Just My Ex Husband

Just My Ex Husband
Part 85 Komitmen



Rupanya Alea yang sudah mengambil foto Frans dan Jenny, lalu Alea segera mengirimkan foto tersebut ke nomor whatsapp Arjuna.


Entah dari mana Alea mendapatkan nomor Arjuna? Namun, tidak sulit bagi Alea untuk mendapatkan nomor pengusaha hits seperti Arjuna.


"Kalau aku hancur, kamupun harus hancur Jenn." bisik Alea dengan jemari yang menekan menu send foto di ponselnya.


•••


"Apa maksudmu pergi bersama Frans?" tanya Arjuna setelah mendapatkan pesan foto yang dikirim oleh Alea.


"Ada apa?" tanya Ivan yang melihat raut wajah Arjuna berubah kecewa.


Ivan berada di sana setelah diminta oleh Arjuna untuk menyusulnya di New York.


Arjuna hanya menyodorkan ponselnya pada Ivan, menampakkan foto Jenny bersama Frans.


"Jangan berpikir terlalu jauh dulu, bisa jadi semua ini campur tangan dari Mark juga." Ivan berusaha menenangkan Arjuna.


Arjuna kembali merebut ponselnya dari tangan Ivan, lalu ia mencari kontak James.


"James, gue minta bantuan lo sebagai lulusan IT terbaik dari Jerman." ucap Arjuna setelah sambungan telpon berhasil terhubung dengan James.


"Ada apa Bro?"


"Gue minta lacak siapa pengguna nomor HP yang gue kirim di whatsapp lo."


"Siap Bro, nanti gue kabarin." ujar James, lalu Arjuna langsung memutus sambungan telpon tanpa pamit pada James.


"Mau kemana Jun?" tanya Ivan yang bingung melihat Arjuna langsung menarik jas hitam di sandaran kursi.


"Terbang ke Jakarta."


"Tapi Juna, masih ada satu perusahaan lagi yang belum kita urus semua dokumen mergernya." sergah Ivan, rupanya ia belum siap untuk pulang.


"Sudah beres aku tandatangani semuanya, kamu tinggal mengurus secara teknis saja. Begitu semuanya selesai langsung balik ke Jakarta." titah Arjuna


"Siap Bos!" sahut Ivan.


Kemudian Arjuna langsung pergi meninggalkan Ivan di apartemen sendirian, karena semuanya sudah dirasa cukup oleh Arjuna. Hanya soal mengurus secara teknis di lapangan saja, biar itu menjadi tugas Ivan.


•••


Ceklek!


Terdengar suara pintu kamar Jenny terbuka, Jenny yang baru saja memejamkan mata langsung terbangun, karena saat ini jam menunjukkan pukul 12 malam.


"Siapa?" ucap Jenny sambil berusaha bangkit dari tempat tidur.


Mungkin Jenny pikir itu adalah mba Shinta, pengasuh Cleo. Tapi, kalau itu mba Shinta kenapa punya kunci cadangan?


Tangan Jenny langsung menekan saklar lampu utama, agar ia tahu siapa yang sudah lancang memasuki kamarnya, lalu Jenny pun tercengang saat ia mendapati sosok gagah berbalut jas hitam dengan inner kaos hitam.


"Arjuna." ucap Jenny tak percaya kalau suaminya akan pulang lebih cepat dari perkiraannya.


Arjuna berjalan mendekat ke arah Jenny yang masih duduk di tempat tidur, namun raut wajahnya tak selembut biasanya.


"Di area tubuh mana Frans menyentuhmu?" tanya Arjuna setelah berhasil duduk di samping Jenny dengan tangan membelai pipi Jenny.


Pertanyaan Arjuna terasa sangat menusuk hati Jenny, ia berpikir kalau Arjuna pasti sudah mengetahui kejadian malam tadi bersama Frans di sebuah resto.


"Mmmmm... itu tidak yang seperti kamu bayangkan Arjuna."


"Seperti menyentuh pundakmu?" sergah Arjuna yang mulai mengecup pundak Jenny. Kebetulan Jenny mengenakan baju tidur tanpa lengan, sehingga di bagian pundak dan dada sedikit terekspos.


"Atau lebih dari itu?" cecar Arjuna lagi.


