
Derap langkah kaki seorang pria gagah yang masih mengenakan setelan formal terdengar tergesa-gesa saat memasuki rumah megah miliknya. Kedua netranya mencari-cari seseorang di rumah tersebut, namun seseorang itu belum juga dia temukan.
Pria tampan dan gagah itu tidak lain Frans Wicaksana. Dia sudah tidak sabar ingin menemui Alea setelah hasil DNA itu dia terima dari sekertaris di kantornya. Frans sudah berpesan pada pihak rumah sakit untuk mengirimkan hasilnya langsung ke kantor Frans.
Gurat emosi sudah nampak di wajah Frans setelah melihat hasil tes DNA sejak tadi siang. Ingin sekali Frans langsung menemui Alea siang itu juga, namun Frans tidak bisa meninggalkan kantor karena ada meeting perusahaan bersama beberapa investor dan juga team audit.
Setelah mengetahui kelicikan yang dilakukan oleh Alea, ternyata Frans mengerahkan team investigasi untuk menyelidiki keuangan perusahaan. Hasilnya Frans sudah memecat beberapa karyawan yang sudah memanipulasi beberapa data vendor yang bekerja sama dengan perusahaan Frans.
Mereka yang dipecat mengungkapkan alasannya yang merasa dibawah tekanan nyonya Wicaksana yaitu Alea. Apapun alasan yang mereka ungkapkan tidak menyurutkan keinginan Frans untuk menuntut balik karyawannya secara hukum. Begitupun dengan Alea yang sudah bertindak terlalu jauh.
"Alea!"
Panggil Frans dengan nada penuh emosi.
"Alea! Dimana kamu?"
Frans kembali berteriak hingga membuat Poppy terkejut mendengar teriakan ayahnya.
"Ayah kenapa?"
Tanya Poppy yang masih berdiri ketakutan di pintu kamarnya.
Frans merasa malu di hadapan Poppy, dia tidak ingin emosinya terlihat oleh putrinya.
"Mamah mana sayang?"
Frans melangkah menghampiri Poppy sambil berjongkok di hadapan putrinya, berusaha menyamakan tingginya dengan tinggi badan Poppy.
"Mamah pelgi Yah."
Alea memang tidak betah di rumah sampai mengabaikan putrinya.
Jangan-jangan dia menemui pria itu lagi.
Batin Frans mulai curiga akan kepergian Alea.
"Kayaknya ayah lagi malah sama mamah ya?"
Poppy berusaha menerka-nerka raut wajah Frans dengan gaya bahasa cadelnya yang menggemaskan.
Batin Frans terasa begitu nyeri melihat putrinya yang tumbuh cantik dengan rambut hitam panjang berponi. Harus diakui kalau paras Alea memang cantik, kalau tidak mana mungkin Poppy akan menuruni kecantikan Alea.
Bukan main rasa sakit hati Frans setelah dia tahu kalau dari hasil tes DNA terbukti bahwa Poppy bukanlah darah daging Frans. Itu yang semakin membuat sesak hati Frans, dan kini anak perempuan itu justru sudah menganggapnya ayah kandungnya sendiri.
"Tidak sayang, ayah tidak marah sama mamah."
Kilah Frans di hadapan Poppy.
"Telus kenapa ayah teliak-teliak?"
Kali ini Frans merasa tersudut oleh pertanyaan Poppy.
"Ayah hanya tidak sabar ingin bertemu dengan mamahmu sayang. Ada urusan orang dewasa."
Akhirnya Frans berusaha berterus terang di hadapan Poppy sambil mengelus puncak kepala Poppy.
"Oh gitu ya Yah."
"Iya sayang. Ya sudah kita nonton kartun saja yuk."
Akhirnya Frans mengajak Poppy ke ruang TV, berusaha mengalihkan perhatian Poppy.
•••
Sekitar pukul tujuh malam Alea akhirnya pulang, entah dari mana wanita itu pergi? Yang jelas dia tidak izin terlebih dahulu kepada Frans.
"Mas sudah pulang?"
Alea berusaha semanis mungkin di hadapan Frans. Namun pria itu tetap diam tidak ingin menjawab pertanyaan istrinya.
"Poppy mana mas?"
Alea kembali bertanya pada Frans setelah melihat Frans yang baru saja keluar dari kamar putrinya. Rupanya Poppy sudah tertidur pulas setelah menonton acara kartun bersama Frans.
"Sudah tidur."
Hanya itu jawaban Frans. Kemudian dia menarik lengan Alea dengan paksa, membawa Alea ke kamar utama yang terletak di lantai dua.
"Kamu kenapa sih? Ada apa denganmu Frans?"
Alea merasa aneh akan sikap Frans. Lengan Alea sedikit terasa nyeri akibat tarikan paksa dari Frans.
"Ini apa mas?"
Alea masih tidak mengerti akan tindakan Frans.
"Buka saja."
Frans menyuruh Alea segera membuka isi amplop tersebut.
