
Setelah Frans mengetahui semua rencana Alea dengan Bagas, akhirnya dia lebih memilih pulang ke rumah. Alea sudah lebih dulu sampai di rumah Frans. Ingin rasanya Frans menghempaskan semua emosi yang menyelimuti hatinya, namun logika Frans masih berusaha untuk berpikir jernih.
Frans tidak mau menyudutkan Alea tanpa bukti apapun, tekad Frans besok pagi akan mendatangi salah satu rumah sakit ternama untuk melakukan tes DNA putrinya Poppy.
Frans tidak ingin bertindak gegabah dalam mengambil keputusan. Biarlah rasa kecewa, rasa emosinya dia simpan terlebih dahulu. Walaupun Frans ingin sekali meledakkan semua kecamuknya di hadapan Alea, namun Frans saat ini tidak cukup bukti untuk melakukan semua itu.
Langkah Frans kini menyusur ke kamar Poppy. Putri kecilnya sudah tertidur pulas di atas kasur bermotif hello kitty.
Frans kemudian duduk di samping ranjang Poppy, kedua bola mata Frans menyelidik raut wajah Poppy yang sudah terlelap tidur dengan hembusan nafas teratur. Ingin sekali Frans membenci Poppy yang ternyata bukanlah putrinya, namun jalinan kasih diantara orangtua dan anak sudah terbangun diantara mereka.
Walau Poppy bukanlah anak kandung Frans tapi entah kenapa hati Frans masih menganggap Poppy adalah putrinya. Frans masih berharap kalau Poppy tidak terbukti bukan anaknya. Frans masih menginginkan setitik harapan itu ada. Dia tidak mau menerima kenyataan kalau dirinya lah yang divonis mandul.
"Maafkan ayah sayang. Kalau ayah sudah meragukan kehadiranmu."
Gumam Frans sambil mengelus puncak kepala Poppy penuh dengan perasaan sayang.
Frans menatap lekat wajah Poppy, otaknya mulai berputar mencari-cari sisi wajah Poppy yang menyerupai dirinya, namun Frans tidak menemukan kemiripan diantara Poppy dengannya.
Wajah Poppy lebih dominan pada Alea. Sebelum Frans mengetahui semua rencana Alea dengan Bagas, dia masih berpikir positif pada Alea. Frans berpikir kalau wajah Poppy lebih cenderung mirip pada Alea. Frans sama sekali tidak berpikir jauh kalau Poppy bukanlah putrinya.
Hati Frans di ujung gelisah memikirkan nasib Poppy. Jika semuanya terbukti kalau Poppy bukan putrinya, apa mungkin Frans akan tega mengusir Alea dan juga Poppy?
Perkara menghempaskan Alea itu mudah, tapi ikatan batin Frans dengan Poppy sudah terlalu kuat. Frans tidak sanggup jika harus kehilangan Poppy selama-lamanya, namun Frans juga tidak ingin kehadiran Poppy akan menjadi senjata Alea untuknya.
Frans bangkit dari duduknya, kemudian mematikan lampu di kamar Poppy, mengganti lampu tersebut dengan lampu tidur. Baru saja Frans menutup pintu kamar, tiba-tiba Alea datang menghampiri Frans.
"Kamu kemana saja mas? Aku kira kamu belum pulang."
Alea bertanya pada Frans seolah tidak terjadi apapun, kemudian dia bergelayut manja di bahu Frans.
Frans masih tetap diam, tak ingin menanggapi pertanyaan Alea. Frans justru menyingkirkan dekapan Alea dari tubuhnya pelan, tanpa bicara sepatah katapun pada istrinya.
"Kamu kenapa mas?"
Alea masih saja berusaha berpura-pura di hadapan Frans, seolah tidak menyembunyikan apapun.
"Aku capek, aku mau istarahat."
Hanya itu yang mampu dikatakan oleh Frans, kemudian pria itu pergi meninggalkan Alea yang masih termenung di depan pintu kamar putrinya.
Belum pernah dia sediam ini.
Batin Alea berkata-kata. Hatinya merasa sangat sedih didiamkan oleh Frans sedingin ini.
Entah kenapa kediaman Frans terasa sangat menyakitkan hati Alea, bahkan jauh lebih sakit jika dibandingkan dengan pertengkaran hebat seperti yang biasanya terjadi.
Ternyata diabaikan dan tak dianggap itu jauh lebih sakit.
Ah, hati Alea semakin tak kuasa menahan gejolak rasa kecewa. Pelan-pelan Alea mulai berpikir tentang Jenny. Kehadirannya diantara Frans dan Jenny sudah mampu menyingkirkan keberadaan Jenny, tentunya Frans sudah memperlakukan hal yang sama pada mantan istrinya.
