
"Benar, kau harus meminta maaf kepada kedua orang tua ku." timpal Violet.
Hingga mobil melaju kencang meninggalkan tempat tersebut dan bergerak menuju kediaman tuan Keynand. Pasalnya Ares akan menurunkan egonya dengan cara meminta maaf kepada kedua orang tua Violet.
Mobil yang membawa Ares dan Violet sampai di kediaman tuan Keynand. Ares tampak ragu untuk turun dari mobil, ia melirik kearah Violet yang sudah bersiap untuk turun dari mobil.
"Emm, Violet!" Ares mencoba menghentikan Violet turun dari mobil.
"Kenapa?" Violet langsung mengalihkan pandangannya kearahnya.
"Tidak apa-apa." ucap Ares sembari menggeleng. "Tunggu sebentar, biar aku yang membukakan pintu untukmu."
Kemudian Ares bergegas turun dari mobil lalu bergerak membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Apa kau akan menginap?" tanya Ares.
"Tergantung jika kau mau menginap di rumah orang tuaku." ucap Violet tersenyum dengan memamerkan gigi ratanya.
Ares terdiam mendengar ucapan Violet, ia tidak ingin menimpalinya. Mendadak perasaannya menjadi gugup mendatangi rumah mertuanya. Baru kali ini ia merasakan hal demikian.
Tidak hanya itu, pikirannya mulai kalut, hingga membayangkan apa yang akan terjadi jika kembali bertemu dengan orang tua Violet, mengingat ia pernah melakukan hal fatal dengan menculik putri dari keluarga tersebut yang tidak lain adalah Violet, wanita yang sudah ia nikahi beberapa hari ini.
"Ares, ayo. Jangan melamun terus, nanti kesambet setan baru tau rasa. Tapi, kurasa kau tidak akan takut dengan makhluk astral, mengingat kelakuanmu yang sebelas duabelas dengan mereka. Kau bahkan bisa membantainya dengan mudah hingga menjadi debu-debu jalanan." ucap Violet dengan candaannya. Setelah itu, Violet melangkah lebih dulu masuk ke dalam rumah.
Ares hanya mampu menatap punggung Violet yang menjauh dari pandangannya. Ia sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Lagi-lagi pikirannya mulai berkecamuk. Ditambah kedua kakinya belum juga bergerak untuk melangkah mengikuti istrinya.
Saat Violet sudah sampai di depan pintu utama, ia baru menyadari Ares tidak mengekor di belakangnya. Sehingga ia berbalik badan lalu memanggil Ares yang masih berdiri di tempatnya semula.
"Ares! kemarilah. Apa yang kau lakukan disitu?" teriak Violet memanggil Ares.
Dengan berat hati, Ares lalu melangkah menghampirinya.
"Tumben sekali kau bersikap seperti ini. Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan. Aku merasa sedang tidak bersama dengan King Ares Robinson yang super pemberani dan tak kenal takut." ucap Violet sembari bertolak pinggang dan memang sengaja memberikan sindiran kepada Ares.
Ares tidak menimpali ucapan Violet, ia tampak cuek sambil melipat lengannya di depan dada dan tengah mengamati pintu dengan ukiran berbentuk naga.
Hingga pintu utama terbuka lebar dan muncullah sosok wanita paruh baya memegang tongkat baseball dengan raut wajah masam.
Dari arah belakang terlihat dua pria berjalan tergopoh-gopoh menyusul wanita paruh baya itu. Violet terbelalak kaget melihat ibunya memegang tongkat baseball milik ayahnya lalu mendekati Ares.
Tanpa basa-basi ibunya langsung memukuli tubuh Ares dengan tongkat baseball yang dipegangnya. Sedangkan Ares tak berkutik, seolah sengaja pasang badan di hadapan ibu Violet.
Bugh
Bughhhh
"Beraninya kau menculik putriku!" Nyonya Viona sedang tersulut emosi dan terus memukuli tubuh Ares dengan tongkat baseball milik sang suami.
"Mommy, hentikan" ucap Violet sembari melindungi Ares dari amukan ibunya.
"Jangan membelanya sayang, dia harus diberi pelajaran, agar tidak lagi mengulangi kesalahannya." ucap Nyonya Viona dan tidak ingin melepaskan Ares.
Bughhhh
Bughhhh
"Mommy, tolong hentikan. Semuanya sudah terjadi dan Ares tidak salah apa-apa." ucap Violet dengan tatapan memohon membela sang suami. Bahkan ia tengah berdiri di hadapan Ares demi melindunginya.
