
Seorang wanita cantik berambut panjang coklat curly dengan bulu mata yang sangat lentik semakin memperindah pesonanya.
Kedua bola mata Jenny tak hentinya bergerak ke atas dan bawah, tatapannya fokus menatap desain hasil karyanya. Sesekali Jenny merasa tidak puas akan hasilnya sendiri. Diamati lagi, dibentuk lagi, sampai wanita itu merasa puas sendiri.
Tak pernah disangka oleh Jenny sebelumnya kalau dia akan duduk di kursi owner butik Cla Design`. Ketulusan cinta Arjuna benar-benar mampu Jenny rasakan setelah malam itu Arjuna membawa ke apartemen miliknya, kebahagiaan Jenny kini lengkap sudah.
Urusan pernikahan antara Jenny dengan Arjuna akan dilaksanakan satu bulan lagi, kini kedua hati itu telah mantap menentukan pilihannya. Harapan Jenny pernikahan yang kedua ini akan menjadi tempat akhir melabuhkan hatinya, ribuan harapan sudah Jenny sematkan disana.
Pernikahan dengan nuansa romansa yang akan terasa sangat berbeda dari sebelumnya, kehadiran kedua krucil yang membuat hati Jenny merasa lebih bahagia.
Kedua malaikat kecil itu seperti memberikan semangat lebih untuk Jenny. Tidak ada dendam, tidak ada cemburu dari hati Jenny terhadap mendiang Claudia.
Jenny tulus menerima Clarisa sebagai putrinya, bahkan nama butik Cla Design` tidak berganti dengan nama lain, karena Jenny sudah mampu berdamai diri dengan semua tentang masa lalu Arjuna.
Biarlah yang telah terjadi biarlah terjadi. Peluk lukanya hingga semua yang menurutmu pahit terasa biasa saja. Berdamailah dengan kenyataan jika hidupmu ingin damai.
Jenny menyeka keringat di dahinya. Menuangkan imajinasi ke dalam secarik kertas. Ternyata menggambar pun membutuhkan energi, hingga Jenny merasa sedikit lelah.
"Mamih!"
Seru anak kecil usia enam tahunan saat memasuki ruang kerja Jenny.
"Mamih, Clarisa kangen mamih."
Clarisa langsung memeluk Jenny, menjatuhkan tubuhnya di pangkuan Jenny. Sementara Jenny merasa aneh akan panggilan Clarisa terhadapnya, memanggil Jenny dengan sebutan 'mamih'.
"Clarisa gak salah panggil tante dengan panggilan mamih?"
Akhirnya pertanyaan itu keluar dari bibir Jenny.
"Nggak."
Jawab Clarisa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jangan-jangan papih yang nyuruh Clarisa manggil tante mamih."
Jenny berusaha menerka-nerka sambil memandang ke arah Arjuna yang masih berdiri di pintu ruangan Jenny.
"Tidak mih. Papih gak nyuruh Clarisa manggil tante barbie dengan sebutan mamih. Clarisa cuma anggap tante barbie seperti mamih, duduk di kursi ini sambil gambar-gambar, mirip sekali sama mamih."
Senyum pun terbit dari bibir Jenny sambil mengelus pipi Clarisa lembut.
"Apa boleh Clarisa panggil tante barbie itu mamih?"
Mendengar pertanyaan Clarisa membuat hati Jenny tersentuh, merasakan rasa haru tak terkira.
Selama ini Jenny tidak pernah memaksakan Clarisa untuk memanggilnya dengan sebutan seorang ibu seperti mamah, mamih, dan lainnya.
Jenny hanya ingin memberikan ruang untuk Clarisa senatural mungkin, tidak ingin ada unsur paksaan terhadap Clarisa untuk menerimanya sebagai ibu sambung.
"Tentu sayang, tentu boleh."
Kedua bola mata Jenny berkaca-kaca.
Anak perempuan Arjuna sudah memberikan ikatan batin kasih sayang tersendiri untuk Jenny.
"Hore! Clarisa akhirnya punya mamih lagi."
Anak Arjuna yang satu ini riang tak terkira.
"Sini duduk sama mamih."
Jenny menarik tubuh Clarisa untuk duduk di pangkuannya, walau sedikit kesulitan karena tubuh Clarisa terus tumbuh semakin tinggi.
"Mamih gambar baju pengantin ya mih?"
