King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Pengakuan Evan



Violet terus memikirkan ucapan Bi Lilis tadi pagi sampai-sampai dia melupakan rencananya yang akan berbelanja ke supermarket untuk membeli bahan baku makanan.


Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, namun Violet masih saja rebahan di atas ranjang empuknya. Padahal nanti malam ayah dan ibu mertuanya akan datang.


Walau sejujurnya segala bahan makanan selalu tersedia di lemari pendingin dan tidak menutup kemungkinan para pelayan pasti sedang sibuk di dapur untuk memasak aneka menu makan malam.


"Kata Bu Lilis gejala yang sedang ku alami tanda-tanda orang hamil. Apakah aku sedang hamil? emm... tidak...tidak. Bi Lilis hanya menebaknya saja, aku tidak boleh percaya ucapannya" gumamnya sembari mengelus perut ratanya.


Violet melirik ponselnya di atas nakas. Haruskah ia mensearching di internet perihal tanda-tanda orang yang tengah hamil, pikirnya.


"Violet lupakan saja semua itu. Sekarang fokuslah untuk nanti malam. Papa mertua dan mama mertua akan datang, kau harus menyambut kedatangannya dengan sebuah kejutan spesial." ucap Violet berbicara pada diri sendiri.


"Sebaiknya aku turun ke bawah untuk mengawasi apa-apa saja yang sedang dikerjakan oleh pelayan, kalau perlu aku harus turun tangan memasak menu spesial untuk makan malam."


Violet bergerak turun dari ranjang, lalu melangkah keluar dari kamarnya. Ia sudah membaik setelah beristirahat cukup dan minum vitamin.


Saat berada di pijakan tangga terakhir, tiba-tiba pelayan wanita datang menghampirinya membawa sebuah box persegi empat.


"Nyonya, ada kiriman paket untukmu." ucap pelayan wanita sembari menyodorkan sebuah paket untuk majikannya dengan sopan.


"Dari siapa?" tanya Violet.


"Saya juga kurang tahu nyonya. Tidak ada nama pengirimnya." jawab pelayan itu.


"Oh. Terima kasih." ucap Violet sembari mengambil paket tersebut. Padahal selama ini ia jarang berbelanja online, lalu siapa yang mengiriminya paket. Apa mungkin Ares yang memberi paket untuknya, pikirnya.


Violet mulai memeriksa pengirimnya, namun tak ada sama sekali yang tertera di paketnya.


"Aku simpan saja dulu, nanti saja membukanya." gumam Violet


Violet memilih meletakkan paket tersebut di dalam laci lemari, karena ia akan melihat situasi di dapur.


“Lagi masak apa nih?” tanya Violet ketika berada di dapur. Aroma masakan Bu Lilis bersama pelayan yang lain mulai tercium di indera penciumannya.


“Kami lagi masak pasta, gulai ayam, sop buntut, ikan bakar, capcai, kepiting saus tiram dan masih banyak lagi nyonya.” Ucap Bi Lilis antusias.


“Wow, menu yang enak-enak tuh. Bolehkah aku membantu kalian?” ucap Violet menawarkan diri.


“Tidak usah nona, sebaiknya nona beristirahat saja di kamar.” Sahut Bu Lilis.


“Huff, aku sudah bosan terus berada di kamar jadi aku ingin membantu kalian. Aku bisa mengupas sayuran lalu memotongnya dengan berbagai bentuk potongan, semuanya aku bisa.” Kekeh Violet tak ingin dibantah.


Mau tak mau pelayan mempersilahkannya untuk ikut bantu-bantu memasak. Terlihat violet begitu antusias berbaur bersama pelayan dan lebih bersemangat mengaduk masakan yang mulai menggugah selera.


*


*


Sementara di tempat lain…


Tampak Evan bersiap-siap untuk pulang, pekerjaannya sudah ia selesaikan dengan cepat. Pasalnya ia akan mengajak Aileen untuk makan malam di luar. Rencanannya nanti malam ia akan membicarakan kembali perihal pernikahannya sekaligus ingin mengungkapkan perasaanya kepada wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya itu.


Evan keluar dari ruang kerjanya dengan penuh wibawa. Sekretaris cantik yang masih menempati meja kerja langsung bangkit berdiri dan tersenyum ramah kepadanya. Evan hanya cuek melihat sekilas sekretarisnya yang centil itu.


Sudah tiga bulan sekretaris centil bernama Tika itu bekerja di perusahaannya. Awalnya gadis itu sangat sopan dan lugu, namun makin kesini tingkahnya semakin centil dan seperti wanita penggoda.


Tika direkomendasikan bekerja oleh mantan sekretarisnya yang dulu, kebetulan mereka saudara kakak adik dan pengalaman kerja serta nilai akademik Tika tidak diragukan lagi. Jadi wajar saja jika Tika langsung di terima bekerja di perusahaannya.


