaf atas tindakanku Violet, aku terlalu pemaksa dan hanya mengedepankan amarah dan nafsu semata. Aku sangat menyesal sudah membuatmu menangis, mungkin ini terakhir kalinya aku meminta hakku sebagai suamimu. Aku tidak akan lagi memintanya untuk kedua kalinya. Sekali lagi aku minta maaf.'
Setelah selesai mengatakannya Ares bergegas keluar dari ruangan itu dan tak berniat lagi menemuinya sampai sekarang.
Violet bangun dan langsung menjambak rambutnya. Ucapan Ares masih terngiang-ngiang dipikirannya. Ia ingin menghapus semua kejadian hari ini yang mulai tersimpan dalam memori otaknya.
Mata sembabnya mulai diedarkan melihat suasana kamar tersebut, pandangannya berhenti pada kotak makanan di atas nakas beserta kartu ucapan.
Violet menyeret tubuhnya turun dari ranjang dan tak lupa membalut tubuhnya dengan selimut. Ia membaca kartu ucapan tersebut dan sangat yakin bahwa Ares lah yang menulisnya.
'Jangan lupa makan. Aku tahu kau sedang lapar habis meladeni ku --- My Wife.'
Begitulah kira-kira isi dari kartu ucapan tersebut. Violet menyimpannya kembali dan tatapannya beralih pada kotak makanan.
Jujur saja sekarang ia sangat lapar, perutnya memang keroncongan. Perlahan Violet mengambil kotak makanan lalu membukanya.
Matanya langsung berkaca-kaca melihat makanan kesukaannya.
"Dia sangat tahu makanan kesukaanku." gumam Violet sambil menarik senyuman disudut bibirnya.
Violet mulai menyendok makanannya lalu memasukkannya ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan lahap. Kembali ia menyantap makanan kesukaannya dengan mata berbinar merasakan rasa lezat makanan menari-nari di lidahnya. Seketika moodnya berubah dan kembali bersemangat.
Selesai menyantap makanannya Violet memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak butuh waktu lama, Violet tampak segar keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk sebatas paha hingga kaki jenjangnya yang mulus terekspos indah.
Ia bergegas memakai pakaian yang sepertinya sudah disiapkan oleh Ares. Setelah itu, ia akan menemui Ares untuk mengajaknya berbicara.
Kini Violet sudah rapi dengan gaun berwarna krem sebatas mata kaki dengan kerah berbentuk V hingga leher jenjangnya yang dipenuhi tanpa kissmark terpampang jelas, namun ia tidak memperdulikannya.
Violet keluar dari ruangan itu dan mendapati Yuta masih berada di ruangan suaminya.
"Mana Ares?" tanya Violet menghampiri pria itu.
"Tuan sedang melakukan meeting bersama dengan kliennya. Dan saat ini dia tidak ingin diganggu." jawab Yuta dengan sopan sembari menundukkan pandangannya.
"Aku akan menunggu sampai meeting nya selesai." ucap Violet.
"Maaf, nona. Tuan Ares sudah berpesan agar nona bersiap untuk berangkat ke bandara. Tuan sudah mengatur keberangkatan anda. Aku sendiri yang bertugas untuk mengantarkan anda ke negara xxx." ucapnya menjelaskan sesuai yang diperintahkan oleh tuannya.
"Apa! aku tidak mau pulang sebelum berbicara dengan suamiku." protes Violet. Padahal ia masih sangat canggung untuk menemui Ares.
"Tapi tuan tidak bisa ditemui sekarang. Dia sedang sibuk." sahut Yuta. "Mari nona, jadwal keberangkatan anda sisa setengah jam lagi. Jadi sebaiknya kita berangkat ke bandara" tambah Yuta memberitahunya.
"Maaf nona, aku kurang tahu. Tapi, aku yakin tuan pasti akan menemui nona." jawab Yuta sekenanya.
Apa jangan-jangan Ares sengaja menghindari ku? apa dia masih marah kepadaku hingga sikapnya berubah. Batin Violet mulai curiga.
