
Ares hanya mampu mendengarkan ucapan ayahnya dan mulai menyangkut pautkan rahasia besar yang pernah diceritakan oleh Oman nya dengan cerita versi dari sang ayah.
"Jujur saja Ayah tidak tahu jika ibumu hamil bayi kembar. Ayah taunya ibumu hamil seperti ibu hamil pada umumnya. Hingga lima bulan kemudian, masalah kembali menghampiri hubungan kami. Entah mengapa hampir setiap harinya ibumu selalu marah-marah tak jelas dan terkadang meminta cerai dari ayah, namun ayah berusaha tidak meladeninya mengingat ibumu sedang hamil. Tapi, ketika ayah sudah bosan mendengar ibumu terus marah-marah hal sepele, ayah pun mulai meladeni ibumu dan pertengkaran kami sering terjadi setiap harinya. Dan puncak pertengkaran kami saat usia kandungan ibumu memasuki tujuh bulan. Saat itu ayah ingin mengantar ibumu memeriksakan kandungannya.."
Tuan Alex menghela nafas panjang dengan mata berkaca-kaca, seolah tidak sanggup untuk melanjutkan ceritanya. Setelah dirasa mulai tenang ia kembali menarik nafas dalam-dalam lalu dihembuskan perlahan.
"Sepanjang meninggalkan rumah, kami terus bertengkar di dalam mobil, padahal hari itu jadwal ibumu periksa kandungan. Saat di perjalanan menuju rumah sakit, ibumu terus meminta untuk diturunkan di tengah jalan dan ayah terpaksa mengalah, hingga hal tak terduga ibumu memilih untuk mengakhiri hidupnya saat mengetahui kebenaran bahwa ayah hanya memanfaatkannya selama ini. Kecelakaan itu terjadi tepat di depan mata ayah, sampai-sampai membuat jantung ayah seolah berhenti berdetak saat melihat tubuh ibumu berlumuran darah dan sudah tergeletak di jalan. Ayah sangat mengkhawatirkan kalian dan begitu takut kehilangan kalian. Ayah segera melarikan ibumu ke rumah sakit dan tak henti-hentinya ayah terus berdoa kepada Tuhan agar kalian selamat. Ayah sungguh menyesal sudah melukai hati ibumu hingga membuat ibumu berbuat nekad. Dan...hari dimana ayah pernah
merencanakan sesuatu sebelum menikahi ibumu terkabul sudah, namun membuat separuh nyawa ayah pergi setelah ibumu lebih dulu pergi meninggalkan ayah dan hanya menitipkan bayi mungil yang masih merah dan bayi itu adalah Evan. Jika kau berpikir ayah tidak pernah mencari ibumu, itu salah besar, nak. Ayah terus berpindah-pindah kota bahkan keluar negeri hanya untuk mencari ibumu yang pergi entah kemana, hingga ayah tidak bisa menemukan ibumu." ucap tuan Alex sampai meneteskan air matanya, saking terharunya menceritakan masa lalunya kepada putranya.
Ares hanya mampu tercengang mendengar cerita ayahnya tanpa menimpalinya. Matanya berkaca-kaca dengan dada terasa sesak bahkan hatinya ikut berdenyut nyeri dan merasa kasihan dengan apa yang dialami oleh orang tuanya di masa lalu. Tidak ada yang perlu disalahkan dalam masalah tersebut, yang ada hanya tinggal kenangan.
Diluar dugaan diam-diam Nyonya Laurent dan Evan bersembunyi dibalik rak buku dalam ruangan tersebut. Kebetulan kamar Nyonya Laurent terhubung dengan ruang kerjanya lewat pintu rahasia. Jadi mereka bebas masuk sesukanya melewati pintu rahasia tanpa diketahui oleh orang yang berada dalam ruangan tersebut.
Tadi malam ruangan itu juga dijadikan sebagai tempat untuk mengobrol serius, perihal kepulangan tuan Alex dan Evan ke negara xxx.
Sedari tadi mereka mendengar seluruh cerita tuan Alex. Bahkan Nyonya Laurent sampai meneteskan air matanya mendengar kembali cerita kehidupan rumah tangganya di masa lalu.
Nyonya Laurent benar-benar tidak menyangka bisa bertemu kembali pria yang dibencinya sekaligus pria yang pernah dicintainya itu. Sekuat hati ia tidak ingin kembali berurusan dengan tuan Alex.
