
Violet terus memegangi kepalanya yang kembali berdenyut nyeri. Paper bag yang berada di tangannya sudah terjatuh di bawah kakinya. Bahkan tubuhnya hampir limbung ke lantai jika tidak berpegangan di kursi.
Namun ia berusaha untuk kuat dan tak ingin terlihat lemah di depan wanita asing yang mengaku sebagai mantan kekasih suaminya. Yang menjadi pertanyaannya sekarang, kenapa Ares tidak pernah mengatakan jika masih menjalin hubungan spesial dengan mantannya.
Bukankah yang namanya mantan sudah tak memiliki tempat dan harusnya dibuang ke laut. Haruskah ia mempercayai ucapan wanita asing itu yang mengaku-ngaku sebagai mantan kekasih suaminya?
Violet tidak ingin langsung percaya, ia harus mendengar penjelasan Ares terlebih dahulu. Jika memang benar adanya, ia tidak bisa berbuat apa-apa dan keputusan terakhirnya mengakhiri pernikahannya.
Kayla yang melihat tingkah wanita itu hanya mampu tersenyum sinis lalu mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya.
"Jika kau tidak percaya dengan ucapanku, maka ini buktinya!" ucap Kayla lalu melemparkan amplop coklat di atas meja. Hingga beberapa lembar foto berhamburan keluar dari dalam amplop coklat tersebut.
Perlahan Violet mengulurkan tangannya untuk mengambil salah satu lembaran foto. Seketika matanya membulat sempurna melihat pria dan wanita bermesraan dalam foto tersebut. Ia bahkan bisa mengenali pria dalam foto yang tak lain adalah Ares.
Mendadak emosi bercampur amarah langsung menyelimutinya, dada Violet bergemuruh, sorot matanya memancarkan kilatan amarah. Bahkan tangannya mengepal kuat mencoba untuk meremukkan foto pasangan yang sedang bermesraan itu.
Sungguh ia begitu marah besar dan terbesit rasa cemburu melihat foto suaminya bersama seorang wanita. Lebih gilanya mereka berciuman di dalam kamar hotel. Hatinya sangat sakit bagaikan tertusuk ribuan jarum melihat hal gila yang dilakukan oleh suaminya.
"Kau sangat jahat, Ares!" gumam Violet dengan mata memerah.
Kayla tersenyum penuh kemenangan melihat perubahan pada raut wajah wanita yang dibencinya.
Jika aku tidak bisa memiliki Ares, maka kau juga tidak bisa memilikinya wanita bodoh. Batin Kayla menyeringai.
"Ini tidak mungkin, aku tidak percaya dengan semua ini!" teriak Violet sambil menjatuhkan barang-barang di atas meja. Termasuk amplop coklat yang berisi foto mesra sang suami bersama Kayla.
"Kau itu hanya benalu yang merusak hubungan kami. Jadi tinggalkan Ares, karena Ares adalah milikku! selamanya akan menjadi milikku!" ucap Kayla dengan nada penekanan dan mengklaim bahwa Ares adalah miliknya.
Violet semakin mencengkeram kuat kepalanya dan tidak ingin mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut Kayla. Air matanya mulai luruh membasahi pipinya. Violet sudah tak kuat menahan beban dalam pikirannya dan seolah kepalanya akan meledak.
"Ares masih mencintaiku sampai detik ini, jadi tinggalkan Ares dan pergi dari hidupnya." ucap Kayla dengan suara meninggi.
Violet tidak mampu membalas ucapan Kayla, tenggorokannya tercekat melihat foto Ares bersama Kayla. Ia semakin pusing memikirkannya.
Kemudian Kayla melenggang pergi dengan gaya angkuhnya. Ia begitu puas melihat wanita yang sudah merebut Ares darinya tampak menyedihkan.
Sementara Violet sudah tak bisa mengontrol diri, air matanya terus mengalir deras dengan rasa sakit yang yang luar biasa menyayat hatinya.
Ia langsung mengambil kunci mobil yang tergeletak di lantai dan berlari mendekati mobil yang sudah siap membawanya pergi.
Violet bergegas masuk ke dalam mobil dan langsung menancap gas menuju perusahaan AR Group.
Tiga pelayan wanita dan beberapa penjaga mencoba menghentikan istri majikannya, namun keburu mobil yang dikendarai Violet melaju kencang dan hampir menabrak penjaga yang mencoba menghadangnya.
"Akkhh...aku muak dengan semua ini!" ucap Violet dengan suara meninggi sambil mencengkram kuat setir mobil. Perasaannya campur aduk, perasaan marah, benci, kecewa, sedih semuanya menjadi satu.
