
Malam ini Arjuna merasa seperti di ujung gelisah. Sudah hampir dua hari Arjuna sama sekali tidak ada komunikasi dengan Jenny.
Sesekali Arjuna mencoba mencuri panggilan telpon dari pesawat telpon rumahnya, namun tetap saja disana yang menerima panggilan Arjuna adalah Linda, kalaupun bukan Linda yang menjawab itu adalah Zalesya, saudara Jenny.
Betapa kejamnya perlakuan Verlita terhadap putranya, sampai-sampai wanita paruh baya itu memutuskan sambungan pesawat telpon di kamar hotel yang disewa olehnya. Malam ini Arjuna dan juga Clarisa menginap di hotel, mengingat acara akad yang akan dilaksanakan besok pagi di kediaman Linda.
"Sial!"
Pekik Arjuna sambil menutup kembali gagang pesawat telpon. Lalu dilihatnya kabel jaringan yang sudah terputus di kolong meja.
"Mamah!"
Seru Arjuna yang kian geram pada sang mamah.
"Papih kok teriak-teriak sih."
Clarisa datang memprotes tindakan Arjuna.
"Papihmu sedang tersiksa Clarisa."
Kali ini yang menjawab sang omah Clarisa, teriring senyum kemenangan.
"Kenapa omah?"
Dengan polosnya Clarisa kembali bertanya.
"Papih sedang rindu berat sama mamih barbie."
Ujar Verlita yang masih mencoba menahan tawa saat melihat tingkah putranya.
"Mamah jahat sekali. Sumpah demi apapun baru kali ini Juna merasa mamah jadi wanita terjahat."
Tak hentinya Arjuna menyalahkan Verlita, dia masih berharap bisa mendengar suara Jenny. Walau sebenarnya Arjuna ingin sekali bertemu dengan Jenny.
"Sudahlah Juna, yang terpenting Jenny masih baik-baik saja. Dia bahkan sudah menunggu kedatanganmu besok pagi."
Wanita paruh baya itu masih berusaha mencoba memberikan ruang sabar untuk Arjuna. Semua memang akibat ulahnya yang meminta memutus sambungan komunikasi dengan Jenny.
Tak jarang Arjuna membujuk Clarisa untuk berusaha menghubungi Jenny dengan alasan Clarisa yang merindukan Jenny. Padahal sebenarnya itu adalah akal-akalan Arjuna saja.
"Kalau ada apa-apa dengan Jenny, Arjuna gak akan segan buat nuntut mamah."
Ucapan Arjuna penuh ancaman, namun tetap saja Verlita tidak merasa takut sedikitpun akan ancaman putranya.
"Papihmu sedang mengancam omah Clarisa."
Ujar Verlita meminta pembelaan pada cucunya, sementara anak itu hanya tersenyum geli melihat ekspresi wajah papihnya yang sudah tidak tahan menahan rindu pada Jenny.
"Ciye papih. . ."
Putri Arjuna justru semakin iseng menggodanya. Entah anak jaman sekarang seperti mengerti perasaan cinta, bahkan Arjuna pun sering merasa kalau Clarisa itu sosok anak kecil yang dewasa sebelum waktunya.
"Anak papih mulai nakal!"
Seru Arjuna sambil membawa Clarisa ke dalam gendongannya. Clarisa pun tertawa dengan riang diperlakukan demikian oleh papihnya.
"Pih, brati nanti kita satu rumah sama mamih barbie dan juga dede Cleo ya pih."
Ucap Clarisa yang masih berada dalam dekapan Arjuna.
"Pasti sayang."
Jawab Arjuna penuh kemantapan di hadapan putrinya.
"Asyik. . ."
"Tapi pih, nanti kita tinggalnya di rumah kita yang dulu kan pih?"
Maksud Clarisa rumah yang dulu adalah rumah megah Arjuna yang sudah tidak ditempati lagi sejak Claudia meninggal.
Sepeninggal Claudia, Arjuna lebih sering tinggal di rumah mamahnya. Arjuna tidak ingin teringat lagi akan masa-masa kebersamaannya dengan Claudia.
"Tergantung mamih barbie dan dede Cleo sayang. Kalau mereka tidak mau Clarisa jangan paksa ya."
Papih Clarisa mencoba memberikan sedikit pengertian pada putri kesayangannya.
"Ya udah deh Clarisa nurut ajah sama papih."
"Nah gitu dong anak papih paling pintar."
Puji Arjuna pada putrinya yang semakin hari semakin mampu berpikir dewasa menurutnya, Clarisa seolah mengerti akan situasi yang terjadi pada papihnya.
Putri Arjuna ini tak bisa membayangkan bagaimana cantiknya wanita yang sudah menjadi idolanya sebagai barbie.