Tuan Keynand dan Victor hanya mampu menjadi penonton, mereka tidak berani mendekat untuk membela apalagi melindungi Ares dari amukan Nyonya Viona, sosok ibu rumah tangga yang memiliki kuasa penuh di kediamannya, hingga kedua pria berbeda usia itu tidak berani menghentikan aksinya, bisa-bisa mereka nantinya yang menjadi santapannya.
"Kau sudah menculik putriku! apa kau tidak tahu bagaimana khawatirnya aku saat kau berhasil menculik putriku?. Apa kau tidak tahu bahwa aku yang merawatnya, menyayanginya hingga dia tumbuh dewasa. Lalu dengan gampangnya kau menculiknya, terus menikahinya!." maki Nyonya Viona yang tersulut emosi dan kemudian memukuli tubuh Ares dengan tongkat baseball milik sang suami.
"Awwww" Ares meringis kesakitan mendapatkan pukulan bertubi-tubi yang selalu menghantam tubuhnya.
"Mommy, tolong hentikan." ucap Violet memohon sambil menghadang ibunya.
"Biarkan saja, aku siap menerima hukuman dari ibu mertua. Aku memang salah karena sudah menculik mu lalu menikahimu. Dan aku sama sekali tidak menghormati kedua orang tuamu pada waktu itu" ucap Ares dengan gamblangnya dan membiarkan tubuhnya menjadi santapan hangat ibu mertuanya.
Seketika Nyonya Viona menjatuhkan tongkat baseball di tangannya lalu melangkah masuk ke dalam rumah, ia tidak ingin meladeni menantunya.
Namun baru beberapa langkah, Nyonya Viona menghentikan langkahnya karena merasakan sebuah tangan melingkar di perutnya dan itu ulah Violet, putri kesayangannya yang sedang memeluknya dari belakang.
"Aku merindukanmu, mommy." ucap Violet dengan suara khasnya.
"Mommy juga merindukanmu sayang." balas Nyonya Viona lalu berbalik badan menghadap kearah putrinya.
Kemudian mereka berpelukan dengan eratnya guna melepas rindu. Dan seketika itu pula emosi nyonya Viona redah dan tergantikan oleh perasaan haru karena bisa kembali bertemu dengan putrinya, sosok yang sangat dijaga dan disayanginya.
Setelah puas berpelukan, Nyonya Viona melepaskan pelukannya lalu melangkah masuk ke dalam rumah dan berjalan cepat menuju kamarnya meninggalkan semua orang yang masih tidak menyangka akan sikapnya malam ini.
"Maafkan kelakuan istriku, lain kali dia akan menunjukkan sikap manisnya ketika sudah mengenalmu." ucap tuan Keynand tidak enak hati dengan kelakuan istrinya, apalagi di depan menantunya.
"Tidak apa-apa, aku sudah memaafkannya. Dan memang patut aku mendapatkan kejutan selamat datang." ucap Ares tersenyum tipis dan tidak ingin mempermasalahkan kejadian barusan.
"Kejadian seperti ini terulang kembali. Dulu saat kak Daisy masih pacaran dengan Kak Juno, mommy juga melakukan hal seperti ini. Tapi bedanya, Kak Juno membawa kak Daisy pulang ke rumah saat larut malam dan itu membuat mommy marah besar hingga tongkat baseball Daddy kembali bermain di tangan Mommy. Untungnya kak Juno tidak kena mental setelah mendapatkan hukuman dari mommy, karena sejujurnya dia begitu cinta mati kepada Kak Daisy. Jadi apapun halangan dan rintangannya, dia akan tetap lewati bersama." sahut Victor menjelaskan panjang lebar perihal sikap ibunya pada kakak iparnya dulu.
Ares hanya mampu tersenyum dalam hati mendapatkan perlakuan buruk yang berupa hukuman dari ibu mertuanya. Benar-benar kejutan istimewa yang ia dapatkan malam ini. Sejujurnya segala pukulan yang dilayangkan oleh ibu mertuanya tidak seberapa.
"Violet, bawa Ares masuk ke dalam." ucap ayahnya.
"Baik Daddy." sahut Violet dengan anggukan kepala, kemudian memapah Ares masuk ke dalam rumah. Lalu mendudukkannya di sofa ruang tamu.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak 🤗