
"Malam ini saja kau denganku Jenn, jika kau ingin tahu dimana keberadaan Claudia."
"Jangan mimpi Mark!" ucap Jenny tegas.
Jenny membalikkan tubuhnya, netranya menatap Mark tajam penuh kebencian. Entah keberanian dari mana yang didapatkan Jenny?
Hati Jenny masih berusaha keras untuk tidak percaya akan semua ucapan Mark, karena Jenny yakin Arjunanya tidak akan mungkin bertindak seperti yang dikatakan Mark.
"Semakin kamu tidak mempercayaiku, semakin kau kecewa akan Arjunamu Jenny." kilah Mark masih berusaha menyudutkan nama Arjuna di hati Jenny.
"Persyetan itu semua Mark, permisi." ucap Jenny kemudian melangkah pergi meninggalkan Mark seorang diri di sana.
Jenny tidak ingin lagi mendengar apapun yang dikatakan Mark, walau sebenarnya itu terdengar menyakitkan bagi Jenny.
Benarkah Arjuna telah membohongi dirinya selama ini?
Benarkah Claudia masih hidup?
Benarkah dirinya hanya menjadi alternatif di hidup Arjuna?
Tidak mungkin Juna, kau tidak setega itu padaku.
Hati kecil Jenny berkata kata, ada sesak tak terkira di sana. Akhirnya, Jenny memutuskan untuk segera tancap gas dari tempat Mark.
Ada derai air mata yang ingin segera ia luapkan, namun sekeras mungkin Jenny tahan, karena ini bukan tempat yang aman untuk Jenny meluapkan seluruh emosi.
•••
Sekitar setengah jam perjalanan pulang, akhirnya Jenny memutuskan untuk menepikan mobil, ia mencari tempat yang pas untuk menumpahkan seluruh emosi.
Jenny melangkah keluar dari mobil setelah ia menemukan taman di sebuah area resto khas Jepang, dengan langkah tertunduk dan sesekali jemarinya berusaha menyeka air mata.
Jenny mencoba menembus lorong taman untuk mencari tempat duduk yang pas.
Energinya sudah terkuras habis tak mampu melanjutkan perjalanan pulang. Biarlah ia larut dalam sedihnya dulu, berharap setelah menangis di sana kondisinya akan sedikit lebih baik.
Rasanya ingin sekali Jenny tidak terpengaruh oleh Mark, tapi bagaimanapun juga Jenny itu wanita, tetap saja hatinya menyimpan banyak tanya untuk Arjuna.
"Selamat malam Mba."
Ternyata seorang waitress yang sudah bersiap menawarkan menu untuk Jenny.
"Malam." sahut Jenny memandang waitress itu sesaat.
"Mba, ini daftar menunya."
"Silahkan kalau mau dilihat lihat dulu." waitress itu menyodorkan dua buku menu untuk Jenny, karena list makanan dan minuman dibuat secara terpisah.
"Buatkan saya satu gelas calpis saja Mba." pinta Jenny memesan satu minuman khas Jepang kesukaannya.
"Baik Mba." ujar waitress tersebut, kemudian berlalu dari hadapan Jenny.
Jenny mulai mencari ponsel di dalam tas miliknya, sepertinya ia akan segera menghubungi Arjuna.
"Arjuna, kalau kamu tidak menjawab telponku berarti semua yang dikatakan Mark itu benar." gerutu Jenny sambil mulai menekan kontak Arjuna.
"Came on Juna, angkat telponnya." bisik Jenny lagi, bahkan nampak semakin gelisah.
Selang beberapa detik sambungan telpon akhirnya terhubung dengan Arjuna.
"Selamat malam wanitaku." dengan santainya Arjuna menjawab telpon Jenny, walau sebenarnya ia masih sibuk dengan projek akuisisi perusahaan Mark.
Rencananya hari ini Arjuna akan mengurus semua dokumen merger atas kepemilikan saham Mark di beberapa sektor bisnis.
Arjuna tidak ingin terlihat menderita di mata Jenny, sebisa mungkin ia bersikap seolah tidak sedang dalam masalah besar.
"Malam ini juga aku mohon padamu untuk pulang."
"Ada apa?"
Arjuna masih tidak mengerti dengan sikap Jenny, tak biasanya wanita itu memaksakan kehendaknya sendiri, biasanya Jenny selalu mempercayai Arjuna.
"Kita bahas setelah kamu pulang dari New York." ucap Jenny tegas lalu mematikan sambungan telpon dengan Arjuna.
Setelah meletakkan handphone di meja caffe, tangispun pecah. Raut wajah Jenny nampak berantakan, sampai sampai Jenny menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Benarkah Claudia masih hidup?" bisik Jenny, masih dalam posisi menutup wajahnya.
Tiba-tiba saja ada tangan yang menggenggam erat bahu Jenny dari belakang, orang tersebut seperti sangat mengerti akan kegelisahan Jenny.
"Menangislah Jenn." bisiknya pelan, lalu pria itu mengambil posisi duduk di samping Jenny.
"Frans."
Jenny tercengang menatap pria yang tiba-tiba saja datang, Frans seolah sangat tahu kemana pergerakan dirinya.
"Apa kamu mengikutiku Frans?"
"Iya."
Hanya itu jawaban Frans, lalu Frans memeluk bahu Jenny.
"Aku merasa sesuatu yang tidak beres terjadi padamu, maafkan aku kalau aku sudah lancang mengikutimu."
"Tak seharusnya kamu bertindak seperti ini Frans." sergah Jenny sambil menepiskan tangan Frans yang menempel di bahu Jenny.
"Ada masalah apa Jenn?" tanya Frans yang merasa tidak tega melihat Jenny menangis sendirian di meja caffe.
Frans masih sangat mengerti bagaimana kuatnya Jenny, ia tidak tega melihat mantan istrinya dalam situasi seperti ini.
"Pernikahan kita memang sudah selesai, tapi tidak ada salahnya kalau kita menjadi teman baik."
"Ayo cerita, ada apa?" bujuk Frans lagi, sementara Jenny hanya menggeleng pelan.
Ingin sekali Jenny tumpahkan rasa sedih itu, namun ia masih bersikeras tak ingin melakukannya di samping Frans.
"Menangislah Jenny, jika itu membuatmu sedikit lebih baik." bujuk Frans.
Tangispun pecah, Jenny kembali menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
"Apa takdirku harus selalu menjadi yang kedua atapun diduakan Frans?" tanya Jenny tersedu.
Pikiran Jenny melayang jauh, seperti memutar kembali pernikahannya dulu bersama Frans. Ia diduakan oleh Frans, dan sekarang ia menjadi yang kedua di hidup Arjuna.
"Apa Arjuna melakukan hal yang sama denganku dulu?"
Jenny tak ingin bicara lebih banyak lagi, ia hanya ingin menangis di sisi Frans.
Frans yang merasa sangat tidak tega pada Jenny, membuat nalurinya tanpa sadar ingin menenangkan Jenny, membawa Jenny ke dalam pelukan Frans.
.
.
.
Cekrekkkk!
Rupanya seseorang telah mengambil foto mereka yang sedang berada dalam situasi drama kesedihan, namun terlihat sempurna menampakkan kedekatan diantara mereka berdua.
••••