King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Pria Iblis



Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Hana masih terus menggedor-gedor pintu kamarnya, berharap ada orang yang lewat mendengar suara teriakannya.


"Tolong buka pintunya. Miss Violet dalam bahaya" ucapnya berderai air mata.


“Dia pria iblis yang ingin membunuh Miss Violet, aku sangat membenci pria iblis itu! Sangat membencinya!” teriak Hana dengan suara parau berderai air mata.


Raut wajahnya tampak pucat, tatapan matanya terlihat kosong dengan sudut bibir tampak berdarah bahkan bibir bawahnya terlihat bengkak seperti bekas gigitan.


Hana menangis tersedu-sedu, ia hanya seorang gadis lemah. Dadanya begitu sesak dengan kenyataan pahit yang sedang dialaminya. Hancur sudah masa depannya, pria iblis itu sudah merenggut mahkotanya yang selama ini ia jaga.


Ia hanya mampu memeluk lututnya dengan bahu naik turun dan tak ingin mengingat kembali mimpi buruk yang sudah menyiksa fisik dan mentalnya.


Dia di perk*sa di dalam kamar itu oleh pria iblis yang bernama Jacobs Wingston, pria iblis yang tak punya belas kasihan, pria iblis gila dan juga psikopat, sungguh jahannam pria itu.


Semua itu terjadi ketika Hana tidak sengaja mendengar obrolan Jacobs di telepon saat masih pagi buta. Tubuhnya bergetar ketakutan ketika Jacobs mengatakan ingin membunuh wanita bernama Violet Matteo Manav. Hal itu mampu disadari oleh pria iblis itu, disitulah mimpi buruknya terjadi.


Flashback on


Hana meringkuk di atas lantai dingin tanpa beralaskan karpet maupun selimut, hanya lengannya ia jadikan sebagai bantal dengan tubuhnya yang ringkih memakai pakaian sederhananya. Kaos oblong putih berukuran oversize dengan celana training hitam melekat di tubuh kecilnya dengan tinggi badan 150 cm.


Samar-samar suara langkah kaki terdengar di indera pendengarannya dan perlahan mendekat kearahnya. Namun ia masih tetap diposisinya semula tidur dengan posisi menyamping menghadap ke dinding, tepatnya di bawah jendela kamar.


Hana tidak bergerak diposisinya. Ia tetap berpura-pura tidur, padahal ia sudah bangun ketika mendengar derap langkah kaki mendekat kearahnya.


Langkah kaki seseorang semakin terdengar mendekatinya, hingga ia mampu mendegar suara khas dari pria yang menempati kamarnya sedang bertelepon ria.


“Kapan aku bisa menyelinap masuk ke kamar suite room itu?” tanyanya pada seseorang di ujung telepon sambil memasukkan sebelah tangannya di saku celanannya dengan gaya cool menatap keluar jendela kamar yang menampilkan lautan lepas.


“Pagi hari atau sore hari, tuan. Seorang petugas kebersihan biasanya datang membersihkan kamar itu di pagi hari ataupun di sore hari. Saat itulah anda bisa menyamar menjadi petugas kebersihan” jelas seseorang di ujung telepon. Sepertinya orang itu salah satu mata-matanya.


“Oke. Kerja bagus. Informasimu sangat membantu. Aku sudah tak sabaran untuk melenyapkan wanita bernama Violet Matteo Manav.” ucap pria itu dengan entengnya dan tak lain adalah Jacobs, musuh bebuyutan kelompok The Vio.


Seringai licik terpatri di wajahnya yang tampan itu, namun hanya topeng belaka, karena nyatanya wajah tampan itu hanya tipu muslihat untuk menutupi sifat iblisnya dari orang-orang disekitarnya. Termasuk para wanita yang selalu mengelilinginya.


Tubuh Hana sudah bergetar ketakutan di tempatnya, tepatnya di samping Jacobs, pasca mendengar pria itu akan melenyapkan bosnya.


Dalam suasana kamar yang masih remang-remang, Jacobs menunduk menatap tubuh mungil yang meringkuk di lantai, hingga ia mampu melihat tubuh mungil gadis culun yang sudah dua hari ini sekamar dengannya tampak bergetar ketakutan di bawah sana.


Tanpa aba-aba, Jacobs langsung menendang punggung Hana untuk mengetahui bahwa gadis culun itu berpura-pura tidur atau tidak.


Bughhhh Bughh


Jacobs menendang punggung Hana sebanyak dua kali tendangan tanpa belas kasihan. Hana hanya mampu menggigit bibir bawahnya agar suaranya tidak keluar, sudut matanya bahkan sudah beranak sungai merasakan hantaman keras di punggungnya.


"Jangan harap kau bisa mengelabui ku." sinis Jacobs lalu melangkah ke kamar mandi.


Seketika air mata Hana luruh setelah melihat pria itu masuk ke kamar mandi. Ia pun mengusap kasar air matanya lalu memakai kembali kacamatanya dan perlahan bangun. Ia sampai kesulitan bangkit berdiri dengan punggung teramat sakit.


