Just My Ex Husband

Just My Ex Husband
Part 54 - Apa kehadiran William?



Hari demi hari Jenny lalui bersama kesabaran dan keikhlasannya untuk melepas arti bahagia.


Keputusan Jenny sudah bulat ingin mengulur waktu pernikahannya bersama Arjuna, walau Arjuna masih berkeras hati ingin tetap melanjutkan pernikahan.


Tanggal pernikahan Jenny dengan Arjuna sudah terlewat. Jenny sudah memutuskan untuk mengundurkan tanggal pernikahan. Bisa dibilang sebenarnya Jenny ingin membatalkan rencana pernikahan, akan tetapi keinginannya dicegah oleh Linda dan juga Verlita. Tidak mengapa kalau tanggal pernikahan diundur, setidaknya Jenny tidak mengembalikan cincin pengikat dari Arjuna.


Memang Jenny tidak mengembalikannya pada Arjuna, namun dia juga tidak memakai lagi cincin tersebut.


Sebenarnya Jenny sudah mencoba menyerahkan cincin itu pada Arjuna, namun tetap saja Arjuna tidak ingin mengambilnya dari tangan Jenny.


"Apa kamu yakin Jenn pernikahanmu dengan Arjuna akan kamu batalkan?"


Tanya Linda yang masih mengelus rambut Jenny di pangkuannya. Wanita itu masih menganggap Jenny seperti putri kecilnya.


"Entahlah bu."


Jawaban Jenny penuh keraguan.


"Ibu harap kamu pikirkan kembali. Jangan terlalu egois dalam mengambil keputusan Jenn, pikirkan juga kehadiran Cleo."


Apa yang dikatakan Linda memang benar. Bukan hanya perkara gagal menikah saja, tapi pikirkan juga anak kandung Jenny yang hampir tiap hari selalu meminta bertemu dengan Arjuna.


Linda tidak ingin kegagalan Jenny kali ini melibatkan korban, yaitu putranya sendiri.


Kalau dulu Jenny berpisah dengan Frans tidak ada sangkut paut hubungan darah, tidak ada kehadiran seorang anak yang akan mempertanyakan kehadiran Frans.


Sekarang nyatanya Cleo kerap sekali menanyakan papahnya, walau Arjuna tiap hari datang ke rumah Jenny. Entah kenapa putra Jenny semakin sulit dipisahkan dengan Arjuna.


Mungkin Cleo sudah terbiasa dengan kehadiran Arjuna. Lagipula keputusan Jenny yang meminta Arjuna untuk meyakinkan kembali hatinya, sama sekali tidak merubah sikap Arjuna untuk menjauh dari Jenny.


Arjuna masih tetap gencar mendekati Jenny. Tiap hari dia selalu datang ke rumah Jenny, walau kedatangannya tidak Jenny hiraukan namun tetap saja tidak membuat sikap Arjuna untuk menyerah begitu saja.


"Jenny akui bu, kalau perasaan Jenny untuk dia begitu besar, tapi di satu sisi Jenny tidak ingin hidup bersama pria yang mencari bayang-bayang masa lalu."


Linda menghela nafasnya dalam, mencoba memberikan semangat untuk Jenny.


"Jenny dengarkan ibu. Perpisahan yang dialami oleh Arjuna dengan istrinya sangat berbeda dengan perpisahan yang kamu alami dengan Frans. Mereka dipisahkan oleh maut, tidak ada yang tersakiti atau menyakiti diantara mereka. Wajar kalau kemarin-kemarin Arjuna mempertanyakan kesetiaannya. Itu cukup membuktikan bahwa Arjuna bukan tipikal pria yang mudah melepas janji."


Mendengar penuturan kalimat yang diucapkan Linda barusan membuat hati Jenny terlonjak, lalu bangkit dari pangkuan ibunya. Jenny memikirkan bagaimana kelanjutan hubungannya bersama Arjuna.


"Claudia sosok wanita hebat bu. Kalau Arjuna mencari bayang-bayang Claudia dari sosok Jenny, semua itu tidak akan pernah bisa Arjuna temukan dari dalam diri Jenny."


Hati Jenny terasa perih mengatakan nama Claudia, tatapannya nanar tanpa arah.


"Semua ada porsinya Jenn. Biarlah cinta itu tumbuh semestinya, meletakkan kadar cinta sesuai takarannya. Kamu hanya perlu memikirkan bagaimana cara menerima masa lalu Arjuna, sama seperti Arjuna yang mau menerima masa lalumu. Bahkan ancaman besar hubungan kalian bukan dari sisi Arjuna, tapi justru dari kamu Jenn. Lihat Frans masih hidup, bahkan kamu pernah bilang pada ibu kalau Frans masih menginginkan kamu kembali. Apa itu bukan ancaman besar?"