Kini aksi Arjuna mulai brutal, pria itu mulai memeluk Jenny, dan mencumbu Jenny. Arjuna sama sekali tidak ingin memberikan kesempatan Jenny untuk bicara.


Jenny sangat merasa dirinya dilecehkan oleh Arjuna, karena belum pernah suaminya berlaku kasar seperti ini, semarah ini. Namun, Jenny hanya bisa pasrah akan perlakuan Arjuna yang sudah menganggapnya layaknya boneka.


"Aku tidak ingin ada jejak tangan kotor Frans di tubuhmu Jenn." bisik Arjuna lagi, lalu melanjutkan kembali aksinya.


Entah kenapa Arjuna begitu sensitif jika mengenai Frans?


Mungkin karena Frans adalah bagian dari masa lalu Jenny yang masih hidup, berbeda dengan dirinya bersama Claudia.


"Stop Arjuna!"


"It's not you." pekik Jenny, tak tahan dengan permainan Arjuna yang semakin kasar.


"Kalau tidak ingin aku begini, berhentilah menemui Frans."


"Aku tidak sengaja bertemu dengannya." potong Jenny.


"Tapi dia masih berusaha menemuimu, dia masih mencintaimu Jenny! Itu jelas terlihat dari cara Frans mengikuti pergerakanmu." Arjuna tidak mau kalah.


"Oh, baguslah dia mengikutiku di saat aku sedang terancam oleh Mark, dan kamu tidak ada di sana."


Akhirnya, Jenny menjelaskan kenapa dirinya bisa bertemu dengan Frans. Arjuna mulai sedikit melemah saat Jenny mengatakan kalau Arjuna tidak ada di sana. Pria itu merasa kalau dirinya tidak selalu ada untuk Jenny.


Jenny hanya tertunduk diam di atas tempat tidur, tak ingin menatap ke arah Arjuna lagi. Seketika ingatannya kembali pada ucapan Mark yang mengatakan Claudia masih hidup.


"Maafkan aku Jenny." ucap Arjuna sambil memeluk Jenny dari belakang, wajahnya ia tempelkan di pundak Jenny.


"Apa kamu tidak ingin memaafkanku Jenn?"


Arjuna kembali memastikan sikap Jenny terhadapnya, karena Jenny masih beku di depan Arjuna.


"Bagaimana kalau Claudia masih hidup?"


Pertanyaan yang sudah tak sabar ingin Jenny tanyakan, akhirnya sampai juga di telinga Arjuna.


"Apa kamu masih mencintaiku?" tanya Jenny lagi.


Kini tubuh Jenny berbalik arah, ia ingin menatap netra Arjuna, berharap cinta itu lebih besar untuknya.


"Dan kau lebih percaya pada mulut Mark dibanding suamimu sendiri? "


Jenny hanya diam, tak mampu menjawab pertanyaan Arjuna yang sedikit menyudutkannya.


"Kalaupun Claudia masih hidup, untuk apa aku menikahimu Jenn?"


"Untuk apa aku membagi cinta Claudia denganmu?"


"Selingkuh itu merepotkan."


Rentetan pernyataan Arjuna memang ada benarnya juga, apalagi ia bukanlah pria yang mudah bermain dengan wanita lain, bahkan pertemuannya dengan Jenny pun di bawah kendali alkohol.


"Mark bilang Claudia masih hidup, aku takut setelah kamu tahu kalau sosok mamih Clarisa masih hidup, kamu akan berpaling dariku Juna."


"Aku tidak sanggup membayangkan itu."


Tangis Jenny pun pecah di hadapan Arjuna.


"Hey, kamu adalah masa depanku Jenn."


"Janji suci pernikahan yang sudah aku ucapkan adalah janjiku pada Tuhan, bahkan pada diriku sendiri."


"Mengikatmu dalam pernikahan adalah keputusan, hidup bersama denganmu adalah komitmenku di tiap harinya. Jadi, tak perlu risaukan semua itu."


Arjuna kembali meyakinkan Jenny, memeluknya erat, lalu kembali mencumbu Jenny lembut, bahkan lebih lembut dari biasanya.


Dapat Jenny rasakan betapa besarnya cinta Arjuna untuknya, tak seharusnya Jenny meragukan cinta Arjuna.


Aksi brutal Arjuna pun dimulai lagi... dan cut!


heehee


••••