Dia pria iblis. Batin Hana penuh kebencian.


Hal yang harus ia lakukan segera keluar dari kamar itu, lalu menghubungi bosnya bahwasanya bosnya sedang dalam bahaya.


Hana melangkah dengan cara mengendap-endap mendekati pintu kamar. Saat berada di depan pintu, ia mengulurkan tangannya dan mencoba membuka pintu itu, namun sayangnya pintunya terkunci.


Dengan kesal Hana mencari kunci kamar itu. Tapi sebelumnya ia harus mengirimkan pesan terlebih dahulu kepada bosnya. Namun masalahnya ia lupa dimana menyimpan ponselnya. Padahal semalam ia menyimpannya tepat di sampingnya, kenapa sekarang ia tidak menemukan ponselnya.


"Apa kau sedang mencari ponselmu?." tanya suara serak seseorang dan bersamaan pula suasana kamar menjadi terang.


Tak ada jawaban dari gadis itu, Jacobs lalu melangkah mendekatinya.


"Ini ponselmu, bukankah kau mencarinya." ucap Jacobs sambil menunjukkan ponsel tua milik Hana yang sudah seperti barang rongsokan baginya.


Hana tidak menggubris ucapannya apalagi mau mengambil ponselnya dari tangan pria itu. Ia pun memutuskan masuk ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi.


Jacobs menggenggam erat ponsel Hana bahkan ingin meremukkannya sekarang juga melihat respon dari gadis culun itu.


"Rupanya dia ingin bermain-main denganku, baiklah aku siap meladeninya." gumam Jacobs menyeringai bak iblis kematian.


Tak berselang lama kemudian, Hana keluar dari kamar mandi dan terlihat lebih segar. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Jacobs, namun tidak menemukannya.


Hana melangkah cepat mendekati meja, dimana ponselnya di letakkan di sana. Saat akan mengulurkan tangannya mengambil ponselnya, tiba-tiba tangan kekar mendahuluinya dan langsung melempar ponselnya ke laut.


"Kau!" Hana menatap kebencian pria itu.


"Kenapa hah! kau berani kepadaku!" ucap Jacobs dengan suara meninggi.


Plakk


"Kau pria tak tahu diri!" ucap Hana marah dan begitu geram menampar pria itu.


Jacobs mengepalkan tangannya dan langsung menyeret paksa tubuh Hana dan menghempaskannya di ranjang.


"Kau wanita pertama yang sudah berani melawanku!" ucap Jacobs dengan sorot mata tajam.


"Aku tidak peduli, karena kau seorang penjahat. Lihat saja sebentar lagi kau akan mendapatkan...."


"Benarkah? apa kau tidak takut jika aku membunuh nenek kesayanganmu? aku tahu betul alamat rumahmu, Hana. Jadi jangan ikut campur urusanku!" ancam Jacobs tak main-main. Ia mampu membaca pikiran gadis culun itu.


Deg!


Mata Hana terbelalak. Ia bergegas turun dari ranjang, namun Jacobs langsung menangkap tubuh mungilnya. Hana memberontak memukul-mukul dada bidang Jacobs.


"Kau pria iblis!" geram Hana dengan tatapan kebencian.


Entah mengapa tatapan kebencian gadis culun itu membuat Jacobs bergairah untuk menyentuhnya. Tanpa basa-basi Jacobs langsung mencium paksa bibir Hana dan mellumatnya dengan racusnya, lewat ciuman saja mampu membangkitkan gairahnya.


Jacobs langsung menghempaskan tubuh Hana di atas ranjang lalu menindihnya. Ia sudah gelap mata dan begitu bergairah ingin menyentuh Hana. Ia merobek paksa pakaian yang melekat di tubuh Hana.


Sementara Hana masih berusaha memberontak dengan sisa tenaga yang milikinya, namun tenaga Jacobs kalah jauh darinya.


Hana hanya mampu menangis sembari memohon-mohon untuk dilepaskan. Namun Jacobs tidak memperdulikannya. Hingga akhirnya Jacobs melakukan penyatuan dengan begitu brutalnya. Merenggut paksa mahkota yang dijaga Hana selama ini.


Jacobs tidak menyangka akan bergairah kepada Hana. Padahal gadis culun itu sama sekali bukanlah tipenya, tidak cantik dan tidak menarik pula. Ia bahkan melakukan penyatuan dan pelepasan berkali-kali sampai-sampai membuat Hana jatuh pingsan akibat aksi brutalnya. Memperk*sa gadis culun yang sama sekali bukan tipenya.


"Itulah akibatnya jika kau ikut campur dengan urusanku!" ucapnya penuh kepuasan setelah berhasil menyemburkan benihnya di rahim gadis itu.


Setelah berhasil merenggut paksa mahkota Hana, Jacobs meninggalkan Hana seorang diri di kamar, karena ia akan menjalankan rencananya.


Flashback off.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