Tanya Clarisa setelah melihat desain milik Jenny.
"Iya sayang."
Jawab Jenny singkat.
"Mih, apa boleh Clarisa minta dibuatin baju pengantin buat Clarisa?"
Pertanyaan Clarisa membuat Jenny sedikit terkekeh. Mungkin maksud Clarisa baju pesta anak-anak.
"Memangnya Clarisa mau nikah sama siapa hayo?"
Jenny semakin menggoda Clarisa.
Arjuna langsung menimpali pertanyaan Jenny hingga membuat gelak tawa di ruangan itu, namun tidak dengan Clarisa, dia justru cemberut merasa kesal akan ucapan papihnya.
"Anak papih gak boleh ngambek."
Kilah Arjuna, berusaha menormalkan suasana hati putrinya.
"Kamu sih mas bikin Clarisa marah ajah."
Tiba-tiba telinga Arjuna seperti tersambar petir di siang bolong mendengar panggilan 'mas' dari bibir Jenny.
"Tadi manggil apa kamu Jenn?"
Arjuna kembali memastikan, ingin mendengarnya lagi.
"Mas, mas Arjuna, mas Juna. Apa kamu keberatan?"
Jenny menekankan kembali. Kemudian Arjuna melangkahkan kakinya, berdiri di samping Jenny.
"Tidak honey. Aku suka mendengarnya."
Bisik Arjuna tepat di telinga Jenny hingga Jenny merinding akan bisikkan Arjuna.
"Papih sana! Jangan dekat-dekat mamih!"
Tangan kecil Clarisa tiba-tiba memukul lengan Arjuna.
"Kalau Clarisa mau dibuatin baju pengantin ada syaratnya dulu dong."
Jenny berusaha melerai situasi.
"Apa mih?"
Clarisa langsung antusias.
"Baikan dulu sama papih."
Sebenarnya Clarisa masih ada rasa kesal pada papihnya, tapi demi baju pengantin yang diidamkannya membuat Clarisa mengaitkan jari kelingkingnya dengan kelingking Arjuna.
"Nah gitu dong, anak pintar."
Puji Jenny untuk putri cantiknya.
"Akhirnya Clarisa mau dibuatin baju dari mamih. Dulu mamih Clarisa berjanji pulang dari Jerman akan membuatkan baju untuk Clarisa tapi mamih malah bobo gak bangun-bangun lagi. Papih bilang kalau mamih sudah diambil Tuhan."
Nyeri sekali hati Jenny mendengar keluh kesah Clarisa. Jenny ikut prihatin akan kepergian Claudia, dia merasa semakin tidak tega pada Clarisa.
"Jangan sedih sayang, karena mamih barbie yang akan menepati janji mamih Claudia untuk Clarisa."
Ucap Jenny sambil mengelus puncak kepala Clarisa.
"Dulu Clarisa menyangka Tuhan itu jahat udah ambil mamih Clarisa, tapi sekarang Clarisa tahu Tuhan itu baik sekali sama Clarisa, udah ngasih mamih barbie buat Clarisa."
Jenny tersenyum bahagia mendengar celotehan putri Arjuna, begitupun dengan Arjuna yang merasa bahagia tak terkira mendapatkan Jenny yang mampu menyatu dengan putrinya.
Arjuna meraih bahu Jenny, memeluknya erat dari belakang kursi Jenny dalam posisi berdiri dengan tubuh yang condong di leher Jenny.
Pria itu bergelayut manja disana, lalu mengecup pipi Jenny sesaat, tidak ingin diketahui oleh Clarisa yang masih berada di pangkuan Jenny.
"I love you Jenny. Aku bahagia memilikimu sayang."
Bisik Arjuna tepat di telinga Jenny, mengungkapkan perasaan bahagianya saat ini.
Pria itu semakin tak sabar ingin segera mengikat Jenny dalam ikatan pernikahan, agar tidak dibayang-bayangi rasa takut kehilangan akan Jenny, dan yang pasti agar dia lebih bebas menyentuh Jenny ke titik manapun.
Pikiran kotor Arjuna sering muncul jika menatap Jenny lebih lama, dia tak kuasa menahan hasratnya. Pesona Jenny sangat luar biasa di mata Arjuna.
"Love you too Arjunaku."
••••
Peluk lukanya hingga sakit itu tak lagi terasa,
hingga luka itu terdengar biasa.
Miss Viona~