
Sekitar pukul tujuh malam Frans bersama keluarga kecilnya sampai di rumah. Frans yang merasa lelah menyetir mobil, langsung menghempaskan tubuhnya di sofa, tidak mempedulikan Alea dan juga Poppy.
Alea sudah memasang mimik wajah yang siap meledak di hadapan Frans, namun Frans masih tetap berpura-pura seolah tidak mengerti dengan rasa cemburu yang dirasakan Alea sejak sore tadi. Frans sudah malas meributkan hal-hal sepele tentang Jenny, sudah terlalu sering Alea melampiaskan emosi akibat rasa cemburu pada istrinya dulu.
"Apa yang kalian bicarakan sore tadi?"
Alea bertanya dengan begitu entengnya setelah ikut duduk di samping Frans. Sementara Poppy sudah dibawa oleh bi Irah untuk segera mengganti pakaiannya.
"Alea, tolong tidak usah memulai keributan lagi."
Frans tidak ingin memulai keributan lagi dengan istrinya, dia masih tetap dalam posisi duduk bersandar di sofa.
"Kamu pikir aku tidak tahu kalau tadi sore kamu bertemu dengan mantan istrimu."
Alea semakin geram. Frans hanya mampu menghela nafasnya dalam, kemudian bangkit dari sofa meninggalkan Alea.
"Aku sedang bicara padamu mas!"
Alea ikut bangkit dari duduknya dengan rahang yang sudah mengeras, lalu Frans menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ke arah Alea.
"Kamu semakin hari semakin berani saja Alea."
Sorot mata Frans tajam, mulai terpenuhi emosi. Kesabarannya sudah habis untuk menghadapi Alea yang semakin murka di hadapannya. Apa yang dikatakan oleh Frans memang ada benarnya, selama ini Alea semakin berani mengatur-ngatur Frans, semakin berani menuntut meminta apapun yang harus dituruti oleh Frans. Merasa mendapatkan dukungan sepenuhnya dari Lina, sang ibu mertua, membuat Alea semakin tidak tahu diri.
"Aku bisa merasakan bagaimana perasaanmu terhadap Jenny. Sorot mata kamu masih berbinar saat bertemu dengannya Frans. Tega kamu!"
Frans sudah menduga kalau Alea akan membahas lagi tentang Jenny.
"Ya, aku masih mencintainya."
Tanpa ragu Frans mengakui perasaannya untuk Jenny di hadapan Alea. Setelah sekian lama hidup bersama Alea, membuat Frans semakin mengenal Alea lebih dalam lagi. Tak jarang dalam benak Frans sering membandingkan sikap antara Alea dan Jenny. Jika mengingat akan hal itu rasanya hancur sudah perasaan Frans, sudah melepaskan Jenny dan lebih memilih Alea.
"Apa aku tidak secantik dia mas?"
Kini nada bicara Alea tidak sekeras tadi, hatinya sangat terluka mendengar suaminya yang menyatakan cinta untuk wanita lain.
"Sikap kamu yang membuat cantikmu hilang."
Frans mendekat ke arah Alea, menegaskan ucapannya tepat di hadapan wajah sang istri.
"Apa yang harus aku lakukan untuk bisa mengembalikan semua perhatianmu seperti dulu?"
Alea menangis, buliran bening sudah membasahi pipinya. Sakit sekali hati Alea mendengar pengakuan Frans.
"Perhatian yang seperti apa Lea? Bukankah dulu perhatianku tetap pada Jenny juga, sama sekali tidak ada niatanku untuk menceraikan dia. Semua ini terjadi karena Jenny yang tidak ingin aku madu."
"Lagi pula masih ada yang perlu aku selidiki tentang anak Jenny. Aku yakin waktu itu dia mengandung anakku."
Frans teringat saat pertemuan dua tahun lalu, yang mengakibatkan lahirnya Cleo secara prematur.
Mendengar ucapan Frans hati Alea terlonjak.
'Tidak mungkin Jenny memiliki anak dari Frans. Tidak mungkin!'
Ingin sekali Alea berkata seperti itu, tapi dia juga memikirkan posisi Poppy. Bagaimana kalau nanti akhirnya Frans yang justru meragukan darah dagingnya?
"Atas dasar apa kamu meyakini anak Jenny adalah anakmu?"
Hanya pertanyaan itu yang mampu terlontar dari bibir Alea.
"Dua tahun yang lalu aku bertemu dengan Jenny, dia sedang mengandung. Saat itu juga dia harus melahirkan bayi dalam kondisi prematur. Usia kandungannya saat itu sudah menginjak delapan bulan, tepat delapan bulan setelah proses ceraiku dengan Jenny."
Alea terkejut mendengar pengakuan Frans, entah siapa yang harus Alea percaya? Sementara pengakuan Jenny saat bertemu di Cla Design` mengaku anaknya adalah benih dari pria lain.
"Kamu yakin itu darah dagingmu? Bisa saja Jenny melakukannya dengan pria lain."
Frans sangat geram akan ucapan Alea, di mata Frans Jenny tidak mungkin melakukan perbuatan serendah itu selama masih sah menjadi istrinya.
"Jaga bicaramu Alea, jika kamu masih ingin hidup senang."
Frans mengeratkan rahangnya di hadapan Alea, kemudian dia pergi ke kamar meninggalkan Alea di ruang tengah seorang diri.
Wanita itu kembali terkulai lemas di sofa, meratapi nasibnya yang belum juga mampu menghapuskan nama Jenny di hati suaminya. Padahal rumah tangga mereka sudah menginjak tiga tahun lamanya, tapi mengapa sulit bagi Alea untuk menjadi wanita Frans seutuhnya.
Ponsel milik Alea berdering, menampilkan notifikasi pesan whatsapp. Alea membuka pesan tersebut dari nomor yang tidak dikenal.
:: XXX ::
Tiga tahun sudah berlalu, sudah saatnya kamu menguasai aset yang Frans miliki.
Kembalilah bersamaku Alea.
07:05 pm
Walaupun tertera nomor asing disana, Alea bisa memastikan siapa yang sudah mengirimkan pesan tersebut. Jantungnya berdegub kencang, wajah Alea pucat bahkan mengeluarkan keringat dingin dari dahinya. Tak bisa dia bayangkan jika suatu saat Frans mengetahui semua rencana busuknya selama ini, rencana Alea yang ingin menguasai seluruh aset keluarga Wicaksana.
••••