Just My Ex Husband

Just My Ex Husband
Part 77 - Cintai aku



Setelah asyik bercengkrama di ruang TV membuat kedua anak Jenny merasakan lelah dan kantuk.


Clarisa sudah menguap dari tadi, begitupun dengan Cleo yang sudah terkulai di lengan Jenny.


"Mih, aku udah ngantuk banget. Tapi, papih belum pulang ajah sih?" gerutu Clarisa yang sudah lelah menunggu kepulangan Arjuna.


"Iya Sayang, Mamih udah coba telpon papihmu, tetap tidak ada jawaban." ungkap Jenny sambil mengelus puncak kepala Clarisa yang masih setia menempel di bahu Jenny.


"Hoammm ngantuk banget Mih." untuk kesekian kalinya Clarisa menguap. Tapi, hatinya sangat merindukan Arjuna.


"Ya udah Clarisa bobo ajah ya. Soal papih jangan khawatir, papih akan baik baik saja."


"Beneran Mih?" sergah Clarisa dengan nada bicara yang sudah melemah menahan kantuk.


"Pasti Sayang." sahut Jenny lembut.


"Ayo Mamih antar ke kamar." ujar Jenny yang mulai meletakkan Cleo di sofa. Karena, putranya sudah lelap terbawa oleh alam mimpi.


"Iya Mih."


Clarisa pun bangkit dari sofa dengan langkah yang sedikit terhuyung akibat rasa kantuk yang sudah tak tertahankan.


Dengan sabar Jenny menuntun Clarisa menuju kamar, beruntung Clarisa sudah mengenakan baju tidur setelah mandi sore tadi, sehingga Jenny tidak perlu repot repot mengganti pakaian Clarisa.


"Anak Mamih tidur yang lelap ya." ucap Jenny sambil mencium kening Clarisa.


"Jangan lupa baca doa sebelum tidur." tandas Jenny lagi sambil memasang selimut di tubuh Clarisa.


"Iya Mamih." hanya itu jawaban Clarisa. Kemudian putri semata wayang Arjuna mulai memejamkan mata.


Setelah melihat Clarisa yang sudah terlelap tidur Jenny segera mengganti lampu kamar Clarisa dengan lampu tidur, lalu dia keluar dari kamar Clarisa untuk segera memeriksa keadaan Cleo.


"Punya dua anak ternyata butuh tenaga extra." gumam Jenny sendirian sambil menggendong Cleo untuk dibawanya ke kamar.


Sekitar setengah jam Jenny sudah menyelesaikan krucil dengan alam mimpi masing-masing.


Tiba-tiba terdengar derap langkah yang memasuki ruang tengah, sementara waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun, Arjuna masih belum pulang juga.


Siapa yang sudah berani memasuki rumah Jenny diam diam?


Apalagi situasi rumah sudah gelap, karena Jenny sudah mematikan lampu ruangan, hanya lampu redup saja yang menyala di sana.


Jantung Jenny seperti mau copot, ia takut ada pencuri, ataupun orang yang berniat jahat menyelinap ke dalam rumah.


Akhirnya, Jenny memberanikan diri melangkah menuju ruang TV dengan langkah yang mengendap-endap. Bahkan Jenny sudah membawa tongkat pukulan untuk berjaga jaga.


Ruang TV yang gelap menyulitkan Jenny untuk mengenali sosok pria yang sudah berdiri di dekat sofa, Jenny pun terpaksa menyalakan kembali lampu ruangan.


Baru saja Jenny berusaha membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa pria di sana?


Tiba-tiba tangan kekar itu langsung mendekap tubuh Jenny, lalu membawa Jenny ke dalam pelukan.


"Ini aku Sayang... Arjuna, suamimu."


Jenny masih tidak percaya kalau itu Arjuna.


"Ya Tuhan, aku kira orang jahat yang menyelinap masuk ke dalam rumah." ujar Jenny sambil mengelus-elus dadanya yang sempat dibuat jantungan oleh suaminya sendiri.


"Aku pastikan tidak akan ada orang yang berani menyakiti Jenny-ku. Apalagi orang jahat." sergah Arjuna dengan lantang. Sementara batinnya mengisyaratkan ketakutan terhadap Mark.


"Jangan berisik. Anak anak sudah tidur." ucap Jenny sambil membungkam mulut suaminya. Namun, Arjuna hanya tersenyum menanggapi protes Jenny.


"Aku sangat merindukanmu Jenn." ucap Arjuna lirih, dan kembali memeluk Jenny erat. Pelukan yang seperti takut kehilangan.


"Tapi anak anak lebih merindukanmu Arjuna." sergah Jenny lagi sambil menikmati pelukan hangat Arjuna.


"Apa mereka sudah tidur Sayang?" tanya Arjuna yang masih bergelayut manja di bahu Jenny.


"Clarisa baru saja masuk kamar, dia sudah tidak sabar menunggu kepulanganmu."


Setelah mendengar informasi dari Jenny akhirnya Arjuna melepaskan pelukannya, kemudian menarik jemari Jenny untuk menemaninya melihat Clarisa di kamar.


Sesampainya di kamar Clarisa, Arjuna duduk di tepi ranjang. Pria tampan itu menatap iba putrinya yang sudah terlelap tidur.


"Maafkan Papih yang terlalu sibuk Sayang." ucap Arjuna sambil mengelus puncak kepala Clarisa, lalu mengecup puncak kepala Clarisa penuh perasaan sayang.


Sementara Jenny hanya mampu menatap haru interaksi ayah dengan anak yang sedang melepaskan kerinduan.


"Terimakasih Sayang sudah mau menyayangi Clarisa, sudah menganggap dia seperti anakmu sendiri."


Selama ini Arjuna tak pernah menyangka kalau Jenny akan benar benar tulus menyayangi Clarisa.


"Jangan pernah berpikir seperti itu, sudah seharusnya aku menyayangi Clarisa seperti rasa sayangku kepada Cleo." tutur Jenny menyampaikan ketulusan hatinya.


"Semakin hari, dan semakin lama aku semakin mencintaimu Jenn." bisik Arjuna dengan tatapan mesra ke arah Jenny.


"Cintai aku sampai kapanpun Arjuna, kita besarkan anak anak kita bersama." ucapan Jenny tidak mau kalah dari Arjuna.


"Iya Sayang." jawab Arjuna sambil mencium pelipis Jenny.


"Sekarang waktunya buat kita nambah anak lagi." bisik Arjuna lagi dengan seringai nakalnya.


Seketika Jenny mengerti kalau suaminya sedang ingin memanfaatkan kesempatan dari gangguan krucil yang sudah terlelap tidur.


••••


Aw aw aw


Cut!


😆