“Bos dingin yang angkuh.” Gumam Tika setelah melihat kepergian sang pimpinan perusahaan. Ia belum juga bisa menggait pria incarannya.


Sementara Evan selalu saja cuek melangkah lebar memasuki lift, hingga lift bergerak turun ke lantai dasar. Pintu lift terbuka, Evan segera keluar dan bergegas masuk ke dalam mobil yang sudah siap membawanya pergi.


Sementara di rumah, Aileen terlihat sedang memilih gaun yang cocok untuknya. Ia harus tampil cantik malam ini, jarang-jarang Evan ingin mengajaknya makan malam diluar.


"Pakai ini saja deh, sangat cocok ku kenakan." ucap Aileen tersenyum setelah pilihannya jatuh pada gaun berwarna krem.


Malam hari, Evan dan Aileen sudah selesai bersiap. Mereka tampil berbeda malam ini yang pastinya mereka terlihat cantik dan tampan.


Evan mengajak Aileen berangkat ke restoran yang sudah ia booking. Mereka tiba di restoran pukul 7 malam.


Evan menggandeng tangan Aileen masuk ke dalam restoran, lalu mempersilahkan Aileen duduk di kursi. Aileen tersenyum manis duduk di kursinya. Kemudian Evan berlutut di hadapannya.


"Evan, apa yang kau lakukan. Ayo berdiri" ucap Aileen.


"Aileen, aku sudah putuskan untuk memulai kembali hubungan pernikahan kita. Aku ingin memulainya dari awal. Sekarang aku baru menyadari perasaanku bahwa aku sudah jatuh cinta kepadamu." ucap Evan tulus dari lubuk hatinya yang terdalam sembari menggenggam kedua tangan Aileen.


Deg!


Aileen tidak bisa berkata-kata mendengar ucapan Evan. Ia begitu shock mendengar pengakuan dari Evan yang sudah jatuh cinta kepadanya.


"Maukah kau memulai kembali hubungan pernikahan kita?" tanya Evan serius dan Aileen menggangguk cepat sebagai jawabannya.


Sejujurnya ia pun mulai jatuh cinta kepada Evan saat pria itu bersikap baik kepadanya, mendadak hatinya terukir nama pria yang sudah berstatus sebagai suaminya.


Evan tersenyum tipis melihat respon Aileen, ia lalu mencium punggung tangan Aileen dengan penuh perasaan.


"Aku juga sudah jatuh cinta kepadamu. Entah itu kapan yang jelas sikap baikmu mampu menggetarkan hatiku untuk memilihmu." ucap Aileen dengan mata berkaca-kaca, wajahnya sudah merona setelah mendengar pengakuan dari suaminya. Kemudian berhambur memeluk Evan.


"Terima kasih, Lee." ucap Evan memanggil Aileen dengan panggilan sayang yang selalu disematkan oleh ayah dan ibu Aileen.


Kini mereka berdiri saling berhadap-hadapan. Evan menyematkan cincin berlian di jari manis Aileen sebagai bentuk keseriusannya untuk memulai kembali hubungan pernikahan mereka.


"Aileen, apa kau mencintaiku?" tanya Evan yang sudah berdiri di hadapan Aileen.


"Ya. Aku mencintaimu Evan." jawab Aileen.


Mereka lalu berpelukan mesra dengan suasana hati yang berbunga-bunga.


*


*


*


Sementara di tempat lain....


Violet ketiduran di sofa ruang keluarga setelah habis bantu-bantu para pelayan memasak di dapur. Ia bahkan lupa untuk bersiap-siap menyambut kedatangan mertuanya.


Diluar dugaan, Ares bersama kedua orang tuanya baru saja sampai di rumah. Ares merasa aneh tidak mendapati Violet menyambut kedatangannya. Kemana perginya istrinya, pikirnya.


"Dimana Violet, bi?" tanya Ares sembari mencari keberadaan istrinya.


"Nyonya sedang tidur tuan." jawab Bu Lilis.


"Apa!" Ares terkejut mendengar ucapan kepala pelayan.


"Biarkan saja Ares, mungkin Violet masih capek habis liburan." ucap Nyonya Laurent.


"Kalau begitu, aku ke atas dulu ma." pamit Ares dan ingin melihat istrinya di kamar.


"Tunggu tuan, nyonya tidur di sofa ruang keluarga." ucap Bu Lilis.


Ares berbalik badan kemudian melangkah ke ruang keluarga. Dan benar saja Violet tidur di sofa dengan begitu damainya.


"Tadi pagi dia begitu bersemangat ingin menyambut mama dan papa, tapi apa ini " gumam Ares melihat tingkah laku istrinya.


Bersambung.....