
Sekitar pukul sembilan malam Arjuna pulang ke rumah mamahnya bersama Clarisa. Arjuna tidak ingin membawa Clarisa ke apartemennya selain hari libur. Putri kecilnya sudah terlelap tidur sejak perjalanan pulang dari rumah Jenny.
Tubuh Clarisa sudah tak kuasa menahan lelah akibat aktivitas bermain bersama Cleo. Bocah laki-laki itu sangat riang bermain bersama Clarisa, walau tak jarang tangan usilnya selalu berusaha menjambak rambut Clarisa. Mungkin itu balasan Clarisa yang selalu memainkan rambut sang mamah Cleo.
Derap langkah Arjuna begitu pelan menggendong tubuh putrinya, padahal Arjuna ingin sekali menginap di rumah Jenny, tapi dia ingat pesan mamahnya Verlita yang tidak pernah mengizinkan cucu kesayangannya sembarang menginap di rumah orang lain. Selain itu juga jarak sekolah Clarisa dengan rumah Jenny sangat jauh, sehingga Arjuna takut kalau besok pagi putrinya akan terlambat datang ke sekolah.
Langkah Arjuna menyusur ke kamar Clarisa, meletakkan putrinya di kasur bermotif barbie, kemudian mengganti pakaian Clarisa dengan baju tidur. Selesai mengganti pakaian, Arjuna menarik selimut untuk putrinya lalu mengecup dahi Clarisa penuh perasaan sayang yang mendalam.
"Goodnight bidadariku, mimpi indah sayang."
Ucap Arjuna sembari menyentuh puncak kepala Clarisa.
•••
Baru saja Arjuna mematikan lampu utama kamar Clarisa, tiba-tiba Verlita datang menghampirinya. Rupanya mamah Arjuna belum tidur, sengaja menunggu kepulangan putranya. Seperti ada hal yang ingin dibicarakan serius dengan Arjuna.
"Mamah perlu bicara denganmu Jun."
Hanya itu yang terucap dari bibir Verlita, kemudian langkahnya menuju ruang makan, mengisyaratkan Arjuna untuk mengikutinya.
Arjuna menarik salah satu kursi yang berseberangan dengan posisi duduk Verlita.
"Ada hal penting apa mah?"
Tanya Arjuna setelah berhasil duduk berhadapan dengan mamahnya.
"Mamah ingin membicarakan hal yang serius sama kamu Jun, tapi mamah harap kamu tidak akan marah."
Arjuna sangat kebingungan dengan pernyataan mamahnya barusan. Membuat Arjuna penasaran. Apa yang akan disampaikan oleh Verlita? Sepertinya bukan hal sepele yang menyangkut dirinya.
"Bilang saja mah."
Arjuna memberikan kesempatam untuk Verlita menuturkan persoalan yang harus disampaikan pada putranya.
"Tadi siang ibu mertuamu Alya datang ke rumah, menemui mamah."
Arjuna masih diam, memberikan kesempatan mamahnya untuk menuturkan kalimatnya. Biasanya ibu mertuanya sering datang ke rumah Verlita untuk menemui Clarisa, tapi kali ini terdengar seperti tidak biasa bagi Arjuna.
"Kamu tahu keponakan Claudia yang bernama Meyriska?"
Verlita melanjutkan kalimatnya.
"Iya mah tahu. Memangnya ada apa dengan Meyriska?"
Sahut Arjuna yang masih penasaran.
"Alya datang kesini berniat melanjutkan ikatan persaudaraan keluarga kita, melalui Meyriska."
Arjuna masih tak mengerti dengan maksud yang disampaikan Verlita.
"Maksud mamah apa?"
Verlita hanya tersenyum kecil.
"Ibu mertuamu meminta kamu menikah dengan Meyriska, agar jalinan keluarga yang sudah terbangun diantara keluarga kita masih tetap berlanjut."
Hati Arjuna tersentak mendengar penjelasan Verlita. Arjuna terkejut bukan main, bisa-bisanya Alya datang ke rumah menawarkan ide yang menurut Arjuna sangat konyol.
"Lalu mamah memberikan tanggapan apa kepada mamah Alya?"
Arjuna masih berusaha untuk tetap tenang di hadapan Verlita.
"Mamah bilang pada mertuamu apa salahnya kalau kita coba."
Mendengar jawaban Verlita tiba-tiba hati Arjuna gusar, mengacak rambutnya kasar. Baru saja cintanya terbalas oleh Jenny, kini keyakinan Arjuna harus diuji.
"Kenapa mamah tidak bilang terlebih dahulu padaku?"
Terlihat gurat kecewa dari wajah Arjuna terhadap sang mamah.
"Maafkan mamah Jun, mamah merasa tidak enak dengan mertuamu."
Verlita memang berada dalam posisi yang sulit saat bertemu dengan Alya. Satu sisi Verlita tahu keluarga Alya bukanlah dari kelas sembarang. Mereka keluarga baik-baik dan terhormat, tentunya ikatan keluarga harus tetap terjalin. Meyriska pun setahu Verlita adalah gadis yang baik, menurutnya Meyriska pantas untuk bersanding dengan putranya.
"Apa rumah tangga itu bisa dibangun dari perasaan tidak enak mah? Disini aku yang menjalani bukan mamah."
Arjuna mulai geram akan keputusan Verlita. Keputusan sepihak tanpa komunikasi terlebih dahulu dengannya.
"Maafkan mamah nak. Mamah pikir kamu akan setuju dengan niatan Alya. Lagipula Meyriska gadis yang baik, secara fisik pun dia cantik, perawan pula."
Rentetan alasan yang dikemukakan Verlita masih tetap tidak merubah keputusan Arjuna untuk menolak ide perjodohan itu.
