King Mafia and Queen Mafia

King Mafia and Queen Mafia
Ikuti aku



Hari itu juga ayah Aileen di makamkan di perkuburan keluarga mereka. Beberapa kerabat terdekat termasuk keluarga Evan dan kedua orang tua Violet turut hadir memberikan bela sungkawa atas meninggalnya tuan Smith. Hal itu sebagai bentuk penghormatan terakhir mereka kepada mendiang tuan Smith.


Satu persatu pelayat mulai meninggalkan tempat pemakaman. Begitupun dengan Nyonya Viona dan tuan Keynand mulai berpamitan kepada orang tua Evan.


Sementara Ares masih setia berdiri di samping orang tuanya menyaksikan bagaimana terpukulnya keluarga yang ditinggalkan mendiang tuan Smith.


Evan sendiri terus berada di samping Aileen dan ibu mertuanya selama proses pemakaman berlangsung. Karena sebelumnya beberapa kali Aileen dan ibu mertuanya jatuh pingsan ketika masih berada di rumah duka.


Evan harus selalu berada di samping mereka dan senantiasa menguatkan keduanya yang sudah menjadi bagian dari keluarganya. Karena mau bagaimana pun ini sudah menjadi takdir Yang Maha Kuasa, hidup matinya seorang sudah ditentukan oleh sang pencipta.


Diluar dugaan diam-diam sosok pria cukup tampan tampak berdiri tak jauh dari tempat pemakaman.


Pria itu menyeringai licik menatap kearah kuburan baru yang bertuliskan batu nisan orang yang sudah ia lenyapkan.


"Siapapun yang menghalangi jalanku, akan ku hancurkan dengan mudah, salah satunya si tua bodoh itu. Aku sudah membantu perusahaannya selama ini, tapi apa balasannya, diam-diam dia menikahkan putrinya kepada lawan bisnis ku." ucap Pria itu sambil mengepalkan tangannya.


Dan pria itu tidak lain adalah Zico, pria yang sangat menginginkan Aileen menjadi istrinya.


"Sebentar lagi kau akan menjadi milikku, Aileen." ucapnya menyeringai lalu melenggang pergi.


Sementara itu, Evan, Aileen dan lainnya cukup lama mereka berada di pemakaman. Hingga Evan turun tangan membujuk Aileen untuk pulang bersamanya. Semua itu karena ibunya yang meminta, sedang Nyonya Bella sudah pulang lebih dulu bersama kedua orang tua Evan.


"Aku belum mau pulang, aku masih ingin tetap di sini. Kalau kau ingin pulang, pulanglah." lirih Aileen dengan tatapan kosong. Kedua matanya tampak sembab karena terus menangisi kepergian ayahnya.


"Tidak Aileen, kita harus pulang bersama. Lihatlah, langit sudah gelap dan seharian ini kau belum minum ataupun makan. Jangan siksa dirimu seperti ini, ayahmu sudah tenang di alam sana." ucap Evan membujuknya.


"AKU TIDAK MAU PULANG!" teriak Aileen dengan air mata kembali menetes membasahi pipinya.


Kesabaran Evan sudah habis, ia langsung mengangkat tubuh Aileen persis membawa anak kecil. Sedangkan Aileen langsung memukul dada bidang Evan tanpa tenaga, dengan tangis kembali pecah.


"Hiks.... hiks....aku tidak mau pulang.. hiks" ucapnya terisak sambil berpegangan dikedua bahu Evan.


Evan tidak menggubris ucapannya, ia segera memasukkan Aileen ke dalam mobil. Setelah itu, barulah dirinya ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.


Evan tidak langsung menyalakan mesin mobilnya, ia kembali menatap Aileen yang masih saja menangis. Hatinya ikut sedih melihat wanita itu menangis.


Entah apa yang merasukinya, Evan menangkup wajah Aileen lalu mengusap lembut air mata yang membasahi wajah wanita itu.


"Kumohon berhentilah menangis." ucap Evan dengan tatapan sendu lalu menarik tubuh Aileen masuk ke dalam pelukannya.


Aileen masih saja menangis tersedu-sedu dalam pelukan Evan, untungnya masih ada sosok Evan yang mampu ia jadikan sebagai sandaran disaat kehilangan sosok orang tersayangnya.


