
"Apa maksudmu? aku sama sekali tidak mengerti" balas Aileen.
"Cihhh, kau pura-pura lupa atau pura-pura polos. Sungguh kau hanya wanita bermuka dua." ejek Evan. Dia merasa tidak terima dengan aksi wanita itu yang sudah menjebaknya.
"Aku tidak peduli dengan tuduhan mu. Yang jelas nasi sudah menjadi bubur." ketus Aileen sembari bangkit berdiri lalu melangkah menuju kamarnya meninggalkan Evan seorang diri di ruang keluarga.
Evan mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian memilih ke ruang tamu menemui orang tuanya yang masih mengobrol dengan orang tua Aileen. Apalagi ia belum mengatakan apapun kepada orang tuanya ketika akan dinikahkan.
"Kemarilah, nak Evan." ucap Nyonya Bella (ibu Aileen) ketika melihat menantunya berdiri di sudut ruangan.
Dengan perasaan malu, Evan mendekat lalu duduk bersama dengan orang tuanya dan juga Tuan Smith (Ayah Aileen) yang menempati sofa singel.
"Selamat nak atas pernikahanmu, sekarang kau sudah memiliki tanggungjawab yang harus kau jaga dan nafkahi." ucap ayahnya memberikan selamat sekaligus nasihat untuk putranya.
"Terima kasih, Ayah. Aku sungguh minta maaf dengan kejadian hari ini. Semua terjadi begitu cepat dan sama sekali tak sesuai dengan keinginanku" ucap Evan menunduk dan merasa malu untuk menunjukkan wajahnya di depan orang tuanya.
Bagaimana tidak, ia terpaksa menikahi wanita yang sudah mencuri di kediamannya dan pernikahannya dilakukan secara mendadak tanpa adanya persiapan.
"Jangan minta maaf kepada kami, justru kami sangat senang dengan kejutan mu yang mendadak menikahi wanita pujaanmu. Kami merestui pernikahan mu, nak. Karena, kebahagiaan mu adalah kebahagiaan kami juga." sahut Nyonya Laurent dengan mata berkaca-kaca dan raut wajahnya tampak bahagia.
"Sungguh, ayah tidak nyangka kau bisa menjalin kasih dengan lawan jenis. Ayah pikir kau tidak memiliki ketertarikan terhadap wanita." timpal ayahnya tersenyum lebar.
Evan menghembuskan nafasnya dengan kasar mendengar ucapan ayahnya. Mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi tak sesuai dengan harapannya.
"Karena Evan sudah menikah, untuk itu ayah mengusulkan agar pesta pernikahan Evan diadakan bersamaan dengan pesta pernikahan Ares. Kebetulan acaranya tersisa dua hari lagi, jadi kita tidak perlu lagi mempersiapkannya jauh-jauh hari. Bagaimana menurutmu, nak?" tanya tuan Alex meminta pendapat kepada putranya.
"Aku serahkan saja keputusannya kepada ayah." jawab Evan.
Membuat semua orang tersenyum mendengar jawaban Evan. Sedang Evan sendiri merasa tidak berdaya sekarang, apalagi kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Aileen sangat mendukung hubungan mereka.
*
*
*
Dua hari kemudian.....
Hari yang di tunggu-tunggu oleh ketiga belah pihak keluarga mengenai pesta pernikahan anak-anak mereka akhirnya tiba juga.
Tepatnya hari ini adalah hari untuk merayakan pesta pernikahan dua pasangan suami istri yang tengah berbahagia, siapa lagi kalau bukan Ares dan Violet, serta Evan dan Aileen.
Pesta pernikahan mereka di gelar di Hotel bintang lima milik keluarga Ares. Segala persiapannya hanya dilakukan beberapa hari saja dan ditangani langsung oleh wedding organizer yang terkenal di negaranya.
Pesta tersebut sangat tertutup dan hanya dihadiri oleh kerabat dekat dan rekan bisnis dari masing-masing belah pihak.
Para tamu undangan mulai berdatangan hingga memenuhi ballroom hotel. Sementara itu, terlihat dua pasangan suami istri yang tengah merayakan pesta pernikahannya sedang berbaur dengan para tamu undangan.
Tampak Violet begitu cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna putih yang menjuntai ke lantai dan sangat mewah. Riasan wajahnya tampak natural namun terkesan manis sesuai dengan usianya. Sungguh penampilan Violet sangat cantik dan anggun di pesta pernikahannya.
Tidak hanya itu, Ares juga terlihat tampan dan berkharisma dengan texudo putih yang melekat di tubuh atletisnya. Tatanan rambutnya begitu rapi dan tampak klimis.