Penjelasan Linda seketika menohok batin Jenny. Memang tidak ada gunanya bagi Jenny untuk berlaku cemburu pada orang yang sudah tiada, tapi biarlah semua berjalan seperti awal lagi. Jenny tidak ingin terburu-buru dalam mengambil keputusan.


"Apa keraguanmu muncul karena kehadiran William?"


Tiba-tiba Linda menanyakan tentang William pada putrinya.


"Ah tidak juga bu. Perasaan Jenny untuk William masih tetap sama seperti dulu, dia hanya sebatas sahabat yang sudah Jenny anggap seperti saudara sendiri."


Jenny mencoba menepiskan dugaan Linda tentang William. Entahlah kini hati Jenny harus berlabuh pada siapa? Jenny sendiri tidak pernah tahu harus memilih pria yang tepat untuk dia jadikan pasangan hidupnya, untuk kembali membangun harapan keduanya.


•••


Terkait perihal kontrak kerjasama dengan hotel milik Frans terpaksa harus kembali Jenny lanjutkan. Jenny tidak ingin bertindak seperti anak kecil yang tidak mampu membedakan antara profesional kerja dan urusan perasaan.


Bagaimanapun juga hotel milik Frans banyak rekomendasi dari beberapa calon klien Jenny, sehingga mau tidak mau kerjasama antara bisnis William dan juga Frans harus tetap berlanjut.


Jenny membawa beberapa dokumen kontrak perjanjian yang sudah dia printout untuk ditandatangani oleh William.


Langkah Jenny kini menyusur menaiki beberapa anak tangga, menuju ruangan kerja milik William.


Jenny yakin William ada disana, seingat Jenny pagi ini William datang dan sudah menemui Jenny dengan sapaan yang khas di hadapan meja kerja Jenny.


Tidak butuh waktu lama untuk Jenny sampai di depan pintu ruangan William, mengingat langkah kaki Jenny yang berjalan secepat kilat, persis seperti wanita karir yang tidak ingin membuang waktunya sedikitpun.


Jenny membuka pintu ruangan milik William tanpa mengetuknya terlebih dahulu, karena Jenny sudah terbiasa memasuki ruangan William. Apalagi kedekatan diantara mereka yang melebihi hubungan seorang karyawan dengan atasan, membuat Jenny merasa tidak sungkan lagi.


"Selamat pagi. . . Will. . ."


Baru saja pintu terbuka diiringi ucapan salam dari Jenny menampilkan sosok wanita yang sedang memeluk William erat disana, membuat Jenny tidak mampu melanjutkan sapaannya saat memasuki ruangan William.


Siapa wanita itu?


Batin Jenny semakin bergejolak. Menurutnya William tidak pernah bercerita tentang wanita lain pada Jenny.


Apa mungkin itu pacar William?


Tidak mungkin, William tidak pernah mempunyai pacar selama Jenny mengenalnya selama tiga tahun terakhir.


Kalau bukan pacar lalu apa? Kenapa pelukan wanita itu seerat itu pada William?


Ada desir kecewa dari lubuk hati Jenny sesaat, namun bukan kecewa karena dia cemburu pada wanita itu. Jenny hanya kecewa mengapa William tidak pernah bercerita tentang wanita lain kepada Jenny?


Beruntung Jenny tidak membuka pintu itu terbuka total, sehingga William tidak mampu menyadari kalau ada Jenny disana.


Jenny berdiri terpaku sesaat, mulutnya terbuka menganga seperti tak percaya menyaksikan pemandangan di hadapannya.


Netra Jenny beradu pandang dalam satu titik temu dengan wanita tersebut. Wanita itu menyadari kalau Jenny mengetahui kemesraannya dengan William, dia membalas tatapan Jenny bahkan mengeratkan pelukannya di pundak William.


Tatapan Jenny runtuh, tidak sanggup untuk membalas tatapan wanita itu. Pelan-pelan Jenny melangkah mundur satu langkah, lalu ditutupnya kembali pintu tersebut.


Jenny menghela nafasnya dalam setelah berhasil menutup pintu rapat-rapat.


Jenny pun masih berusaha mengatur irama detak jantungnya. Dia menyesali kecerobohannya tadi. Andai Jenny tidak langsung membuka pintu tersebut, mungkin hatinya tidak akan seperti ini.


Tuhan. . .


Apakah cinta itu tidak pernah ada untukku?


••••


Vote yah guys 😉😄