Setelah berhasil menenangkan Aileen, barulah Evan menyalahkan mesin mobilnya dan perlahan mulai melajukan mobilnya menuju kediaman Aileen.


*


*


*


Sementara di tempat lain....


Violet tengah berada di kediaman Daisy, saudaranya. Sudah seharian ini Violet ikut membantu Daisy merawat baby El.


Ia begitu gemes dengan ponakannya dan sudah tak sabar melihatnya tumbuh kembang. Bahkan ia ingin menjadi ibu kedua untuk baby El.


"Kak, berikan baby El kepadaku, biar aku sendiri yang merawatnya. Kau boleh membuatnya lagi setelah ini bersama kak Juno." rengek Violet.


"Apa! bekas jahitan operasi ku belum sembuh, Violet! dan kau malah meminta bayiku? sebaiknya kau pulang saja. Kalau perlu ajak suamimu sekalian membuatnya bersama. Kau pikir membuat anak seperti membuat adonan kue, hah!" ucap Daisy terpancing emosi, bahkan tanduk iblis sudah bermunculan di kepalanya.


Astaga adikku sayang, kau memang sudah memiliki suami, hanya saja kau sedang amnesia. Apa perlu aku meminta Ares untuk memperk*samu lebih dulu, supaya kau tidak lagi mengincar bayiku. Batin Daisy.


"Tidak akan, aku tidak akan memberikan baby El kepadamu, karena baby El adalah separuh jiwaku dan buah cinta ku bersama mas Juno." tolak Daisy mentah-mentah.


"Baiklah jika kau tidak mau memberikannya, kapan-kapan aku akan menculiknya.. hehehe." ucap Violet tertawa jahat, membuat Daisy menggeram kesal.


"Violet!"


"Sorry kak, aku harus pulang. Ingat kata-kataku barusan." ucapnya menyeringai. "Sampai jumpa baby El, ponakan aunty yang paaaliing tampan." ucap Violet dan tak lupa mendaratkan ciuman di pipi gembul baby El.


Membuat mata Daisy melotot sempurna menatap kearah adiknya, karena bisa saja adiknya itu membangunkan bayinya yang sedang tertidur.


"Violet!"


"Aku hanya menciumnya sebentar, galak banget sih mama muda yang satu ini." ucap Violet tersenyum sinis dan sengaja menyindir saudaranya. Kemudian berlari kecil keluar dari kamar baby El.


"Aku bisa darah tinggi melihat kelakuannya." gumam Daisy sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah laku saudaranya.


*


*


*


Violet tiba di rumah tepat pukul 8 malam, karena ia sempat mampir ke butik sebentar, terus makan malam di luar bersama teman-temannya.


Sekarang sikap Violet berubah seratus delapan puluh derajat sebelum amnesia. Dulunya sikapnya dingin, pendiam dan sangat tertutup, serta sangat jarang hanya sekedar nongkrong di luar bersama teman-temannya. Tapi sekarang sudah berbanding terbalik dan mudah bergaul dengan siapa saja.


Violet tampak santai berjalan memasuki rumah. Namun suasana rumah tampak sepi tanpa mendengar suara orang tuanya dari ruang keluarga.


Saat akan menaiki anak tangga menuju kamarnya, tiba-tiba langkah Violet terhenti karena mendengar suara pria yang menjadi bulan-bulanan nya.


"Nona Violet baru pulang?" tanya Ares yang berada di bawah tangga.


"Hemm" jawab Violet cuek sambil menyilangkan lengannya di depan dada dengan gaya angkuh. "Kenapa kau sangat kepo dengan urusanku. Suka-suka aku pulang jam segini!" tambahnya terdengar ketus.


"Sudah menjadi kewajiban ku untuk selalu mengetahui urusan anda." ucap Ares sopan dan sangat ramah.


"Ya sudah, ikuti aku!"


"Kemana nona?" tanya Ares pura-pura bingung.


"Ke kamar! sudah tau aku akan ke kamar masih saja bertanya." ucap Violet dengan ketusnya.


"Baik nona." sahut Ares tersenyum tipis.


Violet menyeringai melanjutkan langkahnya menuju kamarnya. Entah apa yang akan ia direncanakan kali ini kepada bodyguardnya.


Lihat saja aku ingin mengerjaimu bodoh, setelah ini kau pasti tidak akan pernah muncul di hadapanku. Batin Violet menyeringai licik.


*


*


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak!