Just My Ex Husband

Just My Ex Husband
Part 49 - Ancaman William



Langit senja di sore hari berubah menjadi awan hitam kelam. Bias sinarnya tertutup oleh mendung yang berteman gemuruh petir. Siapapun insan yang mendengar gemuruhnya akan terbuai oleh rasa takut.


Wanita cantik berbalut blazer rayon warna hitam masih menunggu hujan berlalu di sore ini. Aktivitasnya sudah selesai tapi hujan justru menahannya untuk tetap berada di teras belakang kantor William Wedding.


Hujan menghanyutkan Jenny ke dalam lamunan, wanita cantik itu termenung memikirkan nasib masa depannya.


Masih sulit Jenny percaya kalau hari pernikahannya bersama Arjuna sudah dekat. Satu minggu lagi Jenny akan melangsungkan pernikahan bersama Arjuna, tapi hati Jenny semakin merasa tidak yakin.


Jenny ingin sekali mundur dari semua rencana pernikahan ini, tapi Verlita tetap berusaha meyakinkan hati Jenny untuk tetap melanjutkan pernikahan. Verlita sudah terlalu sayang dengan Jenny, tidak mungkin dengan mudahnya membatalkan pernikahan begitu saja.


Menurut Verlita sikap Arjuna akhir-akhir ini hanya bentuk ujian untuk melangkah pada titik bahagia, Verlita yakin semuanya akan terlalui.


Rumah tangga yang akan aku jalani nanti denganmu Arjuna, bukan dengan ibumu.


Aku tidak sanggup jika kamu terus bersikap seperti ini.


Aku ingin menyerah, sebelum semuanya terjadi.


Batin Jenny tak hentinya berkata-kata sembari menatap rintik hujan yang menahannya untuk pulang.


"Kalau kamu masih mencintainya, lebih baik aku mundur."


Gumam Jenny sendirian sambil mengingat penyelidikannya terhadap Arjuna beberapa hari lalu.


"Apa kamu yakin Jenn?"


Suara dari arah belakang tubuh Jenny menginterupsi lamunannya, membuat Jenny berbalik arah menatap ke sumber suara, lalu dilihatnya William yang berdiri gagah di depan pintu belakang kantor William Wedding.


Pria itu nampak mempesona dalam balutan kemeja panel motif kotak dongker dengan lengan yang sudah digulung sesiku. Kacamata bingkai hitam yang dikenakannya semakin menambah kesan kedewasaan William.


"Ah Willy ternyata."


Sahut Jenny, merasa malu keluh kesahnya tidak sengaja terdengar oleh William.


William duduk di samping Jenny. Pria itu mencoba menyelidik raut wajah wanita pujaan hatinya selama bertahun-tahun.


"Ada masalah apa Jenn? Aku siap mendengar ceritamu."


Entah terbuat dari apa hati William? Selalu saja menawarkan kebaikannya untuk Jenny, walau cintanya tak terbalas.


Jenny hanya diam meratapi kehidupan cintanya. Sepertinya dewi cinta tak pernah berpihak pada Jenny.


"Ayo cerita! Calon pengantin tidak boleh sedih."


William semakin antusias menyuruh Jenny untuk melepaskan kesedihannya. Lengan William meraih bahu Jenny berusaha menguatkan karyawan kebanggaannya.


"Aku ingin membatalkan pernikahan ini Will. Aku tidak sanggup jika harus kecewa untuk ke sekian kalinya."


Jenny menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Suara Jenny sedikit serak menahan buliran bening yang sudah mulai jatuh membasahi pipinya.


William langsung membawa Jenny bersandar di bahunya. Hati William ikut merasakan sesak melihat Jenny menangis. William tak kuasa menyaksikan wanita pujaan hatinya terlihat lemah di hadapannya.


"Menangislah Jenn jika itu sedikit meredakan sedihmu."


Ucap William sambil menepuk-nepuk bahu Jenny, lalu Jenny menceritakan semua masalahnya pada William. Bahkan Jenny bercerita beberapa hari lalu saat mengikuti laju mobil milik Arjuna.


Jenny POV


Hari rabu sekitar pukul lima sore Jenny pulang dari William Wedding. Melajukan mobil warna putih kesayangannya untuk perjalanan pulang. Mobil Jenny terhenti di pertigaan lampu merah, saat itu juga Jenny tersentak ketika dilihatnya mobil hitam milik Arjuna melewati jangkauan pandangan Jenny.


Waktu itu Arjuna masih tanpa kabar, komunikasi mereka sudah tak seintens biasanya. Walau Arjuna tiap hari datang menemui Cleo namun tetap tidak mengubah kediaman sikapnya. Arjuna masih tetap beku dalam ragu, namun sedikitpun Jenny tak pernah tahu alasan apa yang membuat calon suaminya sediam ini. Bahkan mendiamkan Jenny beberapa hari ini.