Namun seolah takdir kembali mempertemukan mereka hingga rahasia besar yang tidak pernah Nyonya Laurent ketahui akhirnya terbongkar sudah, ternyata ia memiliki satu anak lagi yang dibesarkan oleh suaminya. Evan merupakan si sulung dan Ares merupakan si bungsu.
Nyonya Laurent masih saja meneteskan air mata haru tanpa henti. Seketika ia kembali teringat dengan kejadian tadi malam, dimana tuan Alex meminta maaf kepadanya sampai memohon-mohon untuk mendapatkan maaf darinya, bahkan mengatakan ingin kembali memulainya dari awal.
Karena dorongan dari Evan, Nyonya Laurent memaafkan tuan Alex. Karena hal itu membuatnya tak berdaya dan tak tega jika tidak memaafkan suaminya. Karena dirinya pun salah yang memilih lari dari masalah dibandingkan menyelesaikannya secara baik-baik.
Ya sebenarnya mereka masih resmi menjadi pasangan suami istri. Tuan Alex tidak pernah menceraikan nyonya Laurent. Mereka memilih menurunkan ego masing-masing dan berniat membina kembali hubungan rumah tangga bersama.
Evan yang melihat ibunya terus menangis perlahan mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata ibunya.
"Jangan menangis mama, mulai sekarang mama hanya perlu tersenyum." ucap Evan dengan tatapan hangatnya. Sikapnya sungguh jauh berbeda dengan adiknya yang sangat keras kepala.
"Iya nak" sahut Nyonya Laurent sembari menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis dan Evan ikut tersenyum tipis dengan raut wajah bahagia.
Evan merasakan perasaan bahagia bisa bertemu dengan ibunya dan akhirnya bisa merasakan kasih sayang seorang ibu yang selama ini tidak pernah ia dapatkan.
Sementara itu, Ares tidak bisa menahan diri melihat ayahnya tampak menunduk penuh penyesalan. Ares langsung bangkit dari duduknya lalu berhambur memeluk ayahnya.
"Ayah" ucapnya dan lelehan air matanya ikut membanjiri pipinya. Bohong jika Ares tidak merindukan sosok ayahnya.
"Anakku." balas tuan Alex sembari membalas pelukan putranya. Akhirnya mereka bisa melepas rindu setelah puluhan tahun tidak berjumpa.
"Ayah minta maaf, nak. Ayah tidak bisa..." tuan Alex tidak melanjutkan ucapannya karena Ares langsung memotongnya.
"Tidak, ayah. Jangan minta maaf, ayah tidak salah, semuanya sudah terjadi. Kita hanya dipermainkan oleh takdir" timpal Ares dan perlahan mulai menurunkan egonya memaafkan sang ayah.
Tidak seharusnya ia membenci ayahnya dan jelas-jelas ayahnya juga tidak salah dalam hal tersebut.
Tidak ada mantan ayah, tidak ada mantan anak. Apapun yang terjadi ikatan keduanya tidak bisa terpisahkan.
Nyonya Laurent dan Evan keluar dari tempat persembunyiannya. Lalu mereka ikut berhambur memeluk keduanya. Itu momen langka bagi mereka bisa berkumpul bersama.
"Mas, Ares" ucap Nyonya Laurent yang juga merangkul keduanya. Air mata haru terus mengalir membasahi pipi wanita paruh baya itu.
Tuan Alex mengangkat wajahnya dan tersenyum menatap wanita yang dicintainya. Ia lalu mengulurkan tangannya untuk merangkul pinggang sang istri.
"Terima kasih, Laurent." ucap tuan Alex dengan tatapan sendu. Nyonya Laurent hanya mampu mengangguk menanggapi ucapan suaminya.
Di luar dugaan, diam-diam Violet mengintip dari balik pintu untuk melihat langsung situasi yang terjadi di dalam ruangan tersebut. Hingga sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman melihat keadaan di dalam sana.
"Aku sangat senang akhirnya keluarga Paman Alex bisa berkumpul. Daddy, aku sudah mengabulkan janjimu, jadi jangan lagi khawatir dengan keluarga paman Alex." ucap Violet tersenyum lalu menutup pelan pintu ruangan tersebut, takutnya keberadaannya di ketahui oleh mereka.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