Just My Ex Husband

Just My Ex Husband
Part 21 - He just my ex husband



Setelah mendengarkan nasehat dari Bella, akhirnya Jenny kembali ke aula hotel untuk menyelesaikan semua projek yang belum selesai. Walau hati Jenny remuk redam, ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Bella.


Jenny datang kembali ditemani oleh William, karena William sengaja menyusul Jenny untuk kembali menyelesaikan tugasnya.


Jenny sempat berhenti sesaat di pintu masuk menatap bingkai foto besar yang menampilkan senyuman Frans bersama Alea, mereka terlihat sangat mesra dalam foto tersebut.


"Kenapa Jenn?" tanya William yang masih menatap Jenny, sementara jemari Jenny mengusap lembut foto Frans dengan tatapan nanar.


Selamat tinggal Frans.


Batin Jenny mengatakan demikian. Ada rasa nyeri tak terkira di hati Jenny.


"Apa kamu mengenal pengantin prianya Jenn?" pertanyaan William membuyarkan lamunan Jenny. William sengaja berpura-pura tidak mengetahui siapa Frans sebenarnya.


"He just my ex husband." ucap Jenny lirih sambil tertunduk lemah.


Jenny menghela nafasnya dalam, berusaha menguatkan dirinya untuk bisa memasuki aula hotel. Kemudian William memberanikan diri untuk menggandeng jemari Jenny, bermaksud untuk menguatkan Jenny.


Jenny takut kalau Frans masih ada di sana, tak bisa Jenny bayangkan jika harus bertemu Frans kembali.


Pelan pelan Jenny melangkahkan kakinya, pandangannya menyapu seluruh penjuru aula, beruntung Jenny tidak menemukan sosok Frans di sana.


Syukurlah, dia tidak ada.


Gumam Jenny dalam hati sambil mengelus dadanya yang dari tadi sudah berdegub kencang saat memasuki aula hotel.


Jenny mulai bekerja, mengecek kembali dan merapikan beberapa bagian yang menurut Jenny kurang pas.


Baru saja Jenny mengecek ke bagian meja catering, tiba-tiba ada tangan yang mencengkram bahu Jenny dari belakang, menyiratkan kebencian yang mendalam untuk Jenny. Cengkraman itu memaksa Jenny berbalik arah untuk melihat tangan siapa yang kini mencengkram bahunya kuat.


"Jangan coba coba rebut Frans kembali dariku Jenn." kalimat yang sangat tidak pantas diucapkan oleh Alea kepada Jenny.


Bukankah Alea sendiri yang merebut Frans dari sisi Jenny? Sungguh Alea tidak tahu malu.


Jenny hanya tersenyum sinis kepada Alea. Betapa tidak tahu dirinya Alea di hadapan Jenny, mengancam Jenny untuk tidak merebut Frans kembali.


"Apa kamu takut?" ucap Jenny berusaha terlihat santai, sebisa mungkin Jenny berusaha kuat di hadapan Alea. Walau sebenarnya deru jantung sudah memburu nafasnya. Karena Jenny tidak ingin terlihat lemah di hadapan Alea.


"Sebentar lagi aku akan menjadi nyonya Frans Wicaksana secara sah. Apa kamu tidak merasa sakit berada di sini Jenny Florencia?"


Dengan bangganya Alea mengucapkan kalimat tersebut. Mungkin dalam pikiran Alea dengan menjadi istri sah dari Frans bisa memperlakukan Jenny seenaknya.


"Ternyata benar pendapat sebagian orang, kalau orang yang merebut milik orang lain selalu dihantui oleh rasa takut kehilangan. Takut kalau perbuatannya di masa lalu ada yang membalasnya lagi."


Jenny melenggangkan langkahnya setelah membalas ucapan Alea yang masih berdiri di sana. Alea mengepalkan jemarinya, hingga nampak buku-buku di jemari Alea, mengisyaratkan betapa geramnya Alea setelah mendengar kalimat yang Jenny ucapkan padanya.


•••


Keeseokan pagi Jenny kembali ke lokasi pesta pernikahan Frans. Bahkan Jenny datang lebih pagi sebelum tamu undangan datang, untuk memastikan semua hal secara teknis sudah siap. Mulai dari urusan catering sampai acara akad, Jenny lah yang memegang kendali, dan dibantu beberapa bawahan Jenny.