Apa mungkin karena Arjuna tahu kalau Jenny pergi mencari catering dan souvenir bersama William yang membuatnya seperti ini?


Ah, tidak juga kalau dipikir lebih dalam lagi. Arjuna sudah lebih dulu mendiamkan Jenny sebelum ada seseorang yang mengirimkan foto Jenny bersama William.


Kemana kamu akan pergi Arjuna?


Batin Jenny tak hentinya bertanya-tanya.


Mobil Jenny masih tetap melaju mengikuti arah pergerakan mobil milik Arjuna, sedikit mengambil jarak agar tidak diketahui oleh Arjuna.


•••


Sekitar satu jam perjalanan Jenny mengikuti Arjuna. Kini mobil Arjuna berhenti di pekarangan memasuki area TPU.


Jenny masih berada dalam mobil, membiarkan Arjuna berjalan seorang diri memasuki area TPU dengan membawa seikat rangkaian bunga tulip dengan berbagai varian warna.


"Mau ke makam siapa kamu Jun?"


Gumam Jenny yang masih penasaran.


Sedikitpun Jenny belum terpikirkan kalau Arjuna akan mendatangi makam Claudia. Akhirnya Jenny ikut turun dari mobil setelah Arjuna melangkah jauh dari pandangan Jenny.


Langkah kaki Jenny terhenti saat melihat Arjuna sudah berjongkok di samping batu nisan. Ingin sekali Jenny membaca nama dalam batu nisan tersebut tapi sekali lagi jarak pandangnya terlalu jauh, sedangkan Jenny yang tak ingin diketahui keberadaannya oleh Arjuna terpaksa harus menyelinap dibalik pohon kamboja yang besar.


Jenny dapat melihat gurat kesedihan Arjuna serta air mata Arjuna yang membasahi pipinya. Seperti ada kesedihan yang dia pendam sendiri.


Tak bisakah kamu berbagi sedihmu denganku Arjuna?


Batin Jenny kembali menerka-nerka apa yang sedang terjadi dengan Arjuna.


Sekitar lima belas menit Arjuna berada di pemakaman akhirnya dia bangkit beranjak meninggalkan makam Claudia.


Kini giliran Jenny yang mendatangi makam Claudia setelah Arjuna hilang dari pandangan Jenny.


Derap langkah Jenny setengah berlari ingin segera mengetahui pemakaman siapa disana?


Claudia Aurelia Binti Budiman Firmansyah.


Akhirnya Jenny mengetahui semua yang terjadi dalam diri Arjuna. Kini Jenny mengerti alasan besar yang membuat Arjuna mendiamkannya.


Nafas Jenny terasa sesak menahan gejolak batinnya setelah tahu kalau Arjuna masih mencintai Claudia.


Jenny tidak ingin memaksakan laki-laki yang masih hidup dalam masa lalunya untuk hidup bersama. Dia tidak ingin menjadi ilusi dalam cinta Arjuna, apalagi saat Jenny menemukan note dalam rangkaian bunga tersebut.


Cinta itu masih tetap hidup di hatiku


Setelah membaca note tersebut kini Jenny mengerti akan perubahan sikap Arjuna, air matapun berderai di kedua pipi Jenny.


POV end


William tak kuasa melihat kesedihan Jenny di sampingnya, namun William dapat merasakan betapa dalamnya cinta Jenny untuk Arjuna, hanya saja Jenny lebih takut untuk tersakiti kembali.


"Sabarlah Jenn, aku akan membantumu sebisa mungkin. Kalaupun Arjuna meninggalkanmu, aku akan tetap selalu ada untukmu."


William semakin mengeratkan lengannya di bahu Jenny. Meskipun Jenny tak bisa dia miliki, setidaknya dengan memberikan bahunya untuk menjadi sandaran Jenny itu sudah cukup membuat William bahagia.


•••


Tok. . . Tok. . .


Terdengar ketukan pintu ruangan kantor Arjuna. Pria tampan bermata hitam itu tengah sibuk dengan urusan bisnisnya pagi ini.


"Masuk"


Sahut Arjuna.


"Selamat pagi pak Arjuna."


Sapa sekertaris Arjuna setelah memasuki ruangan.


"Ada apa Qilla?"


"Di depan ada tamu untuk bapak."


Qilla memberitahukan maksud kedatangannya.


Seingat Arjuna hari ini dia tidak ada janji dengan rekanan bisnis manapun.


"Siapa ya Qill?"


Arjuna masih memikirkan siapa tamu tersebut?