Pelan-pelan Alea membuka amplopnya. Ternyata amplop tersebut berisikan surat yang menyatakan bahwa hasil tes DNA milik Poppy tidak sama dengan DNA milik Frans. Itu membuktikan bahwa Poppy bukanlah anak kandung Frans.
"Kamu jahat mas, kamu sudah meragukan Poppy. Bisa jadi hasil tes ini tidak akurat."
Sebisa mungkin Alea berkilah di hadapan Frans, masih berusaha meyakinkan Frans kembali.
"Dengarkan ini Alea, nanti kita akan tahu siapa yang lebih jahat?"
Frans meraih ponsel dari saku celananya.
"Apa kabarmu honey? Lama tidak bertemu."
Rupanya Frans mulai memutar hasil rekaman dialog antara Bagas dengan Alea beberapa hari lalu.
Sepenggal kalimat yang diucapkan Bagas barusan sangat mengusik ketenangan Alea.
Alea sangat mengenali suara tersebut. Sementara binar mata Frans seperti berucap :
Kenapa terkejut?
Dari mana aku tahu semuanya?
Pandangan Frans jelas menyudutkan Alea.
"Tidak Frans, bukan seperti itu. Sama sekali bukan niatku."
Linang air mata mulai berderai di pipi Alea. Hatinya terasa sesak disudutkan oleh Frans. Pantas saja beberapa hari lalu Frans sudah mengabaikan dirinya.
"Kalau tidak ada niatmu untuk menipuku sejak awal, lalu bagaimana dengan ini?"
Frans kembali melemparkan satu amplop coklat berisi dokumen perusahaan. Beberapa bukti transaksi keuangan dan buku tabungan atas nama Bagas ada disana. Habis sudah hidup Alea malam ini.
"Maafkan aku mas. . . Maafkan aku."
Isak tangis Alea mulai terdengar setelah dia membuka dan membaca isi dokumen. Alea sudah tidak mampu lagi mengelak dengan semua bukti yang Frans hadirkan di hadapan Alea.
"Setelah sekian lama aku baru tahu semua kebusukanmu Alea. Bodohnya aku yang terlalu percaya padamu, hingga aku harus mengorbankan Jenny hanya demi perempuan seperti kamu."
Rahang wajah Frans mulai mengeras.
"Aku akui awalnya aku hanya ingin memanfaatkanmu saja Frans, tapi semakin aku mengenalmu lebih dalam, aku semakin mencintaimu."
Kali ini apa yang dikatakan oleh Alea memang benar kalau hatinya hanya untuk Frans, hanya saja Alea mulai merasa sulit untuk melepaskan diri dari cengkraman Bagas.
"Kamu pikir aku akan percaya dengan pernyataan cinta palsumu? Kamu hanya menginginkan materi dariku saja Alea!"
Frans masih terus mencecar Alea. Hatinya belum puas menyudutkan posisi Alea.
"Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku Frans? Aku benar-benar menyesal. Bahkan aku pun ingin sekali lepas dari cengkraman dan ancaman Bagas."
Frans hanya tersenyum smirk mendengar permohonan Alea, lalu langkah Frans semakin mendekat ke arah Alea dan berbisik.
"Kamu harus pergi dari kehidupanku, sebelum aku menyeretmu ke ranah hukum akibat kelicikan data perusahaan yang telah kamu lakukan bersama Bagas."
"Lalu bagaimana dengan Poppy? Dia sudah menganggapmu seperti ayah kandungnya sendiri Frans."
Sergah Alea.
"Terserah Poppy saja mau memilih hidup bersama siapa? Tapi yang jelas saat dia memilih hidup bersamaku selamanya aku tidak akan mengenalkanmu dengan dia, saat dia tumbuh dewasa nanti. Poppy tidak pantas dididik oleh wanita seperti kamu."
Hancur sudah batin Alea mendengar ucapan Frans barusan. Linangan air mata semakin deras membasahi pipi Alea. Tidak mungkin Alea akan membawa Poppy setelah lepas dari kehidupan Frans, dapat dipastikan Alea tidak akan mampu membesarkan Poppy seorang diri. Sementara Bagas bukanlah sosok pria yang bertanggung jawab, dia justru memanfaatkan kelemahan-kelemahan Alea saat dirinya dibutakan oleh perasaannya terhadap Bagas.
"Aku ingin malam ini juga kamu pergi dari rumah ini Alea. Jangan injakkan kakimu lagi ke rumah ini."
Frans mulai mengemasi barang-barang milik Alea, tanpa belas kasih sedikitpun.
Hampir selama empat tahun berhubungan dengan Alea kini kedoknya baru terbuka. Bahkan yang lebih menyakitkan lagi Frans harus mampu menerima kenyataan kalau dirinya yang mandul. Dugaannya kepada Jenny yang sulit memiliki keturunan ternyata salah besar, justru semuanya berbalik menyerang dirinya sendiri.
••••
Like and comment ya 😉