Violet kemudian berjalan lebih dulu menuju pintu keluar, lalu disusul Yuta yang mengekor di belakangnya. Mereka berjalan beriringan keluar dari perusahaan, lalu bergegas masuk ke dalam mobil yang siap membawanya pergi. Tujuannya saat ini menuju bandara.
Sementara itu, tampak Ares tengah berdiri di atas roftop perusahaan sambil menatap kebawah melihat kepergian Violet. Ia memang sengaja menghindari istrinya untuk sementara waktu.
*
*
*
Sementara di tempat lain....
Aileen tengah berada di sebuah restoran tempat ia melakukan pertemuan dengan Zico. Ia terpaksa mengabulkan permintaan pria itu yang ingin mengajaknya makan siang diluar. Soalnya ada hal penting yang ingin Zico ceritakan kepadanya.
"Cepat katakan, karena setelah ini aku harus segera pulang " ucap Aileen.
"Astaga, baru juga sampai, kau sudah ingin pulang rupanya." sahut Zico tersenyum simpul.
"Suka suka aku! lagian aku tidak suka menunggu lama, apalagi di atur." ucap Aileen terdengar ketus.
"Itulah yang membuatku tergila-gila kepadamu." gumam Zico senyum-senyum tak jelas menatap wajah cantik Aileen.
Sementara itu, diam-diam pria yang menempati meja 37 terlihat mengepalkan tangannya sambil menutupi wajahnya menggunakan buku menu agar tak ada yang mengenali wajahnya.
Pria itu tidak lain adalah Evan. Ia terpaksa menguntit pertemuan Aileen dengan seorang pria dan ia sangat tahu betul siapa pria yang mengajak istrinya ketemuan.
"Aku hanya ingin tahu apa yang sedang mereka rencanakan." ucap Evan.
Pasalnya ia tahu betul seperti apa seorang Zico dalam dunia bisnis. Pria itu sangat licik dan pria itu pula yang sudah memanfaatkan keluarga Aileen untuk membalas dendam atas kalah tender proyek darinya.
Tampak Zico mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Aileen, namun secepat kilat Aileen menurunkan tangannya di bawah meja.
"Aileen, kau tahukan mendiang ayahmu sangat merestui hubungan kita. Untuk itu, setelah kau berpisah dari Evan, dengan tangan terbuka aku siap menerimamu kembali dan menjadikanmu sebagai istriku." ucap Zico maksud dari tujuannya mengajak Aileen makan siang bersama.
"Maaf Zico, sepertinya kau salah persepsi dan hanya mendapatkan kabar burung belaka. Mendiang ayahku sangat merestui hubungan kami, dan dia sangat senang miliki menantu seperti Evan. Semenjak kami menikah, kami tidak pernah berencana untuk berpisah, bahkan kami saling mencintai." ucap Aileen menjelaskan yang tahu persis arah pembicaraan Zico.
Memang selama beberapa bulan ini, Evan tak pernah lagi mengungkit tentang perceraiannya. Bahkan sekarang Evan begitu perhatian kepadanya dan hubungannya semakin dekat layaknya pasangan harmonis.
"Aku pikir kau bisa mengerti. Maaf sekali, aku harus pulang." ucap Aileen sembari bangkit berdiri, namun tiba-tiba sebuah tangan kekar merangkul pinggangnya.
Aileen mengalihkan pandangannya untuk melihat siapa pemilik tangan kekar yang merangkul pinggangnya, hingga ia terkejut melihat suaminya sudah berdiri di sampingnya, lebih tepatnya merangkul pinggangnya.
"Lee, apa semuanya sudah beres? apa kau ingin pulang, sayang." tanya pria itu yang tak lain adalah Evan.
Zico mengepalkan tangannya melihat kedatangan Evan. Ia tidak akan tinggal diam dan akan merebut kembali Aileen.
"Iya mas Evan." jawab Aileen mantap sembari tersenyum manis. Kemudian mereka berjalan bersama-sama keluar dari restoran tersebut.
Bersambung....