"Kalau mau mencari perawan, satu malam pun Juna bisa membeli perawan segudang. Disini bukan hanya soal itu yang Juna cari mah."
Verlita semakin merasa bersalah mendengar penolakan putranya.
"Lalu bagaimana mamah menolak keinginan Alya?"
"Mamah bilang saja kalau Juna sudah menemukan pilihannya. Itu cukup jelas menurut Juna."
Sekilas terbayang wajah Jenny di benak Arjuna. Apapun keadaanya Arjuna tidak akan menyerah begitu saja, dia akan tetap memperjuangkan cintanya bersama wanita yang sudah tepat mengisi ruang kosong di hatinya.
"Kalau mamah tidak berani bilang, biar Juna sendiri yang bilang pada mamah Alya."
Arjuna kembali menegaskan kalimatnya, dengan nada sedikit mengancam.
"Tidak Jun. Biar mamah sendiri nanti yang bilang, tapi mamah butuh waktu untuk mengabarkan ini pada Alya."
Verlita tidak ingin merusak suasana hati Alya untuk saat ini. Alya begitu jatuh hati pada menantu idamannya. Sangat disayangkan jika Arjuna menjatuhkan pilihannya pada keluarga lain.
"Baiklah terserah mamah saja, yang jelas aku sangat menolak perjodohan ini."
Arjuna menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, seperti tidak ingin mendengar alasan-alasan yang bersifat memaksa.
"Apa semua ini karena tante barbie Jun?"
Verlita masih ingat akan wanita yang diceritakan Arjuna beberapa hari lalu.
"Iya mah."
Jawab Arjuna singkat.
"Apa dia sudah mau menerimamu?"
Verlita semakin penasaran akan perkembangan hubungan asmara putranya.
"Sekitar tiga hari yang lalu Jenny sudah komitmen dengan Arjuna."
Netra Verlita berbinar ketika putranya menyebutkan nama sebenarnya tante barbie.
"Ehm... Jenny dan Juna. Nama pasangan yang unik."
Mamah Arjuna mengembangkan senyumnya, sedikit menggoda putranya.
"Mamah jangan kaget kalau Jenny sudah melahirkan anak Arjuna."
Senyuman Verlita seketika sirna setelah mendengar pengakuan Arjuna barusan.
"Berapa usia anakmu dengan Jenny?"
Verlita langsung menanyakan usia anak kedua Arjuna. Batinnya ingin memperkirakan kapan peristiwa itu terjadi.
"Dua tahun lebih mah."
Mamah Arjuna mengangkat jari telunjuk dengan jari tengahnya, menghitung usia putra Arjuna yang sudah dua tahun lebih, kalau ditambah masa hamil Jenny berarti sekitar tiga tahun yang lalu hubungan itu terjadi.
"Kamu sudah menghianati Claudia Jun. Jika anak keduamu berusia dua tahun dan masa hamil anggaplah satu tahun, itu artinya kamu diam-diam berselingkuh. Kepergian Claudia sudah hampir tiga tahun."
Verlita semakin geram akan tingkah putranya.
"Tidak mah, sama sekali tidak. Cinta Arjuna masih terjaga dengan tulus untuk Claudia."
"Lalu kenapa kamu bisa melakukan hubungan suami istri dengan Jenny?"
Mamah Arjuna memotong penjelasan putranya.
"Peristiwa itu terjadi sekitar satu minggu setelah pemakaman Claudia. Arjuna tak kuasa menerima kenyataan pahit, Arjuna selalu ingin mengingkari kematian Claudia dengan menghabiskan waktu Arjuna di club malam. Hingga malam itu Arjuna melakukannya bersama Jenny di bawah pengaruh alkohol."
Tatapan Arjuna nyalang, menatap langi-langit ruangan, seperti menggambarkan peristiwa panas tiga tahun yang lalu.
"Kenapa putra mamah menjadi sosok pengecut? Tidak mau bertanggung jawab akan perbuatannya terhadap Jenny."
Verlita benar, harusnya Arjuna tidak membiarkan Jenny susah payah menghidupi anaknya seorang diri.
"Arjuna sudah berusaha menawarkan tanggung jawab Arjuna kepada Jenny, tapi dia hanya bilang kalau dia wanita mandul, tidak ada yang perlu dipertanggung jawabkan. Jenny justru meminta Arjuna untuk melupakan semua yang telah terjadi. Sementara Arjuna yang masih dibayang-bayangi rasa bersalah terhadap Claudia membuat Arjuna sedikit tidak yakin untuk menikahi Jenny."
Mendengar penjelasan putranya Verlita hanya mampu menghela nafasnya dalam.
"Anak Jenny laki-laki atau perempuan Jun?"
Sepertinya mamah Arjuna sudah tidak ingin membahas lebih lanjut lagi. Bagaimanapun Verlita adalah sosok wanita yang bijaksana, baginya yang perlu diperbaiki adalah tentang masa depan putranya.
"Laki-laki. Ivan bilang wajahnya sangat mirip dengan Juna."
Arjuna tertunduk setelah menjawab pertanyaan Verlita.
"Tebus tanggung jawabmu di masa lalu sebagai ayah. Keluarga kita butuh penerus untuk kelangsungan bisnis kita, mamah harap kamu mengerti."
Tidak ada pilihan lain lagi bagi Verlita. Bagaimanapun Verlita sosok perempuan, dia tidak bisa membayangkan bagaimana sulitnya Jenny membesarkan putranya tanpa sosok pria di sampingnya. Itulah yang membuat hati Verlita terasa sesak juga kecewa akan putranya yang telah membiarkan Jenny menghadapi semuanya sendiri, ironisnya semua itu akibat ulah Arjuna.
••••
Semoga kalian suka 😉