"Iya sayang, papih juga sudah tidak sabar ingin melihat mamih."
"Clarisa juga sudah tidak sabar ingin pake baju pengantin buatan mamih pih."
Anak itu seakan tidak mau kalah dengan Arjuna.
"Ya sudah mending Clarisa tidur, sudah malam. Biar waktu menunggu besok pagi tidak terasa."
"Iya ya pih, tapi papih temenin Clarisa bobo."
Anak itu semakin manja saja pada papih Arjuna.
"Pasti sayang. Kita tinggal tidur saja sayang omahnya."
Celoteh Arjuna yang masih menyimpan kesal pada sang mamah.
Verlita hanya tersenyum kecil mendengar ejekan Arjuna barusan. Padahal ini adalah pernikahan kedua bagi Arjuna, tapi entah kenapa Verlita merasa Arjuna sangat antusias akan pernikahan ini.
Semangat putranya justru berbeda jika dibandingkan dengan pernikahan yang pertama.
•••
Wanita anggun berbalut kebaya putih dengan rambut sanggul sederhana, hanya menggunakan satu tusuk konde berhias bunga warna putih di kepalanya.
Wanita itu duduk termenung di depan cermin menyaksikan paras wajahnya yang sudah dihias sempurna oleh tangan ahli yang dipercayakan sang ibunda Linda.
"Lihat Jenn, lo hari ini cantik banget."
Bella yang dari kemarin sore sudah datang ke rumah Jenny dengan setia membantu dan menemani Jenny. Sahabat Jenny itu tak hentinya memuji kecantikan Jenny pagi ini. Menurut Bella, wadrobe yang dipilih oleh Linda memang tidak mengecewakan.
Jenny nampak cantik dan elegan dibalik kebaya putihnya. Walau tidak terlalu mewah dandanan Jenny, justru menampakkan kecantikan alami yang dimiliki oleh Jenny.
"Seumur hidup gue gak pernah nyangka kalau gue akan mendengarkan janji suci pernikahan yang kedua kalinya Bell."
Raut wajah Jenny terlihat sedikit murung.
"Sudahlah Jenn, tidak perlu kamu sesali. Kehidupan barumu sudah di depan mata."
Ucap Bella yang mencoba menguatkan Jenny. Tak seharusnya Jenny merasakan kesedihan di hari bahagianya.
"Kamu benar Bell, kehidupan baru akan dimulai bersama Arjuna. Saat ini dan selamanya cintaku hanya untuk dia."
"Sekalipun nanti Frans datang menguji rumah tanggamu Jenn?"
Sergah Bella yang sudah mengetahui masalah Frans dari cerita Jenny. Apapun semua yang terjadi di hidup Jenny selalu Jenny ceritakan pada Bella.
"Itu tidak akan terjadi Bella. Aku sudah bahagia dengan Arjuna, apalagi dengan kehadiran Clarisa yang semakin melengkapi kebahagiaanku Bell. Aku merasa menjadi wanita paling beruntung sudah dikaruniai sepasang anak."
Bella hanya tersenyum menatap Jenny dari bias bayangan cermin, kemudian wanita itu bergelayut manja di pundak Jenny.
"Semoga pernikahan yang terakhir untuk lo Jenn."
Bisik Bella tepat di telinga Jenny.
"Dan semoga lo bisa cepet nyusul gue."
Jenny sangat ingin sekali melihat Bella bahagia seperti dirinya saat ini.
Tok tok tok
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu di kamar Jenny yang sudah setengah terbuka.
"Teh Jenny ayo turun. Mempelai pria sudah datang teh."
Ternyata Zalesya yang datang memberitahukan pada Jenny untuk segera bersiap, karena acara akad akan dimulai.
Jantung Jenny semakin berdegub kencang setelah mendengar ucapan Zalesya barusan. Hati Jenny sangat merindukan Arjuna karena sudah dua hari benar-benar hilang akses komunikasi dengan pria pujaan hatinya.
"Ayo kita turun ke bawah Jenn, gue bantu."
Bella menggandeng sahabatnya dengan sangat hati-hati, takut merusak riasan Jenny. Ini momen kedua kalinya Bella menemani pernikahan Jenny.
Walau pernikahan yang kedua tapi entah kenapa Jenny sangat merasa gugup menghadapi akad nikah bersama Arjuna, padahal resepsi pernikahan pun tidak semewah pesta pernikahan pada umumnya. Tapi tetap saja hati Jenny merasakan gelisah tak menentu, ditambah lagi masa pingitan yang sudah direncakan oleh Verlita dan juga Linda membuat Jenny merasa gugup untuk bertemu dengan Arjuna. Apalagi kehadiran Arjuna yang membawa beberapa saksi dan juga tamu undangan.
••••
Belum akad ya. . . 😆