Sekitar pukul sembilan acara akad dimulai, Jenny hanya berdiri mematung di sudut aula, berkumpul dengan beberapa tamu undangan. Siapapun tidak akan menyadari kalau Jenny ada di sana.


Jenny hanya termenung menatap Frans yang bersanding dengan Alea yang cantik dalam balutan kebaya putih. Frans nampak gagah dalam setelan jas hitam berdasi kupu, sebentar lagi Frans akan mengucap janji suci pernikahan, seolah mengingatkan Jenny pada masa lima tahun lalu. Masa dimana Frans berjanji di hadapan ayah Jenny untuk menjaga Jenny selamanya.


Apapun alasannya, Jenny tak mampu mentolerir semua kecurangan Frans terhadap dirinya.


Semoga kamu bahagia Frans.


Hati Jenny berkata-kata. Setitik buliran bening pun jatuh di pipinya, segera Jenny hapuskan agar orang-orang tidak curiga melihat derai air matanya.


Jenny merasa ada yang aneh dari pesta pernikahan kali ini, sepertinya Frans tidak mengundang seluruh karyawannya untuk hadir di pesta pernikahan. Tamu undangan yang datang hanya beberapa petinggi perusahaan lain saja, dan beberapa Karyawan yang dekat dengan Frans.


"Maafkan aku Jenn." ucap William yang tiba-tiba berdiri di samping Jenny, walau sebenarnya Jenny tidak mengerti mengapa William meminta maaf padanya.


"Untuk apa?" Jenny bertanya dan menatap William sesaat.


"Karena aku sudah memperkerjakanmu di sini, jadi kamu harus berhadapan dengan situasi seperti ini." tutur William.


Jenny hanya tersenyum getir mendengar permintaan maaf William.


"Ah tidak apa apa Pak William. Ini sudah menjadi tanggung jawab saya, jangan mempermasalahkan urusan hati." kilah Jenny berusaha profesional. Walau sebenarnya Jenny ingin pergi dari lokasi pesta, tapi tuntutan pekerjaan yang memaksa Jenny untuk tetap tinggal di sana.


Acara akadpun selesai, tinggal sesi foto foto sambil menyambut tamu undangan dari kedua mempelai. Jenny masih sibuk dengan aktivitasnya kesana kemari, mengontrol make up, mengontrol catering dan teknis lainnya.


Disaat Jenny sibuk, tiba-tiba anak kecil perempuan berlari ke arahnya memeluk pinggang Jenny.


"Ante balbie!" teriak Clarisa histeris, melepaskan genggaman tangannya dari Arjuna, hanya untuk mendekat ke arah Jenny.


"Clarisa cantik kok ada di sini?" tanya Jenny sambil mengelus pipi Clarisa dengan lembut.


"Iya ante, Clalisa ke sini sama papih." sahut Clarisa.


Bisa bisanya Arjuna datang ke pesta pernikahan Frans. Apa mungkin Arjuna sahabat Frans? Atau hanya rekanan bisnis saja?


Jenny mengedarkan pandangannya mencari sosok Arjuna yang gagah dalam balutan setelan jas abu tua, dengan paduan kemeja hitam.


Pandangan mereka bertemu, ada sedikit getar di hati Jenny, namun segera Jenny tepiskan. Baru saja Arjuna akan menghampiri Jenny, tiba-tiba William datang meraih bahu Jenny penuh perhatian.


"Semangat Jenn." ucap William yang dari tadi memperhatikan kesibukan Jenny.


"Ante balbie ini om siapa?" tanya Clarisa yang memperhatikan raut William.


"Kok pegang pegang ante?" sekali lagi Clarisa protes akan kedekatan William.


Clarisa memang anak kecil yang terlalu kritis, seketika William tersenyum mendengar pertanyaan Clarisa.


"Ini om William, suami ante barbie." ujar Jenny sengaja berbohong agar Arjuna percaya akan pengakuan Jenny beberapa hari lalu.


Raut wajah Arjuna berubah bersemu kecewa setelah mendengar pengakuan Jenny barusan. Entah mengapa batin Arjuna mengharapkan kalau Jenny masih belum ada yang memiliki.


Setitik rasa kecewa hadir dalam batin Arjuna sebenarnya, namun sebisa mungkin Arjuna tepiskan perasaan itu. Biarlah Jenny bersanding dengan William. Memang benar apa yang dikatakan Jenny, kalau dirinya harus melupakan semua yang terjadi di malam itu.


••••