Frans selalu berusaha menutupi kebohongannya pada Jenny, hingga mengabaikan Jenny, padahal dia justru sedang asyik-asyiknya memadu kasih dengan Alea.
Sesaat Alea berpikir kalau dia sedang menuai semua perbuatannya, mulai dari kemunculan Bagas, sekarang sikap Frans yang mulai berubah.
Kemana cinta Frans untuk Alea? Dulu Frans tidak pernah sediam ini.
Bagaimana kalau Frans mengetahui kebenarannya kalau Poppy bukanlah putri kandungnya.
Bagaimana kalau Frans mengetahui laporan keuangan perusahaannya? Kalau Alea sudah sering melakukan transaksi perbankan dengan limit yang besar jumlahnya pada nomor rekening yang tidak Frans ketahui sebelumnya.
Air mata ketakutan mulai berderai di pipi Alea, dia tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi setelah Frans berhasil membongkar rencana busuknya.
•••
"Mas sarapan dulu ya."
Frans masih tetap sibuk dengan aktivitasnya sendiri, menyiapkan beberapa baju ganti dan keperluan kantor lainnya.
"Kamu mau kemana mas? Kok bawa baju-baju ganti ke kantor?"
Mata Alea cukup terkejut menyaksikan Frans berkemas.
"Malam ini aku tidak akan pulang."
Hanya itu yang mampu dikatakan oleh Frans, tanpa memberitahukan lebih detail lagi kemana dia akan pergi.
"Kamu mau kemana sih mas? Lagipula sejak semalam kamu ini nampak aneh, ngediemin aku tanpa sebab."
Ingin sekali Frans mengungkit semua yang telah terjadi semalam, meluapkan semua yang telah didengarnya dari mulut Bagas, namun niat itu Frans urungkan kembali.
"Sudahlah Alea, tidak usah banyak omong. Aku sedang muak berada di rumah ini."
Kalimat Frans barusan kembali melukai hati Alea.
"Apa salahku mas?"
Alea masih bertingkah polos di hadapan Frans.
Frans tidak ingin menanggapi pertanyaan Alea, dia kini melangkah pergi meninggalkan Alea begitu saja, tidak mempedulikan kehadiran istrinya.
Alea hanya mampu menatap kepergian Frans dengan langkah Frans yang setengah berlari. Hati Alea terasa sangat sakit seperti tertusuk pisau tajam menyaksikan kediaman Frans yang tak kunjung berubah sejak semalam.
Air mata Alea kembali berderai, bi Irah yang menyaksikan tangis Alea segera datang menghampiri Alea.
"Non Alea kenapa non?"
Tanya bi Irah sambil mengelus bahu majikannya.
"Frans mulai berubah bi."
Sahut Alea tanpa memandang ke arah bi Irah.
"Mungkin tuan sedang punya masalah sendiri non di kantornya."
Bi Irah menerka-nerka kediaman Frans.
"Tapi dia tidak pernah sediam ini padaku bi."
Memang benar apa yang dikatakan Alea kalau Frans belum pernah sedingin ini selama bi Irah menjadi asisten rumah tangga di rumah ini. Bahkan Frans belum pernah mengemasi bajunya untuk tidak pulang ke rumah ini, tanpa memberikan alasan tertentu.
"Coba non ajak ngobrol tuan baik-baik, siapa tahu tuan muda akan sedikit luluh."
Ujar bi Irah berusaha memberikan saran untuk Alea.
"Percuma bi, sepertinya dia sedang menyimpan rasa kecewa padaku. Mungkin hatinya masih terbawa oleh Jenny."
Mendengar nama Jenny dari mulut Alea membuat bi Irah tak mampu berkata-kata lagi. Dia merindukan sosok Jenny yang telah lama meninggalkan rumah ini. Harus bi Irah akui, selama Frans bersama Jenny belum pernah Frans sediam ini. Kalaupun masalah terjadi diantara mereka Frans selalu berusaha mengalah untuk Jenny.
"Sabar ya non Alea. Kalaupun tuan muda masih mencintai non Jenny adalah hal yang wajar, karena kepergian non Jenny murni kesalahan tuan muda, bukan salahnya non Jenny. Mungkin tuan muda sedang dirundung rasa bersalah saja saat ini. Non Alea harus sabar ya, maaf kalau bi Irah sudah lancang, karena bibi sudah paham sekali sikap tuan muda."
Mendengar kalimat panjang yang diungkapkan bi Irah membuat hati Alea semakin sesak, dia tak kuasa menahan sakit di hatinya saat bi Irah menyebutkan nama Jenny di hadapan Alea. Itu semakin mengartikan kalau Alea tidak lebih dari wanita perebut suami orang, kehadirannya sudah meluluh lantahkan rumah tangga Jenny bersama Frans.
Apa mungkin perasaan Jenny dulu sesakit ini?
••••
Buat yang suka penderitaan Alea, vote yah.
😅