
Hembusan angin malam ini terasa begitu sejuk dan mendamaikan. Sedamai hati pria tampan yang berdiri di depan pintu rumah orangtua Jenny. Pria itu tampak gagah mengenakan kemeja batik lengan panjang berwarna coklat keemasan.
Arjuna datang berkunjung ke kampung halaman Jenny di daerah Purwakarta, tentunya bukan sekedar kunjungan biasa. Arjuna datang ke rumah Linda bersama dengan Verlita. Sesuai janjinya pada Jenny kalau malam ini Arjuna akan datang melamar Jenny.
Kedatangan Arjuna disambut hangat oleh Linda, sementara Jenny masih belum menampakkan dirinya untuk menemui Arjuna dan juga Verlita.
"Jenny mana bu Linda?"
Tanya Verlita pada Linda yang sudah merindukan calon menantunya. Sebenarnya Verlita lebih penasaran pada putra Jenny, ingin sekali Verlita bertemu langsung dengan cucu keduanya.
"Jenny masih siap-siap di kamarnya, biasalah wanita."
Jawaban Linda barusan membuat Verlita dan juga Arjuna terkekeh. Mereka duduk di sofa ruang tamu, masih menunggu kehadiran Jenny.
Acara lamaran antara Jenny dengan Arjuna tidak semewah yang kalian bayangkan. Jenny meminta pada Arjuna untuk tidak menggelar acara mewah seperti beberapa kalangan kelas atas. Jenny hanya meminta kehadiran Arjuna bersama Verlita sudah cukup.
Arjuna sengaja tidak membawa Clarisa sebelum acara lamaran selesai, biar nanti Clarisa menyusul bersama Ivan. Arjuna tidak ingin momen spesialnya diganggu oleh team krucilnya.
"Pa pa pa."
Telinga Arjuna sudah tidak asing lagi akan panggilan itu, dia segera bangkit dari sofa. Benar saja dugaan Arjuna, Cleo datang dengan langkah kaki mungilnya yang sangat menggemaskan. Zalesya mengikuti langkah Cleo di belakang, memastikan kemana anak kecil itu pergi, agar tidak merusak acara lamaran mamahnya.
"Pa pa pa, Leo angen."
Ucap Cleo lagi setelah berada dalam gendongan Arjuna. Sementara Verlita hanya tersenyum bahagia bercampur rasa haru menyaksikan putranya yang sudah memiliki jagoan kecil. Rasanya lengkap sudah kebahagiaan Arjuna yang dikaruniai sepasang anak perempuan dan laki-laki.
"Ini omah sayang."
Verlita mengusap puncak kepala Cleo penuh perasaan sayang. Ini adalah pertemuan pertama Verlita dengan Cleo.
"Omah, omah."
Cleo menyebutkan kata itu berulang-ulang sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Iya Cleo sayang, ini omah."
Verlita menyodorkan tangannya di hadapan Cleo, bermaksud ingin mengajak cucu jagoannya, tapi anak kecil itu justru menyembunyikan wajahnya di dada bidang Arjuna.
"Dia tidak mau sama mamah. Mungkin mamah terlihat sedikit menyeramkan."
Ucap Arjuna, sedikit mengejek mamahnya.
"Anak sama bapaknya sama-sama nyebelin."
Verlita sedikit merajuk, sementara Arjuna justru tertawa lepas di hadapan mamahnya dan juga calon mertuanya. Arjuna merasa tidak canggung lagi pada Linda. Kemudian mereka kembali melanjutkan obrolan-obrolan kecil sambil menunggu kedatangan Jenny.
•••
"Teteh Jenny sudah terlihat cantik maksimal."
Puji Zalesya yang baru saja memasuki kamar Jenny. Setelah Cleo berada dalam pangkuan Arjuna, Zalesya kembali masuk kedalam untuk menemui Jenny.
"Aku gugup Za."
Degub jantung Jenny berdetak tak menentu sejak Jenny tahu kalau Arjuna sudah datang.
"Kenapa teh?, kan ini bukan momen pertama teteh dilamar. Kenapa masih gugup?"
Zalesya benar ini bukan yang pertama, tapi entah mengapa Jenny merasakan debaran yang tak terkira. Padahal acara lamaran kali ini tak semewah saat Frans melamar Jenny dulu, dihadiri oleh ratusan tamu undangan.
"Aku tidak tahu Za, yang jelas aku gugup saja menghadapi Arjuna. Apa mungkin karena aku yang sudah janda jadi krisis percaya diri?"
Jenny tertunduk setelah mengucapkan pertanyaannya pada Zalesya.
"Sudahlah teh, jangan berpikir seperti itu. Soal bahagia itu tidak mengenal gadis ataupun janda, semuanya layak untuk memilih yang terbaik. Hanya pandangan awam saja yang selalu memandang rendah seorang janda."
Zalesya memeluk bahu kakak sepupunya, berusaha menguatkan.
"Coba lihat teteh di cermin, teteh Zenny sudah cantik sekali. Aa Arjuna juga ganteng banget loh, dia sudah menunggu teteh di bawah."
Apa yang dikatakan Zalesya memang benar, Jenny terlihat sangat anggun mempesona dengan mengenakan paduan kebaya burkat lengan pendek berwarna coklat keemasan, senada dengan batik yang Arjuna kenakan. Rok lilit batiknya persis dengan motif batik yang dipakai oleh Arjuna karena memang Arjuna yang sudah memilihkan kostum untuk malam ini. Pria itu seperti tidak ada habisnya untuk soal fashion, selalu memperhatikan detail pakaian yang akan digunakan oleh Jenny.