Ia terus menaikkan kecepatan laju mobilnya dan berharap bisa sampai di perusahaan Ares. Violet berkendara ugal-ugalan di jalan raya. Bahkan beberapa kali hampir menabrak pengendara lain.
Tangisnya semakin pecah, harusnya ia tidak perlu mendengarkan ucapan wanita tadi.
"Ya tuhan, apa salahku! kenapa sampai sekarang aku belum mengingat apa-apa tentang Ares... hiks...hiks. Apa selama ini Ares berselingkuh di belakangku..huhuhu" Violet mengusap kasar air matanya.
Namun mendadak Violet membulatkan kedua matanya melihat minibus melaju kencang tanpa terkendali dari arah berlawanan.
Violet mencoba merem mendadak untuk menghentikan laju mobilnya, namun sayangnya bukan rem yang di injak melainkan pedal gas. Mobilnya langsung bertubrukan dengan minibus.
Brakkk
Kepala Violet langsung membentur keras kaca mobil hingga keningnya berdarah. Setelah itu, ia langsung tak sadarkan diri.
*
*
*
Sementara di perusahaan AR Group...
Ares langsung menghentikan rapat yang sedang berlangsung setelah mendapatkan panggilan masuk dari pihak rumah sakit.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, Ares berlari keluar dari ruang rapat dan bergegas masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai dasar.
Ares membentak salah satu bodyguard yang begitu lelet menyiapkan mobil untuknya.
"Jika kerjamu seperti ini, aku tidak segan-segan untuk memecatmu!" bentak Ares lalu bergegas masuk ke dalam mobil dan langsung menancap gas menuju rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, lagi-lagi Ares berlarian menuju ruang IGD hingga ia berpapasan dengan dokter Steven.
"Tuan Ares!" sapa dokter Steven dengan ramah.
"Dimana istriku!" ucap Ares menatap tajam pria berjas putih itu.
"Istri anda...aku tidak tahu." ucap Dokter Steven bingung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena ia memang tidak tahu menahu maksud ucapan dari Ares. Baru saja ia memeriksa pasiennya di ruang ICU.
Bugh
Ares langsung menghadiahkan bogem mentah di wajah dokter berkacamata itu, lalu melenggang pergi tanpa rasa bersalah sama sekali.
Dengan rasa takut menyelimuti pikirannya, perlahan Ares masuk ke dalam ruang IGD hingga ia bertemu pandang dengan sosok wanita yang terbaring di atas ranjang pasien, dimana kening wanita itu dibalut kain perban.
"Violet!" ucapnya dengan mata berkaca-kaca sambil mendekati ranjang pasien. Ia sungguh takut jika istrinya sampai kenapa-kenapa.
Sementara wanita yang dipanggil namanya hanya mampu buang muka dengan rasa sakit mulai memenuhi hatinya.
"Violet sayang, aku sangat khawatir kepadamu." ucap Ares lalu berhambur memeluk tubuh istrinya.
"Lepaskan aku King Ares Robinson!" ucap Violet dingin menyebut nama lengkap Ares.
Mau tak mau Ares melepaskan pelukannya.
"Syukurlah kau baik-baik saja, aku sungguh takut jika kau sampai terluka, sayang." ucap Ares dengan tatapan hangatnya sambil membelai pipi Violet, membuat Violet langsung menepis kasar tangannya.
"Tidak perlu bersikap lembut kepadaku! lagian aku muak melihatmu, bukankah kau senang jika aku mati." ucap Violet dengan tatapan tajam menghunus jantung lawan bicaranya.
"Apa maksud ucapanmu, sayang?" tanya Ares bingung.
"Jangan berbasa-basi, aku sudah mengingatnya! bahkan mengingat semuanya. Kau menikahiku dengan cara menjebakku! lalu kau menceritakan awal pertemuan kita dengan sangat manis untuk menutupi segala sikap licik mu itu. Kau pembohong, Ares!. Mulai sekarang, aku ingin bercerai darimu! aku tidak ingin menjadi benalu dalam hubunganmu bersama kekasihmu!." ucap Violet panjang lebar dengan tatapan tajam dan Ares langsung shock mendengarnya.
"Aku tidak akan pernah menceraikanmu sampai kapanpun. Simpan semua prasangka buruk terhadapku, karena aku tidak memiliki seorang kekasih, hanya kau wanita pertama dalam hidupku, Violet Matteo Manav!" tegas Ares dengan suara lantang.
*
*
Bersambung....
Terima kasih atas dukungannya bestie 🙏