Ares senantiasa menggandeng tangan Violet dan terus menempel seperti perangko. Kemana pun Violet melangkah, ia akan terus mengekorinya. Mereka benar-benar pasangan pengantin yang paling serasi.
Namun berbeda halnya dengan pasangan Evan dan Aileen. Evan selalu bersikap cuek kepada Aileen bahkan terus menjaga jarak dari wanita itu.
Untungnya Aileen sebisa mungkin menjaga sikap dan terus berada di samping Evan sepanjang pesta berlangsung. Walaupun kehadirannya tak dianggap oleh sang suami, namun hatinya masih seluas samudra menerima kenyataannya.
Hingga kedua orang tua Aileen menghampiri mereka.
“Selamat ya nak atas pernikahan mu, semoga kalian menjadi keluarga yang bahagia." ucap Tuan Smith dengan mata berkaca-kaca menatap putrinya.
“Terima kasih, ayah. Maafkan Aileen yang sudah merepotkan ayah selama ini." balas Aileen dengan mata berkaca-kaca.
“Tidak nak, kau tidak pernah merepotkan, ayah." ucap tuan Smith tersenyum.
Aileen merentangkan kedua tangannya, sontak ayah dan ibunya berhambur memeluknya
"Uuh putri kecilku, mami tidak sanggup berpisah denganmu." ucap ibunya dengan mata berkaca-kaca.
"Kau putri kebanggaan, ayah." ucap ayahnya sambil mengelus punggung putri semata wayangnya. Membuat air mata Aileen lolos tak terkira dengan dada bergemuruh.
Sekarang orang tuanya sudah mengetahui bahwa pria yang menikahinya adalah orang yang pernah membuat perusahaan ayahnya jatuh bangkrut. Haruskah ada penyesalan untuknya saat ini?.
Evan yang melihat kebersamaan mereka tidak berani mendekat dan hanya membiarkan mereka saling melepas rindu. Karena setelah pesta berakhir, Evan akan membawa Aileen untuk tinggal bersama di apartemennya.
Sementara itu, Ares dan Violet yang tengah mengobrol bersama dengan kerabat dekatnya di kejutkan dengan kedatangan Joy yang tampak babak belur dengan luka tembak yang menganga di lengan kirinya mendekat ke arah mereka.
"Apa yang terjadi, Joy?" tanya Violet dengan raut wajah khawatir menatap wajah tangan kanannya tampak babak belur.
"No-nona, markas kita di serang!" ucap Joy hingga ambruk di lantai dan tak sadarkan diri.
"JOY!" teriak Violet memanggilnya, lalu berjongkok di hadapan Joy untuk membangunkannya.
"Joy, bangun." ucapnya khawatir.
Hal itu menyita perhatian para tamu undangan.
"Sebaiknya kita harus membawanya ke rumah sakit." ucap Ares mengusulkan.
"Benar, tolong bawa dia ke rumah sakit. Karena aku harus menyelesaikan urusanku!" ucap Violet dengan raut wajah datar.
Kemudian Violet melangkah tergesa-gesa melewati para tamu undangan yang memberi jalan untuknya.
Sementara Ares meminta bodyguard ayahnya untuk segera membawa Joy ke rumah sakit. Setelah itu, Ares mengedarkan pandangannya mencari keberadaan istrinya, hingga ia mampu melihat istrinya terus berjalan.
"Tunggu Violet, kau mau kemana!" teriak Ares lalu melangkah menyusul istrinya yang tiba-tiba ingin meninggalkan pesta.
Violet tak menggubris ucapannya, ia terus melangkah bahkan berlari hingga tiba di lobi hotel.
"Violet, aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kau menjelaskan kenapa kau ingin meninggalkan pesta pernikahan kita." teriak Ares dan masih saja melangkah lebar menyusul istrinya.
"Tetaplah disini, aku ada urusan diluar." balas Violet yang juga berteriak tanpa berbalik badan kearah Ares. Hingga Violet bergegas masuk ke dalam mobil yang siap membawanya pergi, kebetulan mobil tersebut milik salah satu tamu undangan yang bersiap untuk pulang.
"Turun" perintah Violet kepada pengemudi mobil tersebut sambil menodongkannya pistol.
"Ba-baik" ucap si pengemudi dengan tubuh gemetaran dan bergegas turun dari mobil.
Tanpa basa-basi, Violet langsung menancap gas meninggalkan tempat tersebut. Ia mengemudikan mobil orang lain menuju markasnya yang sedang di serang oleh musuhnya.
Diluar dugaan, Ares berlari menuju mobilnya dan akan menyusul istrinya. Ia sungguh tidak ingin jika istrinya sampai kenapa-kenapa.
Bersambung....