Just My Ex Husband

Just My Ex Husband
Part 88 - Kembali



Ceklek!!!


Terdengar suara pintu dibuka oleh seseorang yang tiba-tiba datang ke kamar Claudia, sontak membuat Claudia ketakutan, wanita itu sudah sangat mengerti akan kebiasaan pengunjung kamarnya. Karena, ia tahu betul apa yang akan dilakukan oleh seorang pria di sana terhadap dirinya.


Pria itu pasti akan mencekoki Claudia dengan obat injeksi ataupun obat-obatan anti depresan lainnya yang berdalih vitamin, sehingga wajar saja jika Claudia merasakan sedikit ketakutan. Bahkan kandungan obat tersebut sudah berhasil menyerang kondisi psikis, serta mental Claudia.


"No, no!"


"Dont do this to me." jerit Claudia sambil berjalan mundur ke arah sudut kamar.


Wanita itu mulai ketakutan, tangannya masih menggenggam secarik kertas dengan kuat, nafasnya pun sedikit terengah. Kini Claudia mengerti kalau dirinya akan dirusak oleh pria yang sudah menculiknya. Namun, sungguh sedikitpun Claudia tak pernah mengerti mengapa semua ini terjadi pada dirinya. Mengapa harus sampai berlarut-larut empat tahun lamanya mereka membiarkan dirinya hidup dalam penjara tanpa jiwa.


Jika kesadaran Claudia sedang pulih, Claudia sering berpikir mengapa mereka tidak membunuh dirinya saja, agar seluruh penderitaannya selesai. Namun kesadaran itu hanya bersifat fluktuatif, seperti hilang timbul tak menentu.


"Tenanglah sedikit sayang." ucap pria yang sedikit berjambang sambil mendekat ke arah Claudia


Pria berjambang itu sudah tidak asing lagi bagi Claudia, karena Mark memang sudah menugaskan pria tersebut untuk selalu mengawasi pergerakan Claudia.


"Jangan mendekat!" seru Claudia, kali ini Claudia benar benar tidak mau menuruti untuk mengkonsumsi obat yang akan dipaksa masuk ke dalam rongga mulutnya. Namun pria itu semakin berjalan mendekat ke arah Claudia, bahkan tangannya sudah mulai menjambak rambut panjang Claudia.


"Jangan membuat kesabaranku habis Nona." gertak pria tersebut dengan mengeratkan rahang, dan menatap tajam kedua bola mata Claudia.


Tubuh Claudia gemetar sembari menahan isak tangis, sungguh ia tak berdaya untuk melawan, namun egonya tetap tidak ingin meminum obat tersebut, sekalipun ia dipaksa, dan...


Brakkkkkk!!!


Obat tersebut berserakan jatuh ke lantai, tentunya kejadian ini membuat pria itu semakin geram akan respon Claudia, lalu tiba-tiba saja muncul satu pria lagi.


"Biarkan saja kalau dia tidak mau meminumnya." ujar pria bule tampan bermata tajam. Pria itu tidak lain adalah Mark.


"Biarkan saja." ujar Mark.


"Maksudnya Bos?"


Pria itu masih tidak mengerti akan jalan pikiran Mark.


"Biarkan ingatannya kembali pulih, agar sakitnya semakin terasa." hanya itu jawaban Mark.


Kini Mark berjalan mendekat ke arah Claudia, meraih paksa genggaman tangan Claudia, lalu mengambil kertas lusuh dari tangan Claudia. Pelan pelan Mark membuka kertas tersebut, lalu dilihatnya tulisan dua nama orang yang sangat Claudia cintai.


Setelah membuka kertas tersebut Mark hanya tersenyum smirk


"Baguslah kau mulai ingat tentang dirimu, Claudia." ucap Mark dengan nada menekan di bagian nama Claudia.


Selama masa penyanderaan, Mark tidak pernah ingin memanggil nama Claudia yang sebenarnya, karena itu hanya akan mengembalikan ingatan Claudia tentang dirinya.


"Claudia..." bisik Claudia dengan sedikit rasa bingung, otaknya kini berputar keras mencoba mengingat orang orang yang memanggil namanya dulu.


Deretan wajah yang pernah memanggil namanya tergambar di dalam ingatan Claudia, terlintas wajah tampan Arjuna, mamah mertuanya, dan juga kedua orangtuanya. Ingatan itu membuat Claudia merasakan pening tak terkira.


"Sakit, sakit, kepalaku sakit." rintih Claudia dengan memegang kepalanya kuat kuat.


"Tenanglah, karena akan ada yang jauh lebih sakit lagi Claudia." bisik Mark tepat di telinga kanan Claudia, lalu...


Jessss!


Mark menyuntikan obat bius total di lengan kanan Claudia.