Ada sedikit rasa penasaran di hati Arjuna. Biasanya tamu yang datang ke kantor A&J pasti sudah membuat janji dengan Arjuna terlebih dahulu. Bahkan jauh-jauh hari sebelum melakukan kunjungan.


"Tamunya pria pak, tapi beliau bilang teman bapak. Beliau juga tidak memberitahukan namanya."


Misterius sekali tamu Arjuna kali ini.


"Baiklah, suruh masuk saja Qill."


Akhirnya Arjuna membiarkan tamu itu menemuinya di ruangan. Qilla bergegas menemui tamu tersebut untuk mengantarkan ke ruangan Arjuna.


Selang lima menit sosok pria yang mengenakan kemeja abu muda dan kacamata minus sudah berdiri di depan meja kerja Arjuna.


"Selamat pagi Arjuna Prasetya."


William datang langsung menyodorkan tangan kanannya di hadapan Arjuna, mengajak Arjuna untuk berjabat tangan.


Arjuna meraih jabatan tangan William. Masih dapat Arjuna kenali wajah William, wajah yang sempat membuatnya kecewa tiga tahun yang lalu.


"Sibuk sekali Jun. Sepertinya aku mengganggu waktumu."


Ucap William berusaha santai di hadapan Arjuna.


"Lumayan. Profit bisnis sedang growth, so sedikit menguras stamina."


Arjuna tidak mau kalah santai dengan William. Dia tahu maksud kedatangan William pasti perihal Jenny.


Arjuna beranjak dari kursi kebesarannya lalu mengajak William untuk duduk di sofa warna hitam yang berada di sudut ruangan Arjuna.


"Sorry bro kalau gue sudah lancang datang ke kantor lo. Ada perihal penting yang pengen gue sampaikan."


William sengaja mengajak Arjuna ngobrol dengan bahasa yang tidak terlalu formal.


"Jenny?"


Arjuna langsung menyebutkan nama Jenny di hadapan William. Kemudian William pun menganggukkan kepalanya, membenarkan perkiraan Arjuna.


"Kamu itu serius gak sih Jun sama dia?"


William benar-benar ingin tahu kesungguhan Arjuna. Sementara Arjuna hanya termenung mendengar pertanyaan William barusan.


"Kalau kamu masih cinta sama almarhum istri kamu, mending dari awal kamu tidak usah datang di kehidupan Jenny. Tanpa kamu hadir pun hidup Jenny baik-baik saja, tanpa kamu datang pun Cleo anak kamu, tetap bisa tumbuh sehat bersama Jenny. Kasihan Jenny kalau harus merasakan cinta yang pahit untuk ke sekian kalinya. Sebelum kamu menyakiti Jenny terlalu jauh mending kamu tentukan keputusan dari sekarang."


William sudah geram akan sikap Arjuna yang masih berlaga santai duduk di sofa dengan melipatkan kakinya.


"Atas dasar apa kamu bilang kalau aku ini masih cinta dengan almarhum istriku?"


Tanya Arjuna merasa heran terhadap William yang sudah mengetahui perasaannya saat ini.


"Jenny sudah tahu kalau kamu intens mendatangi makam istrimu."


Mendengar ucapan William barusan tiba-tiba hati Arjuna terlonjak. Jenny sudah mengetahuinya tapi kenapa Jenny masih diam tidak mau menemui Arjuna untuk membahas lebih lanjut?


"Kamu jangan berpikir kalau aku kesini atas dasar permintaan Jenny. Justru Jenny memilih ingin menyerah dari cinta semu yang sudah kamu berikan, tapi tolong ketika kamu sudah melepaskan Jenny, jangan coba-coba datang kembali di kehidupan Jenny. Aku sudah siap menjaga Jenny, bahkan sejak Jenny mengandung benihmu akulah yang selalu ada untuk Jenny dan juga Cleo."


Kalimat yang dituturkan William sangat menohok hati Arjuna. Memang benar adanya di saat masa sulit Jenny hanya William yang selalu ada di samping Jenny. Ketulusan William sudah tak diragukan lagi.


"Pikirkan baik-baik keputusan yang akan kamu ambil. Aku pamit."


William segera beranjak dari sofa setelah menekankan kembali kalimatnya. Sementara Arjuna masih duduk termenung dalam dilema, antara perasaan cintanya saat ini untuk Jenny dan juga janji setianya pada Claudia.


Kedatangan William seolah cambuk untuk Arjuna bahwa wanita seperti Jenny masih banyak pria yang mendambakannya selain dirinya.


"Maafkan aku Jenn. . . "


Gumam Arjuna dengan memijat pangkal matanya setelah kepergian William.


Arjuna seperti menyesali tindakannya beberapa hari ini. Sedikit saja Arjuna lengah, dapat Arjuna pastikan  William tidak akan memberikan celah lagi untuknya.


••••