Jenny menarik lengan Zalesya untuk menemaninya turun ke ruang tamu, setidaknya ada Zalesya di samping Jenny sedikit mengurangi rasa gugup yang dirasakannya.
"Ma ma ma."
Teriak Cleo setelah melihat Jenny yang baru saja sampai di ruang tamu.
Arjuna terperangah melihat kecantikan Jenny yang mengenakan paduan kebaya yang sudah dipilihkan olehnya, rambut Jenny disanggul sederhana berhias jepit rambut bentuk bunga mawar sebagai pemanis konde sanggulnya. Mulut Arjuna masih menganga menikmati keindahan Jenny.
Cleo memilih turun dari pangkuan Arjuna, kaki kecilnya sedikit kesulitan untuk berlari ke arah Jenny yang masih berdiri di pintu ruang tengah.
"Jagoan mamah."
Jenny meraih tubuh gempal Cleo ke dalam gendongannya sesaat, kemudian Zalesya yang mengambil alih Cleo dari gendongan Jenny. Zalesya tidak ingin keponakannya mengganggu momen mamah dan papahnya.
"Sekarang Jenny sudah hadir, kita mulai saja yah Jenn."
Verlita memulai acara lamaran setelah Jenny duduk di samping Linda.
"Iya mah."
Jenny mengangguk. Sungguh acara lamaran yang sangat sederhana menurut Jenny, hanya ada mereka berempat. Tidak ada pesta mewah, tidak ada tamu undangan, tapi tidak mengapa bagi Jenny. Sejatinya menikah itu soal kebahagiaannya setelah hidup bersama, bukan tentang pestanya.
"Jenn, mamah datang jauh-jauh dari Jakarta kesini hanya untuk meminta restu pada ibumu. Tentunya ibu Linda juga sudah tahu maksud kedatangan kami kesini."
Linda pun mengangguk dan tersenyum di hadapan Verlita.
"Bagaimana ibu Linda?"
Verlita menegaskan maksudnya.
"Kalau saya pribadi mempercayakan sepenuhnya pada Jenny bu Verlita, karena ini adalah rumah tangga Jenny, tentu Jenny yang akan menjalaninya dan Jenny yang memutuskan. Harapan saya hanya satu bu, jangan sampai pernikahan Jenny yang kedua gagal lagi. Saya tidak mau itu terjadi lagi."
Verlita sangat mengerti apa yang dituturkan oleh Linda. Dia pun seorang ibu tentunya mempunyai harapan yang sama seperti Linda.
"Syukurlah kalau pendapat bu Linda demikian, itu artinya kita bisa melanjutkan niatan baik kita."
Kini giliran Arjuna yang akan meminta langsung pada Jenny setelah mendapat izin dari ibunda Jenny. Arjuna mengeluarkan kotak kecil berwarna navy, kemudian membuka kotak tersebut yang berisi cincin mutiara hitam pekat mengkilat, bahkan Jenny sangat terkejut melihatnya. Walaupun model cincin itu sangat elegan, dapat Jenny pastikan kalau Arjuna membelinya dengan harga yang fantastis.
"Jenny..."
Panggil Arjuna dengan nada lirih, setelah posisinya berada di lantai, tepat di bawah lutut Jenny. Arjuna meraih jemari Jenny, menggenggamnya lembut.
"Sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu Jenn, kemarin aku sudah sedikit memaksamu untuk mempercepat momen ini. Semua itu aku lakukan karena aku serius denganmu, aku tidak ingin membiarkanmu berlama-lama sendiri, aku tidak ingin kesempatan yang aku miliki sekarang diambil oleh pria lain. Aku memilihmu hari ini untuk kehidupan panjang di hari esok, hari dimana hanya maut yang menjemput, hanya maut yang mampu merenggut cinta kita."
Tatapan Arjuna begitu lekat, sorot matanya penuh keyakinan dan itu sukses membuat jantung Jenny semakin berdebar tak menentu. Wanita itu tidak sanggup mengeluarkan kata-kata apapun di hadapan Arjuna, lidahnya pun kelu melihat keseriusan Arjuna mengakui niatan cintanya yang disaksikan oleh Linda dan juga Verlita.
"Menikahlah denganku Jenny Florencia."
Arjuna berbisik tepat di telinga Jenny,seolah tak menghiraukan keberadaan Linda dan juga Verlita.
Bisikkan Arjuna begitu mesra dan sensual di telinga Jenny. Wanita manapun tidak akan sanggup menolak pesona Arjuna.
Jenny tidak menjawab bisikkan Arjuna, dia hanya menyodorkan jari manisnya di hadapan Arjuna mengisyaratkan perintah untuk menyematkan cincin yang Arjuna bawa.
"Bantu aku memakai cincinnya Arjuna."
Jenny menegaskan keputusannya sambil menatap Arjuna lekat.
Hati Arjuna sangat bahagia mendengar pernyataan Jenny, lalu cincin tersebut berhasil disematkan di jari manis Jenny. Kemudian Arjuna meraih tangan Jenny, mencium punggung tangan Jenny penuh perasaan cinta yang mendalam.
Arjuna masih menggenggam jemari Jenny, namun pandangannya beralih menatap wajah cantik Jenny, menatapnya penuh perasaan cinta.
"I Love You."
Ucap Arjuna dengan nada yang begitu lembut setelah berhasil mencium tangan Jenny. Hati Jenny seperti dipenuhi oleh kupu-kupu cinta yang sudah siap terbang melayang.
••••
Yang suka part ini like and comment yah 😉